Asal usul ide : Seringkali kita tidak mau mendengarkan saran dan nasihat yang baik dari sahabat kita. Tapi lebih suka mendengarkan saran/nasihat dari artikel-artikel atau buku-buku yang kita baca.
Dimuat di majalah Kawanku No.09, tahun 2007
Dahi Thyzia berkerut-kerut. Bibir mungilnya mencucut. Kedua tangannya menumpu pada dagu lancipnya. Sepasang mata almondnya dibaluri lamunan. Ada sejuta tanda tanya tak kasat mata melayang-layang di atas kepalanya.
“Woi! Pagi-pagi sudah ngelamun! Kesambet baru tahu rasa lo!” Tepukan keras di bahunya membuat Thyzia terlonjak. Sejuta tanda tanya berjatuhan ke lantai lalu sirna.
“Anyeeee!!!” Lengkingan Thyzia membuat Anyelir mundur tiga langkah. “Enggak sopan tahu ganggu orang yang lagi melamun! Gimana kalau aku punya penyakit jantung, terus is dead gara-gara dikagetin elo?” Thyzia melotot.
“Sorry deh sudah bikin elo kaget. Tapi, tuh suara… aduh! Geledek saja kalah!” Anyelir mengorek sebelah telinganya dengan kelingking. “Bisa budek nih!”
“Biarin!” Thyzia mencibir.
“Galak amat sih! Habis sarapan cabe ya?” ledek Anyelir. “Hmm… gue tahu deh, pasti elo habis baca cerpen Wulandari. Terus, elo penasaran lagi. Iya kan?” tebaknya jitu.
“Iya nih!” Thyzia mengangguk. “Sampai hari ini, gue masih penasaran dan pengin banget tahu siapa sih Wulandari itu? Kok, masalah yang dihadapi para tokoh dalam cerpen-cerpennya selalu mirip dengan masalah gue?”
“Kebetulan saja kali,” Anyelir duduk di samping Thyzia.
“Kebetulan kok sampai tiga kali?”
“Lo tuh ya… begitu saja dipikirin. Sudahlah, jangan dibawa serius!” Anyelir mengibaskan tangannya. “Lagian, elo mestinya bersyukur karena cerpen-cerpen Wulandari enggak hanya menciptakan masalah bagi para tokohnya, tapi juga pemecahan atas masalah itu. Jadi, secara enggak langsung elo bisa pakai cara sang tokoh dalam cerpennya buat nyelesain masalah elo.” Lanjut Anyelir berusaha menghapus rasa penasaran Thyzia.
“Enggak bisa, Anye!’ Sergah Thyzia. “Gue pengin tahu kenapa si Wulandari sepertinya tahu saja masalah yang lagi gue hadapi. Cause setiap kali ada masalah dan gue kebingungan mecahin masalah itu, enggak lama kemudian cerpennya muncul dengan tema yang mirip dengan masalah gue. Aneh banget ‘kan?”
“Yaaa… barangkali Wulandari punya indera ke enam. Apalagi, elo ngefans berat sama cerpen-cerpennya. So, tanpa disadari lo dan dia punya kontak batin. Makanya, dia bisa bikin cerpen yang kisahnya mirip kisah elo,” Anyelir yang selalu tertarik pada hal-hal berbau misteri mengungkapkan asumsinya, membuat kepala Thyzia makin mumet.
“Eh, non…kalau ngomong pakai logika! Jangan pakai otak dukun elo!” gerutu Thyzia. “Pokoknya, gue akan berusaha cari tahu siapa Wulandari itu? Gue mau telpon redaksi majalah CHERY. Mau tanya alamat e-mailnya Wulandari. Kalau perlu alamat rumah plus nomor hapenya!” tanda Thyzia penuh tekad.
oOo
Dengan lesu, Thyzia meletakkan wirelessnya. Barusan, dia menelpon kantor majalah CHERY yang sering memuat cerpen-cerpen Wulandari dan hasilnya… majalah CHERY tidak bersedia memberitahukan alamat Wulandari, baik e-mail maupun alamat rumahnya. Apalagi nomor hp-nya. Rahasia, kecuali atas seizin Wulandari. Tapi, kalau Thyzia mau nulis surat buat Wulandari, mereka bersedia menyampaikannya.
Nulis surat buat Wulandari dan dikirim lewat majalah CHERY? Ribet amat! Thyzia, kan, enggak suka nulis surat. Biarpun diketik pakai computer, tetap aja malas. Lebih enak ketemu face to face. Bisa lihat seperti apa wajah sang cerpenis idolanya. Berapa usianya? Apakah dia masih ABG seperti Thyzia? Atau sudah kuliah? Atau… bahkan sudah kerja? Terus, bisa interview dia secara langsung. Dari mana dia dapat ide cerpen-cerpennya? Kenapa kisah dan masalah dalam cerpen-cerpennya banyak yang mirip dengan kisah dan masalah Thyzia? Apakah dugaan Anyelir benar? Wulandari punya indera ke enam? Duh, betapa inginnya Thyzia ketemu Wulandari. Betapa banyak yang ingin dia tanyakan dan katakana kalau mereka ketemuan. But, how?
“Nulis surat. Minta kenalan dan ketemu,” usul Anyelir ketika keesokan harinya Thyzia mengungkapkan kebingungannya. “Kalau Wulandari tinggal di kota ini juga, elo bisa ketemu dia dengan mudah. Tinggal janjian di mana gitu. Tapi kalau enggak… ya, lo harus puas cuma ngobrol via e-mail atau ponsel. And, kalau elo benar-benar penasaran mau ketemu. Kunjungin saja dia di tempat tinggalnya. Beres, kan?”
“Kalau dia tinggal di Irja, gimana?” tanya Thyzia asal.
“Yaelah… lo tuh stupid bin o’on ya! Pesan tiket pesawat dong! Terbang ke Irja. Gitu saja kok bingung sih!” sahut Anyelir, kalem.
“Terbang ke Irja? Dasar dukun!” Thyzia menjitak pelipis Anyelir, gemas. “Emangnya beli tiket pesawat enggak pakai duit apa?”
Anyelir meringis. Mengusap-usap pelipisnya.
“Well, itulah harga rasa penasaran yang mesti lo bayar,” katanya cuek.
Tok…Tok…Tok! Suara ketukan di pintu mengejutkan Thyzia.
“Siapa?” dengan malas, Thyzia bangkit dari peraduannya.
“Saya, non…”
“Ada apa bik?” Thyzia membuka pintu kamarnya.
“Ada surat buat non Zi…”Bik Surti menyodorkan sebuah amplop biru muda.
Surat! Pasti dari Wulandari. Thyzia menyambar amplop itu. Merobeknya dengan tak sabar dan membaca isinya. Yeess!! Wulandari ngajak ketemuan. Besok sore di Café Melati. Wajah Thyzia berseri-seri. Dilipatnya surat itu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam laci meja belajarnya.
“Anye, elo mesti nemenin gue, “Thyzia menyambut Anyelir yang baru saja masuk ke kelas.
“Temenin ke mana?” Anyelir melangkah ke tempat duduknya.
“Kemarin gue terima surat dari Wulandari. Dia ngajak ketemuan di Café Melati. Dia janji akan ngejawab semua rasa penasaran gue selama ini,”Thyzia menjejeri langkah Anyelir. Matanya berbinar-binar gembira.
“Gue ikut senang dengar berita ini, Zi. Tapi… sorry banget, gue enggak bisa nemenin elo. Soalnya, sore ini gue ada acara,” ujar Anyelir sambil menaruh tasnya ke laci meja.
“Yaaa…jadi gue pergi sendiri dong!”Thyzia menunduk, kecewa.
Anyelir geleng-geleng kepala melihat sifat manja Thyzia muncul.
“Thyzia…elo, kan, bukan anak kecil lagi. Masak ketemu cerpenis idola elo saja mesti ditemenin? Lagian, Café Melati enggak jauh kok dari rumah elo. Minta diantar sopir elo saja.”
Thyzia diam. Iya sih, dia pasti diantar bang Ucok, supir setianya. Tapi…rasanya enggak PD saja datang sendirian ke Café buat nemuin seorang kenalan baru. Hhh, susahnya jadi anak tunggal. Enggak ada kakak atau adik yang bisa dimintai tolong buat nemenin pergi. Sudah gitu, belum punya pacar lagi. Kalau ada, pasti cowok gue yang bakal nemenin. Kacian deh gue! Thyzia meratapi nasibnya. Diliriknya Anyelir yang kini sibuk membolak-balik catatan Kimianya. Mau maksa Anye enggak mungkin juga. Anak itu mana bisa dipaksa sih.
oOo
“Lho, Anye! Katanya, elo ada acara….kok, bisa ada di sini? Berubah pikirn ya? Mau nemenin gue?”Thyzia tersenyum girang ketika tiba di Café Melati dan melihat sobatnya sedang duduk di salah satu sudut Café.
“GR amat sih lo. Gue ke sini bukan buat nemenin elo, tapi. buat nemuin seorang fans gue bernama Thyzia Syailendra,” Anyelir tersenyum penuh arti.
“Haaahhh? Mmm…maksudnya….Wulandari itu elo?” Thyzia melongo. Kaget bukan main.
“Kenapa? Enggak percaya kalau gue bisa nulis cerpen?” tanya Anyelir sebelum menyeruput frappucinno-nya.
“Percaya sih percaya. Dari dulu elo, kan, emang pinter dalam pelajaran mengarang tapi….ANYEEE! Elo…sungguh…amat…sangat…JUAHAATTT! Kok, elo enggak pernah cerita siiihh? Gue’kan sohib elo. Teman elo di kala senang dan susah. Teman main elo sejak kita berdua masih ingusan. Elo emang kudu patut di JITAAAKKK,” Thyzia meradang dan siap melayangkan jitakan patennya.
“Eits!! Sabar non, sabar….”Anyelir berkelit dengan luwesnya. Jitakan Thyzia pun meleset. “Lo dengar dulu penjelasan gue, friend. Gue emang enggak pernah cerita ke elo kalau selama ini gue suka nulis cerpen. Bukannya mau main rahasiaan tapi…gue sendiri enggak sangka kalau cerpen yang gue tulis iseng-iseng bisa dimuat. Terus, lebih enggak sangka lagi kalau cerpen pertama gue yang dimuat di majalah CHERY disukai elo. Niat gue mau kasih tahu elo kalau gue itu Wulandari jadi batal. Pasalnya, gue pengin tahu sejauh mana karya gue disukai oerang. Kalau gue bocorin identitas gue, entar penilaian elo jadi enggak jujur. Mentang-mentang gue sohib elo, terus elo enggak mau terus terang kalau cerpen gue jelek. Padahal kalau kita mau maju, kan, harus rela dikritik. Jangan dipuji melulu. So…biarpun cerpen-cerpen gue sudah sering dimuat, gue tetap enggak ngasih tahu elo.”
“Begitu yaaaa? Hmmm…tetap saja ada ganjarannya buat seorang teman yang suka main rahasiaan yaitu…di….”
Sebuah jitakan maut hinggap di pelipis Anyelir sebelum gadis itu sempat menghindar.
“Auch!!! Sadis lo, Ziii!” Anyelir mengusap-usap pelipisnya.
“Itu belum seberapa. Mestinya elo dapet jitakan kedua atas perbuatan elo bikin cerpen yang kisahnya mirip kisah gue tanpa seijin yang empunya kisah!.” Thyzia melotot.
“Ampuuunnn, Zi…” Anyelir pura-pura ketakutan. “Gue terpaksa nulis cerpen yang kisahnya diambil dari kisah elo itu karena gue pengin banget bantu elo nyelesain masalah-masalah elo yang seabrek. Mulai dari masalah cinta elo yang bertepuk. sebelah tangan sampai masalah tetangga elo yang suka sirik sama elo, tapi…elo tuh keras kepala banget! Nasihat, saran dan solusi dari gue sering enggak didengerin. Elo lebih suka ngambil penyelesaian yang enggak banget, yang bikin elo makin terpuruk dengan masalah elo. Alhasil, gue bikin aja cerita dengan mengambil tema masalah-masalah elo plus pemecahannya. Ternyata cara itu leih berhasil daripada gue harus berbusa-busa ngasih saran. Lo, kan, suka pakai cara para tokoh dalam cerpen gue buat nyelesain masalah elo,”ujar Anyelir seraya meraih tangan Thyzia. “Maafin gue ya,Zi? Mungkin tindakan gue ini salah karena sudah ngambil kisah elo tanpa ijin. Tapi …trust me! Gue lakuin ini cuma buat nolong elo kok. Enggak ada maksud apa-apa dan…
“Enggak apa-apa, Anye,”tukas Thyzia tersenyum. Walaupun sempat kesal karena Anyelir enggak terus terang dari semula tapi…dalam hati ia merasa bersyukur punya sahabat sebaik Anyelir. “Gue justru berterima kasih sama sekali karena elo begitu care sama gue. Tapi, lain kali jangan main rahasia-rahasiaan ya? Gue lebih suka keterbukaan. Kalau gue keras kepala dan suka ngambil keputusan yang salah, jangan takut buat negor gue. Bila perlu marahin gue.”
“Pasti, Zi…Gue gak akan ngebiarin elo jatuh. That’s what friends are for.”
6 komentar:
Bagus Mbak... endingnya surprise banget,,, buat Thyzia maupun buat yg baca,,,
Sahabat sejati ya spt ini ya... senangnya jika punya sahabat spt Anye...
Sukses terus utk Mbak Fanny :-D
Iya ya.. banyak cara untuk membantu sahabat menyelesaikan masalahnya... Caranya Anyelir keren.. Didukung jg dia berbakat nulis cerpen dan sohibnya suka baca cerpen... klop deh.
Cerpenis banget nih.... hehehe
salam kenal yaaa^^
wah aku jd terbawa dg kisah ini. ceritanya ngalir bagai air, gak terkesan menggurui, tokoh yg dimainkan gak terlalu banyak tp ngena bgt pesan yg ingin disampaikan. salut deh ama mbak fanny, bisa ngangkat tema yg gak monoton. hehehe
Nice post.
Ternyata cerpenis itu temannya sendiri, sempat gak kepikiran hehehe keren mbak fanny! ^_^
Poskan Komentar