Pages

Minggu, 10 Juli 2011

KARENA CEMBURU

Oleh : FANNY FREDLINA

Dimuat di Media Kawasan, edisi Mei 2011


Aida memandang Deby dengan selaksa kebencian berkobar di hatinya. Kedua tangannya terkepal erat. Bibirnya mengatup rapat. Kalo dia punya taring, mungkin taringnya sudah berkilat-kilat. Siap memangsa musuhnya. Dasar cewek ganjen! Dumelnya dalam hati.
“Ida, elo ngeliat siapa sih?” Claudia menghampiri Aida yang sedang berdiri di tepi jendela kelasnya. “Kok, tampang elo kayak mau makan orang?”

“Iya, gue mau nelen tuh cewek hidup-hidup!” Telunjuk Aida mengarah ke kelas XII yang terletak di seberang kelasnya. Di depan kelas itu, tampak Deby dan Edgar sedang bercanda ria.

“Sejak si Deby centil itu masuk sekolah kita, hidup gue jadi kacau balau.” Ujar Aida geram. “Bayangin aja, dua hari yang lalu dia ngedeketin gebetan gue si Edgar. Trus, kemarin dia terpilih jadi Koordinator Humas pensi sekolah kita. Padahal, gue yakin banget jabatan itu bakal jatuh ke tangan gue. Ugh! Gue benci banget sama dia! Dia udah ngambil semua milik gue. Kebahagiaan gue!” Mata Aida mulai berkaca-kaca. Kesedihan yang pekat menggelayuti hatinya bagai awan kelabu yang keberatan menggendong butiran hujan yang siap dicurahkan ke bumi.

“Ida, “ Tangan Claudia mengusap punggung Aida. “Siapa bilang semua kebahagiaan elo diambil Deby? Edgar ‘kan belum jadi pacarnya. Lagian, menurut gue si Deby itu gak lagi PDKT sama Edgar kok. Dia dan Edgar cuma temenan doang. Elo aja yang cemburu berlebihan. Trus, kalo soal elo gak kepilih jadi Koordinator Humas, itu ‘kan karena elo udah pernah jadi Koordinator Humas di pensi 2 tahun lalu. Jadi, perlu muka baru dong! Lagian, si Deby itu orangnya supel, ramah, gak sombong. Wajar aja kalo anak-anak milih dia. “ Kata Claudia lembut.

“Kalo aja……elo mau mengenal dia lebih jauh, elo pasti sependapat sama gue. “ Lanjut Claudia. “Deby itu enak kok dijadiin teman. Dia gak hanya cakep diluar tapi juga punya inner beauty. “



Mendengar Deby dipuji-puji, hati Aida makin panas. “Lho? Kok, elo jadi ngebelain dia? Gue ‘kan sohib elo. Seharusnya, elo bela gue dong! “ Katanya jutek. “Oohh..gue tahu deh! Deby ‘kan anak orang kaya. Makanya, elo pasti lebih ngedukung dia ketimbang gue yang melarat. “ sambungnya kemudian.

“Da, lo jangan salah paham dong. Gue gak belain siapa-siapa. Gue Cuma ngomong apa adanya. Kalo Deby baik, masa gue bilang jahat? “

“Alaaa….udah deh, jangan banyak alasan. Elo sama aja dengan anak-anak lainnya. Matre!” Bentak Aida. Bendungan air matanya jebol seketika. Aliran bening mengalir deras di pipi tirusnya. Ini benar-benar gak fair! Pikir Aida sedih. Sekarang, Claudia pun berpihak pada Deby. Huh! Gue benciiiiii elo, Deby!
***
Hujan lebat yang beberapa hari ini rajin berkunjung ke Jakarta telah menimbulkan banjir besar. Belum lagi banyak bendungan yang jebol lantaran gak kuat nahan limpahan air yang super deras. Situasi di ibukota tercinta pun makin buruk aja dan layak mendapat julukan : Jakarta lautan air. Rumah Aida - yang selalu kebanjiran setiap musim hujan tiba - ikut terkena imbasnya. Aida dan keluarganya pun dievakuasi ke posko pengungsian.

Claudia dan beberapa teman Aida yang rumahnya gak kebanjiran spontan memberikan bantuan kepada Aida sekeluarga. Aida terharu sekali. Dia gak menyangka Claudia masih mau membantunya. Padahal beberapa hari lalu dia sudah menuduh Claudia berpihak pada Deby. Bahkan, saking kesalnya, dia gak mau menegur Claudia. Sapaan Claudia juga dicuekin.

“Claudia, maafin gue ya? Gue udah ….cuekin elo. Tapi elo masih peduli sama gue. “ Dipeluknya Claudia sambil menyeka matanya yang basah.

“Gak ada yang perlu dimaafin. Gue ngerti kok perasaan elo.” Claudia menepuk-nepuk punggung Aida. “Tapi….asal lo tau aja, ide ngebantuin elo tuh bukan cuma dari gue aja lho! “ sambung Claudia seraya melepaskan pelukan Aida.

“Maksud elo?”

“Deby juga ikut andil. Bahkan, dia yang paling hot. Dia juga nitip ini buat elo. “ Claudia mengulurkan sebuah amplop coklat.

“Apa-an nih?” tanya Aida heran sambil menimang-nimang amplop yang lumayan tebal itu.

“Buka aja sendiri. Deby bilang, itu semua diambil dari tabungannya. Buat bantu ngebenerin rumah lo yang terendam banjir. “


“A…paa? Deby….dia….” Aida terperangah. Diintipnya amplop coklat itu. Kayaknya lumayan banyak. Tanpa menghitung lebih dulu pun sudah bisa ditebak kira-kira jumlahnya berapa. Gila banget! Si Deby pasti udah menguras seluruh tabungannya.

“Kaget?” Claudia tertawa. “Masih ada lagi lho!” Ujarnya sambil menyerahkan dua kantong plastik besar yang sejak tadi ditaruhnya di lantai. “Ini, ada piyama, seragam sekolah, sepatu dan beberapa alat tulis. Semuanya dibeli Deby buat elo. “

“Hah?”

“Gue bilang juga apa. Deby gak seburuk yang elo duga. Meskipun dia tau, elo gak
suka sama dia, tapi dia gak benci sama elo.” Claudia tersenyum.

“Claudia, gue mau ketemu Deby. “ Tukas Aida.

“Deby gak bisa datang. Lagi sibuk di posko pengungsian dekat rumahnya. Mau tau apa yang dia lakukan? Dia jadi koki dadakan lho! Bantu masak di dapur umum. Padahal, dia ‘kan gak pernah masak di rumahnya. Kira-kira seperti apa ya rasa masakannya? “ Claudia nyengir.

Aida terdiam. Tak dihiraukannya kalimat Claudia barusan.

“Deby…..maafin gue, ya…., “ gumamnya lirih.

7 komentar:

CORETAN HIDUP mengatakan...

Kalau cerpen2 yg berhasil dimuat di media, honornya berapa mbak? :)

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

@coretan hidup : gak tentu sih, tapi gak besar kok. ada yg Rp. 250.000,-. ada juga yang Rp.400.000,-

Bang Pendi mengatakan...

kayaknya ini bisa disamain dengan istilah "jangan lihat duren dari kulitnya" hehe...

CORETAN HIDUP mengatakan...

Lumayan juga ya. Tapi yang terpenting adalah rasa kepuasan karena cerpen tsb berhasil terpublikasi di media cetak

crazywrite88 mengatakan...

mbak,
gmn sih supaya cerpen bs dimuat di media?
cerpen mbak bagus,
like it!

Mulyani mengatakan...

Fan ...aku tuch dari dulu pengen mengasah menulis dengan baik dan bisa dimuat di media tapi suka jadinya ngawur dan akhinya lewat gitu aja...
suka baca cerpen2 karya seseorang rasanya menyenangkan sekali bisa seperti mereka.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

@crazy write : baca media yg jadi sasaranmu, lalu coba buat cerpen sesuai dg kriteria di majalah itu, dan kirim ke media tsb. Tapi, jangan lupa banyak berlatih menulis cerpen.

@Mulyani : pasti bisa, sis kalau mau terus berlatih.