<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839</id><updated>2012-01-17T01:57:08.171+07:00</updated><category term='PADA AWALNYA'/><category term='JUDUL CERPEN'/><category term='FIKSI'/><category term='TEMA'/><category term='CELOTEH'/><category term='Lomba'/><category term='intermezzo'/><category term='ALUR'/><category term='BEDAH CERPEN'/><category term='cerpen pemenang lomba'/><category term='PENGUMUMAN'/><category term='Rangkaian Fiksi Mini'/><category term='cerpen fanny'/><category term='APA SIH CERPEN ITU?'/><category term='serba-serbi'/><category term='GAYA BAHASA'/><category term='INFO'/><category term='TOKOH CERPEN'/><category term='AWARD'/><category term='Kontes'/><category term='News'/><category term='Syarat kirim cerpen'/><category term='Cerpen murid'/><category term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>GRAHA SASTRA</title><subtitle type='html'>SEKETIP TIPS MENULIS CERPEN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-1106010471574767776</id><published>2011-12-19T15:21:00.001+07:00</published><updated>2011-12-19T15:21:29.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>PENTINGNYA COVER BUKU</title><content type='html'>Dalam artikel saya &lt;a href="http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/04/sebelum-menerbitkan-buku-bagian-i.html"&gt;SEBELUM MENERBITKAN BUKU&lt;/a&gt;, saya berjanji akan membahas mengenai cover buku tetapi karena sibuk ini itu, janji tersebut baru bisa dipenuhi sekarang. Mohon maaf.....kelamaan banget ya.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan pengalaman menerbitkan buku sendiri, saya baru ngeh kalau cover buku itu sangat penting. Meskipun ada pepatah bilang Don't judge a book by its cover, tetapi nyatanya cover sebuah buku sangat penting dan menentukan laris tidaknya sebuah buku. Selain, tentu saja isi buku itu yang paling menentukan. Terbukti pada buku Kumcer saya JERAWAT CINTA, banyak yang bilang covernya kurang menarik. Bahkan, menurut saya JELEK banget. He he he..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yah, itu akibat saya masih polos dan nggak ngerti. Saya hanya meminta tolong adik saya yang bisa gambar, lalu gambar tersebut diwarnai oleh pacar saya. Terus, langsung kirim ke penerbit. Warna dasar cover yang merah menyala itu adalah warna dasar dari penerbit. Saya dan pacar nggak ngerti. Kami berpikir, warnanya itu memang harus begitu. Tidak tahunya harus dirubah sendiri. Tetapi, sudah terlanjur dikirim. Yasuds, saya terpaksa menerima hasilnya yang aneh.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu itu, saya juga nggak ngerti bagaimana mendesain covernya. Mau minta tolong siapa. Ternyata, bisa meminta tolong desainer dan tentu saja ada bayarannya. Tetapi kok repot ya. Gak praktis. Cetaknya sama penerbit X, covernya didesain si XX. Rada ribet mengaturnya. Mana saya nggak ngerti photoshop. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, dalam menerbitkan buku berikutnya, saya memilih penerbit yang bersedia membuatkan cover, layout dan ISBN. Memang saya harus bayar lebih mahal tetapi hasilnya lebih maksimal. Buku saya menjadi lebih punya daya tarik. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;So, kalau kamu berniat menerbitkan buku sendiri, persiapkan juga covernya mau seperti apa. Saran saya sih, mendingan cari penerbit yang menyediakan jasa mendesain cover dan layout. Bayar mahal sedikit lebih baik, asal hasilnya memuaskan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-1106010471574767776?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/1106010471574767776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=1106010471574767776&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1106010471574767776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1106010471574767776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/12/pentingnya-cover-buku.html' title='PENTINGNYA COVER BUKU'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-2904606568431870400</id><published>2011-12-08T15:58:00.001+07:00</published><updated>2011-12-08T16:18:34.206+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>TIPS AGAR CERPENMU DIMUAT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak yang bertanya, apa sih tipsnya agar cerpen kita dimuat di media cetak? Hmm...susah-susah gampang menjawabnya, karena ada kaitannya dengan selera masing-masing Editor majalah/surat kabar. Jadi, tips yang benar-benar jitu sebenarnya nggak ada. Penulis A bilang begini, penulis B bilang begono, sementara si cerpenis C bilang begitu. Yeah, apa kata para penulis itu tentunya berdasarkan pengalaman mereka dan karena pengalaman setiap orang itu nggak sama, otomatis tipsnya juga berbeda-beda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;So, saya suka bingung kalau ditanya tipsnya agar cerpen bisa dimuat. Walau cerpen saya sudah sering dimuat di media cetak, tetapi..tetap saja ....tidak menjadi jaminan kalau tips dari saya akan membuat cerpen kalian dimuat.&amp;nbsp; Karena seperti yang saya katakan diatas, selera setiap editor itu berbeda. Tapi baiklah....daripada nanti dikatain pelit nggak mau bagi tips, saya akan tulis beberapa tips singkat di bawah ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. BANYAK BACA CERPEN ORANG LAIN YANG SUDAH DITERBITKAN.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itu dulu deh yang paling penting. Kalau kamu nggak suka baca cerpen orang ya mau jungkir balik nulis kayak apa juga nggak akan nemu triknya. Karena dengan membaca karya orang lain, kamu bisa menemukan sendiri apa yang bikin cerpen mereka dimuat. So, kalau kamu nggak suka membaca, lebih baik lupakan cita-cita jadi penulis. Ini kata saya lho...Bisa saja saya keliru.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. CARI TEMA YANG ENGGAK BIASA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari tema yang klise. Jangan ikut-ikutan gitu deh. Ciptakan sebuah cerpen yang temanya unik. Bila perlu yang ada maknanya. Tapi jangan menggurui juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. RAJIN BERLATIH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak ada yang serba instan kecuali kamu memang berbakat banget. Dengan rajin menulis maka kemampuanmu menyusun cerita akan terasah. Dan, itu nggak mudah. Kamu harus benar-benar tekun. Setiap ada ide langsung tulis. Jangan berpikir hasil akhirnya ntar gimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. JADI DIRIMU SENDIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mencoba meniru gaya tulisan orang lain. Terpengaruh boleh tetapi jangan jiplak abis. Pakai gayamu sendiri. Dan, kembangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. PELAJARI GAYA TULISAN MAJALAH/KORAN YANG KAMU TUJU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerpenmu mau dikirim kemana? Ke majalah remaja? Majalah wanita? Atau, koran umum? Pelajari gaya tulisan cerpen yang dimuat di sana. Kalau memang cocok dengan gayamu, silakan kamu coba kirim cerpenmu, tapi kalau berbeda sebaiknya jangan. Meskipun karyamu bagus, ada kemungkinan ditolak. Kan nggak mungkin cerpenmu yang bergaya abg, kamu kirim ke majalah Femina.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;6. MAJU TERUS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan putus asa. Sekali ditolak, coba lagi dong. Saya saja masih suka ditolak karyanya. Hi hi hi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segitu aja deh tipsnya. &lt;span style="color: blue;"&gt;Tips lengkapnya nanti dibaca aja ya di buku saya yang sedang dalam proses penulisan. Tunggu saja tanggal terbitnya. Anggap aja tips ini contekan kecil dari buku tersebut. He he he....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;Salam Manis&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Fanny Fredlina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-2904606568431870400?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/2904606568431870400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=2904606568431870400&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2904606568431870400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2904606568431870400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/12/tips-agar-cerpenmu-dimuat.html' title='TIPS AGAR CERPENMU DIMUAT'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-5421886471010321977</id><published>2011-12-07T22:10:00.001+07:00</published><updated>2011-12-10T15:50:21.109+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>BULAN SABIT TERTUTUP AWAN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;BULAN SABIT &amp;nbsp;&amp;nbsp;TERTUTUPAWAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Oleh : FANNY FREDLINA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dimuat di Media Kawasan edisi Nopember&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4sj2fdYT798/TuMc9V5IUjI/AAAAAAAADqk/gHodU_xX1fY/s1600/IMG00169-20111108-1928.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-4sj2fdYT798/TuMc9V5IUjI/AAAAAAAADqk/gHodU_xX1fY/s320/IMG00169-20111108-1928.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;SI MATA BULAN SABIT &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jantungku berdeguplebih kencang ketika melihat sosok mungil itu memasuki ruang Departemen IT. &amp;nbsp;Dari balik kubikel, aku memerhatikan semuagerak-geriknya. Akh, lihatlah &amp;nbsp;bibirtipisnya ketika dia berbicara dengan Lewi, Unit Head IT. Sangat menggoda untukdikecup.&amp;nbsp; Tapi..yang paling menarikadalah mata bulan sabitnya yang bagai segaris bila ia tertawa. Sungguhmenggemaskan. Namun, entah mengapa dia selalu menciptakan jarak. Dia memang ramahdan tampaknya menikmati perhatian dan gurau mesraku, tapi…aku tahu…sesungguhnyadia sedang membangun sebuah tembok. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-GPOarA4imYg/TuMdKuc0vgI/AAAAAAAADqs/7BbNgjpzOxU/s1600/IMG00170-20111108-1928.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-GPOarA4imYg/TuMdKuc0vgI/AAAAAAAADqs/7BbNgjpzOxU/s320/IMG00170-20111108-1928.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;SI HITAM YANG GAGAH&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dari sudut mataku, aku menangkapseraut wajah di balik sebuah kubikel. Aku tahu ada sepasang mata yang sedangmemandangku. Aku mengerti arti pandangan si Hitam yang gagah, yang selalumemerhatikan aku. Namun, aku menulikan telingaku dan membutakan mataku, karena akutahu semuanya akan sia-sia. Perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami bagaisamudera luas tak terseberangi. Meskipun aku mulai mencintainya, tapi bila akumemaksakan diri untuk memilikinya, maka aku hanya akan menjerumuskannya kedalam jurang penderitaan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Note : &lt;span style="color: red;"&gt;Kelanjutan cerpen ini bisa dibaca dalam Buku Kumcer saya yang ke 2. Nantikan saja tanggal terbitnya. Salam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-5421886471010321977?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/5421886471010321977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=5421886471010321977&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5421886471010321977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5421886471010321977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/12/normal-0-false-false-false.html' title='BULAN SABIT TERTUTUP AWAN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4sj2fdYT798/TuMc9V5IUjI/AAAAAAAADqk/gHodU_xX1fY/s72-c/IMG00169-20111108-1928.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-3184685985782423429</id><published>2011-09-08T09:47:00.000+07:00</published><updated>2011-09-08T09:47:00.464+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>THAT PERFECT GUY</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asal usul ide: &lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Abis baca artikel tentang Guy di sebuah suratkabar. Jadi muncul ide deh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note  :  &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ini cerpen ke 2 tentang dunia hombreng yang saya buat. Dan ini  adalah cerpen yang dipuji Excellent oleh pak Editor majalah Media  Kawasan. Bagaimana menurut teman-teman?  Walaupun dibilang excellent,  saya tetap lebih percaya sama komentar teman-teman nih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di MEDIA KAWASAN edisi Juli 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Sks-EaRDyVI/AAAAAAAAA4w/vpbaG1txm5w/s1600-h/cerpen2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Sks-EaRDyVI/AAAAAAAAA4w/vpbaG1txm5w/s320/cerpen2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353440827551238482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fey  bercerita dengan semangat 45. Tangannya bergerak kesana kemari bagai  konduktor dalam konser musik. Senyum kebahagiaan terukir di bibirnya.  Sesekali tawanya yang renyah terdengar. Di depannya, Intan duduk dengan  manis mendengarkan cerita sang sahabat. &lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;  “Finally, I found him…..,” desah Fey mengakhiri ceritanya. Matanya yang  cantik memandang jauh ke arah taman rumah Intan yang ditata asri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SlGkOkACftI/AAAAAAAAA7o/KhsluikP_hc/s1600-h/ozindo+002.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SlGkOkACftI/AAAAAAAAA7o/KhsluikP_hc/s320/ozindo+002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355242002009194194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Are you sure?  Masa sih, ada cowok se perfect itu? “ tanya Intan ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“100 %“ Fey mengangguk mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Otaknya  gimana? Telmi gak?” Intan teringat cerita Fey sebulan lalu tentang  cowok keren yang ditaksirnya tapi sayang….BOTOL a.k.a Bodoh dan Tolol.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;“Emangnya, gue belum ngasih tau kalo titelnya itu berderet. Ir, MBA,MM?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…  berotak encer, berkantong tebal, berwajah tampan kayak Pierce Brosnan,   bersifat lembut, perhatian, baik hati, dan gak sombong. Tapi, gimana  dengan bodinya?“ tanya Intan masih penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yahud deh! Bukan tipe Pendekar, Pendek dan Kekar. Juga bukan tipe n’dut.  Tingginya sekitar 185 senti. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah,  kalo setinggi itu….biasanya  cungkring. Padahal, elo kan anti cowok  kurus kering. “ cerocos Intan, terkenang pada Adit, teman mereka semasa  SMA yang baik hati and cinta mati sama Intan tapi ditampik gara-gara  TULALIT (tinggal Tulang dan Kulit, saking cekingnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tebakan yang salah! Gebetan gue kali ini punya body proporsional. Kalo elo ngeliat dia, dijamin…. ngiler.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak  segitu-gitu amat kale. Emangnya, doi makanan…,” Intan tersenyum sambil  mikir. Apalagi ya, hal-hal yang bikin cowok gak oke di mata Fey.  Soalnya, sohibnya ini emang super duper cerewet dalam hal memilih pacar.  Semua cowok  yang naksir dan (pernah) ditaksirnya selalu aja ada  minusnya. Entah minus dari segi fisik maupun dari segi kebiasaan yang  gak banget, such as : suka ngupil dan buang gas di tempat umum.   No  wonder, di usianya yang ke 27 Fey masih aja jomblo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keringetnya  gak bau kan?”  Aha! Intan menemukan lagi point penting yang bisa bikin  Fey ilfil sama cowok (secakep apapun dia). Soalnya, Fey pernah menolak  cinta seorang cowok ganteng lantaran dia Triple B. Bau Badan Banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nope!  Gue ‘kan pernah nge-gym bareng doi. Gilaaaa! Biar udah banjir keringet  gitu, gak tercium bau-bauan aneh. Malah, rasanya gue nyium aroma parfum  yang unik banget. Campuran antara parfum yang dia pake sama keringetnya  kali. “ Fey nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak hobi kentut di sembarang tempat?”  Pertanyaan Intan me remind otak Fey pada Gery, teman sekantornya yang  naksir dia but ditolak mentah-mentah lantaran doi suka meledakkan ‘bom  molotov’ anywhere, anytime.  Mana ‘wangi’ nya duahsyat, bo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya  enggaklah! Dia itu very wangi. Kalo toh dia kentut, pasti harum.” Fey  membela sang gebetan. Duileh, yang lagi falling in love.  Mana ada sih  kentut yang wangi? Emang minumannya parfum dari Paris?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suka ngupil pake jari telanjang, gak?” Intan kehabisan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rese  lo! Kalo toh ngupil, pasti pake baju eh….tisu. Gak kayak cowok elo.  Udah kukunya panjang-panjang dan hitam. Hobi ngupil lagi di depan  publik.” Fey sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eits, jangan bawa-bawa cowok gue dong!” Intan tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abis,  pertanyaan elo tuh nyebelin banget! Udah gue bilang, dia itu PERFECTO!  Sesuai dengan selera gue. So, jangan nanya yang macem-macem lagi” Fey  cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya deh, iya…yang punya pacar perfect. Eh, belum  pacar ya? Baru calon. Makanya, buruan gih rebut hatinya. “Intan  mengedipkan mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hatinya udah gue rebut kok. Buktinya, hampir  tiap malam dia ke rumah gue. Apalagi kalo bukan karena ada ‘something’?  Udah gitu, dia juga gampang akrab sama bokap nyokap gue. Terutama sama  Satria, adik bontot gue. Dia sering bantuin Satria ngerjain tugas-tugas  kuliahnya. Kebetulan, Satria kan kuliah di jurusan Teknik Arsitektur.  Bidang yang dia kuasai banget. “ Ujar Fey pede abiz. Wajah cemberutnya  sudah bermetamorfosis menjadi secerah langit sore. Cinta memang sakti  ya? Bisa mengubah wajah orang seenak jidat, secepat kilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O ya?  ” Intan memandang sobatnya dengan setitik rasa iri. Buset deh, hoki  amat nih anak! Bisa ngedapetin cowok se perfect itu.  Sementara cowok  Intan sampai saat ini masih dianggap ‘alien’ sama  calon mertua,  lantaran penampilannya yang kacak kadut dan gayanya yang slengean.  Pelukis gitu lho! Mana bisa dia serapi dan sesantun ‘Pierce Brosnan’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak percaya? Kapan-kapan, gue kenalin deh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, what should I say. Congrats ya! Btw, dia gak BM kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud lo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bau Mulut, sayang……,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sumpeh lo? Lo…gak lagi bercanda ‘kan?” Mata Intan yang belo, jadi  dobel belo saking  kagetnya mendengar  cerita Fey.  Fey mengangguk lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue  liat sendiri. Dia merayu dan mencoba nyium Satria. Untung, Satria gesit  berkelit. ” Kalo gak bisa abis tuh anak!“ Ujarnya geram. “Katanya sih,  semula dia emang suka sama gue…tapi…begitu liat ketampanan Satria,  ’penyakit’ lamanya kumat.  Pantesan, dia perhatian banget sama Satria.  Rese! Gue dikadalin abis-abisan!” lanjut Fey emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar..sabar..  Gak usah marah-marah gitu. Ntar cepet peot lho! Yang penting, elo belum  terlanjur kawin sama dia.” Intan mengelus-elus punggung Fey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya  siih..tapi…gue udah terlanjur jatuh cinta sama dia. Ralat, maksudnya..  ‘pernah jatuh cinta’. Gila banget! Kenapa gue gak curiga ngeliat dia  baik banget sama Satria? Kenapa gue bisa apes gini sih?” Fey menyesali  diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, anggap aja ini pelajaran buat elo. Biar gak  silau lagi sama cowok perfect. Nodody is perfect!  Justru, yang terlalu  sempurna patut dicurigai. ” Intan menasihati. Fey terdiam. Tampaknya, ia   meresapi setiap kata sobatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, lain kali gue mesti  ati-ati nih kalo naksir cowok, apalagi kalo doi keliatan perfect banget.  “ Ujar Fey kemudian sambil bangkit dari duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, mau kemana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke tempat yang banyak cowok cakepnya. Kali aja ada yang cocok. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok bisa sih? Elo kan baru aja patah hati….,” Intan takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Patah hati? No way! Patah satu tumbuh seribu dong! “ Fey tersenyum genit. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-3184685985782423429?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/3184685985782423429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=3184685985782423429&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3184685985782423429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3184685985782423429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/09/that-perfect-guy.html' title='THAT PERFECT GUY'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Sks-EaRDyVI/AAAAAAAAA4w/vpbaG1txm5w/s72-c/cerpen2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-4942344272962953300</id><published>2011-08-08T19:39:00.000+07:00</published><updated>2011-08-08T19:40:19.020+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>CERPENIS IDOLA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;Asal usul ide :  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Seringkali kita tidak mau mendengarkan saran dan nasihat yang baik dari  sahabat kita. Tapi lebih suka mendengarkan saran/nasihat dari  artikel-artikel atau  buku-buku yang kita baca. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di majalah Kawanku No.09, tahun 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SmQnqst4dPI/AAAAAAAABA4/hbap86hLLbc/s1600-h/foto+cerpen+059.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SmQnqst4dPI/AAAAAAAABA4/hbap86hLLbc/s320/foto+cerpen+059.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360453070989325554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahi  Thyzia berkerut-kerut. Bibir mungilnya mencucut. Kedua tangannya  menumpu pada dagu lancipnya. Sepasang mata almondnya dibaluri lamunan.  Ada sejuta tanda tanya tak kasat mata melayang-layang di atas kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woi!  Pagi-pagi sudah ngelamun! Kesambet baru tahu rasa lo!” Tepukan keras di  bahunya membuat Thyzia terlonjak. Sejuta tanda tanya berjatuhan ke  lantai lalu sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anyeeee!!!” Lengkingan Thyzia membuat Anyelir  mundur tiga langkah. “Enggak sopan tahu ganggu orang yang lagi melamun!  Gimana kalau aku punya penyakit jantung, terus is dead gara-gara  dikagetin elo?” Thyzia melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry deh sudah bikin elo kaget.  Tapi, tuh suara… aduh! Geledek saja kalah!” Anyelir mengorek sebelah  telinganya dengan kelingking. “Bisa budek nih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarin!” Thyzia mencibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Galak  amat sih! Habis sarapan cabe ya?” ledek Anyelir. “Hmm… gue tahu deh,  pasti elo habis baca cerpen Wulandari. Terus, elo penasaran lagi. Iya  kan?” tebaknya jitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya nih!” Thyzia mengangguk. “Sampai hari  ini, gue masih penasaran dan pengin banget tahu siapa sih Wulandari itu?  Kok, masalah yang dihadapi para tokoh dalam cerpen-cerpennya selalu  mirip dengan masalah gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan saja kali,” Anyelir duduk di samping Thyzia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan kok sampai tiga kali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SmQn3SjRFdI/AAAAAAAABBA/BWWhVSjUhBQ/s1600-h/foto+cerpen+060.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SmQn3SjRFdI/AAAAAAAABBA/BWWhVSjUhBQ/s320/foto+cerpen+060.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360453287303779794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo  tuh ya… begitu saja dipikirin. Sudahlah, jangan dibawa serius!” Anyelir  mengibaskan tangannya. “Lagian, elo mestinya bersyukur karena  cerpen-cerpen Wulandari enggak hanya menciptakan masalah bagi para  tokohnya, tapi juga pemecahan atas masalah itu. Jadi, secara enggak  langsung elo bisa pakai cara sang tokoh dalam cerpennya buat nyelesain  masalah elo.” Lanjut Anyelir berusaha menghapus rasa penasaran Thyzia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak  bisa, Anye!’ Sergah Thyzia. “Gue pengin tahu kenapa si Wulandari  sepertinya tahu saja masalah yang lagi gue hadapi. Cause setiap kali ada  masalah dan gue kebingungan mecahin masalah itu, enggak lama kemudian  cerpennya muncul dengan tema yang mirip dengan masalah gue. Aneh banget  ‘kan?”&lt;br /&gt;“Yaaa… barangkali Wulandari punya indera ke enam. Apalagi,  elo ngefans berat sama cerpen-cerpennya. So, tanpa disadari lo dan dia  punya kontak batin. Makanya, dia bisa bikin cerpen yang kisahnya mirip  kisah elo,” Anyelir yang selalu tertarik pada hal-hal berbau misteri  mengungkapkan asumsinya, membuat kepala Thyzia makin mumet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh,  non…kalau ngomong pakai logika! Jangan pakai otak dukun elo!” gerutu  Thyzia. “Pokoknya, gue akan berusaha cari tahu siapa Wulandari itu? Gue  mau telpon redaksi majalah CHERY. Mau tanya alamat e-mailnya Wulandari.  Kalau perlu alamat rumah plus nomor hapenya!” tanda Thyzia penuh tekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  lesu, Thyzia meletakkan wirelessnya. Barusan, dia menelpon kantor  majalah CHERY yang sering memuat cerpen-cerpen Wulandari dan hasilnya…  majalah CHERY tidak bersedia memberitahukan alamat Wulandari, baik  e-mail maupun alamat rumahnya. Apalagi nomor hp-nya. Rahasia, kecuali  atas seizin Wulandari. Tapi, kalau Thyzia mau nulis surat buat  Wulandari, mereka bersedia menyampaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nulis surat buat  Wulandari dan dikirim lewat majalah CHERY? Ribet amat! Thyzia, kan,  enggak suka nulis surat. Biarpun diketik pakai computer, tetap aja  malas. Lebih enak ketemu face to face. Bisa lihat seperti apa wajah sang  cerpenis idolanya. Berapa usianya? Apakah dia masih ABG seperti Thyzia?  Atau sudah kuliah? Atau… bahkan sudah kerja? Terus, bisa interview dia  secara langsung. Dari mana dia dapat ide cerpen-cerpennya? Kenapa kisah  dan masalah dalam cerpen-cerpennya banyak yang mirip dengan kisah dan  masalah Thyzia? Apakah dugaan Anyelir benar? Wulandari punya indera ke  enam? Duh, betapa inginnya Thyzia ketemu Wulandari. Betapa banyak yang  ingin dia tanyakan dan katakana kalau mereka ketemuan. But, how?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SmQoMYVQm5I/AAAAAAAABBI/-eFt_S1romc/s1600-h/foto+cerpen+061.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SmQoMYVQm5I/AAAAAAAABBI/-eFt_S1romc/s200/foto+cerpen+061.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360453649632893842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nulis  surat. Minta kenalan dan ketemu,” usul Anyelir ketika keesokan harinya  Thyzia mengungkapkan kebingungannya. “Kalau  Wulandari tinggal di kota  ini juga, elo bisa ketemu dia dengan mudah. Tinggal janjian di mana  gitu. Tapi kalau enggak… ya, lo harus puas cuma ngobrol via e-mail atau  ponsel. And, kalau elo benar-benar penasaran mau ketemu. Kunjungin saja  dia di tempat tinggalnya. Beres, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dia tinggal di Irja, gimana?” tanya Thyzia asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaelah…  lo tuh stupid bin o’on ya! Pesan tiket pesawat dong! Terbang ke Irja.  Gitu saja kok  bingung sih!” sahut Anyelir, kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terbang ke Irja? Dasar dukun!” Thyzia menjitak pelipis Anyelir, gemas. “Emangnya beli tiket pesawat enggak pakai duit apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyelir meringis. Mengusap-usap pelipisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, itulah harga rasa penasaran yang mesti lo bayar,” katanya cuek. &lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Merasa  enggak punya pilihan, Thyzia menulis surat perkenalan buat cerpenis  idolanya. Tentu saja surat itu dikirim via majalah CHERY. Tetapi, hingga  hari ini, suratnya belum juga dibalas. Suratnya sampai enggak sih ke  Wulandari? Umm… jangan-jangan… majalah CHERY enggak menyampaikan surat  itu? Ah, enggak mungkin! Atau…. Wulandari belum sempat membalas suratku?  Gimana kalau dia memang enggak mau kenalan denganku, jadi suratku  enggak dibalasnya? Wah, kalau Wulandari enggak mau balas suratku berarti  rasa penasaranku selama ini enggak terjawab dong! Huh! masak sih baru  jadi cerpenis sudah sok? Enggak mau balas surat fansnya! Mentang-mentang  karyanya bagus dan sering dimuat di berbagai majalah remaja. Nyesel  juga nih mengidolakan Wulandari, batin Thyzia sambil memandang  langit-langit kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tok…Tok…Tok! Suara ketukan di pintu mengejutkan Thyzia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?” dengan malas, Thyzia bangkit dari peraduannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya, non…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa bik?” Thyzia membuka pintu kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada surat buat non Zi…”Bik Surti menyodorkan sebuah amplop biru muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat!  Pasti dari Wulandari. Thyzia menyambar amplop itu. Merobeknya dengan  tak sabar dan membaca isinya. Yeess!! Wulandari ngajak ketemuan. Besok  sore di Café Melati. Wajah Thyzia berseri-seri. Dilipatnya surat itu  dengan rapi dan memasukkannya   ke dalam laci meja belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Anye, elo mesti nemenin gue, “Thyzia menyambut Anyelir yang baru saja masuk ke kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temenin ke mana?” Anyelir melangkah ke tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin  gue terima surat dari Wulandari. Dia ngajak ketemuan di Café Melati.  Dia janji akan ngejawab semua rasa penasaran gue selama ini,”Thyzia  menjejeri langkah Anyelir. Matanya berbinar-binar gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue  ikut senang dengar berita ini, Zi. Tapi… sorry banget, gue enggak bisa  nemenin elo. Soalnya, sore ini gue ada acara,” ujar Anyelir sambil  menaruh tasnya ke laci meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaaa…jadi gue pergi sendiri dong!”Thyzia menunduk, kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyelir geleng-geleng kepala melihat sifat manja Thyzia muncul.&lt;br /&gt; “Thyzia…elo, kan, bukan anak kecil lagi. Masak ketemu cerpenis idola  elo saja mesti ditemenin? Lagian, Café Melati enggak jauh kok dari rumah  elo. Minta diantar sopir elo saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thyzia diam. Iya sih, dia  pasti diantar bang Ucok, supir setianya. Tapi…rasanya enggak PD saja  datang sendirian ke Café buat nemuin seorang kenalan baru. Hhh, susahnya  jadi anak tunggal. Enggak ada kakak atau adik yang bisa dimintai tolong  buat nemenin pergi. Sudah gitu, belum punya pacar lagi. Kalau ada,  pasti cowok gue yang bakal nemenin. Kacian deh gue! Thyzia meratapi  nasibnya. Diliriknya Anyelir yang kini sibuk  membolak-balik catatan  Kimianya. Mau maksa Anye enggak mungkin juga. Anak itu mana bisa dipaksa  sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, Anye! Katanya, elo ada acara….kok, bisa  ada di sini? Berubah pikirn ya? Mau nemenin gue?”Thyzia tersenyum girang  ketika tiba di Café Melati dan melihat sobatnya sedang duduk di salah  satu sudut Café.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“GR amat sih lo. Gue ke sini bukan buat nemenin  elo, tapi. buat nemuin seorang fans gue bernama Thyzia Syailendra,”  Anyelir tersenyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haaahhh? Mmm…maksudnya….Wulandari itu elo?” Thyzia melongo. Kaget bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Enggak percaya kalau gue bisa nulis cerpen?” tanya Anyelir sebelum menyeruput frappucinno-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Percaya  sih percaya. Dari dulu elo, kan, emang pinter dalam pelajaran mengarang  tapi….ANYEEE! Elo…sungguh…amat…sangat…JUAHAATTT! Kok, elo enggak pernah  cerita siiihh? Gue’kan sohib elo. Teman elo di kala senang dan susah.  Teman main elo sejak kita berdua masih ingusan. Elo emang kudu patut di  JITAAAKKK,” Thyzia meradang dan siap melayangkan jitakan patennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eits!!  Sabar non, sabar….”Anyelir berkelit dengan luwesnya. Jitakan Thyzia pun  meleset. “Lo dengar dulu penjelasan gue, friend. Gue emang enggak  pernah  cerita ke elo kalau selama ini gue suka nulis cerpen. Bukannya  mau main rahasiaan tapi…gue sendiri enggak sangka kalau cerpen yang gue  tulis iseng-iseng bisa dimuat. Terus, lebih enggak sangka lagi kalau  cerpen pertama gue yang dimuat di majalah CHERY disukai elo. Niat gue  mau kasih tahu elo kalau gue itu Wulandari jadi batal. Pasalnya, gue  pengin tahu sejauh mana karya gue disukai oerang. Kalau gue bocorin  identitas gue, entar penilaian elo jadi enggak jujur. Mentang-mentang  gue sohib elo, terus elo enggak mau terus terang kalau cerpen gue jelek.  Padahal kalau kita mau maju, kan, harus rela dikritik. Jangan dipuji  melulu. So…biarpun cerpen-cerpen gue sudah sering dimuat, gue tetap  enggak ngasih tahu elo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu yaaaa? Hmmm…tetap saja ada ganjarannya buat seorang teman yang suka main rahasiaan yaitu…di….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jitakan maut hinggap di pelipis Anyelir sebelum gadis itu  sempat menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Auch!!! Sadis lo, Ziii!”  Anyelir mengusap-usap pelipisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu  belum seberapa. Mestinya elo dapet jitakan kedua atas perbuatan elo  bikin cerpen yang kisahnya mirip kisah gue tanpa seijin yang empunya  kisah!.” Thyzia melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampuuunnn, Zi…” Anyelir pura-pura  ketakutan. “Gue terpaksa nulis cerpen yang kisahnya diambil dari kisah  elo itu karena gue pengin banget bantu elo nyelesain masalah-masalah elo  yang seabrek. Mulai dari masalah cinta elo yang bertepuk. sebelah  tangan sampai masalah tetangga elo yang suka sirik sama elo, tapi…elo  tuh keras kepala banget! Nasihat, saran dan solusi dari gue sering  enggak didengerin. Elo lebih suka ngambil penyelesaian yang enggak  banget, yang bikin elo makin terpuruk dengan masalah elo. Alhasil, gue  bikin aja  cerita dengan mengambil tema masalah-masalah elo plus  pemecahannya. Ternyata cara itu leih berhasil daripada gue harus  berbusa-busa ngasih saran. Lo, kan, suka pakai cara para tokoh dalam  cerpen gue buat nyelesain masalah elo,”ujar Anyelir seraya meraih tangan  Thyzia. “Maafin gue ya,Zi? Mungkin tindakan gue ini salah karena sudah  ngambil kisah elo tanpa ijin. Tapi …trust me! Gue lakuin ini cuma buat  nolong elo kok. Enggak ada maksud apa-apa dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak apa-apa,  Anye,”tukas Thyzia tersenyum. Walaupun sempat kesal karena Anyelir  enggak terus terang dari semula tapi…dalam hati ia merasa bersyukur  punya sahabat sebaik Anyelir. “Gue justru berterima kasih sama sekali  karena elo begitu care sama gue. Tapi, lain kali jangan main  rahasia-rahasiaan ya? Gue lebih suka keterbukaan. Kalau gue keras kepala  dan suka ngambil keputusan yang salah, jangan takut buat negor gue.  Bila perlu marahin gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti, Zi…Gue  gak akan ngebiarin elo jatuh. That’s what friends are for.” &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-4942344272962953300?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/4942344272962953300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=4942344272962953300&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4942344272962953300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4942344272962953300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/08/cerpenis-idola.html' title='CERPENIS IDOLA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SmQnqst4dPI/AAAAAAAABA4/hbap86hLLbc/s72-c/foto+cerpen+059.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-1515363068139304155</id><published>2011-08-06T15:12:00.002+07:00</published><updated>2011-08-06T15:19:23.386+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>MUTIARA YANG LAIN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-HzkYF4SNt1Y/Tjz48869aJI/AAAAAAAADZU/9QloOdPDu1M/s1600/IMG00099-20110805-1819.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-HzkYF4SNt1Y/Tjz48869aJI/AAAAAAAADZU/9QloOdPDu1M/s320/IMG00099-20110805-1819.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637654559590279314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;Asal usul ide : &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Setiap orang dikaruniai talenta yang berbeda karena itu jangan pernah iri hati atau rendah diri melihat kehebatan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Mari menggali talenta sendiri!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;MUTIARA LAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat MEDIA KAWASAN edisi bulan Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-QRf53jmxhX8/Tjz4Wa4WQgI/AAAAAAAADZM/PTjhh7ZDvuQ/s1600/IMG00100-20110805-1820.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-QRf53jmxhX8/Tjz4Wa4WQgI/AAAAAAAADZM/PTjhh7ZDvuQ/s320/IMG00100-20110805-1820.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637653897617490434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari di bulan Juni bersinar garang menyengat kulit. Aku melangkah gontai meninggalkan halaman sekolah. Bayang-bayang tubuhku terlihat memanjang di setiap langkah.  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Jill,” seseorang memanggilku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Aku berhenti&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;melangkah dan menoleh. Fria berlari kecil menghampiriku. Rambut ala Bob nya bergoyang kian-kemari, kontras sekali dengan wajah mungilnya yang memerah tersengat mentari. Nampak lincah sekali ia, seperti bola karet melambung-lambung. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Jill,” Fria berkata terengah-engah setelah sampai di tempatku berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Atur dulu nafasmu, Ri,” Kataku tersenyum geli melihatnya berusaha bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Kamu dapat ranking berapa?” tanyanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Deg! Jantungku seolah berhenti berdegup. Aku malu untuk menjawabnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Gagal lagi ya?” tanya Fria.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Aku menghela nafas. Dadaku terasa perih sekali! GAGAL. Kata itu sungguh menyakitkan, tapi itulah kenyataan. Aku memang gagal meraih ranking pertama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Boleh lihat rapormu?” mata Fria singgah di buku yang kupegang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Untuk apa? Mentertawakan kebebalan otakku?!” tanyaku ketus. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa tersinggung sekali dengan perkataannya. itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Jangan berpikir yang bukan-bukan, Jill!” Mata bening di hadapanku itu menatap tajam. “Apakah aku pernah mentertawakan kegagalanmu di masa lalu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Aku terpaku. Kegagalanmu di masa lalu? Ugh! Lagi-lagi aku merasa keperihan itu menyengat dadaku. Tiga tahun di SMP tiga kali ranking tiga. Dan kini, posisiku tidak berubah juga. Padahal aku sangat mengharapkan kalau di SMA inilah prestasiku dapat meningkat. Tapi nyatanya … oh benar-banar mengecewakan. Ranking tiga lagi. Bosan!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Sentuhan lembut di pundakku membuyarkan lamunanku. Fria tersenyum, “Kamu melamun, Jill,”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Aku diam. Kutatap mata bening sahabatku itu. Ah, bahkan mata yang menyejukkan itu tak dapat meredakan duka ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Jangan putus asa, Jill. Tahun depan masih ada kesempatan,” suara Fria memecah kebisuanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Aku tak tahan lagi. Airmata duka itu pun tumpah. Kecewa yang tadi menghimpit kalbu, kini mendesak keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Tuhan tidak adil,” kataku disela tangis, “Aku sudah berusaha sekuat tenaga tapi Dia malah memberi kegagalan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Jill, jangan berkata begiitu. Mungkin kemampuanmu hanya sampai disitu,” Fria memelukku. “Seharusnya kamu bersyukur dapat meraih ranking tiga. Itu sudah menunjukkan prestasi yang hebat. Kamu lihat aku, hmm…. jangankan ranking&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tiga, ranking sepuluh pun tidak pernah,” lanjutnya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Aku terdiam. Menunduk lesu, lalu melangkah pelan. Meninggalkan Fria yang bingung melihat kelakukanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Jill..tunggu!” Fria mengikuti langkahku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Biarkan aku sendiri, Fri. Plisss….,” Ujarku tanpa menoleh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Baiklah, tapi jangan melamun di bis. Nanti…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Aku pulang dulu.” Aku memotong sambil melambaikan tangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:center" align="center"&gt;oOo&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:center" align="center"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Ada luka menorah di relung kalbu ketika kulihat senyum bahagia tersungging di bibir papa. Mata tuanya sibuk menelusuri angka-angka yang tertera di lembar putih sebuah buku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Bagus! Pertahankan prestasimu ini,” katanya seraya menyerahkan buku bersampul plastik biru tua itu kepada kak Tifa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Sekarang giliran Ika,Pa!” Ujar si bungsu yang sejak tadi memperhatikan adegan itu. Papa tertawa kecil, lalu diambilnya sebuah buku yang tergeletak di atas meja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Wah, ini baru anak papa!” Papa tersenyum lebar setelah melihat rapor Ika. Yang dipuji tersipu bangga, membuat luka hati ini kian terasa nyeri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Tifa, Ika, untuk tahu ini kalian berhasil meraih ranking pertama, tapi ingat tidak boleh sombong dan lupa diri. Kalian harus lebih giat untuk mempertahankan prestasi ini,” Nasehat mama yang tiba-tiba muncul dari dapur dengan membawa sepiring kue dadar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Beres Ma!” sahut kak Tifa dan Ika bersamaan sambil mencomot kue dadar. Mama melotot pura-pura marah karena kuenya disambar begitu saja. Sementara papa tertawa riang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Ah, betapa bahagianya mereka. Betapa ingin aku seperti kak Tifa dan Ika. Diam-diam aku menyesali kebebalan otakku. Aku memang tidak sepandai kak Tifa yang pelajaran eksaktanya selalu diatas tujuh. Daya ingatku untuk mata pelajaran itu jauh dibawah normal. Sukar sekali bagiku untuk memahami rumus-rumus Kimia dan Fisika, apalagi menyelesaikan soal-soal matematika. Semuanya seperti jalan berbelok-belok tanpa pernah sampai ke tempat tujuan. Dan…itulah penyebab kegagalanku. Meskipun aku unggul untuk mata pelajaran hafalan, tapi nilai-nilaiku masih jauh tertinggal dari Reny, sang juara kelas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Jill, mana rapormu? Kok diam saja,” suara kak Tifa mengejutkan aku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Ra ..porku?” tanyaku gugup. Kak Tifa mengangguk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Aku….aku gagal kak. Aku…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Apaaa? Kamu tidak naik kelas?” Kak Tifa membelalak tak percaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Naik kelas sih, tapi…,”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Ada merahnya?” potong kak Tifa cepat. Matanya menatapku tajam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Tifa, tenang dulu,” Papa buka suara,” Biarkan adikmu bicara.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Aku menunduk. Rasa haru manjalar di kalbu. Papa selalu sabar, tapi aku telah membalasnya dengan kegagalan ini. Teringat kembali kata-kata papa setahun yang lalu waktu aku baru lulus SMP.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Ranking tigapun bagus. Kamu tidak usah kecewa. Di SMA nanti siapa tahu dapat ranking satu,” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kini haruskah aku mendengar kata-kata hiburan itu lagi? Oh, aku benar-banar kecewa. Mengapa aku tak dikaruniai otak yang cemerlang seperti kak Tifa dan Ika? Mengapa?.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Seandainya aku seperti mereka, tentu akan lengkaplah kebahagiaan papa dan mama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Jill, coba papa lihat rapormu,” Papa menyibak lamunanku..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Perlahan kuulurkan rapor itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Lho, ranking tiga kamu bilang gagal?” tanyanya setelah melihat nilai-nilai raporku. Aku tak menjawab. Kupandangi papa yang tengah menatapku tak mengerti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Iya, pa..karena …aku tidak bisa seperti kak Tifa dan Ika,” ujarku kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Papa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tersenyum bijak. Dengan penuh kasih sayang dibelainya rambutku. “Manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, Jill. Kalau kemampuanmu hanya sampai disitu, ya tidak usah dipaksa.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Papamu benar, Jill,” Mama duduk di sampingku,” Setiap orang mempunyai bakat dan prestasi yang berlainan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Contohnya kamu, biarpun cuma dapat ranking tiga tapi kalau soal mengarang kamu jagonya,” Kali ini kak Tifa ikut campur. Tangannya memegang sebuah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;majalah remaja. Tiba-tiba aku seperti diingatkan sesuatu. Dan … Uf!&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Aku segera menyambar &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;majalah itu dari tangan kak Tifa. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Cepat kubuka halaman demi halaman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;OMG! Aku berteriak dalam hati. Namaku tertera sebagai pemenang kedua dalam lomba mengarang cerpen remaja. Rasanya seperti mimpi. Berkali-kali aku membacanya. Tidak salah lagi. JILL SARASWATI, itu memang namaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Itulah mutiara yang lain yang kamu miliki, Jill. Sebuah bakat yang tak dimiliki Tifa dan Ika,” Ujar papa dengan mata&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;berbinar penuh rasa bangga. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Akh, segala kecewa dan duka lenyap tiba-tiba. Mutiara yang lain telah menebusnya.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-1515363068139304155?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/1515363068139304155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=1515363068139304155&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1515363068139304155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1515363068139304155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/08/mutiara-yang-lain.html' title='MUTIARA YANG LAIN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-HzkYF4SNt1Y/Tjz48869aJI/AAAAAAAADZU/9QloOdPDu1M/s72-c/IMG00099-20110805-1819.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-2283099339566562764</id><published>2011-07-20T15:06:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:10:03.367+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>I'M NOT A LOSER</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Ss6vVEy4l-I/AAAAAAAABe8/AWFvS4eoz_8/s1600-h/08102009%28002%29.jpg"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dimuat di majalah KawanKu No. 57, tanggal 7 - 21 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Ss6vVEy4l-I/AAAAAAAABe8/AWFvS4eoz_8/s1600-h/08102009%28002%29.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Ss6vVEy4l-I/AAAAAAAABe8/AWFvS4eoz_8/s320/08102009%28002%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390438580608341986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;b&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;Cerpen ini semula berjudul AKU BUKAN PECUNDANG. Sudah dua kali dikirim ke majalah Kawanku tetapi yang pertama kali ditolak. Lalu, saya revisi lagi sampai rasa bumbunya meresap, baru dikirim lagi ke majalah yang sama. Iseng aja. Karena setelah saya baca ulang, memang ada yang harus diedit. Ternyata, usaha saya gak sia-sia. Setelah direvisi dan judulnya dirubah menjadi I’M NOT A LOSER, akhirnya cerpen ini dipublish juga.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Ss6vxZP5aRI/AAAAAAAABfE/lcW6e6rtbsk/s1600-h/08102009%28003%29.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Ss6vxZP5aRI/AAAAAAAABfE/lcW6e6rtbsk/s320/08102009%28003%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390439067135076626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Asal usul ide :&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Saya sering melihat banyak kawula muda yang punya cita-cita setinggi langit, tapi tak ada kemauan untuk bekerja keras menggapai cita-citanya. Bahkan, ada yang serakah banget. Impiannya segudang. Pengen jadi ini, pengen jadi itu, tetapi….malasnya ampun deh! Gimana bisa tercapai impiannya kalo semuanya hanya ada dalam angan-angan, tanpa usaha sedikitpun untuk mewujudkannya?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Dewi malam sudah sedari tadi menampakkan dirinya dalam gaun hitam bertabur kerlap-kerlip bintang kecil yang sangat indah, namun Widya belum juga mampu memejamkan matanya sedetikpun. Angan gadis berusia 16 tahun itu mengembara jauh. Membubung tinggi diantara kilau bintang. Menerobos kelam langit. Menembus sang waktu. Dan, Widya terdampar di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widya melompat-lompat kegirangan. Dia lulus test masuk. Itu berarti sebentar lagi dia akan kuliah di Fakultas Ekonomi sebuah universitas swasta yang terkenal. Ouww….senangnya!&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Widya masa kini tersenyum. Diajaknya sang angan-angan melompati beberapa masa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah  tahun berapa ini. Widya masa kini belum sempat menghitungnya, sebab :  tiba-tiba aja  dia sudah melihat dirinya yang mengenakan kebaya modern  sedang melangkah diantara gadis-gadis yang berkebaya dan bersanggul dan  pemuda-pemuda gagah yang memakai setelan jas hitam dengan kemeja putih  di dalamnya.  Semuanya tampak keramik! Keren dan ciamik. Senyum  kebahagiaan pun terukir di setiap bibir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widya masa kini tersenyum lembut.  “Hari wisudaku, “ Bisiknya bahagia. Angan-angannya kembali mengudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang,  Widya dan rekan-rekannya mengenakan toga hitam lengkap dengan topi  kebesarannya yang khas. Dan…oh…., nama Widya dipanggil sebagai mahasiswa  yang lulus dengan nilai tertinggi. Dengan anggun dan percaya diri Widya  berjalan ke atas podium.  Bapak dekan menyambutnya. Menjabat tangannya  erat sambil memberi ucapan selamat atas keberhasilannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm…Widya  Azalea SE. Sounds good!” Widya masa kini tersenyum bangga. Diliriknya  jam di dinding kamar yang sudah bergerak ke pukul 12 lewat 15 menit  tapi…. Widya belum ngantuk dan masih ingin bermain dengan  angan-angannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layar kembali terkembang menampilkan :  sosok  Widya yang sedang dikerumunin para wartawan.  Rupanya, para pemburu  berita itu sedang mewawancarai seorang penyanyi terkenal yang baru saja  meluncurkan album gres-nya. Wow! Selain bertitel Sarjana Ekonomi, Widya  Azalea ternyata punya suara emas yang bisa membuai telinga.  Album-albumnya selalu laris manis. Enggak heran, kalo Widya bisa membeli  apartemen mahal dan kemana-mana selalu naik mobil mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ck..ck..ck..Hebring euy! Widya masa kini berdecak kagum sebelum menguap panjang.  Hoammmmmm! &lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Pagi  harinya di kelas, Widya duduk terkantuk-kantuk. Kelopak matanya membuka  dan menutup berkali-kali. Berat bener! Suara lembut bu Sinah, guru  bahasa Inggrisnya yang sedang menerangkan bentuk-bentuk kalimat present  tense terdengar bagai lagu nina bobok di telinganya.  Widya pun kian  hanyut dan nyaris bertamasya ke pulau kapuk. Kalau saja Lily, teman  sebangkunya enggak menyikut lengannya keras-keras, mungkin jidat licin  Widya sudah menyentuh permukaan meja di depannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Aduh!” Widya  tersentak, kaget. “Adaaaa…. apaaa… sih, Liii…? Gangguin orang ajaaa…,”  katanya malas sambil membuka sebelah matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangun,  pemalas…, ” desis Lily pelan, takut kedengaran bu Sinah. “Muka bantal  kamu nyaris nyium meja nih. Mau ketahuan bu Sinah lagi tidur di kelas,  ya? Mau dihukum ngarang cerpen pake bahasa Inggris?”  Bisiknya  sambil  melirik tajam ke wajah ngantuk Widya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haaah?  Tadi…. bu Sinah  ngasih tugas ngarang cerpen, ya?” Sepasang mata Widya kini membuka  sempurna.  Kantuknya sirna seketika. Kepalanya langsung tegak dan  jantungnya kebat-kebit. Tau sendiri deh, jangankan mengarang cerpen,  disuruh bikin sebaris kalimat aja Widya kudu merenung lama-lama. Otaknya  yang jarang digunakan (kecuali buat ngelamun) memang suka tulalit.  Enggak cepat menangkap bola eh…pelajaran.&lt;br /&gt;“Dasar pelor! Nempel  langsung molor sih! Bu Sinah belum kasih tugas apa-apa kok. Tapi, kalo  dia liat kamu tidur pasti sebentar lagi kamu bakal dapat sanksi nulis  cerpen. “ Lily menakuti. Tapi bukannya ketakutan, Widya malah menghela  nafas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya supaya aku enggak dikenai sanksi, kamu  mesti lindungin aku. Tutupin kepalaku kalo mata bu Sinah mulai ngelirik  ke sini. Tarik hidung aku kalo  suara ngorok mulai terdengar. Oke? Aye  mau bobo lagi nih!” katanya cuek bebek sembari menunduk pura-pura   serius melototin buku pelajarannya.  Padahal sih lagi siap-siap ke alam  mimpi.  Melihat kelakuan sobatnya yang enggak banget, Lily cuma bisa  geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cape deeeehh!” katanya sebal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Kamu  pasti begadang lagi!” Kata Lily sambil mengaduk-aduk soto mienya. Saat  itu, ia dan Widya sedang berada di kantin sekolah menikmati jam  istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gitu deeeh!  Aku emang nggak bisa tidur kalo belum  lewat jam 12. Tapi lantaran  mamaku   ngoceh terus nyuruh bobo  yaa…..udah..aku ke kamar aja, cuma….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan buat tidur tapi melamun dan berangan-angan  sampai mata merasa berat. Iya,’kan?” sambung Lily gemes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widya  mengangguk. Wajahnya langsung berseri-seri. “Semalam aku baru aja  diwisuda lho! Kali ini gelarnya SE. Sarjana Ekonomi! Hebat nggak, tuh?  Terus, aku  jadi penyanyi top. Albumku  laris banget dan para  wartawan…….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stop, Wid!” Bentak Lily.  “Kamu jangan  terus-terusan mimpi dong! Kalo kamu mau jadi penyanyi terkenal atau  Sarjana Ekonomi  atau… apa aja deh, kamu mesti usaha dari sekarang.  Jangan bisanya berkhayal doang! Aku cape, tau.. ngedengerin angan-angan  kamu yang enggak mutu! Sebentar bilang mau jadi dokter, lain kali bilang  enakan jadi Lawyer, eh..hari ini..mau jadi Sarjana Ekonomi dan  penyanyi. Tapi…enggak ada tanda-tanda kamu bakal meraih semua itu.” Ujar  Lily sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaaa….namanya juga angan-angan. Suka-suka aku dong  mau jadi apa kek. Hak aku juga mau wujudin angan-angan itu apa enggak.  Kenapa kamu yang repot sih? “ Widya berkata kalem lalu meneguk es  jeruknya.  Lily menghela nafas sambil mengelus dada.   Sabar…sabar….batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang sih, itu hak kamu, Wid. Tapi…aku  nggak mau liat kamu molor terus di kelas. Sebentar lagi kita ujian  kenaikan. Kamu nggak mau tinggal kelas, ‘kan?”  tanyanya berusaha  menggugah kesadaran Widya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya enggaklah. Tapi, molor sih jalan  terus. Soalnya, ada kamyuu.. “ Widya mencolek dagu Lily.  “….yang setia  pinjemin catatan dan ngajarin akyuu kalo akyu kagak ngarti. “ Ujarnya  centil.  Lily melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tuh yaa….bener-bener mualas dan  susah dikasih tau. Kalo aku tiba-tiba is dead atau…..nggak sekelas lagi  sama kamu, gimana? Siapa yang bantuin dirimu?  Dengerin ya, Wid. Kamu  enggak bisa bergantung terus sama aku! Udah waktunya kamu bangkit  sendiri. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang sebaik kamu nggak mungkin mati muda deh!  Lagian, mau  kemana sih, Li?  Kamu enggak bakal ninggalin aku, kan?  Setidaknya sampai aku lulus SMA. Iya ‘kan?” Widya menatap mata  sahabatnya minta kepastian. Entah mengapa, dia merasa ucapan Lily  barusan seperti memberi isyarat kalau Lily akan pergi ninggalin dia.  Entah kemana. Wah, jangan sampai deh Lily ninggalin dia. Selama ini cuma  Lily yang mau membantunya kalo ada pelajaran yang sulit dimengerti.  Lily pula yang selalu setia minjemin catatan kalo dia bolos atau  catatannya enggak lengkap. Teman-teman yang lain sudah cape dan bosan  nolongin dia.  Gimana enggak bosan kalo hampir tiap hari dia minjem  catatan? Gimana enggak cape kalo harus ngejelasin hampir semua mata  pelajaran? Mana yang diajarin suka telmi dan enggak serius dengerin sang  guru. Padahal mulut sang guru ‘privat’ udah berbusa-busa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku nggak bisa jawab, Wid! Masalahnya, aku sendiri belum tau apakah permohonan PR yang diajuin ortuku  bakal di acc sama …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“PR?  Maksudnya …permanent resident? “ Sergah Widya kaget. “Emangnya, kamu  mau kemana, Li? Mau tinggalin aku, ya?” tanyanya panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke  Aussie. Papaku  baru aja di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja udah  pailit.  Jadi, papa mau cari kerja di Aussie.  Kebetulan, salah satu  oom aku udah jadi WN Australia. Dia bersedia jadi sponsornya. So,  kita  sekeluarga bakal pindah ke sana. Tapi…kalo dapet PR-nya lho. Cuma, kamu  harus siap-siap dari sekarang. Kalo ternyata aku harus ninggalin …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak akan! Aku doa’in papamu enggak dapet PR-nya deh!” tukas Widya tangkas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya  ampuunn, Wid! Kamu kok egois amat sih?” Lily tertawa geli. “Kamu nggak  kasihan liat papaku jadi penggangguran? Enggak prihatin liat keluargaku   jatuh miskin ?  Jangan mikirin diri sendiri dong, Wid!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan  gitu, Li.. Aku ikut prihatin kok ngeliat papamu di PHK, tapi…aduh,ntar  aku gimana dong? Aku bakal sebatang kara di kelas ini. Kamu ‘kan tau  teman baikku cuma kamu seorang. Anak-anak lain mana mau deket-deket aku  yang blo’on dan suka molor ? “ Gurat kesedihan tercetak di wajah Widya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya  elo mesti berubah, Wid… Jangan jadi orang ‘botol’  alias bodoh dan  tolol terus.  Wujudin angan-angan elo yang seabrek itu jadi kenyataan.  Enggak usah semuanya deh. Satu aja yang paling elo inginkan terjadi  dalam hidup elo. “ Lily berkata lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widya terdiam. Tangannya  sibuk memutar-mutar sendok. Soto mie-nya yang baru dilahap setengahnya  sudah dingin sejak tadi. Selera makannya emang langsung raib saat  mendengar kemungkinan Lily akan pergi ke Aussie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya…udah  lama…gue pengen berubah, Li. “ Kata Widya kemudian.  “Tapi..kok susah  banget buat ngilangin rasa malas yang udah bercokol di diri gue selama  ini. Apalagi  kalo elo udah pergi. Siapa dong yang ngasih spirit ke gue?  “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wid, elo harus bisa memotivasi diri elo sendiri. Jangan  berharap sama gue terus. Biarpun misalnya gue gak jadi ke Aussie, tetap  aja kita nggak bisa sama-sama selamanya. Begitu lulus SMA aja kita udah  pisah. Masing-masing kuliah di Fakultas yang berbeda kecuali elo mau  ikutin gue kuliah di Fakultas Teknik Sipil dan ketemu lagi sama  matematika yang elo benci setengah mati. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiiih! Enggak janji lha yauw! Bisa botak kepala gue bergelut sama angka-angka.” Widya bergidik ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah,  kalo gitu elo harus berani berjuang sendiri buat merealisasi  mimpi-mimpi elo. Eh, tapi sebenarnya elo nggak sendiri kok.  Yang Maha  Kuasa pasti ngebantuin elo asal elo rajin-rajin doa dan mau berusaha.   Lagian, elo ‘kan punya ortu yang bisa ngedukung elo. “ Ujar Lily bijak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;Widya  menatap bulan yang malam ini tampak sumringah dengan sinarnya yang  cemerlang. Indah sekali! Malam yang kelam dan dingin jadi terasa ceria  dan hangat. Kalau saja benaknya sedang tak sibuk menelaah ucapan Lily  tadi siang, mungkin sudah diajaknya sang bulan berkelana dengan  angan-angannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, malam ini Widya memang tak bersemangat  untuk bermain dengan angan-angannya. Hati dan pikirannya terpaku pada  realita yang terbentang di hadapannya. Cepat atau lambat Lily, sahabat  dan dewi penolongnya akan ninggalin dia. Oh, Widya merasa tak sanggup  menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Lily.  Tetapi, dia juga enggak  mungkin mencegah Lily pergi. Lily  punya urusan dan kehidupan sendiri.  Sebagai seorang anak yang masih bergantung pada orang tuanya, tentu dia  harus mengikuti kemanapun orang tuanya pergi. Seerat apapun  persahabatannya dengan Lily, Widya tetap orang luar. Dia nggak berhak  melarang Lily pergi demi kepentingannya sendiri. Maka, nggak ada jalan  lain kecuali mempersiapkan diri buat berubah jadi lebih mandiri dan  bertanggung  jawab demi meraih masa depan yang gemilang yang selama ini  hanya ada dalam angan-angannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhh, Widya menghela nafas  panjang. Ditutupnya jendela kamarnya lalu membaringkan tubuhnya di  peraduan. Mulai sekarang, aku harus tidur lebih awal supaya enggak molor  lagi di  kelas. Aku enggak mau jadi Widya yang pemalas, yang hanya bisa  bertopang dagu sambil bermimpi.  Aku harus berjuang  ‘coz Winners are  achievers, Losers sustainers.   And… I’m not a loser! Aku adalah Widya  Azalea yang sebentar lagi akan menggebrak dunia dengan segudang  prestasi. Tekad Widya mantap sebelum memejamkan matanya. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-2283099339566562764?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/2283099339566562764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=2283099339566562764&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2283099339566562764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2283099339566562764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/07/im-not-loser.html' title='I&apos;M NOT A LOSER'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/Ss6vVEy4l-I/AAAAAAAABe8/AWFvS4eoz_8/s72-c/08102009%28002%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-4978646218254016919</id><published>2011-07-10T15:50:00.000+07:00</published><updated>2011-07-10T15:50:00.399+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>KARENA CEMBURU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Oleh : FANNY FREDLINA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dimuat di Media Kawasan, edisi Mei 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida memandang Deby dengan selaksa kebencian berkobar di hatinya.  Kedua tangannya terkepal erat. Bibirnya mengatup rapat. Kalo dia punya taring,  mungkin taringnya sudah berkilat-kilat. Siap memangsa musuhnya. Dasar cewek ganjen! Dumelnya dalam hati.&lt;br /&gt;“Ida, elo ngeliat siapa sih?” Claudia menghampiri Aida yang sedang berdiri di tepi jendela kelasnya. “Kok, tampang elo kayak mau  makan orang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, gue mau nelen tuh cewek hidup-hidup!” Telunjuk Aida mengarah ke kelas XII yang terletak di seberang kelasnya. Di depan kelas itu, tampak Deby dan Edgar sedang bercanda ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak si Deby centil itu masuk sekolah kita, hidup gue jadi kacau balau.” Ujar Aida geram. “Bayangin aja, dua hari yang lalu dia ngedeketin gebetan gue si Edgar.  Trus, kemarin dia terpilih jadi Koordinator Humas pensi sekolah kita.  Padahal, gue yakin banget jabatan itu bakal jatuh ke tangan gue. Ugh! Gue benci banget sama dia! Dia udah ngambil semua milik gue. Kebahagiaan gue!” Mata Aida mulai berkaca-kaca.  Kesedihan yang pekat menggelayuti hatinya bagai awan kelabu yang keberatan menggendong butiran hujan yang siap dicurahkan ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ida, “ Tangan Claudia mengusap punggung Aida. “Siapa bilang semua kebahagiaan elo diambil Deby? Edgar ‘kan belum jadi pacarnya. Lagian, menurut gue si Deby itu gak lagi PDKT sama Edgar kok. Dia dan Edgar cuma temenan doang.  Elo aja yang cemburu berlebihan.  Trus, kalo soal elo gak kepilih jadi Koordinator Humas, itu ‘kan karena elo udah pernah jadi Koordinator Humas di pensi 2 tahun lalu.  Jadi, perlu muka baru dong!  Lagian, si Deby itu  orangnya supel, ramah, gak sombong. Wajar aja  kalo anak-anak milih dia.  “ Kata Claudia lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo aja……elo mau mengenal dia lebih jauh, elo pasti sependapat sama  gue.  “ Lanjut Claudia.  “Deby itu enak kok dijadiin teman.  Dia gak hanya cakep diluar tapi juga punya inner beauty. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8LD338nRrrY/ThQiRnrBYQI/AAAAAAAADIo/5Xkml-v_Y-I/s1600/09052011.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8LD338nRrrY/ThQiRnrBYQI/AAAAAAAADIo/5Xkml-v_Y-I/s320/09052011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626159520595140866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar Deby dipuji-puji, hati Aida makin panas.  “Lho?  Kok, elo jadi ngebelain dia? Gue ‘kan sohib elo. Seharusnya, elo bela gue dong! “ Katanya jutek.  “Oohh..gue tahu deh! Deby ‘kan anak orang kaya. Makanya, elo pasti lebih ngedukung dia ketimbang gue yang melarat. “ sambungnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Da, lo jangan salah paham dong. Gue gak belain siapa-siapa. Gue Cuma ngomong apa adanya. Kalo Deby baik, masa gue bilang jahat? “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alaaa….udah deh, jangan banyak alasan. Elo sama aja dengan anak-anak lainnya. Matre!” Bentak Aida. Bendungan air matanya jebol seketika. Aliran bening mengalir deras di pipi tirusnya.  Ini benar-benar gak fair! Pikir Aida sedih. Sekarang, Claudia pun berpihak pada Deby.  Huh! Gue benciiiiii elo, Deby!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Hujan lebat yang beberapa hari ini rajin berkunjung ke Jakarta  telah menimbulkan banjir besar.  Belum lagi banyak bendungan yang jebol lantaran gak kuat nahan limpahan air yang super deras.  Situasi di ibukota tercinta pun makin buruk aja dan layak mendapat julukan : Jakarta lautan air.  Rumah Aida - yang selalu kebanjiran setiap musim hujan tiba  - ikut terkena imbasnya.  Aida dan keluarganya pun dievakuasi ke posko pengungsian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Claudia dan beberapa teman Aida yang rumahnya gak kebanjiran spontan memberikan bantuan kepada Aida sekeluarga.  Aida terharu sekali. Dia gak menyangka Claudia masih mau membantunya. Padahal beberapa hari lalu dia sudah menuduh Claudia berpihak pada Deby.  Bahkan, saking kesalnya, dia gak mau menegur Claudia. Sapaan Claudia juga dicuekin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Claudia, maafin gue ya? Gue udah ….cuekin elo. Tapi elo masih peduli sama gue. “ Dipeluknya Claudia sambil menyeka matanya yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak ada yang perlu dimaafin. Gue ngerti kok perasaan elo.” Claudia menepuk-nepuk punggung Aida. “Tapi….asal lo tau aja, ide ngebantuin elo tuh bukan cuma dari gue aja lho! “ sambung Claudia seraya melepaskan pelukan Aida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud elo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deby juga ikut andil. Bahkan, dia yang paling hot. Dia juga nitip ini buat elo. “ Claudia mengulurkan sebuah amplop coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa-an nih?” tanya Aida heran sambil menimang-nimang amplop yang lumayan tebal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buka aja sendiri. Deby bilang, itu semua diambil dari tabungannya. Buat bantu ngebenerin rumah lo yang terendam banjir. “&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-cKKwYU2bHHw/ThQiCTKZa2I/AAAAAAAADIg/m4LCB7cnjFQ/s1600/09052011%2528001%2529.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-cKKwYU2bHHw/ThQiCTKZa2I/AAAAAAAADIg/m4LCB7cnjFQ/s320/09052011%2528001%2529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626159257391557474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A…paa? Deby….dia….” Aida terperangah.  Diintipnya amplop coklat itu. Kayaknya lumayan banyak. Tanpa menghitung lebih dulu pun sudah bisa  ditebak kira-kira jumlahnya berapa. Gila banget! Si Deby pasti udah menguras seluruh tabungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaget?” Claudia tertawa. “Masih ada lagi lho!” Ujarnya sambil menyerahkan dua kantong plastik besar yang sejak tadi ditaruhnya di lantai. “Ini, ada piyama, seragam sekolah, sepatu dan beberapa alat tulis. Semuanya dibeli Deby buat elo. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue bilang juga apa. Deby gak seburuk yang elo duga. Meskipun dia tau, elo gak&lt;br /&gt;suka sama dia, tapi dia gak benci sama elo.” Claudia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Claudia, gue mau ketemu Deby. “ Tukas Aida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deby gak bisa datang. Lagi sibuk di posko pengungsian dekat rumahnya.  Mau tau apa yang dia lakukan? Dia jadi koki dadakan lho! Bantu masak di dapur umum.  Padahal, dia ‘kan gak pernah masak di rumahnya. Kira-kira seperti apa ya rasa masakannya? “ Claudia nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida terdiam. Tak dihiraukannya kalimat Claudia barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deby…..maafin gue, ya…., “ gumamnya lirih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-4978646218254016919?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/4978646218254016919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=4978646218254016919&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4978646218254016919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4978646218254016919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/07/karena-cemburu.html' title='KARENA CEMBURU'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8LD338nRrrY/ThQiRnrBYQI/AAAAAAAADIo/5Xkml-v_Y-I/s72-c/09052011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-1843052804638322923</id><published>2011-07-09T09:21:00.007+07:00</published><updated>2011-07-09T14:34:58.752+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>JADI PENULIS KARENA DONGENG MAMA</title><content type='html'>Seringkali saya berpikir,kenapa saya punya hobi menulis? Kenapa saya - selain berprofesi di bidang hukum - juga menjadi cerpenis freelance? Ternyata, setelah saya merenungi masa kecil saya, satu kesimpulan saya dapatkan : Karena mama suka mendongeng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, saya ingat betul, dulu waktu saya masih duduk di bangku SD (kelas 1 dan 2 SD), mama sering mendongeng cerita Bawang Merah Bawang Putih, Puteri Salju dan Sleeping Beauty. Cara mama mendongeng biasa saja. Tapi, pesan dan nasihat dalam dongeng itu sangat berkesan hingga saya dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, di masa kecil (kelas 3 SD sampai 5 SD), saya suka membaca Buku Dongeng bergambar yang saya pinjam dari teman-teman saya (maklum, saat itu keluarga kami bukan keluarga berada, jadi tidak bisa membelikan buku-buku dongeng). Bahkan, saya juga suka membaca komik-komik bergambar yang berisi kisah-kisah wayang, seperti : Gatotkaca, Srikandi, Pandawa Lima, dll. Dan, menginjak usia remaja, saya pun jadi punya hobi menulis cerpen. Saya ingin mencurahkan daya imajinasi saya lewat cerpen. Hobi yang terus saya lakoni hingga saat ini. Meskipun sibuk dalam pekerjaan, tetapi menulis cerpen jalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang pengalaman masa kecil, saya pun sering terperangah melihat anak-anak kecil jaman sekarang. Banyak diantara mereka lebih suka main games, pergi ke Timezone yang ada di mal-mal, bahkan ada yang sejak usia balita sudah diajarin main komputer. Jarang sekali, orang tua yang mau mendongeng untuk anak-anaknya. Apalagi kalau orang tua bekerja kantoran. Karena terikat jam kantor yang tak jarang pakai acara lembur, orang tua jadi kurang perhatian sama anak. Tidak ada waktu untuk mendongeng. Anak pun dibiarkan mengisi hari liburnya dengan bermain games, berinternet ria, dan permainan lainnya yang cenderung menghabiskan uang ortu seperti : ke Timezone dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu,saya senang sekali bila ada penulis yang mau menulis Buku-buku dongeng seperti yang dilakukan oleh &lt;a href="http://galaksipungky.blogspot.com/"&gt;Pungky&lt;/a&gt;  dan teman-temannya (total ada 11 penulis). Sebab, di negara ini belum banyak penulis buku-buku dongeng. Kalau ke toko buku, yang saya temukan kebanyakan buku-buku dongeng karya penulis luar negeri. Padahal, saya yakin banget banyak penulis Indonesia yang berbakat menulis kisah dongeng (tidak termasuk saya lho..hehehe....). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-QRW0jkD85ME/ThfHzFFqNuI/AAAAAAAADLg/KJIVcq6G0y0/s1600/kover%2BPERI.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-QRW0jkD85ME/ThfHzFFqNuI/AAAAAAAADLg/KJIVcq6G0y0/s320/kover%2BPERI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627185939775895266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya acungkan sepuluh jempol (sampai minjam jempol tetangga nih) untuk Pungky dan teman-temannya yang sudah mau meluangkan waktu menulis buku dongeng. Hebatnya lagi, mereka tidak mau ambil keuntungan karena hasil penjualan buku-buku itu akan disumbangkan kepada anak-anak yang kurang mampu. Sungguh, suatu niat yang mulia. Hiks..membuat saya terharu biru....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, bagi teman-teman blogger yang ingin membantu anak-anak yang kurang mampu bisa membeli buku PERI-PERI BERSAYAP PELANGI. Caranya? Coba klik di &lt;a href="http://periperibersayappelangi.blogspot.com/"&gt;SINI&lt;/a&gt;. Setiap membeli satu buku, berarti kamu sudah ikut berpartisipasi menolong anak-anak tak mampu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, kamu juga bisa ikutan giveaway-nya. Masih ada waktu lho. Tanggal 10 Juli terakhir. Syarat lengkapnya bisa dilihat di &lt;a href="http://galaksipungky.blogspot.com/2011/06/giveaway-peri-peri-bersayap-pelangi.html"&gt;GALAKSI PUNGKY.&lt;/a&gt; Sok atuh buruan....! Kali aja kamu beruntung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-e6gR6YrV-cU/ThfIQwVpfCI/AAAAAAAADLo/tYqPnoebYO8/s1600/4.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-e6gR6YrV-cU/ThfIQwVpfCI/AAAAAAAADLo/tYqPnoebYO8/s320/4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627186449601887266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-1843052804638322923?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/1843052804638322923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=1843052804638322923&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1843052804638322923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1843052804638322923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/07/jadi-penulis-karena-dongeng-mama.html' title='JADI PENULIS KARENA DONGENG MAMA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QRW0jkD85ME/ThfHzFFqNuI/AAAAAAAADLg/KJIVcq6G0y0/s72-c/kover%2BPERI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-625614528431897381</id><published>2011-05-07T15:06:00.002+07:00</published><updated>2011-05-07T15:20:24.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FIKSI'/><title type='text'>LDR</title><content type='html'>"Aku nggak pernah percaya dengan LDR," Ujar Tina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, aku bisa tuh menjalaninya. Bayangkan, 3 tahun pacaran jarak jauh. Komunikasi hanya lewat chatting, email, sms, dan sesekali saling menelpon." Dewi tersenyum. Membayangkan hubungan jarak jauhnya dengan sang kekasih yang tinggal di luar kota dan selama ini berlangsung lancar bak jalan tol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana kamu tahu pacarmu itu selingkuh atau enggak." Tina mencibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku percaya kok dia setia. LDR butuh kepercayaan yang tinggi. Kalo nggak, bisa putus sejak kapan-kapan. Seperti aku yang selalu setia, mas Dion juga setia padaku. Dia itu lelaki lugu. Hatinya masih murni dan ...perlu kamu ketahui, akulah satu-satunya wanita yang pernah menjadi pacarnya. Meskipun umurnya sudah 32 tahun tapi..belum pernah pacaran dengan siapapun." Jelas Dewi, masih dengan senyum bahagia yang tersungging manis di bibirnya. Akh, mendadak dia kangen mas Dion-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya terserah kamu deh. Tapi, aku sih gak semudah itu percaya sama mas Dion-mu itu. Lelaki jaman sekarang, mana bisa ditebak hatinya. Yang lugu belum tentu setia. Siapa tahu dia, diam di muka tapi di belakang berselingkuh." Kata Tina, ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi menghela nafas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tuh, Tin...Bukannya memberikan aku semangat malah menuduh mas Dion yang tidak-tidak." Gerutunya sebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina terdiam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Aku tidak menuduh mas Dion tapi...aku mengatakan yang sebenarnya. Karena nanti malam, dia akan bertemu denganku. Kami akan kencan semalam di sebuah motel. Andai kamu tahu...Wi..." &lt;/span&gt; Batin Tina.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-625614528431897381?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/625614528431897381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=625614528431897381&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/625614528431897381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/625614528431897381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/05/ldr.html' title='LDR'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-5459256766652901722</id><published>2011-04-23T10:19:00.005+07:00</published><updated>2011-04-23T10:34:50.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>SEBELUM MENERBITKAN BUKU (Bagian I)</title><content type='html'>Mungkin ada di antara teman blogger yang bingung, mesti ngapain dulu sih kalo mau nerbitin buku. Apa aja yang mesti disiapin? Gimana dengan covernya? Siapa yang buat? Layoutnya? Berapa jumlah minimal halaman sebuah buku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, walaupun saya baru nerbitin satu buku tapi saya akan coba bagikan pengalaman saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu disiapin tentu saja adalah naskah untuk bukumu. Sebelum diserahkan ke penerbit kamu harus punya naskah yang - sebaiknya - sudah kamu edit, terutama dalam hal pengetikan kalimat dan tanda baca. Usahakan jangan sampai salah ketik dan salah tanda baca. Baca ulang naskahmu dari awal sampai akhir agar tidak ada kesalahan ketik yang terlewati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memeriksa ulang naskahmu, perhatikan jumlah halaman. Biasanya penerbit meminta naskah minimal 100 halaman. Kamu cek saja di persyaratan mereka karena masing-masing penerbit berbeda syaratnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa siapkan juga kata pengantar, biodata dan halaman untuk endorsement alias komentar-komentar dari orang-orang yang sudah baca naskahmu. Bisa temanmu, penulis top, wartawan dll. Komentar mereka itu semacam promosi juga sih untuk bukumu. Dengan membaca komentar mereka, calon pembeli bukumu akan mengetahui apa keistimewaan buku kamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah naskah oke semua, mungkin kamu bingung dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;cover buku &lt;/span&gt;. Sabar....saya akan membahas hal ini dalam postingan berikut. Ocreee??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-5459256766652901722?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/5459256766652901722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=5459256766652901722&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5459256766652901722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5459256766652901722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/04/sebelum-menerbitkan-buku-bagian-i.html' title='SEBELUM MENERBITKAN BUKU (Bagian I)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-807922790905063433</id><published>2011-04-22T12:36:00.002+07:00</published><updated>2011-04-22T12:40:53.926+07:00</updated><title type='text'>Inspiration From Theater</title><content type='html'>Writing inspiration can be obtained from many different kind of sources. You can write your own story, or you can interview people around you to get their story. Or...this is the interesting part. You can also get inspiration from watching a theater. When you happened to visit Las Vegas, don't just visit their casino. Try to get &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/cityguides/NV/Las%20Vegas"&gt;Las Vegas tickets&lt;/a&gt; to watch some performance in theater. All you must do is search for it on the internet. The Lion King has always been my favorite musical movie. I think watching the theatre performance would be terrific. If you are in New York, Sister Act is performing in Broadway! Please let me know if you want to book &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/cityguides/NY/New%20York"&gt;New York tickets &lt;/a&gt;, because I'm planning to see it too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watching circus show is also enjoyable, there are many books write about circus too. If you are starting your short story or even a book, writing about circus can be a good idea. You can watch Cirque du Soleil which is performing in Los Angeles. Don't forget to book &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/cityguides/CA/Los%20Angeles"&gt;Los Angeles tickets&lt;/a&gt; weeks before the show, so you can get the best seat and view. Or do you prefer to watch the musical drama: Chicago? We can watch it together if you buy &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/cityguides/IL/Chicago"&gt;Chicago tickets&lt;/a&gt;  for us next month. Well?....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-807922790905063433?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/807922790905063433/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=807922790905063433&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/807922790905063433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/807922790905063433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/04/inspiration-from-theater.html' title='Inspiration From Theater'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-4390561039125360154</id><published>2011-03-23T17:00:00.001+07:00</published><updated>2011-03-23T17:02:54.646+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INFO'/><title type='text'>MENERBITKAN BUKU SENDIRI</title><content type='html'>Beberapa teman blogger bertanya kepada saya, bagaimana caranya menerbitkan buku dengan cara self publishing. Sebenarnya caranya mudah. Tinggal jadi member di nulisbuku.com lalu klik cara upload naskah. Di sana disebutkan cara-caranya. Kalau tidak mengerti, bisa tanya lewat imel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain lewat nulisbuku.com, ada juga beberapa penerbit dan percetakan yang menyediakan jasa self publishing. Sebagai referensi, bisa coba ke &lt;a href="http://ghostwriterindonesia.com/jasa-ghostwriting/selfpublishermurah.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemula, cara yang biasa disebut POD - Print on Demand ini lumayan oke karena tidak keluar biaya banyak. Hanya mengeluarkan uang untuk bayar proofread saja. Itu pun tergantung dari jumlah halaman buku. Dari jumlah halaman buku, kalian juga diminta menetapkan sendiri berapa harga per buku yang akan dijual. Tentu saja dengan memperhitungkan harga dari penerbit/percetakan itu sendiri. Misalnya : Mereka minta 20 ribu per buku, berarti kalian harus menjual lebih tinggi dari harga itu. Selisih harga itu akan jadi keuntungan kalian tetapi...tidak bisa masuk kantong sendiri karena penerbit biasanya minta bagian juga. Kalian hanya dibayar royalti sesuai buku yang terjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini letak kelemahannya. Karena royalti yang diperoleh begitu kecil. Selain itu, para pembeli hanya bisa membeli di penerbit tersebut. Untuk itu ada ongkos kirim yang kadang-kadang jatuhnya jauuh lebih mahal ketimbang harga buku itu sendiri. Sebagai contoh : Harga Buku Kumcer saya hanya Rp. 33.800,- tetapi kalau dikirim oleh nulisbuku ke alamat saya ditambah ongkir Rp.13.000,- per kilo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada teman-teman yang pesan langsung via nulisbuku dan mereka tinggal di luar pulau Jawa, ongkirnya pasti lebih mahal lagi. Walaupun bisa juga jadi lebih  murah karena mungkin saja nulis buku punya percetakan di luar pulau Jawa, sehingga mereka cetaknya di percetakan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, bila kalian berminat mendapatkan penghasilan dari menulis buku tetapi ingin menerbitkan dengan cara self publishing, saya sarankan : Mencetak sendiri saja dengan jumlah banyak misalnya : 1000 - 2000 buku. Lalu, jual sendiri. Karena bila cetak sekaligus banyak otomatis harganya jauh lebih murah. Tetapi kendalanya adalah : Modal. Harus berani keluar uang dulu. Belum lagi, tempat untuk menaruh buku-buku tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari penyimpanan buku-buku itu, bisa juga memakai jasa distributor. Hanya saja, distributor juga minta bagian keuntungan. Mereka bisa meminta 'jatah' sampai 55 sampai 60 persen dari harga buku yang terjual.  Tapi bukumu bisa dijual di toko-toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai jasa distributor pun harus hati-hati karena bisa saja mereka curang. Buku terjual sekian, dibilang hanya terjual sekian. Walaupun tentu saja, nggak semua distributor curang. Cari distributor yang sudah terkenal, tetapi biasanya distributor yang sudah terkenal hanya mau mendistribusikan buku dalam jumlah yang banyak. Mungkin minimal bisa 2000-3000 buku.  Itu berarti kamu harus mencetak lebih banyak dan modalnya keluar lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri belum pernah mencetak  dan menjual sendiri sehingga belum tahu seluk beluknya dengan detail. Tetapi, saya punya teman yang pernah mencoba cetak sendiri dan menjual sendiri. Semua keluh kesah teman saya itu, saya jadikan bahan postingan ini. Semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-4390561039125360154?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/4390561039125360154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=4390561039125360154&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4390561039125360154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4390561039125360154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/03/menerbitkan-buku-sendiri.html' title='MENERBITKAN BUKU SENDIRI'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-8945605410461499298</id><published>2011-02-07T15:15:00.004+07:00</published><updated>2011-02-07T15:24:57.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>CEWEK NATO</title><content type='html'>Prakata : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;cerpen ini dimuat di Media Kawasan edisi Pebruari 2011. Yang ditampilkan di blog adalah versi panjangnya dengan judul cerpen dan nama-nama tokoh yang telah dirubah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TU-rKKEsIII/AAAAAAAAC4A/GDrTib6cUYY/s1600/06022011%2528002%2529.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TU-rKKEsIII/AAAAAAAAC4A/GDrTib6cUYY/s320/06022011%2528002%2529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570859455071658114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TU-q7XiP-TI/AAAAAAAAC34/UJUbRpCQrHw/s1600/06022011.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TU-q7XiP-TI/AAAAAAAAC34/UJUbRpCQrHw/s320/06022011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570859200987265330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangan Inez tentang Bahaya Narkoba mendapat nilai tertinggi  plus bonus pujian dari Bu Sita, guru bahasa Indonesia yang terkenal pelit ngasih nilai bagus ke anak didiknya. Of course, kepala Inez jadi menggelembung bangga. Bahkan, dia berkoar-koar mengenai rencananya mau nulis novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mentang-mentang karangannya dapet nilai bagus langsung deh mau bikin novel. Emangnya nulis novel gampang apa!” cerocos Adel, sohib Inez yang paling judes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak usah nulis novel deh! Bikin cerpen aja dulu. Mampu nggak lo…?” tantang si tomboy Zizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akh, kalo cuma cerpen mah terlalu gampang buat  gue.” Ujar Inez kepedean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Lo tuh yee….. sombong kok dipiara sih! Coba buktiin ke kita semua, bisa nggak lo nulis cerpen?  Tapi…karena kita nggak ngerti cerpen yang bagus tuh kayak apa, so…elo kudu kirim cerpen lo itu ke majalah.  And…harus dimuat! Kalo nggak, jangan ngimpi elo bisa bikin novel!” si cantik Bella  memanasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Okeee…..siapa takuttt!! Lo semua tunggu aja tanggal mainnya.” Inez mengangkat dagunya. Mantapsss!!&lt;br /&gt;                                                                                                                                          ***&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Inez menatap layar laptopnya lama-lama. Tangannya menopang dagu lancipnya. Dahinya menyusun anak-anak tangga.  Otaknya berkelana mencari sang ilham. Blank! Nggak nemu-nemu juga! Sang ilham rupanya enggan menampakkan diri. Huuuhh! Susah banget sih dapetin ide cerita. Sedari tadi dipaksain tetep aja nggak muncul. Dengan kesal Inez menghembuskan nafasnya keras-keras ke atas poninya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Gimana Nez? Cerpen lo udah jadi? Udah dikirim ke majalah?” tanya Bella menyambut Inez yang baru aja menapaki kakinya di kelas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Udah dimuat ?” Zizi tersenyum mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, non…kalo nanya pake ini dong,” Inez menunjuk kepalanya. “Masa langsung dimuat? Nggak diperiksa dulu sama editornya? Lagian, gue belum dapet ilham nih. Bingung, mau nulis cerita apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alaaa….bilang aja lo nggak bisa nulis cerpen! Pake alasan belum dapat  ilham.“ Ucapan Adel membuat hati Inez mendidih. Ditaruhnya tas slempangnya  ke atas meja dengan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Omongan lo tuh kayak orang ngajak berantem deh! Lo sirik ya sama nilai mengarang gue? Jadi…cari gara-gara buat nguji kemampuan gue. Iya ‘kan?!!” Tuding Inez geram.  Dipelototinya Adel seakan-akan mau melahap cewek itu hidup-hidup. Iiihh….!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; “Ya ampuuunn, Nez…..Kok elo sensi getu seeh?” Melihat Inez marah, Adel jadi ciut. Diberinya Inez senyuman semanis gula dan direngkuhnya bahu kurus sahabatnya itu.  “Gue nggak sirik kok sama elo. Suer! Gue malah senang ngeliat elo dapet nilai bagus. Tapi…. “&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Tapi apa??” Tukas Inez cepat sambil melepaskan tangan Adel dari bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak mau elo cuma jago kandang doang alias hebat di sekolah&lt;br /&gt;aja. Gue pengen elo ngembangin bakat ngarang elo. Sayang ‘kan kalo punya potensi tapi nggak diasah. Kali aja elo bisa jadi penulis ngetop. Kalo lo ngetop, gue bakal keciprat bangganya dan…he he he….rezekinya juga dong! “ Adel nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul itu, Nez! “ Bella menepuk bahu Inez. “Gue setuju sama Adel. Makanya lo cepetan dong bikin cerpen.  Kalo udah sukses nulis cerpen, tinggal nerusin ke novel. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh! Inez mendengus.  Amarah yang sempat tersulut tadi memang udah reda, tapi….hatinya masih sedikit jengkel. Emangnya gampang nyari ide cerita, batinnya. Mana banyak godaan lagi. Sinetron seru, nemenin mama shopping, nomat bareng kak Gita yang hobi nonton film bioskop. Uuuuhhh…pokoknya banyak banget halangan yang bikin Inez terus menunda niatnya buat nulis cerpen.&lt;br /&gt;                                                                                                     ***&lt;br /&gt;Seminggu lagi, lewat sudah. Inez belum juga berhasil menelurkan sebutir cerpen pun.  Nggak heran,  pertanyaan, sindiran dan desakan dari teman-teman segengnya yang bertubi-tubi kini jadi makanan sehari-hari. Bikin Inez bosan dan malas kumpul-kumpul dengan gengnya. Waktu istirahatnya di sekolah lebih banyak dihabiskan dengan bertapa di perpustakaan. Apalagi kalo bukan nyari si Ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Pernah juga sih Inez dapat ide cerita. But, ketika dia mulai menuangkan ide itu ke dalam laptopnya, mendadak dia kebingungan. Gimana mulainya?  Baru kalimat pembukaan eh….udah macet. Ada aja yang bikin hatinya nggak sreg dengan kalimat yang udah disusun di otaknya. Akhirnya, dia berhenti. Enggak jadi nulis!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Well, ternyata nulis cerpen nggak semudah ngebalikin telapak tangan tapi…..bibir Inez tetap aja ngumbar janji kalo dia bisa bikin cerpen dan nggak lama lagi bakal merilis novel keren. Garing banget deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; “Elo tuh….kayak tong kosong nyaring bunyinya!” Ujar Adel suatu hari secara ia sudah kesal banget sama sikap Inez.  “NO ACTION TALK ONLY!  OMDO! OMONG DOANG!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“That’s right ! “ Bella mengangguk setuju. “Kalo nggak bisa nulis cerpen, terus terang aja dong!” Ujarnya kalem tapi nyakitin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inez memang nggak biasa nulis cerpen. Too easy! Tapi kalo nulis novel…dia jagonya.” Sindir Zizi, pedas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Uf! Wajah Inez langsung panas dan merah. Ditutupnya kedua telinganya dan berlari meninggalkan teman-temannya. Air matanya tumpah ruah. Hatinya pedih bukan main! Kok, tega-teganya sih mereka memperlakukan gue seperti itu? Apa mereka pikir menulis itu gampang? Coba aja mereka disuruh nulis, pasti…..hei..hei….! Nez….jangan salahkan teman-teman elo. Bukankah mereka bersikap begitu karena elo udah berkoar-koar mau nulis novel? Soooo…..siapa yang menuang bensin di atas api? Elo sendiri ‘kan? Iya siih…tapi…mereka  ‘kan sahabat gue. Kok. tega banget memperlakukan gue kayak gitu? Inez…Inez... Mereka cuma bilang apa adanya. Elo emang NATO kok! Ngaku aja deh! Iya, iya….tapi..gue gak suka dijulukin begitu. Kalo nggak suka, hayo buktikan kemampuan elo! Mau sih…..cuma gimana caranya? Usaha lagi dong! Jangan nyerah! Bakat udah ada. Bu Sita sendiri yang bilang kalo lo ada bakat nulis. Tinggal digali dan dikembangin. Gitu aja kok repot? Iya...ya.….gue harus usaha lagi nih. Harus bisa! Harus!  Inez mengakhiri percakapan batinnya sambil mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Ada tekad yang kuat terpancar di bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                                                                                               ***&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Banyak jalan menuju ke Roma. Banyak cara untuk mendapatkan ilham dan menuangkannya ke dalam suatu cerpen. Yang penting adalah kemauan yang kuat dan pantang menyerah. Where there is a will, there is a way.  Dan, Inez telah ngebuktiin semua itu. Sikap ulet dan kerja kerasnya nggak sia-sia. Setelah melahap puluhan cerpen yang ada di majalah-majalah dan rajin mengamati perilaku orang-orang di sekitarnya, berbagai ide cerita muncul di benaknya.  Hasilnya : 3 cerpen karyanya telah dimuat di 3 majalah remaja.  Dahsyat kan? Memang  benar apa kata seorang pengarang senior.  Menulis itu 5 % adalah bakat. Yang 95 % lagi,  kerja keras.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                                                                  &lt;br /&gt;                                                                                                                         ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ineeezzz! Wah, akhirnya elo berhasil juga!” teriak Zizi begitu kakinya meginjak lantai kelas. Di tangannya ada majalah CANTIK, salah satu majalah remaja yang memuat cerpen Inez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhasil apanya?” Inez pura-pura nggak tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerpen elo dimuat, Nez!” Zizi  membolak balik halaman majalah CANTIK dan menunjukkan rubrik cerpen kepada Inez. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah tau.” Kata Inez cuek.  Zizi membuka mulutnya, siap memuji-muji Inez tapi…Adel yang baru saja datang membuatnya urung bicara lagi. Secara dia melihat wajah Adel seperti ingin menyampaikan berita yang super penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; “Inez!” seru Adel sambil meraih tangan Inez dan menyalaminya.  “Congrats ya! “ Gadis itu mengeluarkan majalah PELANGI dari dalam tasnya.  “Kakak gue ‘kan langganan majalah ini. Gue baru sempet baca tadi pagi pas mau berangkat. Eee….waktu baca rubrik cerpen, gue liat ada karya elo. Kok nggak bilang-bilang sih kalo cerpen lo dimuat?” cerocos Adel kayak petasan cabe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; “Emang perlu?” tanya Inez kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya perlu dong! Elo lupa apa kalo gue, Zizi dan Bella pengen banget dapetin bukti kalo lo emang bisa nulis cerpen.”  Adel duduk di samping Inez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu ya? Gue udah lupa tuh.”  Inez mengambil buku catatan Sejarahnya, pura-pura membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lupa beneran atau sengaja dilupain?” Tukas Bella yang tempatduduknya tepat di belakang Inez.  “Gue juga udah baca cerpen elo di majalah CHERY. Sedari tadi gue pengen nunjukin ke elo tapi udah keduluan Zizi dan Adel.” Katanya sambil mengambil sebuah majalah dari dalam laci mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow! Elo bener-bener hebat, Nez! Tiga cerpen dimuat di tiga majalah top. Berarti karya elo emang bagus!” Puji Zizi kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Sekarang, gue percaya deh kalo elo nggak cuma jago kandang. ” Adel tersenyum, bangga pada kemampuan sohibnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Biasa aja kalee…”  Inez berkata malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Nez, elo marah ya sama kita-kita? Kok, dingin banget sih?” Zizi  menatap Inez lekat-lekat. Inez diam aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Elo pasti tersinggung secara  kita udah julukin lo cewek Nato,” Ujar Adel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Nez, maafin kita ya karena udah nyinggung perasaan elo. Tapi, tujuan kita baik kok. Kita semua ingin elo maju.”  Bella berkata lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        “Bener Nez…Maafin kita yaaa…” Koor Adel dan Zizi, kompak.  Inez menghela nafas dan memandang para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;       “Gue udah maafin kalian kok,” Ujarnya.  “Lagian, yang bikin gue bisa nulis ‘kan elo bertiga. Jadi, mana mungkin gue marah sama kalian. Gue bersikap cuek karena gue lagi nerapin ilmu padi.  Makin bernas bulirnya makin merunduk. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Ciee…ciee…cerpenis kita…sekarang rendah diri banget ya?” Goda Zizi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Rendah hati, Adel sayang…. Kalo rendah diri, minder dong.” Ralat Bella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Ups! Keseleo lidah. Maksud gue memang itu,” Zizi nyengir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-8945605410461499298?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/8945605410461499298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=8945605410461499298&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8945605410461499298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8945605410461499298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2011/02/cewek-nato.html' title='CEWEK NATO'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TU-rKKEsIII/AAAAAAAAC4A/GDrTib6cUYY/s72-c/06022011%2528002%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-1972688895550605668</id><published>2010-12-16T13:32:00.001+07:00</published><updated>2010-12-16T13:34:15.538+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>DIAMBANG NATAL</title><content type='html'>Asal usul ide :  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terinsipirasi oleh  sinetron yang berkisah tentang seorang anak yang malu punya ibu  seorang pelacur. Cerpen yang dibuat semasa SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Harian Indonesia Minggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DI AMBANG NATAL KARYA FANNY FREDLINA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin malam menyusup lewat jendela kamar ketika aku baru saja selesai mengetik kalimat terakhir. Sambil menahan dinginnya belaian  sang bayu yang nyelonong masuk, aku membereskan kertas-kertas folio yang berserakan di atas meja kerjaku. Hm, lumayan juga capeknya. Mengetik dua cerpen ternyata memerlukan energi yang tidak sedikit. Ku gerak-gerakan tubuhku ke kiri dan ke kanan. Ugh! Pegalnya. Nah, sekarang tubuhku tidak kaku lagi. Tapi ….brrr… dinginnya! Cepat, kututup jendela kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SozxIeUusNI/AAAAAAAABXo/6Y78E82Cxv8/s1600-h/foto+cerita+009.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SozxIeUusNI/AAAAAAAABXo/6Y78E82Cxv8/s320/foto+cerita+009.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371933583427416274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ampun! Seru hatiku kala mataku melirik jam dinding. Sudah pukul dua. Busyet Deh! aku begadang lagi dong! Kok, nggak terasa ya? mataku …uf, ngantuk banget! Tanpa aba-aba lagi kurebahkan tubuhku di pembaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, aku ada di mana nih? Kenapa sekelilingku hanya ada padang rumput? Tak ada satu mahlukpun di sekitarku. Tak terdengar bunyi apa-apa. Desau angin juga tidak. Sepiii!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuedarkan pandangku dengan teliti. Heran, di mana-mana rumput. Tempat apa nih? Eh, itu …sepertinya ada sebuah batu. Bukan,  bukan batu! Tapi … oh, God, itu kan batu nisan! Jadi … hih!! Jangan-jangan ini tempat tinggal hantu. Mendadak, bulu kudukku berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara takut dan bingung aku termangu sesaat. Berdiri tegak tanpa berani melangkah meski hanya satu tapak. Tapi … batu nisan itu menarikku untuk melangkah mendekatinya. Penasaran menikamku membuatku memberanikan  diri untuk berjalan ke  arah nisan itu. Siapa sih yang dikubur di tengah padang sesepi ini? Suara hatiku bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdentam-dentam seperti musik disco. Aku sudah berdiri dekat sekali dengan nisan itu. Perlahan, dengan rasa ngeri yang amat sangat aku membungkukkan  tubuh berusaha membaca nama yang tertera di batu nisan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Telah meninggal pada tgl 20 Januari 1998, Ny. Haryani Siswono”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, tidak …!! Tidak!! Pasti mataku keliru. Aku menggeleng kaget dan jatuh terduduk. Ibuku …ah, tidak mungkin!! Ini pasti perbuatan orang iseng. Ibuku masih hidup! Pasti! Tapi … bagaimana aku merasa yakin kalau ibuku masih ada di dunia ini? Sedangkan … sudah tiga tahun aku tidak berjumpa dengan dengannya. Atau …jangan-jangan ibuku memang sudah …Akh,  tidak. Tidak! Ibuuu! Ibu belum mati kan? Ibu masih hidup kan? Ibu, jangan pergi dulu! Aku akan datang, bu! Aku menjerit histeris. Mataku basah oleh air mata. Aku begitu takut kalau ibu benar-benar telah tiada. Oh, tidak! Tidaaaak!!!.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di…Dila! Bangun Di!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibuuu!!!”.&lt;br /&gt;“Hah …oh, aku… aku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang, Di! Tenang…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerjapkan mata. Kulihat Nidya, sahabatku yang juga teman kostku memandangku cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu bermimpi,  ya?  Mimpi apa sih?” tanya Nidya. “Kok, sampai terisak-isak begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan itu, aku teringat akan mimpiku, akan nisan itu… Oh, tiba-tiba aku ingin menangis. Dan … entah mengapa aku menjadi rindu pada ibu. Rasanya sudah seabad tidak melihat beliau. Ibu, maafkan aku. Aku ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He, ditanya kok bengong?” Nidya menyentuh lenganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mimpiku seram sekali, Nid…” ujarku pelan. “Aku melihat nisan ibu di sebuah padang rumput yang luas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nisan? Ibumu kan….”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah, Nid. Aku takut mimpiku jadi kenyataan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, mimpi itu kan bunga tidur. Jangan terlalu dipikirin deh!” Nidya mencoba menghiburku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi …perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan ibuku. Akh, aku jadi ingin pulang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulang?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kurasa sudah saatnya aku kembali ke rumah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu ini lucu, Di. Dulu, ketika kamu menceritakan sebab kepergianmu dari rumah, kamu bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dia ibuku, Nid. Wanita yang betapapun kotornya telah melahirkanku. Aku tidak pernah akan melupakan hal itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dila…” Nidya menepuk-nepuk punggung tanganku. “Aku senang mempunyai sahabat yang sangat mencintai ibunya. Dulu, aku mengira kamu benar-benar membenci ibumu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah… aku memang membenci ibuku. Tapi… entahlah, aku tidak mengerti mengapa aku begitu takut kehilangan dirinya? Padahal, ibu telah menghancurkan hidupku, mencoreng arang di mukaku dan mempercepat kematian ayah”.&lt;br /&gt;“Sudahlah, hari hampir pagi. Kamu masih ngantuk kan? Semalam kamu pasti begadang lagi”. Nidya merebahkan tubuhnya di sampingku. “Cari duit boleh saja, tapi jangan membabi buta dong. Pake begadang lagi, “katanya mulai bawel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja Kupejamkan mata dan… tidak sampai tiga detik Nidya berhenti ngoceh. Dia mendengus kesal karena mengira aku sudah tertidur kembali. Aku tertawa dalam hati. Dasar Nidya, mana mungkin aku bisa lelap lagi setelah mengalami mimpi buruk kayak tadi?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                         oOo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nidya mulai mendengkur keras. Rupanya dia langsung tertidur ketika melihatku yang pura-pura bobo. Aku membuka mata sambil beranjak bangun. Pikiranku kacau sekali. Ibu. Wajah beliau tiba-tiba saja bermain-main di benakku. Aneh, kebencianku pada ibu telah menjelma menjadi semacam kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati aku berjalan ke arah meja kerjaku dan duduk di kursi menatap satu per  satu benda yang terletak di atas meja itu. Mesin tik, kertas-kertas folio, tip-ex, majalah dan surat kabar. Ah, betapa akrabnya aku dengan benda-benda itu. Betapa berjasanya mereka dalam hidupku. Lalu pandangku terhenti pada sebuah foto keluarga beberapa tahun silam. Foto itu sengaja kuletakkan di atas meja ini karena setiap melihatnya, aku selalu mendapat ilham untuk kurangkai menjadi sebuah cerpen. Ya, melihat betapa kebahagiaan terpancar di foto itu senantiasa menggoreskan pedih di hati, yang akhirnya membuatku ingin mencurahkan apa yang terpendam di kalbu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drama kelabu  10 tahun lalu pun berputar kembali di benakku. Nostalgia silam yang telah lama kukubur, kini tergali dan…aku tak sanggup mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari ayah yang menderita penyakit TBC sehingga harus tinggal di kamar tanpa dapat bekerja lagi. Sementara, kami putra-putinya yang berjumlah setengah lusin butuh biaya untuk sekolah. Lalu ibu mulai berjualan gado-gado untuk mencari sesuap nasi. Dan, kami anak-anaknya membantu dengan berbagai cara. Jualan koran adalah pekerjaan  kakakku, Didit. Menjadi penyemir sepatu dilakukan  oleh Amir, kakaku yang nomor dua. Sedang yang lain termasuk aku, karena masih kecil hanya membantu ibu berjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban hidup yang kian berat rupanya menggoyahkan ketabahan ibu. Tiba-tiba saja, ibu berhenti berjualan gado-gado. Sebagai gantinya beliau  bekerja di kedai minum Mpok Mimin. Entah apa yang dikerjakan ibu di sana aku tidak tahu. Aku masih terlalu muda untuk memahami tingkah laku orang dewasa. Yang aku tahu, ibu sering pulang pagi. Dan, selalu dengan seorang laki-laki yang setengah mabuk. Mulut ibu sering tercium bau bir dan rokok yang membuatku mual bila menciumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang masih berusia sembilan tahun tidak peduli dengan pekerjaan ibu. Malah aku senang bila ibu pulang hingga pagi, karena itu berarti ibu membawa uang dan oleh-oleh untukku. Kak Amir dan kak Didit serta adik-adikku senang juga, sebab mereka pun mendapat jatah uang jajan yang lumayan banyak.&lt;br /&gt;Tapi sejak saat itu penyakit ayah semakin parah. Hubungan ayah dan ibupun mulai dibumbui pertengkaran-pertengkaran. Tampaknya ayah tidak senang dengan pekerjaan ibu. Sedangkan ibu ngotot mempertahankan profesinya. Aku dan kedua kakakku menjadi tidak kerasan tinggal di rumah. Kami tidak tahan mendengar lengkingan marah ibu. Apalagi menyaksikan piring-piring beterbangan di sekitar kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika usiaku mulai memasuki masa akil baliq, aku sering diejek kawan-kawan sepermainan. Mereka bilang ibuku genit suka gonta-ganti pacar. Bahkan salah seorang wanita tetangga rumahku pernah berkata di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dila, mulai sekarang elu jangan main sama anak gue, ya? Tahu nggak ibu lu tuh hostes! Gue ngeri nanti si Tini ikut-ikutan genit kaya ibu elu. Na, elu aja sudah ikut-ikutan genit pake keriting rambut segala! Ih, amit-amit deh! Tini! Sini lu! Awas ya main-main sama anak hostes lagi!.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku merasa sakit hati bukan kepalang. Betapa tidak, hanya karena pekerjaan ibuku, aku yang tidak tahu apa-apa harus menelan akibatnya. Dan, rambutku yang dikeriting itu. Ah, itu bukan kemauanku. Ibu yang membawaku ke salon kecil. Katanya, aku sudah besar harus bisa berdandan. Ya, aku menurut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun. Setelah tamat SMA aku berusaha mencari kerja. Selama itu, semua ejekan orang terhadapku kusimpan rapat. Aku mencoba untuk tabah. Sampai suatu saat aku mulai tertarik dengan seorang pemuda. Ary, dia tinggal tidak jauh dari kedai minumnya mpok Mimin. Aku bertemu dengannya ketika ingin memberitahukan kepada ibu tentang si bungsu Nina yang mendadak buang air besar berkali-kali. Karena ibu sedang pergi dengan tamunya, aku pun pulang dengan perasaan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ary lah orang yang menolongku. Dengan ramah dia memperkenalkan diri. Kebetulan, dia ada di kedai minum itu sehingga mendengar semua pembicaraanku dengan Mpok Mimin. Anehnya, saat itu aku percaya saja waktu dia bermaksud membawa Nina ke dokter. Mungkin karena senyumnya yang simpatik atau… karena aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama? Entahlah. Yang pasti sejak itu hubungan kami berlanjut menjadi kisah asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu tak lama. Kebahagiaan dalam meniti cinta pertama hancur berkeping-keping, justru karena ulah ibuku. Ayah Ary ternyata salah seorang langganan ibu. Ketika ibu Ary mengetahui hal ini, aku dimakinya dengan sadis. Aku dianggap ingin menjerat Ary seperti ibu telah menjerat ayah Ary. Menyakitkan! Lebih menyakitkan setelah Ary sendiri memutuskan tali kasih itu.Ternyata dia hanya manis di mulut. Cintanya begitu mudah lenyap hanya karena hasutan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aku tak bisa menyalahkan Ary. Ibuku! Dialah sebab semua ini! Kasih sayangku pada beliau berbalik menjadi benci. Ya, aku benci ibuku. Dia telah melenyapkan kebahagiaanku bersama Ary. Merasa tidak tahan lagi, aku pun minggat dari rumah. Itu terjadi setelah ayah meninggal beberapa hari. Ayah juga menderita karena ibu. Karena jabatan ibu yang hina itu. Dan benciku pada ibu kian melangit.&lt;br /&gt;Beruntung, aku punya sahabat sebaik Nidya. Dialah yang kucari ketika aku minggat dari rumah. Kepadanya kuceritakan semua problem keluargaku. Dia pula yang dengan suka rela menampungku di rumahnya. Bahkan, aku diberinya modal berupa mesin tik dan segala macam keperluan untuk mengarang. Dia tahu aku butuh pekerjaan dan tidak mungkin terus menerus menumpang hidup padanya, maka dia mengusulkan agar aku menjadi penulis saja. Karena rasanya untuk mencari pekerjaan lain tidaklah mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya, aku ragu dengan kemampuanku di bidang menulis. Tapi Nidya mengingatkanku bahwa ketika masih di SMP aku pernah iseng-iseng menulis cerpen dan mengirimnya pada sebuah majalah remaja. Ternyata dimuat. Sayang, situasi keluarga yang kurang harmonis tidak mendorongku untuk menekuni bidang menulis. Dan, dalam keadaan yang mendesak aku dianjurkan Nidya menjadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mulailah kubuka lembaran hidupku sebagai seorang penulis. Ajaibnya, hampir semua cerpenku selalu dimuat. Akupun mulai mencintai pekerjaan ini. Semakin hari semakin banyak ide yang muncul dan kutuangkan dalam cerita. Honor yang kuperoleh tentu saja kugunakan untuk menghidupiku. Dan ketika orang tua Nidya bertugas ke Amerika, Nidya memilih tetap sekolah di Indonesia. Dia melanjutkan kuliahnya di Bandung sehingga terpaksa harus indekost. Aku diajaknya serta dan kami menempati satu kamar kost yang cukup luas, karena dengan demikian aku hanya membayar separuh dari sewa kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, tiga tahun kujalani hidup hanya dengan ditemani seorang sahabat. Dan sekarang mendadak ada kerinduan timbul di relung hatiku. Ya, baru kusadari betapa selama ini aku seperti orang yang tidak mengenal siapa ibuku, siapa saudara-saudaraku. Aku begitu sakit hati dan benci pada ibu, pada nasib yang tidak ramah. Sehingga bagaikan orang lupa ingatan, kucurahkan segenap perasaanku, penderitaanku di atas kertas folio. Aku menulis, menulis dan menulis tanpa lelah. Aku tak mau tahu bagaimana ibuku sepeninggalku. Bagaimana nasib adik-adikku dan kakak-kakakku? Aku egois.  Kini….aku menyesal sekali. Aku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dilaaa!!!” Nidya berteriak di telingaku. Aku tergeragap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh..apa, Nid? Kamu tuh bikin aku kaget aja.” Ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tuh ya…dipanggil berkali-kali tidak menjawab.” Nidya memandangku dongkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry Nid. Aku melamun sih,” Ujarku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat mimpimu?” tanya Nidya sambil melipat selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengangguk, “ Hari ini juga aku akan pulang ke rumahku”, kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Secepat itu?” Mata Nidya menatapku kaget. Sekali lagi aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu akan merayakan natal di sana?” tanya Nidya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal? Oh, Tuhan…aku ingat kini betapa sepinya hari natalku selama ini. Walaupun ada Nidya, tapi aku menolak pergi ke gereja. Aku lebih suka menghabiskan hari natalku di kamar dengan ditemani lagu-lagu rohani. Bahkan, berdoa pun aku enggan. Yah, aku sadar kini betapa jauhnya  jarakku dengan Tuhan. Aku seperti lupa siapa penciptaku. Oh, aku berjanji Natal tahun ini akan kuubah perjalanan hidupku agar lebih dekat padaNya. Aku merasa sangat berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Melamun lagi?” Nidya menepuk pipiku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja. Kutatap kalender yang tergantung di sudut kamar. Tanggal 24 Desember. Astaga! Malam natal…hari ini malam natal. Cepat benar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nidya, temani aku ke stasiun ya? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ke stasiun? Jadi …kamu benar-benar ingin pulang?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku ingin melihat ibu dan saudara-saudaraku. Aku ingin merayakan natal bersama mereka. Aku ingin minta maaf pada mereka terutama ibu. Aku ingin… Oh,  Nid….” Kupeluk Nidya, “Begitu banyak yang terpendam di hatiku, begitu banyak dosaku pada ibu. Aku sadar, Nidya. Seburuk apapun wanita itu, dia tetap ibuku. Ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku. Aku menyesal…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dila, sudah Di.” Suara Nidya memotong ucapanku. “Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Semuanya sudah terjadi. Yang penting, kemasi pakaian dan barang-barang yang kamu bawa pulang.  Kamu berangkat siang hari ini kan?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Dengan lesu, aku bangkit menuju jendela. Sinar surya menerobos masuk ketika tirai kusibak. Dan…sayup-sayup, terdengar tembang sendu dari radio milik tetangga sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Silent night, holy night&lt;br /&gt;All is calm, all is bright&lt;br /&gt;Round yon Virgin Mother and child&lt;br /&gt;Holy infant so tender  and mild&lt;br /&gt;Sleep in heavenly peace…&lt;br /&gt;Sleep in heavenly peace&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setetes air mata lalu jatuh membasahi pipiku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-1972688895550605668?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/1972688895550605668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=1972688895550605668&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1972688895550605668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1972688895550605668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/12/diambang-natal.html' title='DIAMBANG NATAL'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SozxIeUusNI/AAAAAAAABXo/6Y78E82Cxv8/s72-c/foto+cerita+009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-354215012285823413</id><published>2010-11-22T20:55:00.000+07:00</published><updated>2010-11-22T20:56:29.878+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rangkaian Fiksi Mini'/><title type='text'>KUPU KUPU</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebutuhan  adik-adik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sisil butuh sepatu baru.  Tas Anto sudah rusak berat. Anisa merengek minta dibelikan pizza.  Apakah uang Rp.50.000,- bisa membeli semuanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebuah tawaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerjanya mudah kok. Tinggal pake baju sexy, dandan cantik dan tidur di hotel.” Ucapan tante gemuk itu sungguh menggoda hati Ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gaun mini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaun mini yang super ketat ini membuat Ika canggung. Tetapi tante gemuk terus memberikan support. Ika  berjalan dan menebar senyum ragu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tamu pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu berusia setengah baya itu memperlakukan Ika dengan lembut dan sabar. Dan, sekuntum bunga gugur sebelum mekar utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wajah-wajah mungil yang bahagia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah-wajah mungil itu tampak bahagia saat menerima barang-barang pemberian Ika.  Barang yang diperoleh dari hasil menggadaikan mahkota.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-354215012285823413?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/354215012285823413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=354215012285823413&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/354215012285823413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/354215012285823413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/11/kupu-kupu.html' title='KUPU KUPU'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-6508122257064397153</id><published>2010-11-20T12:56:00.001+07:00</published><updated>2010-11-20T13:00:09.751+07:00</updated><title type='text'>WRITING ABOUT FOOTBALL</title><content type='html'>Writing...hmm... sometimes you have every motivation you need to write something elegant, but you just don't have any idea of what to write. Writing block?? Yep! And it is happening to me right now. So, in order to keep writing, I'll tell you about my new exciting experience at my job! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Few days ago my boss asked me to book 6 seats of &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/oregon_ducks_football_tickets.html"&gt;Oregon Ducks Football Tickets&lt;/a&gt; for this weekend game. And all these times I thought you can only buy football tickets directly at the locket on the same day of the game. I can only imagine the long queuing before getting in front of the locket. And guess what happened when I told my boss about it? He just laughed at me... And then he told me about the on line ticket. Owh...so that's how people can get the best seat at the games, while they don't have to stand for an hour before the locket opened. Good idea!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, when my boss asked me again to buy &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/pittsburgh_panthers_football_tickets.html"&gt;Pittsburgh Panthers Football Tickets,&lt;/a&gt; I already knew what to do. In just a few minutes, I could book the seats and chose the best ones available at the same time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey, you might be wondering why my boss asked me to book college football tickets so often. Is he a football fan? Well, actually no. He's doing that mostly to entertain his business partners. But sometimes he also takes his son to a football game. Yesterday he asked me (again) to book &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/wisconsin_badgers_football_tickets.html"&gt;Wisconsin Badgers Football Tickets&lt;/a&gt; I know he must want to take his son to watch that game. But what he doesn't know is, that he should have asked me to buy &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/georgia_tech_yellow_jackets_football_tickets.html"&gt;Georgia Tech Yellow Jackets Football Tickets &lt;/a&gt;instead, because his son is a fan of this team! LOL...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, it's an interesting experience to do on line booking. And it can definitely create something to break my writing block today by turning that experience into this article!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-6508122257064397153?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/6508122257064397153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=6508122257064397153&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6508122257064397153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6508122257064397153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/11/writing-about-football.html' title='WRITING ABOUT FOOTBALL'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-8294502029547368875</id><published>2010-11-08T17:00:00.005+07:00</published><updated>2010-11-08T17:37:33.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>WHEN JOJOBA MEET IJO LUMUT</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karya FANNY FREDLINA&lt;br /&gt;Dimuat di Media Kawasan edisi Nopember 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prakata : Dijodohkan? Ogah akh! Eits...ntar dulu. Dijodohkan tak selamanya jelek lho. Kali aja pasangan hidupmu kamu peroleh dari perjodohan. So, jangan buru-buru menolak kalo dijodohkan ya? He he he....Nah, karena keseringan baca novel tentang kisah orang-orang yang dijodohkan, saya jadi dapat ide cerpen ini deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TNfQtaFsrAI/AAAAAAAACwM/uatnt3CRxBI/s1600/IMG_0156.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TNfQtaFsrAI/AAAAAAAACwM/uatnt3CRxBI/s320/IMG_0156.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537123745391225858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DI PONDOK IJO LUMUT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi…elo beneran nih mau dijodohin sama anaknya teman bokap elo?” Sisil memandang Agnes, tak yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TNfSxD95gfI/AAAAAAAACwU/dTpWKS-f8xw/s1600/IMG_0154.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TNfSxD95gfI/AAAAAAAACwU/dTpWKS-f8xw/s320/IMG_0154.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537126007195664882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terpaksa. Soalnya, gue gak tahu berapa lama lagi usia bokap gue. Elo kan tahu bokap gue sering bolak-balik rumah sakit. So, gue pengen banget menyenangkan hatinya. Mumpung, dia masih hidup.  Apalagi, dia melakukan ini karena pengen liat gue happy. Dia bilang, putera temannya itu adalah cowok yang baik, bertanggung jawab dan punya masa depan cerah. Sudah bekerja dan tampangnya gak malu-maluin.” Jawab Agnes dengan nada tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, gimana kalo setelah ketemu, elo gak suka sama tuh cowok? Apa elo tetap harus married sama dia?” Tanya Kanaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya enggaklah. Dalam hal ini bokap gue cukup liberal. Dia bilang, kalo ternyata gue gak suka ya….gak usah dipaksa. Yang penting ketemu dulu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yasuds, kalo gitu gak ada masalah dong. “ Kanaya tersenyum lega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa bilang gak ada masalah?” Sisil mendelik. “Lupa ya sama ikrar IJO LUMUT? 1. Saya tidak akan sudi dijodohin  2. Saya hanya mau menikah dengan cowok pilihan saya. 3. Jika saya melanggar aturan nomor 1 dan 2, maka saya akan mengundurkan diri dari IKATAN JOMBLO IMUT alias IJO LUMUT.” Ujar Sisil berapi-api bagai sedang mengucapkan Janji Pramuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makan tuh sumpah.” Kanaya tertawa geli. “Kalo kondisi elo kayak Agnes, emang bisa tetap memegang teguh  sumpah konyol itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisil terdiam sesaat lalu nyengir kuda. “Iya ya….si Agnes kan cuma mau liat bokapnya senang. Wah, bagai makan buah simalakama nih. Dimakan berarti melanggar ikrar IJO LUMUT. Gak dimakan berarti bikin sedih ayahanda.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebay banget perumpamaan elo! Mungkin memang sudah saatnya IJO LUMUT bubar ‘coz  IJO LUMUT tanpa Agnes bagai sayur asam tanpa rasa asam. Apalagi, dia kan pelopor IJO LUMUT.“ Ucapan Kanaya membuat Agnes kian sedih. Akh, betapa ingin dia menemukan belahan hatinya tanpa harus dijodohkan. Tapi, belum ada satupun cowok yang bisa memikat hatinya. Lagian, dia masih ingin menikmati masa jomblonya tetapi protesnya kemarin sama sekali tak diigubris papa. Even, papa sampai bilang begini : ‘Papa gak akan bisa meninggal dengan tenang kalo belum melihatmu berumah tangga, Nes.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DI MARKAS JOJOBA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya, elo mau juga dijodohin? Udah cape ngejomblo ya? “ Aris menepuk pundak Tristan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya cape ngejomblo, tapi cape hati dengerin ocehan ortu. Apalagi, nyokap udah pengen banget nimang cucu. Nah, mau dapat cucu dari mana lagi kalo bukan dari gue? Sebagai anak tunggal, cuma gue harapan mereka yang akan melanjutkan garis keturunan keluarga besar WIDODO.” Tristan menjawab lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kalo elo married berarti  JOJOBA bubar dong.” Ujar Paul sambil menyulut rokoknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dong! Kan masih ada elo, Aris dan teman-teman lainnya. “ Tristan duduk di samping Paul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Klub JOJOBA tanpa elo? Gak seru, man!  Lagian, elo kan yang merintis berdirinya Klub ini. “ Timpal Aris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah elo berdua deh. Mau diterusin boleh, dibubarin juga no problem. Soalnya, kalo gue jadi married berarti gue udah gak layak menyandang gelar JOJOBA. “ Tristan berkata tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup! Namanya juga JOJOBA alias JOMBLO-JOMBLO  BAHAGIA. Mana cocok buat seorang pria beristeri?” Aris mengedipkan mata. Tristan tersenyum getir. Ugh, susahnya jadi anak tunggal. Semua harapan ditaruh di bahunya. Padahal, kalo menuruti kata hati, Tristan lebih suka memilih soulmate-nya tanpa bantuan siapapun. Tapi, gak semudah itu menemukan cewek idaman. Lagian, dia masih ingin mereguk kebebasan sebagai jomblowan. But, demi membahagiakan hati ortu, apapun akan ia lakukan. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;LOVE AT  FIRST SIGHT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pesta ulang tahun pak Gunawan, papanya Agnes, mereka bertemu untuk pertama kalinya. Dan,bagai kena sihir keduanya sama-sama terpaku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Tristan bergetar dahsyat. Gosh! She is very pretty. Semua yang melekat padanya sangat memesona. She is really my dream girl. Gak nyesel deh dijodohin, kalo calonnya secantik ini. Batin Tristan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantung Agnes berdentum riuh. OMG! He is very handsome.  Semua yang ada di dirinya  sungguh menawan. He is really my Mr. Right. Untung, gue gak nolak perjodohan ini. Gumam hati Agnes .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu makan waktu lama untuk menyatukan hati yang bergetar dan jantung yang berdentum.  Setelah saling bersalaman dan menyebutkan nama,  mereka langsung terlibat dalam percakapan yang – lho – kok, nyambung ya? Mungkin ini yang disebut jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di sudut kanan halaman rumah pak Gunawan yang luas, tampak Paul dan Sisil saling CCP (curi-curi pandang).  Seolah tak mau kalah, di teras depan Aris dan Kanaya sibuk TTP (tebar-tebar pesona).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SATU TAHUN KEMUDIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisil dan Kanaya mencium pipi Agnes sambil memberikan ucapan selamat.  Agnes yang mengenakan gaun pengantin warna broken white tampak cantik sekali. Bibirnya tak henti mengulas senyum manis. Di sampingnya, Tristan berdiri gagah. Cowok itu  tersenyum bahagia saat Aris dan Paul menyalaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo ngeliat kebahagiaan mereka, kayaknya motto hidup gue mesti dirubah nih.” Ujar Paul ketika ia dan  Aris sedang antri  bersama para undangan lainnya di depan stand sup asparagus.  Sedangkan, Sisil dan Kanaya tampak antri di depan stand es puter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang motto hidup elo apa?“ tanya Aris.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu motto gue, HARE GENE DIJODOHIN? OGAH LHA YAUW. But, now..   HARE GENE DIJODOHIN? MAU DONG!!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa dirubah kayak gitu?” Aris penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab kita gak pernah tahu kapan ketemu jodoh. So, jangan pernah menolak perjodohan. Siapa tahu jodoh kita memang harus ditemui dengan cara ini. ” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kayaknya kita berdua gak perlu dijodohin. Kan udah ketemu mereka.” Aris menunjuk Sisil dan Kanaya dengan dagunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup!” Paul tersenyum penuh arti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-8294502029547368875?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/8294502029547368875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=8294502029547368875&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8294502029547368875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8294502029547368875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/11/when-jojoba-meet-ijo-lumut.html' title='WHEN JOJOBA MEET IJO LUMUT'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TNfQtaFsrAI/AAAAAAAACwM/uatnt3CRxBI/s72-c/IMG_0156.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-8022316790589868350</id><published>2010-09-17T18:10:00.000+07:00</published><updated>2010-09-17T18:10:00.240+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen fanny'/><title type='text'>TEORI CINTA MAMA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TEORI CINTA MAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Media Kawasan, Edisi Agustus 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/THIWnilViDI/AAAAAAAACpA/Fb2spVvsoOA/s1600/06082010(002).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/THIWnilViDI/AAAAAAAACpA/Fb2spVvsoOA/s320/06082010(002).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508490162781653042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti emansipasi? Eits, cowok-cowok dilarang menjawab. Soalnya, pertanyaan ini khusus kuajukan buat para cewek.  Apakah menurut kamu, emansipasi itu berarti persamaan hak dalam segala hal termasuk : Mengejar cowok yang kamu suka dan menyatakan cinta lebih dulu kepadanya? Kalau jawabnya IYA, lebih baik kamu dengerin apa kata mamaku tentang hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/THIW_IzxHjI/AAAAAAAACpI/xv_CFoHZp6M/s1600/06082010.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/THIW_IzxHjI/AAAAAAAACpI/xv_CFoHZp6M/s320/06082010.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508490568179719730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebesar apapun cintamu pada seorang pria. Jangan pernah mengejarnya. Apalagi nekad menyatakan cinta lebih dulu.  Sebab, pria diciptakan bukan untuk dikejar (oleh wanita yang mencintainya) melainkan untuk mengejar wanita yang dicintainya. Sudah menjadi sifat dasar pria untuk menaklukkan hati wanita yang dicintainya. Maka, berbahagialah wanita yang dicintai lebih dulu. Dia akan disirami hujan cinta yang sangat deras oleh  sang kekasih. Sebaliknya, apabila wanita menyatakan cinta lebih dulu, belum tentu cinta sang pria - yang akhirnya membalas cintanya - akan langgeng. Bisa saja dia hanya pura-pura mencintai wanita itu. Dalam kamus pria memang tidak ada istilah BELAJAR mencintai. Pria adalah mahluk yang jatuh cinta. Bukan belajar untuk mencintai.  Sedangkan wanita, BISA belajar mencintai. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, aku nggak sependapat dengan mamaku. Hare gene jadi cewek pasif? Ugh, bisa-bisa aku gigit jari melihat cowok idamanku digebet cewek lain yang lebih agresif.  Lagian, teman-temanku banyak kok yang nyatain cinta lebih dulu sama cowok yang  mereka suka. Dan, hubungan mereka dengan cowok yang dikejar lebih dulu itu fine-fine aja.  Iya sih, ada juga yang akhirnya bubar karena sang cowok jatuh cinta sama cewek lain. Tapi, itu kan biasa. Namanya juga anak muda. Putus cinta bukan hal yang aneh kok.  But, sewaktu aku ngasih opini kayak gitu, mamaku bilang : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama juga pernah muda, kok… Pernah jatuh cinta pada seorang pria. Tapi, pria itu tidak mencintai mama meskipun mama berusaha dengan segenap hati untuk menarik perhatiannya, dia tetap tak peduli. Mama hanya dianggapnya sahabat. Mama kecewa, marah dan patah hati. Bahkan berjanji untuk tidak pernah jatuh cinta lagi. Sampai akhirnya…mama bertemu dengan papamu. Seorang lelaki yang sangat memuja, mengagumi dan mencintai mama dengan sepenuh hatinya. Walau mama tidak menyukainya tapi ….dia terus berjuang untuk mendapatkan cinta mama dan dia berhasil.  Sekarang, kamu lihat… papa adalah suami yang paling setia dan tidak pernah berhenti menyirami mama dengan cinta kasihnya. Kalau toh kamu ingin menunjukkan rasa sukamu pada seorang pria, jangan terlalu agresif. Cukup beri sinyal saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooo….rupanya, mama punya pengalaman pahit soal cowok. Tapiii…itu kan dulu. Cowok jaman dulu – konon – lebih setia. Suami yang berselingkuh enggak sebanyak jaman sekarang. Meskipun belum pernah ngadain survei tapi - kurang lebih -  aku tahu penyebabnya apa. Salah satunya adalah  : Kemajuan teknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup! Sekarang ini, dokter kecantikan, pakar kecantikan dan teknologi kecantikan sudah semakin maju. Kurang mancung, tinggal operasi. Mau kulit lebih putih, nggak usah bingung. Beraneka produk pemutih kulit bertebaran bak cendawan di musim hujan.  Pengin punya body seramping model tapi malas olahraga?  Datang aja ke Body Care Centre. See, cewek-cewek masa kini lebih pinter dandan untuk menarik lawan jenisnya.  Enggak heran, kalo banyak suami berselingkuh. Abis, banyak cewek cantik berseliweran di depan mata sih. Apalagi,  emansipasi cewek  sudah sedemikian hebatnya.  Jumlah wanita karir lebih banyak ketimbang dulu. Otomatis, para suami jaman sekarang lebih sering ketemu sama cewek cantik dan pintar di luar rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, menurutku teori cinta mama udah basi banget. Enggak  semua cowok - yang &lt;br /&gt;dikejar lebih dulu sama ceweknya – bakal enggak setia.  Lagian, kalo menunggu ada cowok yang nyatain cinta lebih dulu sama aku, wah….bisa-bisa dapat ‘sisanya’ doang. Secara jumlah cewek di dunia ini lebih banyak ketimbang cowok.   Alhasil, aku lebih suka menerapkan teori Emansipasi dalam mengejar sang gebetan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, aku berhasil! Sukses dengan gilang gumilang meraih hati ZICO, cowok cakep yang masuk ‘Top Ten Cowok Keren’ di sekolahku. Ummm…bangganya! Bisa gandengan tangan dengan Zico, pake iringan ‘musik iri hati’ dari cewek-cewek yang suka sama doi tapi  malu dan takut menyatakan perasaannya. Salah sendiri!  Jaman sudah modern kayak gini masih aja berpikiran kolot kayak mamaku.  Agresif dong! Agresif! Jangan bisanya cuma melototin cowok keren sambil ngiler tapi nggak ada tindakan sama sekali. Cemen!!&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Sekuno apapun pandangan mama tentang cinta memang enggak bisa dianggap&lt;br /&gt; angin lalu. Gimanapun juga, orang tua lebih banyak makan asam garam. Lebih &lt;br /&gt;pengalaman. Teori cinta mama – yang menurutku kolot banget – terbukti kebenarannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak bulan ke tiga, hubunganku dengan Zico mulai direcoki pihak ketiga. Siapa lagi kalau bukan Alexandra. Cewek 3G  yang pernah  ditaksir Zico tapi nggak  ditanggapi sama yang bersangkutan. And, now….- isu yang beredar - Alexandra mulai tertarik sama Zico. Pasalnya, Zico – tanpa setahuku – masih suka ngirim SMS mesra sama tuh cewek.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whoaaa!! Topan cemburu yang dahsyat otomatis melanda hatiku. Aku ngamuk, &lt;br /&gt;mencak-mencak, ngomel-ngomel and minta Zico memilih aku atau Alexandra. And you &lt;br /&gt;know…  Zico MEMILIH Alexandra! Gila beneeerr! Masa aku yang termasuk kategori &lt;br /&gt;cewek 3S (sweet, sexy and smart)   dikalahin sama cewek 3G. Alexandra itu kan tomboi &lt;br /&gt;abiz. Namanya aja yang indah and memberi kesan cewek kece. Padahal penampilannya ancur buanget. Rambut super pendek. Kalo nyisir pake tangan. Hobinya nge-trail pake motor bututnya, main basket, berkarate ria (kadang pake berantem) plus dugem sama anak-anak cowok.  Kalau ada dia, pasti rame.  Entah rame lantaran bakal ada yang baku hantam atau rame karena suaranya yang cempreng bak kaleng rombeng. Enggak heran, dia dijuluki 3G : Gagah, Gambreng dan Ganteng (sebenarnya dia lumayan cakep tapi karena gayanya kayak cowok, diledekin ganteng sama anak-anak).  Kadang, dipanggil : mister Alex.  Otaknya juga nggak pinter-pinter amat.  Ya iyalah, gimana mau pinter kalo hobinya dugem dan berantem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang dipilih Zico adalah cewek-cewek yang tergolong ‘Big Five Cewek Oke’, aku bakal terima dengan lapang dada. Tapi ini….  dikalahin sama cewek yang jauuuuuuh dari cantik, lembut dan  …diragukan ‘ke-cewek-an  nya’,  dengan IQ biasa-biasa pula. Benar-benar pukulan telak yang mendarat di ulu hati.  Apa sih kelebihan Alexandra sampai Zico tergila-gila padanya?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia memang cewek yang biasa-biasa aja. Wajahnya nggak secantik elo. Sifatnya apalagi. Sangat berbeda dengan cewek-cewek pada umumnya.  Tapi, dimata gue... dia sangat spesial.  Gue nggak bisa mendefinisikan apa yang bikin gue tertarik sama dia. Mungkin karena dia cuek dan tomboi.  Entahlah. Namun, satu hal yang pasti GUE MENCINTAINYA.  “  Itu jawaban Zico saat aku – yang penasaran – memaksanya buat ngejelasin alasan dia lebih milih Alexandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau elo begitu mencintainya, kenapa elo mau jadi pacar gue? Lo tega banget,  Zi! Lo udah nyakitin perasaan gue. “ Ujarku dengan mata berkaca-kaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Vin.…Gue nggak bermaksud nyakitin elo Gue nerima cinta elo karena…..gue….nggak tega nolak elo.  Gue….nggak ingin ngecewain elo yang udah begitu baik dan perhatian sama gue.” Zico memandangku dengan tatapan iba. Huh! Aku&lt;br /&gt; benci dipandangi seperti itu. Aku nggak perlu dikasihani kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, justru tindakan elo sekarang bikin gue kecewa berat. Ternyata, elo cuma pura-pura mencintai gue. Elo kejem banget sih…” Aku mulai terisak-isak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vina….sekali lagi gue minta maaf. Gue emang jahat tapi…gue nggak bisa terus pura-pura suka sama elo.” Suara Zico terdengar pelan dan sangat hati-hati tapi efeknya luar biasa. Hatiku yang sudah teriris-iris kini disirami cuka. Pediiih banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila wanita menyatakan cinta lebih dulu, belum tentu cinta sang pria - yang akhirnya membalas cintanya - akan langgeng. Bisa saja dia hanya pura-pura mencintai wanita itu.  Dalam kamus pria memang tidak ada istilah BELAJAR mencintai. Pria adalah mahluk yang jatuh cinta. Bukan belajar untuk mencintai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zico memang enggak pernah mau belajar untuk mencintaiku. &lt;br /&gt;**&lt;br /&gt; “Vina, liat deh….gue bawain makanan kesukaan elo.” Fillius menghampiriku yang sedang asyik membaca novel  di taman sekolah.  Di tangan kanannya ada kantong plastik bening berisi beberapa potong risoles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm….wanginya menggoda selera!” Aku mengendus-endus bagai anjing kelaparan. Yeah, perutku lumayan lapar tapi malas ke kantin. Soalnya, nanggung.  Tinggal dua halaman lagi. Kalo udah baca novel, aku memang suka lupa diri. Lebih baik kelaparan daripada penasaran sama akhir kisah di novel yang kubaca. Makanya, kalau ada novel baru, aku selalu nyepi di taman sekolah. Eh, enggak bener-bener nyepi sih. ‘Kan ada Fillius yang selalu setia setiap saat nemenin aku.  Maklum, kami sama-sama hobi baca novel. Bedanya, Fillius baca novel misteri. Aku baca novel teenlit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue suapin ya….,”  Fillius mencomot sepotong risoles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taruh aja dulu.  Bentar lagi juga  gue makan.”  Tolakku sambil kembali  menelusuri kisah romantis dan lucu dari pengarang favoritku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak pake bentar.  Gue nggak mau maag elo kumat.” Fillius menyodorkan &lt;br /&gt;risoles itu ke mulutku.  Terpaksa deh, aku caplok makanan kegemaranku itu. Mmm, enak banget.  Aku mengunyah nikmat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rawitnya mana? “ tanyaku ketika sebagian risoles sudah masuk ke perut.  Risoles tanpa rawit memang kurang afdol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No..no..no….,” Fillius menggerak-gerakkan ibu jari kanannya di depan wajah ‘standard’ nya (dia emang nggak seganteng Zico). “Lupa ya ? Dokter bilang apa. ELO ENGGAK BOLEH MAKAN CABE.  “ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plis deh, Fil….. satu aja…masa nggak boleh siiih? “ Aku merajuk manja.&lt;br /&gt;“Enggak! Sekali enggak, tetap enggak. Elo ‘kan baru sembuh dari typhus. Nanti kalo elo sakit lagi, gimana?” Fillius keukeuh.  Matanya menatapku tajam. Gayanya  persis bapak-bapak lagi ngomelin anaknya yang ketahuan nyolong jambu klutuk di rumah tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaaa….paling masuk RS. Gitu aja kok repot.” Kataku cuek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya, gue nggak bakal ngasih elo makan cabe sebijipun. Gue nggak mau elo kenapa-napa.” Ujar Fillius serius.  “Lagian, gue udah pesen sama ibu kantin, nggak usah ngasih cabe. “  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum kecut.  Yah, begini deh punya pacar terlalu baik dan perhatian. &lt;br /&gt;Aku jadi nggak bisa melanggar nasihat dokter dan pura-pura lupa sama pesan mama. Soalnya, ada kaki tangan mama yang selalu siaga mengingatkan aku. Sometimes, kesal juga sih diperlakukan kayak gitu. Tapi,  kalo dipikir-pikir …sebenarnya asyik lho punya cowok yang sayang and perhatian banget sama kita. Selalu menjaga, melindungi, memperhatikan dan memanjakan.  Pokoknya, diperlakukan seperti ratu deh.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well,  Filllius memang pria yang jatuh cinta padaku. Dia mengejarku dan mencairkan hatiku yang semula enggak mencintainya sedikitpun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai seseorang boleh-boleh saja. Tapi dicintai seseorang adalah kebahagiaan yang tiada tara.  Teori cinta mama memang bukan sekadar teori.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-8022316790589868350?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/8022316790589868350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=8022316790589868350&amp;isPopup=true' title='24 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8022316790589868350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8022316790589868350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/09/teori-cinta-mama.html' title='TEORI CINTA MAMA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/THIWnilViDI/AAAAAAAACpA/Fb2spVvsoOA/s72-c/06082010(002).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>24</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-8390870161767181548</id><published>2010-09-09T06:03:00.000+07:00</published><updated>2010-09-09T06:03:00.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen pemenang lomba'/><title type='text'>SURAT UNTUK MERRY (karya  Sakurai Ayumi)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prakata : Cerpen ini merupakan salah satu cerpen yang memenangi Lomba Menulis Cerpen yang diadakan blog Sang Cerpenis dan Vixxio.  Tema yang unik dan ketegangan yang diciptakan dalam cerpen ini membuatnya layak menjadi Pemenang. Ayumi sepertinya punya potensi untuk menulis cerita bergenre thriller. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT UNTUK MERRY (karya Sakurai Ayumi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jika senja datang, aku pasti akan merangkak ketakutan, seolah rembulan akan menggerogoti hidupku selapis demi selapis. Aku takut jika mentari menghilang. Takut tubuhku bukan jadi milikku lagi. Ketika kegelapan menguasai, aku tahu, aku akan kehilangan arah. Tolong aku, Merry! Aku tak pernah menginginkan lahir sebagai orang buta!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersentak ketika melihat sepucuk surat yang terselip di antara sebuah catatan yang saya temukan di gudang. Tulisannya tak karuan, hanya saja saya familiar dengan tulisan ini. Saya membolak-balik halaman yang lain, penuh tulisan yang sifatnya pribadi. Saya rasa buku ini buku harian orang rumah ini, mungkin buku harian kakak sepupu saya, mungkin juga adik sepupu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu yang cerah tak membuat saya harus bersemangat. Pekerjaan rumah tangga yang kian menumpuk membuat saya melupakan betapa cerahnya hari ini hanya untuk sekedar merilekskan otak sejenak, terbebas dari perkuliahan. Ohya, perkenalkan, nama saya Indira. Saya hanya seorang anak perempuan yang menumpang tinggal di rumah saudara sepupu saya. Sudah dari kecil saya terpisah dari orang tua karena alasan pekerjaan. Saya sudah terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Hari Minggu lainnya, pekerjaan ke-pembantu-an saya sudah menumpuk dan hari ini saya akan berkutat dengan kumpulan buku penuh debu, merapikan mereka lalu menyusunnya. Saya heran mengapa orang-orang di sini membeli banyak buku hanya untuk disimpan di gudang begitu saja, hingga saya harus berada di sini, menemukan sebuah catatan harian seorang tanpa nama, dengan sepucuk surat misterius di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan segera merapikan buku-buku yang tersisa. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Sudah waktunya makan pagi di Hari Minggu, tapi bukan hal itu yang membuat saya tergesa-gesa. Saya ingin segera melanjutkan membaca catatan yang saya temukan tadi. Saya tak langsung membaca dari awal halaman, melainkan dari halaman saat surat itu terselip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanggal 19 Mei 1996&lt;br /&gt;Oh Merry, aku sangat membencinya. Saat siang, saat aku bisa melihat segalanya, dia selalu megawasi gerakanku. Seolah aku akan membocorkan tentang aib yang dia lakukan, seolah dia menginginkan mataku juga saat siang. Aku sudah buta saat malam hari, apakah dia ingin aku buta saat siang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membalik halaman berikutnya. Belum mendapat petunjuk mengena siapa pemilik buku ini dan alur ceritanya. Memangnya keluarga kami ada yang rabun senja? Mungkinkah ini buku milik paman saya atau bibi saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanggal 20 Mei 1996&lt;br /&gt;Dia selalu menakutiku, Merry. Aku selalu dibuatnya menangis. Tapi saat orang lain tak ada yang pedulikan aku, kau selalu ada untukku. Kau selalu mendengarkan curhat dan tangisanku, meskipun kau hanya bisa melakukannya saat malam. Saat aku tak bisa melihat dunia dengan jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubalik halamannya kembali. Kosong. Kubalik lagi hingga beberapa halaman, masih kosong. Aku mulai membaca buku itu dari awal. Tulisannya rapi dan indah. Berbeda sekali dengan tulisan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanggal 10 November 1995&lt;br /&gt;Aku terpikat pada lelaki yang duduk di hadapanku. Dia tampan, senyumanya cukup membuat kakiku lunglai. Ohya, namanya Mahesa. Kulitnya putih, hidungnya mancung, dia tak tampan, hanya manis, dia tak tinggi, tapi senyumannya cukup membuatku salah tingkah. Tapi,haruskah aku jatuh cinta pada kakakku sendiri? Tidak, ini hanya rasa kagum biasa!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanggal 15 November 1995&lt;br /&gt;Aku tak sanggup menahan diriku untuk tidak salah tingkah di hadapannya. Tapi apa? Dia terus menggodaku. Membuatku merasa panas setiap dia berusaha menempelkan bibirnya ke pipiku, atau merasa panas setiap melihat dia bermesraan dengan kekasihnya. Haruskah dia bermesraan di hadapanku? Kenapa kami baru dipertemukan? Jika saja kami dipertemukan sejak awal, cinta ini tak mungkin ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 30 Desember 1995&lt;br /&gt;Kenapa kami baru dipertemukan? Jika saja kami dipertemukan sejak awal, cinta ini tak mungkin ada. Aku ingin segera mengakhiri semuanya. Kak Mahesa tak akan pernah menganggapk sebagai kekasihnya. Aku hanya anak buangan yang tak diterima siapapun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membalik halaman berikutnya, namun halamannya sobek. Membuatku kecewa. Padahal kisah dalam catatan kecil ini luar biasa menarik. Baiklah, aku mencoba menganalisa pemilik buku ini. Yang pasti buku ini ada hubungannya dengan anak tertua di rumah ini, Kak Mahesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, perlu saya ceritakan bahwa di rumah ini ada enam orang penghuni dan delapan anjing. Sebenarnya rumah ini tidak besar, hanya saja kami memangkas lahan yang seharusnya dijadikan perkebunan, sehingga bisa dikatakan rumah kami gersang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tersebut terdiri dari paman saya, namanya Oom Agung beserta istrinya, Tante Mira. Kemudia anak-anak mereka, si kembar Adelia dan Amelia yang seumuran denganku dan kakak mereka yang otomatis jadi kakakku. Namanya Mahesa, genap enam orang dengan saya sebagai penghuni terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua kemungkinan, Adelia yang paling mungkin memilikinya. Dia adalah kembar sulung yang tak pernah punya pacar. Dia selalu manja dengan Kak Mahesa, ya, semenjak kehadiran lelaki itu ke rumah kami. Perbedaan usia kami dengannya terpaut 11 tahun dengan Kak Mahesa dan dia sudah tinggal merantau saat dia berusia 12 tahun sehingga kami bayangan tentang dirinya minim sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Indira, kamu disuruh makan ama Ibu,” suara sesorang mengejutkanku dari depan pintu kamar. Aha! Bingo! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suspect’s captured. Barusan adalah suara milik Adelia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru saya melenyapkan buku catatan tadi agar tak terlihat olehnya. Adelia nampak ragu melangkahkan kakinya. Ia sepertinya enggan mendekat dan memasang wajah curiga seolah tahu saya menemukan harta karunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, saya nyusul sebentar lagi,” jawab saya seraya bangkit dari tempat tidur menuju ke ruang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai makan, saya kembali membolak-balik halaman buku itu. Dan saya menemukan kalimat janggal di halaman teakhir dan membuat saya bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Tanggal 31 Desember adalah hari pembalasan saya, saya akan buat dia menyesal telah membuat saya menderita.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga! Ada apa dengan tanggal 31 Desember? Yang saya takutkan bukan keaslian maksud si penulis, tapi cap jempolnya, yang dibuat dengan darah! Tiba-tiba saya mual dan menutup catatan itu. Saya baru mulai ketakutan, jangan-jangan dari tadi saya membaca buku kutukan. Dan setelah dipikir-pikir sekarang juga tanggal 31 Desember. Bulu kuduk saya bergidik. Saya sembunyikan buku itu di dalam meja belajar saya. Kepala saya pusing, ingin rasanya merebahkan kepala sejenak.&lt;br /&gt;                                            ***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Malam kembali datang. Sepi seperti biasanya. Gelap seperti biasanya. Aku tak akan termakan temaram lagi, semuanya akan baik-baik saja. Semua akan berjalan dengan lancar! Aku sudah punya peneranganku sendiri. Biar sekelam apa hatiku dikata orang, aku tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dia sudah jadi milikku, wajahnya yang memuakkan tersapu siluetku yang terkena cahaya lilin. Dia ertidur dengan mimpi indahnya. Tak apa. Kubiarkan dia menikmati mimpinya semenit lagi, toh pisau ditanganku masih bisa menunggu. Tapi aku terlalu lama menatapnya, sehingga ia tersadar dan berteriak. Aku tak sadar pisau di tanganku sudah berpindah dan menancap di dadanya”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                                  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi! Ternyata saya hanya bermimpi. Saya bermimpi menjadi sesosok wanita terkejam sedunia. Keringat membanjiri tubuh saya dan saya terbangun dengan nafas tersengal, seolah usai berlari beratus-ratus kilo jauhnya. Saya tersenyum, terbahak ternyata segalanya hanya mimpi belaka. Saya pasti terlalu menghayati catatan aneh yang saya temukan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nona, apakah Anda sudah siuman?” seorang laki-laki paruh baya bertanya ke rahku.&lt;br /&gt;”Siapa Anda?” tanya saya balik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya Giri Griadhi! Psikiater,” jawabnya dengan tatapan datar.&lt;br /&gt;Kepala saya pusing. Apa saya masih bermimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah Anda mengenali lingkungan sekitar Anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat sekitar, dan yang terlihat terlihat hanya warna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa Anda dapat mengenali lingkungan Anda?" orang yang menggunakan jas putih itu kini mendesak saya. Saya akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Lalu apa Anda mengenal orang-orang ini?'' lelaki itu menunjuk paman saya, bibi saya dan Amelia satu per satu. Saya mengangguk mantap. Lalu dia menunjuk Adelia, tangannya dibalut perban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kau kenapa Del?'' tanyaku. Adelia melemparkan tampang kecut, seolah menampis pandanganku. Aku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Baiklah Nona, bisa anda ceritakan apa yang Anda lakukan semalam?''&lt;br /&gt;Aku terdiam sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya tidur.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jam brapa Anda tertidur?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya tak ingat karena saya tiba-tiba merasa pusing, memangnya ada apa?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa Anda tahu orang ini?'' dia tidak mempedulikan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangguk mantap. Dia kak Mahesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa Anda tahu dia meninggal?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa?'' Saya bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jadi anda benar-benar tidak tahu apa-apa?''&lt;br /&gt;Saya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Lalu apa anda bisa menjelaskan ini?'' psikiater itu menunjukkan sebuah pisau. Itu pisau yang ada dalam mimpi saya yang tadi. Keringat dingin mengucur mengaliri pelipis saya. &lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menurut keterangan Saudari Adelia, semalam Anda tertangkap basah telah melakukan pembunuhan terhadap kakak laki-lakinya. Saudari Adelia juga menemukan sobekan buku harian ini dan hendak menyerahkannya ke pihak yang berwajib,” kata laki-laki itu seraya menyodorkan sebuah buku catatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanggal 31 Desember 1995&lt;br /&gt;Kenapa selalu aku yang menjadi korban? Kak Mahesa dengan keji telah melecehkanku dan mengancam akan menyiksaku. Tak kusangka dia sekejam dan setega itu. Kali ini pun aku tak bisa lagi menulis, Merry! Kau harus kusembunyikan di dalam gudang yang jauh di sana. Sampai jumpa Merry.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya merasa hati saya mencelos, jiwa saya diseret keluar tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                         *** &lt;br /&gt;”Indira, apa kau baik-baik saja?''&lt;br /&gt;''Kalian siapa? Aku bukan Indira! Aku Merry!''&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-8390870161767181548?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/8390870161767181548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=8390870161767181548&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8390870161767181548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8390870161767181548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/09/surat-untuk-merry-karya-sakurai-ayumi.html' title='SURAT UNTUK MERRY (karya  Sakurai Ayumi)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-5609709924160433755</id><published>2010-09-02T15:00:00.000+07:00</published><updated>2010-09-02T15:00:04.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen pemenang lomba'/><title type='text'>JALAN BUNGA oleh ARIESKA ARIF</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Prakata : Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang memenangkan acara &lt;a href="http://just-fatamorgana.blogspot.com/2010/08/para-pemenang-lomba-menulis-cerpen.html"&gt;Lomba menulis Cerpen&lt;/a&gt; yang diadakan blog Sang Cerpenis dan Vixxio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;JALAN BUNGA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;OLEH : ARIESKA ARIEF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Aku bermimpi sedang berjalan di atas hamparan bunga beraneka warna. Mereka tetap tegar dan bermekaran indah meskipun diinjak-injak di bawah telapak kakiku. Bunga-bunga itu berpijar lembut memanjakan kakiku. Aku begitu menikmatinya hingga kumembuka mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Bau khas obat-obatan menyerbu indra penciumanku begitu kuterbangun. Kulayangkan pandanganku. Lagi-lagi aku masuk rumah sakit! Aku bergegas bangun, namun rasa sakit di pergelangan tanganku membekukku. Aduh! Baru kusadari ternyata aku diinfus. Kutarik selang infus itu hingga terlepas. Rasa sakit pun menjalar. Tapi aku tak peduli. Aku harus segera pergi dari sini untuk menemui mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kakiku tidak melangkah di hamparan bunga lagi. Dengan bertelanjang kaki aku melangkah di atas aspal yang panas, batu-batu kerikil dan kotoran-kotoran. Tapi aku tak peduli akan apa yang mengenai kakiku itu. Aku terus bertahan untuk tetap melangkah menemui mereka. Entah butuh berapa lama. Padahal aku bisa naik angkutan umum, tapi aku memutuskan untuk melangkah sendiri demi memperlihatkan kesungguhanku mendatangi mereka. Aku ingin melangkah tanpa bantuan dari siapa pun. Mereka adalah orangtuaku. Aku merasa kesepian karena merasa terbuang oleh mereka. Terbuang karena merasa tak diperhatikan lagi. Padahal putra mereka ini tengah mendapat ujian, tapi mereka tak pernah mendampingiku mengalami kesulitan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit tampak gelap. Aku memandang ke atas dan samar mendengar suara petir. Aku tahu sebentar lagi akan hujan, tapi aku terus melangkah. Aku tak peduli kendala apa yang akan kulalui dalam perjalananku ini. Tak lama tubuhku pun diguyur hujan. Sementara orang-orang mencari tempat berlindung, aku terus berjalan. Perjalananku jadi semakin berat. Padahal aku belum sembuh benar. Kepalaku jadi pusing karena diguyur hujan. Tapi aku tak boleh berhenti. Aku pun memaksakan diri untuk tetap melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunduk lesu membiarkan kepalaku dihajar hujan. Sungguh ini bukan jalan seempuk melalui hamparan bunga. Dingin. Badanku menggigil. Tapi aku tetap tak mau berhenti. Jalan berduri pun akan kulalui, kalau bisa petir pun kuterobos. Hujan takkan bisa mengalahkan aku!&lt;br /&gt;Perjalanan masih panjang. Aku mulai berjalan sempoyongan. Perih mengibas kakiku. Aku yakin kakiku sudah lecet-lecet. Tapi aku masih saja menguatkan diri untuk melangkah. Hujan malah semakin deras. Nafasku sesak. Air mataku mengalir. Apakah aku masih sanggup berjalan dalam kondisi seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu jatuh terjerembab karena lemas. Oh, aku sudah tak sanggup lagi. Tapi tidak! Aku tak boleh berhenti! Aku harus berjuang. Jika aku pulang, mereka pasti akan kaget. Aku harus tetap melangkah meskipun sampai harus merangkak. Aku pun merangkak. Seandainya aku bisa lebih daripada ini, berlari misalnya&lt;br /&gt; agar cepat sampai. Tapi apalah dayaku. Tubuhku benar-benar tak bisa bekerjasama.&lt;br /&gt;Aduh! Ada rasa sakit menjalar tiap kali aku bertopang pada tangan kiriku. Kupandang tanganku dan miris melihatnya. Pergelangan tanganku luka dan berdarah. Pasti karena kucabut selang infus-nya dengan paksa. Tapi kalau merangkak saja susah, aku harus bagaimana lagi? Aku mulai putus asa. Tapi tetap saja aku ngotot tak ingin menyerah. Sesulit apa pun akan terus kulalui perjalananku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana aku sekarang? Aku mendongak dan membaca papan nama jalan. Jalan Bunga. Aku terpaku begitu melihat orang-orang di salah satu rumah di jalan itu. Mereka tinggal di sebuah rumah yang meskipun sederhana, tapi ketiganya tampak bahagia. Kupandangi seorang pemuda sebayaku. Ia dikecup sayang ibu bapaknya sebelum berangkat ke sekolah. Seandainya saja anak itu adalah aku. Oh, aku sungguh merindukan kasih sayang kedua orangtuaku. Aku menangis. Ya Tuhan, apakah aku takkan pernah sebahagia anak itu? Karena sedih dan cemburu, kusumpahi anak itu mendapat nasib sepertiku. Cacat sehingga orangtuanya membuangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tengah berbahagia itu tak menyadari kehadiranku. Pemuda itu lalu keluar dari rumahnya sambil membawa payung hitam. Aku memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Aku mencoba untuk berdiri lagi. Tiba-tiba saja seseorang mengulurkan tangannya padaku. Tak hanya itu, payungnya ikut melindungiku. Payung itu kan.. Kuperhatikan orang itu. Ia tersenyum ramah. Aku membuang muka karena malu. Pemuda itu. Padahal aku baru saja mendoakannya yang jelek-jelek, tapi dia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pantas menerima bantuannya setelah apa yang kupikirkan tentangnya. Ia lalu berjongkok dan menatap wajah sedihku. Wajahnya lalu ikut-ikutan sedih seolah mengerti penderitaanku. Ia lalu menggamit tanganku, lalu menggenggamkan payungnya ke jemariku.&lt;br /&gt;Setelah mengulum senyum ia langsung pergi sambil menerobos hujan deras. Aku merasa semakin tak enak padanya. Ia rela kehujanan dan merelakan payungnya padaku. Aku memanggil-manggilnya, tapi suara hujan mengalahkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja sebuah mobil meluncur kencang di ujung jalan. Tapi pemuda yang hendak menyebrang sambil berlari menghindari hujan itu tak menyadarinya. Gawat! Ia bisa celaka. Spontan aku pun berlari sebelum terjadi hal yang tak diinginkan. Aku berlari begitu kencang dan mendorongnya menghindar. Mobil itu semakin mendekat. Aku memejamkan mata ngeri. Aku tak peduli apa yang terjadi pada tubuhku. Bukankah sudah tak ada lagi yang peduli dan menyayangiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciiiit! Mobil itu langsung berhenti tepat di hadapanku. Tak terjadi hantaman yang menyakitkan. Kumembuka mata perlahan. Terdengar suara pintu mobil terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga! Ya Tuhan! Fay?! Faaaaaaaaaayyy!!” pekik sebuah suara yang kukenal. Seorang wanita lalu keluar dan berhambur memelukku. “Kau tidak apa-apa kan, sayang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seorang pria keluar dari mobil. “Ya ampun, Fay? Kau bisa berjalan?!” tanyanya tak percaya. Ia lalu menghampiriku. “Kenapa kabur dari rumah sakit? Hujan-hujan begini lagi. Kami baru saja hendak mencarimu. Kami sangat mencemaskanku, sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A.. aku pikir ayah dan ibu sudah tak mempedulikanku lagi,” gagapku. “Di saatku menderita, kenapa kalian tak pernah menemani dan menghiburku?” protesku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh. Mana mungkin kami membuangmu, nak. Maafkan kami jarang berada di sisimu. Tapi itu semua demi kesembuhanmu, nak. Kami ingin melihat kau bahagia. Makanya kami sibuk ke sana kemari mencarikan dokter yang hebat dan obat agar kau bisa berjalan kembali,” tutur ibu panjang lebar. “Itulah sebabnya kami tak bisa berlama-lama menemanimu, sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami, nak. Kami sudah membuatmu sedih. Kami tak nyangka kau akan berpikiran buruk seperti ini,” kata ayah sambil membelai rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengulum senyum terharu. Ternyata ayah dan ibu masih peduli padaku. Aku menyesal telah berpikiran yang tidak-tidak tentang mereka. Air mataku menetes. “Yah, Bu, aku kabur karena ingin memperlihatkan ‘ini’ pada kalian. Tanpa kursi roda lagi, aku bisa. Aku ingin membuat kalian terkejut. Oleh karena itulah aku terus melatih diri untuk berjalan. Sebenarnya aku sudah bisa berjalan beberapa hari yang lalu. Tapi aku malah jatuh dari tangga dan dilarikan ke rumah sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu memeluk mereka hangat. “Bu, Yah, maafkan Fay. Fay sudah salah sangka pada ayah dan ibu. Fay nyesel banget sudah berprasangka buruk pada ayah dan ibu! Kalian mau kan memaafkan Fay?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja, sayang. Tentu. Kau anak kami satu-satunya,” kata mereka. “Kami akan tetap mencintaimu apa pun keadaanmu.” Mereka lalu mengacak-acak rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu saling berpelukan tanpa sadar hujan telah reda. “Aku janji akan jadi anak yang berbakti dan membahagiakan kalian. Sekarang aku sudah normal. Kalian tak perlu mengorbankan banyak hal lagi untukku,” kataku senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata inilah maksud dari jalan penuh bunga yang kulalui dalam mimpiku tadi. Ternyata aku akan menemukan kebahagiaanku di jalan Bunga. Ini juga tak lepas dari peranan pemuda tadi. Kalau saja tak ada dia, kami pasti takkan bisa berkumpul seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap pemuda tadi. Ia turut tersenyum. Aku lalu menghampirinya kemudian mengulurkan tangan. “Kenalkan. Aku Fay. Terima kasih ya atas perhatiannya,” kataku. Kami pun saling berjabat tangan. “Oh iya. Nama kamu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu lalu menggerakkan tangannya berupa isyarat-isyarat. Bibirnya yang tak bersuara bergerak mengucapkan vokal yang tak jelas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-5609709924160433755?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/5609709924160433755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=5609709924160433755&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5609709924160433755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5609709924160433755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/09/jalan-bunga-oleh-arieska-arif.html' title='JALAN BUNGA oleh ARIESKA ARIF'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-67226730372255912</id><published>2010-09-02T14:04:00.003+07:00</published><updated>2010-09-17T11:32:24.358+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>So You Think You Can Dance?</title><content type='html'>Are you familiar with the reality show of dance competition called So You Think You Can Dance? It’s exciting to see dancers all around the countries perform their best dance styles in a competition. For the contestants it’s a competition, but for the audience it becomes a good entertainment show. All these times we watch it on the TV. But, have you ever thinking about watching the live show? I guess it will be much more glamorous than the TV show!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you are thinking about watching the live show, there are several theatres in America which perform it at least once. So if you like it, you can first book, for example &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/venue/1st_mariner_arena_tickets.html"&gt;1st Mariner Arena Tickets&lt;/a&gt; for early October show. And while you are doing that, book also &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/venue/agganis_arena_tickets.html"&gt;Agganis Arena Tickets &lt;/a&gt;for the same show on the week after. Still not enough? Write a reminder in your diary to buy &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/venue/rose_garden_arena_tickets.html"&gt;Rose Garden Arena Tickets &lt;/a&gt;for November’s live show days before the venue!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I think these shows will be very interesting and useful for you who really like to dance, guys. But for you who -like me- just like to watch dance shows, So You Think You Can Dance still is entertaining. Or maybe you’d think Disney On Ice show is more fun? Well, you can also buy &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/venue/rabobank_arena_tickets.html"&gt;Rabobank Arena Tickets&lt;/a&gt; for one of the Disney On Ice shows through the internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And how about me? Hmm…I think I’ll just watch those shows on TV from my comfy couch in my small-but-nice home. That’s what I call luxury!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-67226730372255912?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/67226730372255912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=67226730372255912&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/67226730372255912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/67226730372255912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/09/so-you-think-you-can-dance.html' title='So You Think You Can Dance?'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-1198632535410915968</id><published>2010-08-23T13:50:00.000+07:00</published><updated>2010-08-23T13:50:00.492+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen pemenang lomba'/><title type='text'>TANIA  karya ANAA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prakata : Ini dia cerpen karya Anaa, salah satu pemenang &lt;a href="http://just-fatamorgana.blogspot.com/2010/08/para-pemenang-lomba-menulis-cerpen.html"&gt;lomba menulis cerpen&lt;/a&gt; yang baru saja berakhir. Yuk, kita baca rame-rame..!! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; TANIA &lt;br /&gt;OLEH ANAA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, hujan mengguyur bumi. Membuat Tania enggan beranjak dari tempat duduknya. Ia masih saja asyik menikmati gemericik suara air yang menghantam tanah dan memberikan efek cipratan dikakinya. Imajinasi Tania melayang ke sebuah padang rumput hijau nan asri. Terbayang sosok sang bunda, dengan lembut menggenggam tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Tania, ayo masuk. Ini kan sudah sore. Nanti bisa masuk angin lho”. Suara mbok Nah membuyarkan imajinasi Tania. Meski agak kesal, Tania tak menolak saat mbok Nah menuntunnya masuk ke dalam. Mbok Nah adalah satu-satunya orang yang ia miliki sekarang. Ayah, bunda, dan Diandra, adik semata wayangnya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Ia sendiri sebenarnya sempat kritis, namun sepertinya Tuhan masih memberinya kesempatan untuk merasakan nikmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu selesai berganti pakaian, Tania menuju meja makan yang letaknya bersebelahan dengan ruang dapur. Disana mbok Nah sudah menyediakan semangkuk bubur sum-sum hangat. Makanan kesukaannya yang biasa disiapkan sang bunda untuk mereka nikmati bersama. Memang sulit bagi Tania untuk melupakan itu semua, karena seluruh bagian dari rumah itu penuh dengan kenangan manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah larut, namun hujan belum juga reda. Hal itu membuat Tania tak kunjung memejamkan mata. Baginya, hujan adalah momen khusus yang tidak boleh untuk dilewatkan. Suasana yang tercipta, selalu berhasil menyeret Tania ke satu dimensi, dimana tak ada keterbatasan yang bisa menghalanginya. Disisi lain, mbok Nah tampak mengusap air mata yang menetes di pipinya saat memandangi anak majikan yang sudah diasuhnya sejak bayi. Mungkin wanita renta itu terlalu miris menyaksikan gadis remaja yang dulu sangat periang, kini menjadi gadis buta yang menghabiskan seluruh waktunya hanya di dalam rumah.&lt;br /&gt;                                       *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tania terbangun saat merasakan hangat sinar mentari menyentuh kulitnya. Suasana hatinya tak terlalu bagus hari ini. Ia membanting vas, pigura, hiasan, dan seluruh benda yang berhasil dijangkau oleh tangannya. Perasaan bersalah atas kecelakaan maut itu kembali menghinggapinya, ia marah kenapa hanya dirinya yang selamat, kenapa ia tak ikut mati saja agar tak harus menderita seperti sekarang, ia juga kesal, mengingat semua teman yang dulu selalu ada, kini justru menghilang saat dirinya benar-benar membutuhkan motivasi, semua bercampur menjadi satu. Dadanya sesak, tak sanggup menampung semua beban yang dihadapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbok Nah tampak panik saat memasuki kamar Tania, meski bukan kali ini saja gadis itu mengamuk. Beberapa saat kemudian, baru mbok Nah berhasil membuat Tania tenang. Dengan penuh kasih sayang, dibelainya rambut panjang Tania yang awut-awutan. “Mbak Tania nggak boleh begini lagi ya. Mbok sedih mbak, kalo mbak Tania ngamuk-ngamuk. Pasti Ibu juga sedih kalau ngeliat mbak begini”. Tania hanya bisa terisak mendengar kata-kata Mbok Nah barusan. Meski tak bisa melihat tapi Tania bisa merasakan bahwa wanita yang selalu setia merawatnya itu susah payah mengucapkannya karena menahan tangis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita ke dapur yuk mbak, temenin mbok masak”. Tania menurut, sebab yang diinginkannya sekarang hanyalah terlepas dari rasa sedih dan kecewa yang berlarut-larut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu yang namanya kekian mbak. Yang biasa mbok pakai buat bikin cap cay. Bentuk mentahnya kayak gitu”. “Kalau ini apa mbok?” “Itu timun mbak”. Mbok Nah tampak bersemangat menerangkan satu persatu setiap benda yang Tania pegang. Tania sendiri tampak menikmati kegiatan barunya. Meski kelihatannya sederhana tetapi banyak pelajaran yang bisa dipetik. Ternyata tak ada yang benar-benar berubah selama ini. Dirinya sendirilah yang membuat hidup Tania tampak tak berarti. Matanya memang tidak bisa berfungsi seperti dulu, tapi hatinya masih bisa merasa. Tania bersyukur sekali, meski kehilangan seluruh keluarganya, ia masih memiliki mbok Nah. Orang yang tak memiliki pertalian darah tapi sangat tulus menyayanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                  *** &lt;br /&gt;Ketika tengah mengubah posisi tidurnya, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah kamar mbok Bah. Jantung Tania berdegup kencang. Ia turun dari tempat tidurnya dan mengambil posisi di pojok ruangan, meringkuk ketakutan. Tidak berapa lama, pintu kamarnya yang terkunci, dibuka secara paksa dari arah luar. Suara beberapa langkah kaki mendekatinya. Tubuh Tania gemetar hebat. Kepalanya dipukul dengan benda keras. Setelah itu Tania tak ingat apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                   *** &lt;br /&gt;“Mbak…mbak…mbak tidak apa-apa?” Terdengar suara lelaki yang tidak asing ditelinga Tania. “Mbok Nah, bagaimana keadaan mbok Nah?”, Tania meronta panik begitu kesadarannya penuh. “Tenang mbak, mbok Nah sudah tidak apa-apa. Sekarang yang penting mbak istirahat dulu saja”. Mendengar mbok Nah ternyata tidak apa-apa Tania menjadi tenang. Ia juga sudah berhasil mengingat suara orang yang berbicara dengannya. Itu suara kang Usman, anak bungsu mbok Nah yang sesekali datang kerumahnya untuk mengurus kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, keadaan Tania telah pulih. Begitu mengetahui bahwa dokter mengatakan, ia sudah bisa keluar dari rumah sakit, ia terus mendesak kang Usman yang sejak kejadian malam itu senantiasa menemaninya untuk memberitahukan keadaan mbok Nah. Wajah kang Usman pucat karena kebingungan mencari cara yang tepat untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada anak majikan ibunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbok…mbok. Tania sudah pulang mbok. Mbok dimana?” Kang Usman semakin salah tingkah. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana. “Kang, mbok Nah mana, kok nggak ada suaranya?” “Ehmm…mbak…simbok sudah nggak kerja disini lagi. Sudah waktunya beliau istirahat. Sekarang simbok sudah tenang”. Meski tak yakin tapi Tania tahu kemana arah pembicaraan kang Usman. Terdengar sekali dari suaranya yang serak. Tak kuasa Tania menahan air matanya, tangisnya meledak. Kang Usman sendiri hanya bisa membisu, tak kuasa mengingat bahwa Mbok Nah tewas tertembak dalam perampokan yang terjadi pada malam naas itu. &lt;br /&gt;                               *** &lt;br /&gt;Tania tersenyum bangga saat namanya dipanggil sebagai salah satu juara penulis muda berbakat tahun itu. Kisah perjuangannya sebagai tuna netra yang berhasil bangkit dari keterpurukannya telah menginspirasi banyak orang. “Piala ini untuk kalian Yah, Bunda, Diandra, dan Mbok Nah”, bisik Tania saat menerima penghargaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-1198632535410915968?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/1198632535410915968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=1198632535410915968&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1198632535410915968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1198632535410915968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/08/tania-karya-anaa.html' title='TANIA  karya ANAA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-8067353392207943594</id><published>2010-08-21T16:05:00.000+07:00</published><updated>2010-08-21T16:05:00.273+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen pemenang lomba'/><title type='text'>BERAWAL DI JENDELA KAMAR oleh DEWI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prakata : Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang  memenangkan &lt;a href="http://just-fatamorgana.blogspot.com/2010/08/para-pemenang-lomba-menulis-cerpen.html"&gt;Lomba Menulis Cerpen&lt;/a&gt; yang diadakan oleh blog Sang Cerpenis dan Vixxio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERAWAL DI JENDELA KAMAR OLEH : DEWI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mobil van berhenti disamping rumahku. Aku mendongak dari novel terbaruku yang tengah kubaca. Sepertinya rumah di samping rumahku kedatangan penghuni baru. Sudah satu bulan rumah itu kosong semenjak ditinggal pemilik sebelumnya. Dulu rumah itu di huni oleh keluarga Pak Chandra beserta istri dan anak semata wayang mereka yang baru menginjak SMP. Keluarga kecil itu pindah ke Jogjakarta dan sudah sejak sebulan yang lalu rumah itu digantungi papan bertuliskan 'Dijual'. Mobil van itu mengangkut banyak perabotan ruamah tangga. Seorang pria berumur yang agak tambun turun dari mobil diikuti oleh seorang wanita. Sepertinya mereka suami istri calon tetangga baruku. Pria itu tampak memberi komando dengan gerakan tangan pada dua orang laki-laki yang tengah menurunkan lemari kayu dari belakang mobil. Mereka telihat sangat sibuk memindahkan semua perabotan ke dalam rumah. Aku terlonjak kaget saat tiba-tiba ibuku memanggilku dari dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Citra..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, bu..."Aku buru-buru menyahut. Ternyata dari tadi aku terlalu asyik memperhatikan tetangga baruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Disini kamu rupanya." Ibu menghampiriku di dekat kolam ikan di samping rumah. Aku tersenyum. Sikap Ibuku belakangan ini sangat over protektif. Sebentar saja aku hilang dari pandangannya, ia langsung meneriakkan namaku. Padahal aku tak mungkin bisa pergi jauh. Aku hanya bisa berada di sekitar lingkungan rumahku saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada tetangga baru, Bu." Aku memberitahu Ibuku. Beliau menengok ke arah rumah sebelah yang hampir selesai bebenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh...," gumamnya sambil manggut-manggut. Lalu ia kembali padaku. "Sudah, hampir maghrib. Ayo Ibu bantu kamu mandi," ucapnya sambil membawaku masuk kedalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke dalam kamarku. Menyalakan laptop. Memasang modem USB dan menyalakan internet. Benda kecil ini sangat berguna sekali untukku. Aku tetap bisa terhubung dengan dunia luar tanpa harus menunduk malu  menghindari tatapan penasaran semua orang pada kakiku. Aku bisa ngobrol dengan banyak orang tanpa mereka tahu aku duduk di kursi roda. Aku telah kehilangan kedua kakiku. Dua tahun yang lalu kakiku terpaksa harus di amputasi setelah aku mengalami kecelakaan. Kedua tulang kakiku hancur. Sekarang kakiku hanya sampai dengkul saja. Dan hidupku sekarang bergantung pada kursi roda. Jangan ditanya bagaimana hancurnya aku saat itu. Entah sudah berapa banyak air mata yang ku keluarkan. Sampai sekarangpun aku kerap menangisi kemalanganku. Diam-diam merindukan sepatu high heel yang dulu sering kugunakan. Selalu iri pada orang-orang yang lewat depan rumahku yang tengah berjalan ataupun berlarian. Aku menarik diri dari dunia luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untunglah ibuku selalu mendampingiku. Selalu memberiku semangat dan motivasi. Hidup ini indah dan terlalu berharga hanya untuk kau lewati begitu saja. Kau tak punya kaki, tapi kau masih punya tangan yang bisa menopangmu. Mengapa kau tak pergunakan saja apa yang kau punya daripada kau menangisi sesuatu yang sudah hilang. Perkataan ibuku membuat aku mencoba bangkit. Aku belajar menulis, menggambar, melukis bahkan menyulam. Semua hal-hal yang bisa kukerjakan dengan tangan kupelajari. Dan aku tertarik pada dunia tulis menulis. Aku mencoba membuat blog. Menuliskan semua yang ada dalam benakku. Merangkai setiap kata-kata menjadi susunan kalimat yang enak di baca. Lalu aku mulai membuat cerpen. Iseng-iseng mengirimkannya pada majalah. Dan aku memekik senang saat salah satu cerpen kirimanku ternyata diterbitkan. Bukan hanya itu saja aku juga mendapat honor dari cerpen kirimanku. Makin bersemangatlah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku motivasi terbesarku untuk bangkit dari keterpurukanku. Tapi aku belum berani menghadapi dunia luar. Aku masih takut melihat pandangan orang-orang padaku. Jujur, aku merasa minder dengan keadaanku. Ibuku bilang aku harus sesekali keluar rumah, tapi apa bisa beliau melepasku seorang diri keluar rumah dengan kursi rodaku. Kadang ia saja masih bertindak kelewat berlebihan terhadapku. Ibuku sering sekali membantuku mandi padahal aku bilang aku bisa sendiri. Setiap sejam sekali selalu mengecek keberadaanku. Aku tahu ia melakukan itu bukan karena menganggapku lemah, tapi itulah bentuk rasa sayangnya padaku. Seorang ibu tak kan mau berhenti untuk merawat anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tengah asyik memindahkan imajinasiku ke layar komputer saat aku mendengar suara petikan gitar. Tanganku berhenti menari di keyboard. Suara gitar itu makin jelas. Aku menoleh ke arah jam di dekatku. Sudah pukul satu dini hari. Tak terasa aku sudah melewatkan malam dengan begadang. Aku menguap lalu mengulet. Merentangkan tangan keatas dan mulai merasakan kantuk. Suara gitar itu masih ada. Aku menge-save tulisanku dan mematikan laptop. Memandangi jendela kamarku lalu memutuskan menggelindingkan rodaku kesana. Aku membuka gorden dan mengintip dari balik jendela mencari sumber bunyi berasal. Ternyata dari rumah sebelah, tetangga baruku. Jendela kamarku berhadapan langsung dengan salah satu kamar di rumah sebelah yang hanya di batasi tembok penyekat yang rendah. Aku melihat seorang laki-laki. Bukan laki-laki yang kulihat tadi pagi. Ia masih muda. Mungkin sebaya atau lebih muda satu tahunan denganku tengah memainkan gitarnya. Jendela kamarnya terbuka. Makanya aku bisa dengan jelas mendengar suara petikan gitarnya. Aku terbuai mendengar alunan gitarnya yang merdu. Aku tak tahu lagu apa yang ia mainkan. Masih asing ditelinga namun sangat enak didengar. Tiba-tiba permainan gitarnya berhenti. Saat aku tersadar, laki-laki itu tengah memandangiku dipinggir jendela kamarnya. Aku tersentak dan pipiku langsung memerah. Aku ketahuan sedang mengintip. Ia tersenyum. Walau dalam keremangan tapi aku bisa melihat kedua lesung pipinya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hallo, maaf ya menggangu tidurmu ?" sapanya ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng dan berusaha membalas senyumnya dengan grogi. "Tidak. Kebetulan aku juga belum tidur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syukurlah kalau begitu. Aku tetangga baru kamu. Salam kenal. Namaku Robin." ucapnya mengenalkan diri.&lt;br /&gt;"E...aku Citra" jawabku gugup. Ini interaksi pertamaku dengan orang lain setelah dua tahun aku mengurung diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Citra..." gumamnya menyebut namaku. "Kamu masih sekolah?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. Aku sudah menamatkan SMU dua tahun yang lalu. Saat ini mungkin aku tengah kuliah jika saja aku tak mengalami kecelakaan itu. Peristiwa itu terjadi saat aku baru saja mendaftarkan diri di universitas pilihanku. Bus yang aku tumpangi menabrak pembatas jalan dan terguling. Kakiku terjepit dan saat sadar aku sudah kehilangan kedua kakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robin ternyata dua tahun lebih muda dariku. Ia masih pelajar kelas 3 SMU. Ia pindahan dari Bali. Orangtuanya asli Jakarta. Namun ia dari lahir sudah tinggal di Bali. Keluarganya punya usaha cafe di Bali dan tengah mencoba mengembangkan usahanya di Jakarta. Kafetaria milik keluarganya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami. Hanya berada di ujung jalan dekat jalan raya. Mungkin hanya butuh waktu 15 menit jika aku menggunakan kursi rodaku ke sana. Aku tak perlu menyebrang jalan. Jadi aku tak perlu khawatir dengan kendaraan yang lewat. Robin sudah sering mengajakku ke cafenya, tapi aku selalu menolak. Ia belum tahu aku cacat. Dan aku tak tahu reaksinya seperti apa jika ia sampai tahu. Sejauh ini obrolan kami hanya di depan jendela kamar kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku punya pekerjaan baru, menungguinya pulang sekolah dan kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol antar jendela. Ia sering menceritakan pulau Bali padaku. Aku baru sekali saja ke Bali. Itupun sudah lama sekali waktu aku melakukan study tour saat SMP. Aku suka dengan pantai Kuta dan Sanurnya. Menikmati dinginnya udara di Bedugul. Semuanya membuat aku rindu. Robin malah berjanji akan mengajakku ke Bali jika ia liburan sekolah. Ia bilang pantai Dreamland lebih indah dari Sanur dan Kuta yang sudah ramai oleh wisatawan. Pasirnya putih dan aku bisa bermain air sepuasnya disana.  Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ajakannya. Jika ia tahu keadaanku, apa ia masih mau mengajakku. Kurasa ia akan berpikir ulang sebelum mengajakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Citra..." teriak Robin. Aku tersenyum. Aku segera membuka jendela kamarku. Tapi aku tak menemukan Robin berdiri di kamarnya seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Citra..." panggilnya lagi. Aku tersentak dan segera tahu suara Robin berasal dari depan rumahku. Kepanikan melandaku. Aku teringat Ibuku sedang pergi ke Bogor, menjenguk tanteku yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa ini mengapa Robin tiba-tiba ada di depan rumahku. Bukanlah biasanya kami bertemu di jendela kamar kami. Bisakah aku menemuinya dan memperlihatkan kakiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponselku berdering. Aku terlonjak kaget dari kursi rodaku. Aku meraih ponselku. Nama Robin tertera di layar HP. Aku bimbang, namun kemudian mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cit..., bukain pintu dong. Kamu di dalam, kan?" ucap Robin. "Aku mau ajak kamu ke kafe. Aku baru bangun perpustakaan kecil disana. Koleksi bukuku bagus-bagus, lho. Kamu pasti senang," cerocos Robin panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat ucapan Robin tempo hari tentang keinginannya membangun sebuah perpustakaan kecil di kafetaria miliknya. Robin memang pecinta buku. Aku sering dipinjaminya buku-buku yang baru di belinya. Koleksi buku yang ia punya beragam. Aku lebih suka meminjam novel science fiction miliknya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hallo. Hallo.... Citra!!!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, ya-iya," aku tergagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo dong, bukain pintu. Nanti aku traktir milk shake buatanku deh. Dijamin enak, lho!" Robin berpromosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Tunggu," ucapku pada akhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil selimut di ujung tempat tidurku. Menutupi kakiku dengan selimut lalu mendorong kursi rodaku dengan enggan. Hatiku berdegup kencang. Aku takut dengan reaksi Robin. Aku takut ia nantinya menjauhiku. Aku baru mendapatkan teman yang benar-benar aku suka. Bagaimana jika ia tak mau berteman denganku lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuju pintu gerbang rumah. Sebelumnya menyambar kunci di bawah pot. Dengan gemetar aku membuka kunci gembok dan membuka pintunya. Robin masuk. Ia menatapku lama dalam diam. Aku gusar. Menundukkan kepalaku karena malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisakah, kamu tak melihatku terus-terusan seperti itu?" Aku mulai protes padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi karena ini kamu tak pernah keluar rumah bahkan takut mememuiku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, aku tak pernah memberitahumu sebelumnya. Tapi kalau kamu tak mau berteman denganku lagi, aku bisa terima."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa? Picik sekali pikiranmu? Apa kau pikir karena kau duduk di kursi roda maka aku tak mau lagi berteman denganmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Bulir-bilir air mata mulai menetes di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang benar saja. Kau ini. Hey, suruh siapa kau menangis..!" hardik Robin. Ia jongkok di depanku. Memegangi kursi rodaku dan memandangku dengan tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya kamu siapa melarangku menangis. Ini kan airmataku sendiri. Aku tidak memintanya darimu, kan?" ucapku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Robin tertawa keras. Lalu ia berdiri dan memutar tubuhnya ke belakangku. Mendorong kursi rodaku keluar.&lt;br /&gt;"Mau kemana?" Aku menahan tanganku di pintu gerbang. Menoleh padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi kan aku sudah bilang mau mengajakmu ke kafe. Aku traktir milk shake biar kamu tidak nangis lagi," ledeknya sambil terkekeh. Aku cemberut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengunci pintu kami pergi ke kafenya. Sepanjang jalan aku menceritakan tragedi yang menimpaku hingga aku harus kehilangan kakiku. Ia tak banyak berkomentar, hanya manggut-manggut mendengar ceritaku. Dan ajaibnya aku tak menangis sama sekali waktu menceritakan hal itu pada Robin. Biasanya hanya mengingat kejadiannya saja sangat mudah memancing air mataku keluar. Dan setelah menceritakan semuanya aku merasa lega.  Tidak sesulit yang kubayangkan. Aku juga senang dan cukup terkejut melihat reaksi Robin yang menerimaku tanpa ada pandangan takut atau kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampai di depan kafetaria. Ornamen Bali sudah terlihat dari luar. Pohon palem di dua sisi bangunan dihiasi dengan kain kotak-kotak hitam putih. Patung Topeng Bali menyambut kami di depan pintu kafe. Nuansa Bali juga terasa saat kami masuk ke dalam. Lukisan-lukisan penari Bali tergantung rapi di setiap dinding kafe. Suansananya sangat nyaman. Robin menggiringku ke dalam sebuah ruangan lain yang di papan pintu kacanya tertempel papan 'Perpustakaan Mini'. Rak-rak kayu berisi buku-buku menyambutku. Robin meninggalkanku. Aku menyisiri setiap rak buku yang tersusun rapi. Robin kembali masuk dengan membawa kedua orangtuanya. Pria dan wanita yang kulihat saat mereka baru pindahan dulu. Mereka tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenalkan ini  Citra, temanku sekaligus tetangga kita," ucap Robin. Anehnya ia berbicara sambil menggerakkan kedua tangannya membentuk setiap kata-kata yang diucapkannya tadi. Aku sering melihat hal ini di TV yang ku tahu itu merupakan bahasa isyarat. Aku melongo.  Kedua orang tuanya pun membalas dengan melakukan gerakan pada kedua tangan dengan suara sengau yang tak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka bilang mereka senang bertemu denganmu," beritahu Robin padaku. Aku salah tingkah tak tahu harus menjawab apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jawab saja mereka bisa kok membaca gerakan bibir kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, eh...aku juga senang bertemu dengan kalian," ucapku akhirnya. Ibu Robin mengangguk. Meraih jemariku dan mengusap lembut pungggung tanganku. Tangannya hangat. Lalu mereka meninggalkanku dan Robin.  Begitu mereka pergi aku langsung mendongak pada Robin. Ia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kamu pikir mereka adalah orang tua yang sangat baik dan pengertian jika tiap malam anaknya selalu bermain gitar dan kamu tak pernah melihatnya mendobrak kamarku karena merasa terganggu, heh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kedua orangtuaku tuna rungu, tapi aku bangga pada mereka. Aku tak merasa malu mempunyai orang tua seperti mereka. Kau lihat walaupun mereka mempunyai keterbatasan tapi mereka bisa berhasil seperti orang normal lainnya. Begitu juga dengan kamu..." Robin menunduk di depanku dan menggenggam erat tanganku. "Jangan menutup diri lagi. Tangan ini aku yakin akan membawa keberhasilan untukmu juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku berkaca-kaca. "Terima kasih," ucapku tersendat menahan haru. Robin mengacak rambutku. Aku pura-pura cemberut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, apa kamu mau mengajariku bahasa isyarat?" Aku bertanya pada Robin&lt;br /&gt;"Tentu saja." Robin memutar tubuhnya ke arah rak buku dan menarik sebuah buku berwarna cokelat. Lalu menyerahkannya padaku. Aku membaca judul buku itu. Belajar Bahasa Isyarat untuk Tunarungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pinjam, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robin mengangguk. Ia kembali meraih buku di rak. Sepertinya sebuah novel dengan lembaran lebih tebal dari buku yang kupegang dan ragu-ragu memberikannya padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buku ini juga bagus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa geli. "Sejak kapan kamu menyukai novel seperti ini?". Aku tahu jenis bacaan yang disukai Robin. Novel-novel percintaan bukan buku bacaan favoritnya. Makanya aku kaget ia bisa punya novel seperti ini. Dan menduga-duga apakah ia juga sudah membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kamu mau novel itu boleh untukmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untukku. Oh, terimakasih. Kamu sudah membacanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah." Robin menarik kursi dan duduk di depanku. "Ceritanya bagus tentang seorang pria yang jatuh cinta pada wanita yang lebih tua.. Kamu tahu tokoh utamanya jatuh cinta pada teman Ibunya sendiri." Lalu Robin menatapku penuh arti.. "Kamu tak masalah kan jika seorang pria menyukai wanita yang lebih tua apalagi hanya beda dua tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"APA...?!!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-8067353392207943594?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/8067353392207943594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=8067353392207943594&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8067353392207943594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8067353392207943594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/08/berawal-di-jendela-kamar-oleh-dewi.html' title='BERAWAL DI JENDELA KAMAR oleh DEWI'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-5747530136827693809</id><published>2010-08-21T15:12:00.002+07:00</published><updated>2010-09-17T11:32:40.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>My Love For Music</title><content type='html'>Besides writing short stories, music is one of my hobbies. It's not that I can play music (oh..not at all!). Listening to music is what I love to do. I have a quite huge music collection in my computer as well as in DVDs. But what I had never tried to do is watching live shows of my favorite singers. Well...not until I found a simple way to get concert tickets on the internet lately.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To really enjoy a concert, I prefer some specific seats location in a stadium where I can watch the performer clearly, not only listening to the music. That's why I choose to order tickets in Ticket America where I can pick my favorite seats from their seating chart months before. For this year, and even next year, there are some of my favorite singers who will have their live shows. Engelbert Humperdinck is a male singer I have known since I was a child, and he will perform next month. Anyone who like to join me...please give me a call before I book &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/venue/trump_taj_mahal_-_mark_etess_arena_tickets.html"&gt;Trump Taj Mahal Casino Tickets &lt;/a&gt;where he would have the live show. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh my God, I just found out that Neil Young will also on stage on September. Should I choose Humperdinck show or should I book &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/venue/ruth_eckerd_hall_tickets.html"&gt;Ruth Eckerd Hall Tickets &lt;/a&gt;instead? We can talk about this later... And Taylor Swift will be the next. She will perform on September too. So I must book &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/taylor_swift_tickets.html"&gt;Taylor Swift Tickets&lt;/a&gt; also in the next few days.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enough for this year. For next year, I have planned to buy &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/venue/lincoln_financial_field_tickets.html"&gt;Lincoln Financial Field Tickets&lt;/a&gt; to watch U2 performing their live show on July 2011. If you want, we can meet there. But don't forget to buy the tickets months before to get the best seats. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh...how I always love music!...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-5747530136827693809?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/5747530136827693809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=5747530136827693809&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5747530136827693809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5747530136827693809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/08/my-love-for-music.html' title='My Love For Music'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-5001550258886375784</id><published>2010-08-18T10:40:00.000+07:00</published><updated>2010-08-18T10:40:00.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen pemenang lomba'/><title type='text'>MENARI BERSAMA AWAN OLEH ROSAANAKMAMI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakata : Menari bersama Awan karya Rosaanakmami ini sudah menarik perhatian juri sejak didaftarkan di &lt;a href="http://just-fatamorgana.blogspot.com/2010/08/para-pemenang-lomba-menulis-cerpen.html"&gt;Lomba Menulis Cerpen &lt;/a&gt;yang diadakan oleh Sang Cerpenis dan vixxio. Judulnya keren, temanya pun oke. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;MENARI BERSAMA AWAN&lt;br /&gt;OLEH: ROSAANAKMAMI &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suasana ramai sekali ketika aku masuk ke ruangan. Bli Kadek hendak membantu mendorong kursi rodaku, tapi aku meyakinkannya bahwa aku bisa melakukannya sendiri. Para peserta talkshow sepertinya sudah tak sabar karena saat aku masuk mereka semua langsung menatapku. Ruangan yang tadi ramai tiba-tiba senyap, tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu segera menyergapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk tepat di tengah-tengah meja panjang dengan tumpukan novel terbaruku, menghadap pada semua mata yang memandang tak sabar ingin acara segera dimulai. Tanpa menunggu lebih lama MC  membuka acara. Dan tak terasa sampailah pada sesi tanya-jawab. Mereka sangat antusias bertanya tentang novel terbaruku sesekali diselipi pertanyaan tentang kehidupan pribadiku. Semua berjalan lancar sampai ketika seorang peserta bertanya sesuatu yang sudah tertinggal jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah menjadi novelis adalah cita-cita Mbak Saras sejak kecil? Atau ada cita-cita lain yang masih ingin mbak raih? Terima kasih untuk kesempatannya.” tanyanya dengan sopan.&lt;br /&gt;Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Tiba-tiba aku terlempar ke dalam pusaran waktu duapuluh tahun lalu. Rasanya aku bisa melihat gadis kecil berumur lima tahun sedang dipangku aji tersayangnya, menonton sebuah pertunjukan tari. Ketika itu matahari hampir tenggelam sempurna manakala Sita sedang belenggak-lenggok dengan anggunnya bersama Rama yang dikelilingi pemuda-pemuda penari kecak, menyihir gadis kecil tadi. Sejak itu si gadis kecil bercita-cita ingin menjadi seorang penari yang lemah gemulai, menari dengan indah berlatar matahari tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersadar dari lamunanku setelah Bli Kadek menyentuh lenganku dengan lembut. Melalui tatapan matanya dia mengatakan agar aku tak perlu menjawab pertanyaan itu. Tapi aku harus bisa menjawabnya agar aku bisa bebas dari segala perasaan buruk yang mungkin masih tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm… Sebenernya saya bercita-cita jadi penari. Seorang penari Bali yang menarikan tarian-tarian dengan gemulai dan anggun. Tapi ternyata yang bisa menari sekarang hanya jari-jari saya ya, menari di atas keyboard. Menulis cerpen atau novel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget sendiri manakala aku menyadari bahwa aku bisa menjawab pertanyaan itu bahkan sambil tersenyum senang. Ya Tuhan aku bahagia bisa ada di sini sekarang, terima kasih Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku terbawa ke dalam pusaran waktu, kali ini pusaran waktu lima tahun lalu, aku baru saja berulang tahun yang keduapuluh. Senja itu aku sedang berkeliling ke meja-meja, bertanya pada tamu-tamu yang sedang menikmati makan malam. Aji punya sebuah restoran seafood di Jimbaran. Karena bahasa Inggrisku lancar maka aji memintaku untuk mengobrol sedikit dengan para tamu menanyakan bagaimana rasa masakannya atau sekedar menjelaskan menu makanan khas dan terbukti cara aji berhasil karena restoran kami terus berkembang dan terkenal keramahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat benar, hari itu 1 Oktober 2005, senja yang merubah hidupku, membuatku mengurung diri selama lima bulan yang menyedihkan, mengasihani diri sendiri, memaki siapa saja yang mendekatiku. Sudah hampir setengah delapan malam saat aku mengobrol dengan Mr. Michael dan istrinya yang kebetulan adalah pelanggan setia kami, mereka tak pernah absen mampir ke restoran aji kalau sedang berlibur. Mr. Michael tertawa senang seraya memuji karena cumi bakarnya enak sekali tepat sebelum ledakan pertama terdengar. Kami semua kaget dengan ledakan yang seketika membuat pandangan jadi kabur, asap dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika aku baru menyadari telah terjadi ledakan, ledakan kedua terdengar yang lebih dahsyat dari ledakan pertama. Aku merasakan sakit amat sangat di kedua kakiku sebelum akhirnya jatuh pingsan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu sudah berapa lama aku pingsan sampai akhirnya terbangun pagi itu. Aku melihat meme di sebelahku, memegangi tanganku dengan lembut. Aku mencoba tersenyum tapi rasanya sakit sekali. Aku bertanya pada meme apa yang terjadi, tapi meme hanya tersenyum sambil menahan bendungan bening di matanya. Aku mencoba bergerak tapi sepertinya tubuhku dipaku ke tempat tidur jadinya aku menyerah dan diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berlalu, aku masih belum bisa bangun atau sekedar menyangga tubuhku agar bisa duduk tegak di tempat tidur. Tadinya aku tak menyadarinya sampai Bagus, adik laki-lakiku, tidak sengaja bicara tentang tanggal hari itu. Tiba-tiba saja sebentuk kesadaran mendatangiku, bangkit dari pikiranku yang belakangan sering kosong. Seharusnya November itu aku berangkat ke Jakarta untuk menari di Festival Kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya sekarang ini aku sedang berlatih untuk memastikan bahwa tarianku sudah pas untuk kemudian ku pertunjukkan dalam festival itu. Seharusnya aku bukan ada di ruangan ini. Demi menyadari itu aku memaksakan diriku untuk bangkit dari tempat tidur. Namun yang terjadi adalah aku jatuh berdebam di lantai kamar yang dingin. Aku jatuh berdebam begitu keras, namun yang membuatku amat kaget adalah aku tak melihat kedua kakiku. Aku hanya terdiam melihat kakiku yang hanya tinggal sebatas dengkul. Aku terdiam dan merasa semua hanya mimpi. Ni Putu Saraswati kini menjadi seorang gadis buntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat meme tapi meme hanya diam. Aku berpaling pada aji yang juga diam. Bagus dan Ayu pun tak bersuara. Beberapa detik sampai akhirnya aku menjerit-jerit histeris, menyadari keadaanku. Kata aji kakiku terpaksa harus diamputasi karena mengalami luka berat akibat ledakan itu. Aku menangis sampai tertidur, juga karena pengaruh obat bius yang disuntikkan saat aku mengamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari itu aku berubah menjadi amat pendiam, aku mengurung diri di kamar. Menolak siapa saja yang mencoba menghiburku. Cita-citaku hancur sudah, harapanku hilang. Aku tak bisa lagi menarikan peran Sita setiap senja dalam pertunjukan tari kecak di Uluwatu atau menari dimana pun. Aku tak bisa lagi berlatih tari di sanggar setiap pulang kuliah. Aku tak pernah lagi kuliah meski orangtuaku meyakinkan bahwa aku tetap bisa berkuliah dengan diantar-jemput Bli Made, sopir keluarga kami. Aku tak pernah lagi berbincang dengan tamu-tamu yang datang ke restoran yang biasanya kulakukan di kala senggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahkan menolak untuk ikut sembahyang bersama keluargaku, tak ada lagi upacara-upacara yang ku ikuti. Tuhan sudah mengambil kakiku, maka untuk apa aku memuji-Nya lagi. Hidupku menjadi amat menyedihkan, hanya berisi tangisan, jeritan dan bentakan. Aku menjadi gadis pemurung. Aku marah pada Tuhan, pada teroris yang membuatku seperti ini, pada aji, pada meme, pada semua orang. Mengapa aku yang harus mengalami ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima bulan kulalui dengan buruk meski keluargaku tak juga menyerah menyemangatiku untuk bangkit. Dan hari itu adalah otonanku, hari kelahiranku berdasarkan tanggalan Bali yang dirayakan setiap 210 hari. Meme memandikanku lalu memakaikanku kebaya dan kain juga membelitkan kamben. Aku hanya diam menurut tanpa ekspresi, padahal biasanya aku selalu bahagia tiap kali otonan. Setelah siap, aji mengangkatku agar bisa duduk di lantai, menghadap tempat tidurku yang dilapisi sukla dengan banten tersusun rapi di atasnya. Aku hanya diam selama upacara berlangsung sampai akhirnya giliranku yang harus sembahyang namun sebenarnya aku tak mengucapkan apa-apa bahkan dalam hatipun tidak. Setelahnya tirta suci dicipratkan kepadaku, kening dan leherku ditempeli bija, aku menelan sebutir bija lainnya lalu tanganku diolesi base. Terakhir aku dipakaikan benang putih yang dijalin halus. Otonanku sudah selesai, aku bernapas lega karena bisa kembali sendirian di kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah, saat aku melihat jalinan benang putih yang dipakaikan di tanganku, tiba-tiba saja penerimaan itu datang. Aku memang sudah tak mempunyai kaki, sudah tak bisa melakukan banyak hal yang dulu  bisa ku lakukan. Tapi Tuhan begitu baik, Tuhan memang mengambil kakiku, tapi kedua tanganku masih utuh, mataku masih bisa melihat, telingaku masih mampu mendengar, begitupun dengan organ tubuhku yang lainnya masih bekerja dengan baik. Tuhan begitu baik sudah memberiku hidup. Yang bisa ku lakukan untuk membalas semua kebaikan-Nya adalah dengan hidup yang berguna, melakukan banyak kebaikan, dan kembali memuji-Nya seperti dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil kertas dari laciku, mulai menulis apa yang ku rasakan juga tentang hal-hal yang telah terjadi. Aku menulis sampai lelah dan tiba-tiba saja sudah berlembar-lembar kertas penuh dengan tulisanku. Ayu masuk saat aku masih asik menulis, aku tersenyum padanya, menyuruhnya masuk. Itulah senyum pertamaku setelah lima bulan terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak hari itu aku mulai keluar dari kamar, beradaptasi dengan kursi rodaku. Aku mulai berdamai dengan keadaanku, tertawa bersama adik-adikku, mengobrol bersama meme, kadang juga berdebat dengan aji. Aku kembali mejalani hari-hariku dengan normal sambil terus menulis, dan aku mulai menulis dengan laptop kesayanganku. Tahun ajaran berikutnya aku kembali berkuliah. Teman-temanku juga amat baik, mereka sering membantuku manakala aku kesulitan dengan kursi rodaku. Hari-hariku berubah menjadi menyenangkan dan ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti belum cukup kebahagiaan yang ku temukan kembali, aku mendapat tawaran untuk membukukan cerpen-cerpenku. Salah seorang teman Ayu yang kebetulan bekerja di sebuah penerbitan buku memberikan tawaran yang bahkan tak pernah aku impikan. Awalnya Ayu diam-diam membawa cerpenku untuk ditunjukkan padanya, dan ternyata menurutnya cerpen-cerpenku bagus sehingga dia meminta Ayu untuk mengenalkannya padaku. Akhirnya cerpen-cerpenku dibukukan, cerpen-cerpen yang tadinya hanya ku tulis untuk sekedar terapi bagi hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bli Kadek menggenggam tanganku, menyadarkanku dari perjalanan pusaran waktu yang rasanya sudah lama sekali berlalu. Semuanya sudah tertinggal jauh di belakang. Aku berhasil menyelesaikan sarjanaku. Aku menikmati hidupku yang bahagia dan kesibukanku sekarang adalah menulis. Bahkan sekarang aku sedang menghadiri talkshow peluncuran novel terbaruku. MC mempersilahkan satu pertanyaan lagi sebelum acara diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siang Mbak Saras, menurut gossip katanya mbak mau menikah bulan depan? Kalau boleh tahu siapa pangeran yang beruntung itu?” tanya seorang peserta. Pipiku seketika menjadi panas. Bli Kadek malah tenang sekali, mempererat genggamannya, mengangguk tersenyum padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, saya akan menikah bulan depan dengan pangeran tampan yang ada di sebelah saya ini..” Aku membalas senyuman Bli Kadek, pangeranku yang meskipun tak bisa membawaku dengan kuda putihnya tapi dia bersedia menggendongku dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acarapun selesai. Aku amat bahagia seperti baru saja berhasil membawakan satu tarian indah. Kalau aku tak bisa menari dengan kedua kakiku, maka aku akan menari dengan jari-jariku, menulis banyak kisah, membiarkan hatiku menari dengan bebas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-5001550258886375784?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/5001550258886375784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=5001550258886375784&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5001550258886375784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5001550258886375784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/08/menari-bersama-awan-oleh-rosaanakmami.html' title='MENARI BERSAMA AWAN OLEH ROSAANAKMAMI'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-5476423393393164335</id><published>2010-08-18T10:02:00.002+07:00</published><updated>2010-09-17T11:33:14.717+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>Thanks To Online Football Ticketing..</title><content type='html'>I don’t quite like football games, but there are many of my friends who do like football. So, sometimes I go with them too to the stadium, just to please them (LOL!!). Actually, watching the game is not so bad, for no matter which team scores, everybody will cheer. But what annoys me the most is queuing for tickets! Really, it takes time to stand up for half an hour, and when we got to the ticket window, the best seats are already taken!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And guess what I just found in the internet today? A website where you can buy football tickets online. That’s cool! So next time my friends ‘force’ me to go with them, we can get &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/alabama_crimson_tide_football_tickets.html"&gt;Alabama Crimson Tide Football Tickets &lt;/a&gt;or &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/iowa_hawkeyes_football_tickets.html"&gt;Iowa Hawkeyes Football Tickets&lt;/a&gt; several days before the games take place. That way we could save the queuing time, plus we could pick the best seating available. This is one of Ticket America’s features I like very much. They provide the stadium chart with all seat numbers, so that we can choose our favorite seats.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ow, I just remember that next October there will be a big game, at least for my friends because our team will play. I think I must buy &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/texas_longhorns_football_tickets.html"&gt;Texas Longhorn Football Tickets &lt;/a&gt;now if we want to get the best seats. Or should I call them first, because who knows they prefer to get the &lt;a href="http://www.ticketamerica.com/oklahoma_sooners_football_tickets.html"&gt;Oklahoma Sooners Football Tickets&lt;/a&gt; first as they play on September? Hmm…do you see guys? I’m no football lovers, but I still enjoy things like arranging tickets, transportation or even costumes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to online football ticketing, I can enjoy football games in my own way…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-5476423393393164335?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/5476423393393164335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=5476423393393164335&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5476423393393164335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5476423393393164335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/08/thanks-to-online-football-ticketing.html' title='Thanks To Online Football Ticketing..'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-880240456566885747</id><published>2010-08-17T12:51:00.004+07:00</published><updated>2010-08-17T14:37:03.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CELOTEH'/><title type='text'>TERUS MENULIS</title><content type='html'>Menulis saat gak lagi mood? Wah, memang susah ya....Hasil tulisan biasanya jadi kacak kadut, jungkir balik, gak keruan. Tapi, menulis itu harus terus dilatih. Seperti pisau yang harus rajin diasah biar semakin tajam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be honest, saya juga sering dilanda 'ENGGAK MOOD' menulis, terutama menulis cerpen. Padahal ide berseliweran di otak. Lalu, apakah saya jadi 'berdiam diri' bila mood menulis lagi down? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm....jika menuruti kata hati sih maunya gak nulis sama sekali. Tapi, sejak adanya blog, saya tidak lagi menuruti kata hati. Saya berusaha untuk menulis setiap hari. Tidak mesti berupa cerpen. Bisa saja hanya menulis renungan, jokes atau diary. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting, tetap menulis. Tetap melatih kemampuan untuk merangkai kata-kata. Karena setiap talenta betapapun kecilnya harus rajin diasah agar semakin cemerlang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, jangan pernah  berhenti menulis. Semangaat!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-880240456566885747?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/880240456566885747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=880240456566885747&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/880240456566885747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/880240456566885747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/08/terus-menulis.html' title='TERUS MENULIS'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-2076119909840181154</id><published>2010-07-18T15:56:00.002+07:00</published><updated>2010-07-18T16:05:58.392+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>JANGAN DIBUANG DULU</title><content type='html'>Menulis cerpen itu gampang-gampang susah. Apalagi kalau ide yang muncul kebanyakan. Seperti yang sering saya alami. Ide seabrek tetapi giliran dirangkai menjadi cerpen, seringkali tidak selesai. Mandek di tengah jalan. Bingung dengan endingnya. Enaknya endingnya seperti apa? Sad ending atau happy ending? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking seringnya ide itu mandek di akhir cerita, banyak sekali draft cerpen yang terpending. Semuanya menggantung tanpa tahu bagaimana menyelesaikannya. Apakah teman-teman juga pernah mengalami hal seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Apakah sebaiknya draft cerpen yang tak selesai itu didiamkan saja? Atau..didelete? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whoaaa...jangan keburu didelete. Nanti nyesel lho. Soalnya, saya pernah mendelete beberapa draft cerpen yang menggantung, eh...gak lama kemudian muncul ide yang kalau digabung dengan ide dalam draft cerpen (yang sudah dibuang) itu hasilnya pasti tokcer. Alhasil, saya harus membuat cerpen baru. Padahal, kalau saja tuh draft cerpen tidak saya buang, saya nggak usah susah-susah lagi merangkai kalimat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman itu, saya pun selalu menyimpan naskah-naskah yang terpending. Saya endapkan saja di file kompi. Siapa tahu, suatu hari nanti berguna. Siapa tahu, muncul ide cerita yang mirip atau bisa digabungkan dengan naskah sebelumnya. Tinggal diedit sana sini...jadi deh cerpen baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, sediakan selalu file khusus di kompi kamu. File cerpen yang sudah selesai dan siap dikirim dan File cerpen yang terpending. Ocreee...??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-2076119909840181154?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/2076119909840181154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=2076119909840181154&amp;isPopup=true' title='23 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2076119909840181154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2076119909840181154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/07/jangan-dibuang-dulu.html' title='JANGAN DIBUANG DULU'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-1963028797244999932</id><published>2010-06-18T20:05:00.006+07:00</published><updated>2010-07-29T15:57:18.408+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>KELUARGA HARMONIS  NIH!</title><content type='html'>Ini dia tampang culun Fanny bersama suami dan puteri tercinta. Lho? Kapan marriednya? Hi hi hi...Dasar narsis abis! Waktu pertama kali jalan-jalan ke MOI (Mall of Indonesia) di Kelapa Gading, saya melihat banyak patung keren yang dipajang di dalam mall. Salah satunya,ya..patung bapak dan puterinya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tertarik dengan wajah tampan si patung pria, akhirnya saya pun minta foto bareng. Eh, si patung mengiyakan. Duh, senangnya hati saya. Berasa foto bareng aktor cakep deh. Saking senangnya, kepala si patung saya belai-belai dengan mesra tuh. Makanya, dia sampai tersipu malu begitu. Hi hi hi... Eh, itu dibelai apa didorong ya kepalanya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehem, ehem.... &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KELUARGA HARMONIS NIH..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SbuTuACD6dI/AAAAAAAAAMg/DDYjmemojdg/s1600-h/11032009%28003%29.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SbuTuACD6dI/AAAAAAAAAMg/DDYjmemojdg/s320/11032009%28003%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313002603905542610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, foto narsis tersebut diatas sengaja saya pajang di blog ini dalam rangka memeriahkan acara The Amazing Picture yang diadakan oleh manajemen BlogCamp. Selamat ultah deh buat BlogCamp yang sedang merayakan 1st BlogCamp anniversary.  Semoga makin sukses di dunia nyata dan dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TBtrEKmJuTI/AAAAAAAACRY/-JmDRSWe3yM/s1600/BANNER-ANNIVERSARY31.gif"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 49px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TBtrEKmJuTI/AAAAAAAACRY/-JmDRSWe3yM/s400/BANNER-ANNIVERSARY31.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484094690561734962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-1963028797244999932?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/1963028797244999932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=1963028797244999932&amp;isPopup=true' title='30 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1963028797244999932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1963028797244999932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/06/keluarga-harmonis-nih.html' title='KELUARGA HARMONIS  NIH!'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/SbuTuACD6dI/AAAAAAAAAMg/DDYjmemojdg/s72-c/11032009%28003%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>30</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-4887739809383972865</id><published>2010-06-16T15:53:00.004+07:00</published><updated>2010-06-16T16:17:13.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>TAK BISA DITERBITKAN</title><content type='html'>Akhir-akhir ini, saya jarang memosting cerpen para murid. Padahal, ada beberapa orang yang mengirim naskah mereka ke imel saya. Tentunya, ada pertimbangan tersendiri kenapa saya tidak bisa menerbitkan karya mereka di blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama : Karya tersebut akan dikirim oleh ybs ke majalah. Tetapi sebelum dikirim, mereka meminta saya memeriksanya lebih dulu.  Untuk cerpen-cerpen seperti ini, tentu saja tidak mungkin saya posting di blog karena kalau pihak redaksi majalah mengetahuinya, ada kemungkinan cerpen tersebut tidak diterbitkan. Karena biasanya, redaksi meminta karya yang belum pernah dipublish di media manapun, baik itu media cetak maupun media online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua : Ada murid yang mengirimkan cerpennya tanpa judul. Sudah ditanyakan judulnya apa, tapi tidak ada jawaban. Bisa saja saya kasih judul sendiri, tetapi itu namanya memberi ikan, bukan pancing. Kalian harus berusaha sendiri, membuat cerpen dan memberi judulnya. Masalah, judul dan tema nggak matching, itu urusan nanti. Yang penting sudah mencoba membuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, buat yang sudah mengirim naskahnya, harap maklum bila ternyata tak bisa ditampilkan di blog ini karena alasan-alasan tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-4887739809383972865?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/4887739809383972865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=4887739809383972865&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4887739809383972865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4887739809383972865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/06/tak-bisa-diterbitkan.html' title='TAK BISA DITERBITKAN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-5414320674032071554</id><published>2010-05-31T12:48:00.005+07:00</published><updated>2010-06-19T10:25:07.068+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontes'/><title type='text'>RAIN AFFAIR  (a Novel by Clara Canceriana)</title><content type='html'>Cinta itu berarti percaya&lt;br /&gt;Cinta itu seharusnya tak ada dusta&lt;br /&gt;Tapi mengapa harus memasang kacamata hitam?&lt;br /&gt;Dusta apa yang kau taruh di baliknya?&lt;br /&gt;Cerita apa yang kau sembunyikan di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah novel karya Clara Canceriana&lt;br /&gt;Dengan judul sesejuk udara sehabis hujan : RAIN AFFAIR&lt;br /&gt;Dengan cover biru syahdu bergambar payung pink cantik&lt;br /&gt;mengundang hati untuk membacanya &lt;br /&gt;terlebih saat hujan turun memandikan bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya manis tentang kisah cinta Noah, Nathan dan Lea&lt;br /&gt;Tentang kebohongan dan kepalsuan atas nama cinta dan sayang&lt;br /&gt;Tentang penantian seorang Nathan yang tak pernah jemu berharap&lt;br /&gt;Tentang sebuah keputusan untuk meninggalkan semua dusta&lt;br /&gt;Tentang kebahagiaan yang sesungguhnya ada di diri mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah romantis yang layak dibaca&lt;br /&gt;bila kamu percaya bahwa cinta itu sungguh ada…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TANO8vq3YfI/AAAAAAAACNg/LIqf7daIABI/s1600/rain-affair-front.backcover.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 223px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TANO8vq3YfI/AAAAAAAACNg/LIqf7daIABI/s320/rain-affair-front.backcover.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477308377308029426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note : Tulisan ini diikutsertakan dalam MINI KONTES RAIN AFFAIR OLEH CLARA CANCERIANA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-5414320674032071554?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/5414320674032071554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=5414320674032071554&amp;isPopup=true' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5414320674032071554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5414320674032071554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/05/rain-affair-novel-by-clara-canceriana.html' title='RAIN AFFAIR  (a Novel by Clara Canceriana)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TANO8vq3YfI/AAAAAAAACNg/LIqf7daIABI/s72-c/rain-affair-front.backcover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-7363108798982111000</id><published>2010-05-18T16:16:00.005+07:00</published><updated>2010-06-19T10:36:06.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontes'/><title type='text'>BIBIR LEO</title><content type='html'>Leo melap bibirnya yang tadi pagi dicium sang isteri sebelum berangkat kerja, lalu dengan lembut bibirnya mengulum bibir tipis Anton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note : Fiksi Mini ini diikutsertakan dalam KONTES FIKSI MINI yang diselenggarakan oleh ~Wi3nDa~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-7363108798982111000?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/7363108798982111000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=7363108798982111000&amp;isPopup=true' title='19 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/7363108798982111000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/7363108798982111000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/05/bibir-leo.html' title='BIBIR LEO'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-1318513551110966705</id><published>2010-05-03T13:00:00.003+07:00</published><updated>2010-05-03T13:09:34.967+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serba-serbi'/><title type='text'>MODAL UTAMA MENULIS  = MEMBACA</title><content type='html'>Dalam salah satu artikel saya (di blog Sang Cerpenis) : &lt;a href="http://just-fatamorgana.blogspot.com/2010/05/four-seasons-in-belgium.html" target="_blank"&gt; FOUR SEASONS IN BELGIUM&lt;/a&gt;, Itik Bali, rekan blogger dari Bali yang manis tak bau amis dan tak berkumis, memberikan komentar begini : (Saya cuplik sebagian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Novelnya semua bagus-bagus mba&lt;br /&gt;aku sampe bingung milihnya&lt;br /&gt;malah dengan iseng otak saya bertanya :&lt;br /&gt;Mbak Fanny pinter banyak banget sih novelnya. Masih sempet juga bacanya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kalau soal baca sih, mesti disempetin. Kalau toh nggak ada waktu banyak, setidaknya satu dua halaman surat kabar atau novel mesti saya baca. Selain memang hobi baca, bagi saya membaca merupakan Modal Utama saya dalam menulis.  Dengan membaca, saya bukan saja dapat ilmu dan pengetahuan yang buanyaak, tetapi juga saya mempelajari gaya bahasa, alur kisah, penggunaan kalimat si penulis. Saya jadi mengerti tulisan seperti apa yang bagus. Bagaimana membolak-balikkan kata sehingga menjadi susunan kalimat yang indah? Bagaimana membuat kalimat yang hidup dan bisa menyentuh hati para pembaca? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, saya suka heran bila ada orang yang mengaku bercita-cita jadi penulis, tetapi malas membaca, nggak hobi baca, cuma suka baca komik, dll. Lha..piye toh? Proses menulis itu kan tak bisa dilepaskan dari kegiatan membaca.  Ibaratnya orang makan lalapan tanpa sambal terasi. Mana asik? Mana seru?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita menulis saja sudah berarti kita membaca tulisan kita kan? Selesai menulis pun, pasti kita harus baca lagi tulisan kita itu. Nah, kalau tidak suka membaca bagaimana kita bisa menilai/membaca ulang tulisan kita?  Bisa-bisa, baru memeriksa sebentar sudah mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sebagai penulis tentunya kita harus punya perbendaharaan kata yang sangat banyak. Bukan hanya sekedar banyak, tetapi SANGAAAAT BANYAK. Kita juga harus mengerti banyak padanan kata. Misalnya : Kata menaruh bisa ditulis diganti dengan meletakkan. Kata abu-abu diganti dengan kata kelabu, dstnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika kita malas membaca, bagaimana kita bisa mendapatkan perbendaharaan kata yang seabrek itu? Lihat kamus? Wah, itu bukan solusi. Masa sebentar-sebentar buka kamus.  Sangat tidak praktis.  Bukankah seharusnya memori seorang penulis itu dipenuhi sekumpulan kata yang sudah dihafal dan dimengerti artinya dengan sekali jentik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kalau ada kata-kata baru, mestinya sebagai seseorang yang mengaku hobi menulis HARUS rajin meng-upgrade dirinya dengan kata-kata baru, termasuk kata-kata gaul ala ABG. Terlebih lagi bagi yang suka menulis cerpen remaja seperti saya. Walau sudah nggak ABG lagi, saya kan harus mengerti bahasanya remaja masa kini, biar cerpen saya menjadi lebih ‘hidup’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, buat para murid, jangan pernah lupa untuk rajin membaca bila kalian ingin menjadi seorang penulis. Bila perlu, bawalah sebuah buku kemanapun kalian pergi. Sediakan waktu untuk membaca setiap hari. Walaupun mungkin cuma satu paragraf. Ocreee??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-1318513551110966705?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/1318513551110966705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=1318513551110966705&amp;isPopup=true' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1318513551110966705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1318513551110966705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/05/modal-utama-menulis-membaca.html' title='MODAL UTAMA MENULIS  = MEMBACA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-3328116107008565167</id><published>2010-04-18T22:34:00.004+07:00</published><updated>2010-04-24T12:12:35.755+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>AKIBAT LALAI (karya Rita Asmaraningsih)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prakata : Tidak seperti karya sebelumnya, cerpen anak-anak karya Rita Asmaraningsih ini lumayan bagus untuk seorang pemula. Hanya saja, ada satu kata yang harus diperhatikan yaitu ; TAROK. Sebaiknya gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kata TAROK bisa diganti dengan TARUH. Tarok itu bahasa sehari-hari. Jadi, sepertinya kurang afdol digunakan dalam cerpen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya temukan 2 kata TAROK di dalam cerpen ini. Kemudian ada kalimat : "Buku ini papa temukan tergeletak di teras di atas meja teras.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya jangan ada pengulangan kata 'teras'. Bagaimana kalau diganti menjadi : "Buku ini papa temukan tergeletak di atas meja teras.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan, di dalam sebuah cerpen sebisa mungkin gunakan kata yang bervariasi walaupun artinya sama. Jangan memakai kata yang sama dalam sebaris kalimat.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKIBAT LALAI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Owik… ! Mama kan sudah bilang, kalau habis belajar bukunya dirapikan lagi.” seru Mama mengingatkan. Mama tampak jengkel malam itu. Owik kali ini kembali tak mengindahkan nasehat-nasehatnya sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Owik yang lagi asik sms-an dengan Dilla hanya menjawab singkat. “Iya Ma, sebentar lagi Owik rapikan lagi.”&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Mama hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menarik nafas panjang. “Sampai kapan sih Owik bisa berubah? Masa dari dulu hanya janji-janji melulu?” keluh Mama. Terpaksa Mama Owik yang membereskan buku-buku itu. Mama tak yakin Owik akan merapikan buku-bukunya sesegera mungkin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang Owik sering lalai. Lalai menyimpan dan merapikan barang-barangnya. Seringkali menaruh barang-barangnya di sembarang tempat. Akibatnya, seringkali menyusahkan dirinya sendiri. Seperti dua hari yang lalu saat akan berangkat sekolah, Owik sibuk mencari buku perpustakaan. Buku itu seyogyanya sudah harus dikembalikan pada hari itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ma, lihat buku perustakaan Owik nggak? Judulnya Petualangan Bocah Ajaib!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho mana Mama tahu? Kan mestinya Owik sendiri yang tahu? Pasti Owik lupa lagi naruhnya di mana, iya kan?” tanya mama.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Owik tampak kebingungan. Ini sudah yang kesekian kalinya dia terlambat mengembalikan buku perpustakaan. Selain kena denda, Kepala Perpustakaan akan mencatat namanya pada sebuah papan pengumuman. Papan pengumuman itu mencatat nama-nama peminjam yang sering mengembalikan buku tidak tepat waktu. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;“Wah, malu dong aku bila namaku ada terpampang di sana!” Owik membatin. Dia nampak kesal. “Pasti nih si Kiky yang pinjam tanpa memberitahuku.!” tuduhnya pada Kiky, adiknya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;“Eit, enak saja Kak Owik nuduh sembarangan.” si Kiky menolak tuduhannya. &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Mendengar suara ribut-ribut, papa tiba-tiba nimbrung.”Apa ini buku yang kalian ributkan? Papa sengaja menyimpannya. Buku ini papa temukan tergeletak di atas meja teras.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tuh kan, Kak Owik sendiri yang lupa menyimpannya. Waktu itu kan Kak Owik membacanya di teras bareng Kak Dilla. Ingat nggak?” si Kiky mencoba mengingatkan kakaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya, pagi itu Owik ke sekolah dengan perasaan senang karena bukunya sudah ditemukan.&lt;br /&gt;                                       -------&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Namun kejadian seperti itu berulang lagi keesokan harinya. Kembali Owik membuat jengkel Mamanya. Sore itu Owik  mengaku kehilangan uang bayaran sekolah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lho kenapa bisa hilang? Memangnya Owik taruh di mana uang itu?” Ini sudah kesekian kalinya Owik kehilangan uang. &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;“Mungkin tercecer, Ma! Saat turun dari mobil antar jemput. Tapi seingat Owik ditaruh dalam kotak pensil.” sahut Owik membela diri.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Mama tampak tidak puas dengan pembelaan diri Owik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selalu saja Owik membela diri tanpa bercermin dari kejadian yang lalu. Kalau selalu hilang begini berarti memang Owik yang lalai!” keluh Mama dengan mimik muka masam. Mama begitu kesal. “Dari mana uangnya untuk mengganti uang bayaran sekolah itu? Mama berjualan kue dan dititipkan ke warung untuk membiayai sekolahmu. Tapi Owik tak pernah bersyukur dengan keadaan kita. Malah menyia-nyiakan ”  Sebuah butiran bening jatuh mengalir dari sudut mata ibu muda itu. Nampak sudah habis kesabarannya, tapi Mama pun tak kuasa berbuat bagaimana lagi?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Owik diam tertunduk. Ia tak berani berkata-kata, apalagi menjawab perkataan Mamanya. Dalam hatinya menyesal telah membuat Mamanya sedih. Ini karena penyakit ‘lupa’ yang ia idap! Dalam hatinya Owik membela diri. Kelalaiannya disebabkan oleh penyakit lupa! Ah, masa’ sih kecil-kecil sudah pikun? Atau ini hanya alasan semata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                 ------&lt;br /&gt;Puncak kekesalan Mama terjadi siang ini. Ketika pulang ke rumah, Owik mengaku kehilangan jam tangan. Jam tangan itu pemberian ayahnya sebagai hadiah ulang tahun, setahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Mama bertindak tegas. Kalau tidak tegas Owik akan mengulangi kesalahan yang sama. Tak cukup dengan memarahinya. Mungkin sekali ini ketegasan Mama harus diwujudkan dengan bentuk hukuman. &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;“Barang-barang yang telah hilang sulit untuk ditemukan kembali. Kalau Mama hitung sudah begitu banyak  kerugiannya. Karena itu, Owik harus menerima hukumannya!” suara Mama datar tapi terdengar dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud Mama? Owik dihukum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Pertama, mulai besok sampai satu bulan ke depan, Mama tidak akan memberi uang jajan! Kedua, tak ada acara jalan-jalan atau makan-makan di luar rumah pada hari Minggu. Ketiga, Bik Murni akan cuti dulu selama satu bulan. Pekerjaannya mencuci piring, mengepel rumah dan menyetrika pakaian akan digantikan kita. Mama tidak punya uang lagi untuk membayar uang jasanya. Uang jasa untuk Bik Murni akan dipakai mengganti uang bayaran sekolahmu!” secara panjang lebar Mama menjelaskan bentuk hukuman yang bakal diterima Owik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana? Mama kira setimpal kan hukumannya? Ini untuk memberikan pelajaran bahwa mencari uang tak semudah menghilangkannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Owik hanya dapat pasrah menerima hukuman yang akan dijalaninya mulai esok. Mencuci piring, menyapu lantai, mengepel, mencuci pakaian, menyetrika akan menjadi rutinitas barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Owik  mulai membayangkan betapa banyaknya tugas yang akan dilakukannya sebulan ini.! Itu artinya, tak ada lagi waktu untuk bermain sepeda, mengunjungi taman baca, dan berenang seperti yang sering dilakukannya bersama teman-temannya selama ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-3328116107008565167?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/3328116107008565167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=3328116107008565167&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3328116107008565167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3328116107008565167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/04/akibat-lalai-karya-rita-asmaraningsih0.html' title='AKIBAT LALAI (karya Rita Asmaraningsih)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-7114967977721860025</id><published>2010-04-12T15:07:00.003+07:00</published><updated>2010-04-13T17:00:10.529+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Rahasia di balik rahasia (Oleh  Anggun Desimalinda)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prakata : cerpen karya Anggun Desimalinda ini cocok banget untuk majalah remaja. Hanya saja perlu diperhatikan penggunaan tanda baca dan huruf besar ya. &lt;/span&gt;Misalnya : &lt;br /&gt;-kata ‘yang’ jangan disingkat yg. Ini cerpen lho, bukan SMS.&lt;br /&gt;-Di saat suatu komunitas skaters berkumpul dan bersenda gurau,Rara malah terduduk sendiri di pojok, tidak seperti biasanya dimana ia bahkan menjadi bahan lawakan oleh teman-temannya sejak SMP itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan penggunaan tanda koma dalam kalimat : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rara malah terduduk sendiri  di pojok, tidak seperti biasanya dimana ia bahkan menjadi bahan lawakan oleh  teman-temannya sejak SMP itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya setelah kata ‘pojok’ gunakan tanda titik. Jangan koma. Saya menemukan banyak sekali penggunaan tanda koma yang salah. Yang saya posting di sini sudah diperbaiki. Coba kamu bandingkan dengan naskah kamu sebelumnya. Banyak tanda koma yang saya ganti dengan titik. Kamu tentu tahu fungsi koma untuk apa? Coba ingat lagi pelajaran Bahasa Indonesia kamu, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk alur cerita, tidak ada gregetnya. Terlalu banyak percakapan. Emosi dari para tokoh tidak terungkap dengan baik sehingga kurang bisa membangkitkan emosi pembaca. Tapi untuk seorang pemula, sudah lumayan baik. Hanya perlu latihan saja. Tetap semangat ya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RAHASIA DI BALIK RAHASIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Besok plan B,jam 11.30 @ kantin sekolah&lt;br /&gt;Tools di lo semua,stand by in 10 minutes before”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bunyi pesan yang masuk di HP Rara. Dari Rama yang sepertinya sudah mantap dengan rencananya besok. Tapi bagaimana dengan Rara sendiri? Sudah siapkah dia? Tidak,ia malah gusar karena misi rahasia ini menyangkut hati sahabatnya,yang telah menjadi target utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rara pusing. Ia membanting tubuhnya ke kasur seakan tidak peduli lagi dengan semua yang telah terlanjur ia bicarakan dengan semangat bersama Rama. Semua pikirannya sekarang terjun payung dan berbanding terbalik dengan persepsinya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bermula dari kejadian seminggu yang lalu di tongkrongan daerah Menteng. Di saat suatu komunitas skaters berkumpul dan bersenda gurau,Rara malah terduduk sendiri di pojok,tidak seperti biasanya dimana ia bahkan menjadi bahan lawakan oleh teman-temannya sejak SMP itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya,ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari pasangan yang duduk di spot yang sejuk,sedang memadu kasih dengan bersenda-gurau. Mereka adalah Anggi dan Dino. Ia kesal setengah mati,terbakar api cemburu dan tiap detik dia berusaha menyembunyikannya. Semua terlihat kacau di mata Rara. Ia tidak ingin melihat cowok yang dicintainya sejak SD itu pacaran dengan sahabatnya dari SMP,namun bagaimanapun matanya akan terus tertuju ke arah mereka. Rara jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rasa yang semrawut itu, Rama datang ke hadapan Rara dengan sejuta rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ra,boleh ngomong sebentar?” tanya Rama. Rara mengiyakan dan mereka pun memisahkan diri dari kerumunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanya Rara ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gw udah lama tau kalo lo cemburu sama Anggi,hm.. masalahnya gw juga sama.” Kata Rama pendek,membuat Rara tidak menyangka ia tahu,sekaligus penasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama mengusap kepala tanpa rambutnya,bersiap mengatakan sesuatu yang amat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama siapa Ram?” tanya Rara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama Dino,siapa lagi?” jawab Rama dengan berbisik. Rara makin tak menyangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gw punya rencana. Gimana kalo kita berdua buat mereka putus dan pedekate &lt;br /&gt;sesudahnya?” tawar Rama tanpa ba bi bu lagi. Rara membelalakkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo gila? Kenapa lo bisa kepikiran gitu?? Gw ga mau! Anggi sahabat gw.” Rara refleks menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu terserah lo kalo lo tetap mau nyiksa diri ngeliat mereka kayak gitu terus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah. Lo pikirin dulu aja. Kalo udah ada keputusan,segera hubungi gw.” Potong Rama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan inget, mulai sekarang ini rahasia kita berdua.” Lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rara tercenung ketika Rama meninggalkannya dengan pilihan yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Rara ke rumah Rama dengan mantap dan menyatakan kesetujuannya. Maka dibuatlah rencana maha dahsyat itu langsung di rumah Rama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita buat mereka putus ga secara paksa. Tapi baik-baik dengan saling menimbulkan keburukan mereka masing-masing.” Begitu dasar dari rencana mereka yang dibuat Rama.&lt;br /&gt;Mereka pun berbagi cerita mengenai keburukan sahabatnya masing-masing,lalu diaplikasikan ke plan A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plan A dilaksanakan di depan gerbang sekolah,dimana Anggi menunggu dengan manis kedatangan Dino dengan motornya. Rara masuk diantara mereka di detik ke 5 sesudah Dino datang. Rara membawa serta sehelai kertas kecil yang sudah ia persiapkan sejak ulangan Fisika tadi (contekan dari Anggi,adegan yang telah Rama perhitungkan sejak awal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anggi, kata Benu (anak jenius di kelas) bet-an yang lo kasih ke gw salah semua,untung gw ga terlalu pake contekan ini.” Ujar Rara dengan tersenyum manis.&lt;br /&gt;Anggi gusar mendengar hal itu, karena Dino tidak pernah memperkenankan pacarnya itu menjawab dengan salah soal ulangan. Dino pun menginterogasi Anggi dan mengambil contekan itu dari tangan Rara. Anggi gelagapan dan berusaha menjelaskan. Ini adegan yang diharapkan duo R. Rama tersenyum dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah ga papa, nanti kamu cek aja lagi ya sayang.” Ujar Dino dengan lembut. Anggi membalas dengan mengangguk dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa menggemaskannya mereka! Dan itu membuat duo R malah jengkel. Tidak seperti yang mereka harapkan ternyata. Rara berusaha bersikap netral dan tetap menjaga image-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bagaimanapun,makasih banyak ya Anggi. Gw ga belajar tentang vector,malah tentang GLB hehe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke! Oh ya, duluan ya   Rara, bye!” ujar Anggi seraya menaiki boncengan motor Dino.&lt;br /&gt;Dino ikut tersenyum dibalik helmnya dan melambaikan tangan sepintas. Mereka pun berlalu pergi,tidak menyadari Rara yang masih di mabuk kepayang oleh senyuman Dino.&lt;br /&gt;Rama menyenggol bahu Rara,menyadarkannya. Dirangkulnya bahu Rara yang kaku itu dan mengarahkannya ke kantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ao kita pikir plan B,kali ini agak ekstrim.” Ujar Rama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rara dan Rama stand by di jarak 2 kursi dari tempat Dino dan Anggi duduk. Mereka mengamati gerak-gerik pasangan itu,mencari space agar Rara bisa masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kali ini kita jangan pakai tools. Lo aja yang masuk. Suasananya ga mendukung Ra,rame.” Bisik Rama persis ditelinga Rara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rara mengangguk ragu dan mulai bergerak. Tapi Rama mencegatnya karena ia melihat keraguan yang bisa menggagalkan rencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiba-tiba lo ragu? Plan B batal,kita bicara dulu.” Ajak Rama dengan tegas,menuju koridor depan perpus yang sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bilang ke gw, kenapa lo tiba-tiba ragu?” tanya Rama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gw ga bisa,hubungan mereka terlalu deket,dan gw ga yakin.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang lo maunya apa? Komitmen kita mau lo langgar?” tanya Rama,lebih seperti mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalinya lo setuju,lo akan terus maju. Lo inget kan Ra?” potong Rama,Rara pun mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah kalo gitu! Baru plan A yang gagal dan kurang mantap aja udah ciut.” Rama agak menggertak kali ini.&lt;br /&gt;“Gw ga ciut! Gw cuman ga mau menyakiti hati sahabat gw Ram!” bela Rara. Rama seperti terenyuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadang ada yang perlu disakiti daripada kita terus yang sengsara.” Ujarnya.&lt;br /&gt;“Cih,tanggapan yang egois!” ejek Rara tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo emang gw egois, kenapa lo setuju untuk gabung sama gw buat mereka jadi putus? Plin-plan ya lo! Percuma gw ajak lo kerjasama.” Balas Rama tak kalah pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana menegang dan sunyi. Tak ada satupun yang berani bicara. Yang ada hanya kilat diantara tatapan mereka. Mereka sampai tidak menyadari bahwa pertengkaran kecil itu terdengar oleh Anggi yang bersembunyi di sisi koridor yang tidak terlihat oleh mereka. Anggi terkejut dan ia yakin ‘mereka’ yang dimaksud Rama adalah Dino dan dirinya,apa yang sebenarnya terjadi? Anggi terus mengamati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserahlah! Gw malas dengan semua rencana lo! Gw mengundurkan diri,titik!” Tiba-tiba Rara bersuara seraya berlalu pergi meninggalkan Rama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, Rama tidak mencegah Rara pergi untuk tetap stick to the status quo (yang mereka ciptakan sendiri). Ia hanya memandang Rara dengan sedih. Ia memukul susuran besi didepannya lalu merintih kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The truth that I left behind is : I love you Rara.” Gumam Rama lalu menggeleng pelan,mengusir sesuatu yang salah terjadi padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggi yang ga terlalu mendengar gumaman Rama jadi bingung,tapi ia bisa melihat gerak mulutnya yang sebagian berarti ‘I love you’. Anggi pun segera melabraknya karena penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hayo lho Ram, ngapain mukulin besi? Ga sakit apa?” tegur Anggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama agak terkejut lalu menggeleng. “Ga papa kok, iseng aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh gw tebak lo ada masalah apa? Siapa tau gw bisa bantu.” Tanya Anggi. Dino datang seraya merangkul Anggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ga usah ditanyain lagi. Yang,pasti tentang Rara.” Celetuk Dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak banget dia nyeletuk kayak gitu! Batin Rama jengkel. Kadang sobatnya itu emang ceplas-ceplos. Rama pun pergi dari hadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeh kok, dia pergi sih? Kamu sih yaaang!” Anggi memukul Dino dengan lembut. Dino cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok gw harus cari tau nih! Tekad Anggi,karena ada sesuatu yang ga beres dan ga sehat di sekitar dia, maka dia pun bertekad untuk ‘menyehatkannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggi mengamati Rama yang sedang mengamati Rara yang bersenda gurau dengan temannya di kantin. Dari sudut penglihatan Anggi,bisa terlihat jelas kalau Rama melihat Rara dengan penuh arti,berharap perasaan di dalam hatinya ini bisa terlampiaskan hanya dengan melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga bener nih! Ckckck. Batin Anggi gemas bukan kepalang. Anggi pun menghampiri Rama setelah memastikan bahwa ga ada Dino disekitar dia,ia tahu Dino tuh ceplos aja dan bisa-bisa mengganggu interogasinya (kepada Rama) nanti,seperti kejadian kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bilang ke gw dengan jujur Ram.” Ujar Anggi langsung begitu sudah didepan Rama. “ Lo suka kan sama Rara?” lanjutnya dengan berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama kaget,namun ia kembali cuek,melanjutkan makannya.&lt;br /&gt;“Oke gw dicuekin! Ga papa sih, tapi sebagai cewek yang sensitif, gw tau arti tatapan lo Ram!” kata Anggi tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama melihatnya sepintas,namun seakan Anggi cewek ga penting,ia kembali cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hopeless banget sih lo jadi cowok!” ejek Anggi kemudian,saking gemas nya sama sikap Rama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada reaksi lagi. Rama santai aja makan. Tapi yang sebenarnya dirasakan Rama adalah hancur berkeping-keping. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo say… Ngomongin apa sih,serius banget.” Dino masuk seperti biasanya,tapi fungsinya sekarang sebagai pencair suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini,ada pengecut yang ga mau ngakuin perasaannya” cibir Anggi,lagi. Rama makin cuek aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke siapa?” tanya Dino. Anggi pun berbisik ke Dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooh dia. Tapi bukannya…” Dino melanjutkan juga dengan bisikan,membuat Rama jadi penasaran. Apalagi makin penasaran karena ekspresi kaget ga menyangka Anggi yang muncul setelah mendengar Dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia nyatain perasaannya ke kamu dan tiba-tiba malah ngilang gitu aja? Aneh deh.” Anggi bertanya meyakinkan sekaligus mengeraskan suara agar Rama mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino mengangguk. “Iya say, aku kaget juga lho,tapi aku hargain perasaan dia dengan hening saja.” Dino berkata sok puitis. Membuat Rama yang baru saja terhenyak akan perbuatan Rara jadi pengen muntah mendengarnya, penyakit hati komplikasi telah menjalar di tubuh Rama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama bangkit dengan kasar lalu pergi.&lt;br /&gt;“Sekarang malah dia yg ngeloyor pergi. Kayaknya mereka cocok deh.” Kata Anggi,Dino kembali mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi beneran say,kamu ditembak sama Rara?” tanya Anggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,beneran,ngapain juga aku boong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm.. berarti bener kalo mereka berantem di depan perpus itu karena rencana mereka yang gagal mau mutusin kita.” Ujar Anggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dino menaikkan alis matanya. “Maksud kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya gini lho, Rama pura-pura suka sama aku dan ngajak kerjasama Rara buat mutusin kita, biar perasaan Rara bisa bahagia kalo dia milikin kamu. Ngerti?” jelas Anggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke aku ngerti. Pengecut juga nih sih Rama. Tapi ada gentlemennya juga,dia mau berkorban perasaan buat Rara.” Kata Dino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi lucu ya kita ga bisa dipisahin sama mereka. Aku bersyukur lho.” Anggi tersenyum lembut. Dino juga tersenyum dan mereka pun mendekatkan hidung masing-masing, lalu menggeleng-gelengkan kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, terdengar banyak gumaman “eww” diantara mereka karena memamerkan kemesraannya dengan lebay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama menatap kosong dan jauh,ketika Pak Suryo mengajarkan tentang trigonometri. Ia malah memikirkan sesuatu tentang pilihan hatinya. Omongan Anggi yang serba ejekan tadi membuatnya berpikir juga. Selama ini ia memang seperti yang Anggi bilang tadi. Pengecut,hopeless dan satu kesimpulan yang ia buat. Ia adalah seorang pecundang. Pecundang atas dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw ga bisa kayak gini terus. Rara aja bisa nyatain perasaan dia walaupun tau kalo dia ga bakal bisa diterima,kenapa gw ngga bisa? Batin Rama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Tampaknya ia telah menentukan pilihan yang mengubah semua prinsip utama nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang sekolah,Rama menunggu depan pagar dengan motornya. Ia menanti Rara yang akan lewat dan ia ingin bicara dengan Rara. Tak beberapa lama Rara lewat,tapi karena terpaut jarak dan banyaknya orang diantara mereka,Rama gagal memanggil Rara. Lagipula ia sendiri jadi tercenung,karena tindakannya sekarang beda banget sama yang kemarin-kemarin. Ia lebih.. agresif, inisiatif dan lebih berani. Rama agak ga siap dengan perubahan besarnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rara makin jauh. Ia sudah berjalan ke arah jalan raya,sedangkan Rama tetap tercenung di tempatnya. Anggi yang dari tadi sebenarnya mengamati segera mendorong bahu Rama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ram, lo ngapain sih bengong gitu. Udah,pilihan lo udah bener kok. Sana kejar!” Seru Anggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama tergerak dan segera menaiki motornya. Anggi tersenyum puas. Di jalan, susah untuk mencari Rara yang terlanjur jauh. Tapi dari kejauhan Rama bisa melihat kunciran rambutnya Rara yang bergoyang kesana-sini ketika berjalan,dan ia yakin itu memang Rara. Ia pun terus mengejarnya. Ketika sampai dihadapannya, Rara terkejut dan timbullah tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ngapain Ram?” tanya Rara kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ngajak pulang bareng. Boleh ya?” tanya Rama. Ia berusaha menambahkan senyumnya di aksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam rangka? Kok tumben sih.” Rara bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gw mau bersikap jujur sekarang. Maaf ya selama ini gw udah boongin lo.” Rama mengulurkan tangan untuk dijabat,tapi Rara tidak membalasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sih maksud lo?” tanya Rara, bingung banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti lo juga ngerti,kalo lo rangkai kejadian semingguan yang lalu sampe kemarin kita ribut dan kata-kata yang gw bilang tadi. Oh ya, gw ga pernah suka sama Anggi,jadi gw beneran mohon maaf sama lo.” Rama mengatupkan kedua tangan di depan mukanya yang menunduk. Rara agak mengerti sekarang tapi masih sedikit rumit. Rara tersenyum dan menurunkan katupan tangannya Rama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gw masih ga ngerti,tapi gw maafin lo kok apapun kesalahan yang gw sendiri bingung itu apa. Hm ya udah pulang bareng, jadi kan?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama mengangguk dan tersenyum. Ia kembali menghidupkan motornya. Rara naik dan pulang diantar oleh Rama. Rama ga pernah merasa selega ini. Akhirnya dia bisa jujur dan diam-diam ia berharap tahap ini bisa terus berlanjut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-7114967977721860025?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/7114967977721860025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=7114967977721860025&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/7114967977721860025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/7114967977721860025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/04/rahasia-di-balik-rahasia-oleh.html' title='Rahasia di balik rahasia (Oleh  Anggun Desimalinda)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-3815588222255740454</id><published>2010-04-10T15:44:00.004+07:00</published><updated>2010-04-10T15:50:58.283+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>KARTU MISTERIUS (karya Rita Asmaraningsih)</title><content type='html'>Prakata : Kali ini saya posting cerpen karya Rita Asmaraningsih. Ide cerita cukup menarik walaupun sudah klise. Penggunaan bahasa lumayan bagus. Hanya saja di akhir cerita, banyak kalimat yang membingungkan. Misalnya saja :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sementara, di tempat lain tampak seseorang sedang gelisah. Gelisah mikirin apa reaksiku setelah membaca kartu misterius yang dikirimnya. Dia adalah Aldy. Cowok jenius di kelasku yang bertampang culun banget. Aku suka sebel dan marah-marahin dia. Soalnya aku sebel banget melihat kacamatanya yang minus tujuh. Kayak gimana gitu melihatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini menggunakan tokoh Aku. Dari awal cerpen tokoh Aku yang bercerita, tetapi kenapa dia bisa tahu apa yang dipikirkan Aldy? Bila ingin menggunakan narasi yang menceritakan si Aldy seperti dalam kalimat : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sementara di tempat lain seseorang sedang gelisha. Gelisah memikirkan reaksi ….dst.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jangan menggunakan tokoh aku, tapi gunakan sudut pandang orang lain sebagai narator tapi harus dari awal cerita. Misalnya : tokoh Aku diganti dengan menggunakan nama Susi. Contoh : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pagi yang cerah.  Jalanan begitu ramai dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Seolah-olah ada yang mereka kejar. Kebanyakan dari mereka adalah orang kantoran. Mereka berbaur dengan anak sekolah, bergegas, berpacu dengan waktu agar tidak telat tiba di tujuan. Susi pun berbaur dengan mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih aneh, di akhir paragraf kembali menggunakan tokoh Aku.  Alur kisah juga dipotong secara mendadak. Tahu-tahu saja, tokoh Aku sudah tahu siapa yang mengirim kartu itu.  Coba lihat dua paragraf terakhir. Belum selesai bercerita tentang Aldy, mendadak sudah diakhiri dengan kalimat ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oh My God! Aku langsung lemas begitu mendengar cerita si Petty yang sepupunya Aldy. Ternyata cowok yang membuat hatiku berbunga-bunga itu diakah orangnya? Ugh... tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain dari dalam tubuhku. Aku semakin lemas ...!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya, Rita harus lebih banyak membaca cerpen karya orang lain. Pelajari alur kisah, narasi dan penggambaran emosi para tokoh agar cerpen lebih hidup. Tentu saja, harus banyak berlatih. Banyak membaca dan berlatih, cuma itu kuncinya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARTU MISTERIUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang cerah.  Jalanan begitu ramai dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Seolah-olah ada yang mereka kejar. Kebanyakan dari mereka adalah orang kantoran. Mereka berbaur dengan anak sekolah, bergegas, berpacu dengan waktu agar tidak telat tiba di tujuan. Aku pun berbaur dengan mereka. Mengayuh langkah dengan cepat mengejar bis kota. Seperti biasanya, bis kota yang aku tumpangi penuh sesak oleh penumpang. Namun aku tetap enjoy saja menikmati perjalanan menuju sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku tiba di sekolah setelah menempuh perjalanan yang sedikit melelahkan. Kuhapus peluh yang mengucur. Pokoknya, hari ini aku harus bersikap manis dan kalem. Soalnya, aku berulang-tahun nih ceritanya! Jadi, untuk mengenang hari jadiku ini aku ingin merayakannya dengan caraku sendiri. Menjadi anak manis selama satu hari!. Pasti teman-temanku pada mikir, aneh... kok si Ririn yang ceriwis tiba-tiba berubah jadi alim? Pasti mereka penasaran, batinku geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei... tumben nih! Pagi-pagi elo udah nongol duluan?" sapa Mona yang menyambutku dengan mimik heran. Dia adalah ketua kelas kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang nggak boleh?" balasku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan begitu. Soalnya, elo kan tukang telat! Tapi, kalo elo udah sadar diri, gue juga senang. Bosen deh gue kena marah Wali Kelas terus gara-gara elo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, kamu nggak yakin nih sama aku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak tau tuh! Kayaknya gue nggak yakin aja kalo elo bener-bener sadar! Ah... sudahlah! Susah-susah mikirin elo, gue mau nyiapin daftar hadir dulu." Tanpa menunggu jawabanku, si Mona segera berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, udah bikin PR Bahasa Inggris belum? Nih... cepetan nyalinnya, ntar nggak keburu udah bel!" sergah Petty, teman sebangku aku, membuyarkan lamunanku tadi tentang Mona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm.... Thanks ya, Pet. Aku tahu kamu memang baik sama aku. Selalu setia nyontekin PR-PRmu sama aku. Tapi kali ini aku sudah bikin kok!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah?!" seru Petty kaget. Kedua bola matanya membundar tanda tak yakin. "Kamu serius dan nggak mimpi kan? Kok tiba-tiba kamu jadi lain sih?" katanya lagi dengan mimik tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang, hari ini aku beda dengan hari-hari kemaren! Aku nggak mimpi, aku sadar lho Petty! Aku agak lain hari ini karena aku ulang tahun! Masa' kamu lupa?" sungutku pura-pura merajuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh My God! Sorry... sorry...! Aku lupa kalo kamu tuh lagi ultah. Tapi, nggak ada kata terlambat kan   buat ngucapin selamat ulang tahun? Aku nggak punya kado. Lagi krismon. Malah aku mau nagih, mana makan-makannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung mengkeret mendengar tagihannya. Kucubit lengan Petty sehingga dia menjerit-jerit kesakitan. Beberapa teman di kelas menoleh ke arah kami.&lt;br /&gt;Pikir mereka, " Biasa tuh kalo Ririn dan Petty sudah ketemu pasti rame!" Tapi aku nggak mau ngeladenin Petty, kan aku mau jadi anak manis dan kalem seharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, setelah berkutat dengan buku-buku dan kegiatan sekolah, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Untung lagi nggak ada PR. Aku agak nyantai malam ini. Oh ya, aku teringat sesuatu. Setumpuk kartu ucapan via pos belum kubaca. Kuteliti satu persatu nama pengirimnya. Oh, ternyata dari beberapa teman yang sering aku kirimin kartu pada saat mereka ulang tahun. Aku bermaksud menyimpan kartu-kartu itu ke dalam tas sekolah. Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari balik tas. Kuraih benda itu. Hei! Sebuah kartu ucapan beramplop merah jambu. Tidak ada nama pengirimnya kecuali tertera tulisan : dari "ME".  Dari siapa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sibuk menerka-nerka siapa yang menyelipkannya ke dalam tasku? Si Petty kah? Ah, nggak mungkin. Anak cuek itu mana peduli pada hal-hal seperti ini. Akhirnya aku membuka amplopnya. Benar saja, sebuah kartu ucapan ulang tahun. Isinya singkat namun tak urung membuat hatiku berbunga-bunga bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat ulang tahun, Ririn. Semoga panjang umur dan tambah cantik ya. Dan mudah-mudahan kamu mau menjadi temanku yang istimewa. Mau ya?&lt;br /&gt;Dari aku yang mengagumimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum membacanya. Dari seseorang yang mengagumi aku? Siapakah orang ini? Apa ada ya... orang yang mengagumi cewek ceriwis seperti aku ini? Malam itu aku tak dapat tidur. Selain memikirkan siapa gerangan  si pengirim misterius itu, aku juga merasa tersanjung lho...&lt;br /&gt;                                               &lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, di tempat lain tampak seseorang sedang gelisah. Gelisah mikirin apa reaksiku setelah membaca kartu misterius yang dikirimnya. Dia adalah Aldy. Cowok jenius di kelasku yang bertampang culun banget. Aku suka sebel dan marah-marahin dia. Soalnya aku sebel banget melihat kacamatanya yang minus tujuh. Kayak gimana gitu melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh My God! Aku langsung lemas begitu mendengar cerita si Petty yang sepupunya Aldy. Ternyata cowok yang membuat hatiku berbunga-bunga itu diakah orangnya? Ugh... tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain dari dalam tubuhku. Aku semakin lemas ...!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-3815588222255740454?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/3815588222255740454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=3815588222255740454&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3815588222255740454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3815588222255740454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/04/kartu-misterius-karya-rita.html' title='KARTU MISTERIUS (karya Rita Asmaraningsih)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-6237046472988733308</id><published>2010-04-09T15:45:00.000+07:00</published><updated>2010-04-09T15:47:29.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>PACAR PURA-PURA (oleh : FAUZAN)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakta : Cerpen yang dikirim oleh Fauzan ini lumayan bagus. Hanya saja, emosi para tokoh kurang dijelaskan. Jadi, kurang greget dan sedikit hambar. Tetapi, dari sisi ide dan gaya bahasa sudah oke. Fauzan mengaku bingung dengan judulnya. Lha? Piye toh, dik? Bikin cerpen kok, bingung judulnya? Ya sudah, gimana kalo saya kasih judul : PACAR PURA-PURA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi, endingnya nggak mantap. Masa, cuma segitu aja? Mestinya dibuat lebih menggigigt. Ditambahin dengan narasi yang lebih keren. Tapi, untuk pemula okelah. Nilai 7 sih dapat. Sering  berlatih dan membaca cerpen karya orang lain aja ya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan masih basah bekas guyuran hujan. Hujan sejak jam 3 sore tadi memang terhitung yang paling besar di penghujung musim. Udara dingin membuat pengendara motor di senja ini memperlambat kecepatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih duduk sabar menunggu pesanan nasi telur tempe terong bakarku diantar. Menu favoritku di warung makan Holliwood di Jakal KM 0, seberang Kopma UGM. Kali ini aku hanya sendiri. Biasanya rombongan dengan teman-temanku. Untung bukan malam minggu, jadi aku tidak perlu terlalu khawatir. Dan juga malam ini sepertinya pelanggan lagi sepi, tidak seperti malam-malam biasanya. Mungkin karena baru hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesanan teh hangatku lebih dulu datang bersama air pencuci tangan. Kebetulan, aku sudah sangat haus. Langsung kuteguk teh yang masih hangat itu sambil merapatkan kedua permukaan telapak tanganku ke dinding gelas kaca supaya badan lebih hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama berselang, sebuah sepeda motor matic berwarna merah parkir di samping motorku. Pengendaranya wanita yang belakangan kuketahui berwajah cantik setelah dia membuka helm. Rambutnya sebahu dengan poni ke arah samping kanan menutupi keningnya. Aku hanya memperhatikannya sekilas, tapi jelas kelihatan sepertinya dia sedang gelisah. Gerakannya buru-buru, dan sedari tadi sibuk dengan Blackberry nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget. Dia duduk hampir di seberang tempat dudukku setelah memesan makanan. Satu meja. Dia di seberang sebelah kanan. Aku sedikit canggung. Sesekali aku merasa dia memperhatikanku. Mungkin hanya perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Itu bukan cuma perasaanku saja. Dia memandangiku lama saat aku tak sengaja melihat ke arahnya. Aku makin canggung. 'Ada apa dengan mukaku?'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku rapikan rambut sambil memalingkan wajah ke belakang, barangkali ada yang salah. Tapi wanita cantik itu masih sesekali menatapku lama. 'Apa aku mirip temannya?'.&lt;br /&gt;Aku tidak peduli. Aku mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia di depanku dari tadi. Nasi yang pulen dan rasa bakaran telor tempe terong yang khas membuat cara makanku mungkin terkesan brutal. Ditambah perutku yang sedari siang belum diisi. Biasanya aku akan menambah satu piring nasi setelah nasiku habis. 'Tapi apa ada yang salah denganku?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu masih memandangiku dari seberang meja. Meski dengan sungkan, tapi sangat jelas dari tadi dia memperhatikanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaranku tidak bisa ditahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa ya, mbak?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu hanya diam. Matanya kosong menatap entah apa yang ada di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu mau jadi pacarku?"&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Malam ini mungkin malam terberat dalam hidupku. Aku akan makan malam di sebuah restoran mewah bersama seorang pengusaha kaya, kakek dari wanita yang minggu lalu tiba-tiba memintaku menjadi pacarnya, padahal kami belum pernah bertemu apalagi berkenalan, dan aku hanya bisa menjawab, "Mau!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergegas. Kukenakan kemeja dan celana bahan yang tempo hari dibelikan Winda Permana, begitu namanya. Mirip nama dokter gigi yang sering kukunjungi.&lt;br /&gt;Bukan hanya namanya yang sudah kuketahui. Aku juga tahu dia lulusan Psikologi UGM tahun 2003, mempunyai kucing cantik bernama Mello, penyuka warna biru dan kopi mocca dengan sedikit gula, pintar main catur, hobi berenang, dan cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang sampai sekarang membuatku bingung adalah, kenapa saat itu dia tiba-tiba memintaku jadi pacarnya, padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya, apalagi berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulirik jam tangan yang juga aku dapat dari Winda. Sudah pukul 17.34 WIB. Aku harus cepat-cepat berangkat. Sebelum jam 6 malam aku harus sudah sampai di restoran, begitu pesan Winda. Dan paling tidak aku harus berangkat 15 menit sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumatikan lampu kamar kosku dan bergegas menuju mobil yang kuparkir di pinggir jalan depan kosku. Sebuah mobil sedan, yang lagi-lagi dari Winda. Hanya dipinjamkan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;"Makasih ya, Ndra. Kamu sudah bantu aku kemarin. Ini!"&lt;br /&gt;Sebuah amplop putih lumayan tebal dia sodorkan di atas meja ke arahku. Segera aku ambil dan kumasukkan ke dalam tas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhirup sedikit kopi yang masih tersisa di gelasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya di kedai kopi biasa. Dua hari setelah aku berkenalan dengan kakeknya yang sangat ramah dan mulai akrab denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf ya, jika kemaren aktingku jelek." kataku sambil menggaruk-garuk kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak apa-apa. Akting yang buruk, datang terlambat, badan mobil yang lecet, semuanya sudah aku potongkan di honor kamu itu." jawab Winda dengan tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah? Kamu curang. Itu nggak ada dalam perjanjian kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi yang kamu lakukan itu juga nggak ada dalam rencana kita, kan? Siapa suruh pakai mobil. Sudah kubilang, kan, aku aja yang jemput. Baru belajar nyetir 5 hari aja berani banget bawa mobil sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan aku berhasil mencuri hati kakek kamu, dan sekarang kamu nggak jadi dijodohin dengan anak temennya semasa muda dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahaha... Iya iya, aku cuma bercanda kok. Nggak aku potong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua tertawa lepas. Aku merasa lebih akrab dengannya. Mungkin dia juga.&lt;br /&gt;"By the way. Kontrakku diperpanjang, dong? Kan kakek kamu ngajakin aku main catur ke rumahnya besok sore. Dan Lusa, dia minta aku menemaninya keliling Jogja naik sepeda motor. Bagaimana?"&lt;br /&gt;"..."&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Malam ini mungkin malam terberat dalam hidupku. Aku akan makan malam di rumah sederhananya bersama ibu, ayah, dan adiknya yang paling kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergegas. Kukenakan baju batik sederhana yang tempo hari dibelikan Chandra Hamid, begitu namanya. Mirip nama salah satu ketua KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya namanya yang sudah kuketahui dalam dua bulan ini. Aku juga tahu dia hanya lulusan SMK, mempunyai burung nuri kesayangan bernama Nuri, penyuka warna coklat dan teh dengan dua sendok gula, pintar main gitar, hobi tidur, dan tampan. Yang terakhir adalah salah satu alasan kenapa 3 bulan sebelumnya tanpa pikir panjang aku tembak dia di sebuah warung makan pinggir jalan. Meskipun sebenarnya aku hanya ingin minta bantuannya untuk berpura-pura jadi pacarku di hadapan kakekku, setidaknya aku pikir dia meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang sampai sekarang membuatku bingung adalah, kenapa saat kutembak dia dulu, dia langsung menjawab "Mau!", Padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya, apalagi berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan yang saat kutanyakan kepadanya, dia hanya balik bertanya, "Kenapa saat aku mengembalikan amplop itu lagi ke kamu di kedai kopi 2 bulan yang lalu, dan aku nembak kamu, kamu langsung menjawab 'mau!'?"&lt;br /&gt;"..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-6237046472988733308?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/6237046472988733308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=6237046472988733308&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6237046472988733308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6237046472988733308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/04/pacar-pura-pura-oleh-fauzan.html' title='PACAR PURA-PURA (oleh : FAUZAN)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-6078597149269981560</id><published>2010-03-31T16:10:00.002+07:00</published><updated>2010-04-02T18:40:22.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>April Mop Terindah (karya Wulan Sari)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakata : Cerpen ini adalah karya WULAN SARI.  Good! Cerpennya cukup menarik. Pas banget kalau dikirim ke majalah remaja. Hanya saja, terlalu banyak kata-kata yang disingkat seperti : Sebentar jadi Bentar. Elo jadi lo. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memang sih untuk kategori cerpen remaja, sah-sah aja memakai kata-kata yang disingkat seperti itu. Tetapi, berdasarkan pengalaman, kata-kata yang terlalu disingkat seperti itu sering diedit oleh Editor. So, sebaiknya jangan menggunakan kata-kata yang disingkat terlalu banyak.  Kamu tentunya nggak mau cerpenmu ditolak hanya karena Editornya pusing harus merevisi kata-kata yang disingkat itu, kan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“TOMMY!!!!” teriak Luna dari depan pintu kelas. Yang dipanggil sedang duduk di bangkunya, membaca buku. Pura-pura tak mendengar panggilan Luna. Karena merasa tak digubris, Luna pun menghampiri sang cowok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Eh, orang gila. Nggak denger gue manggil lo apa?” serbu Luna sambil menggebrak meja Tommy. Wajahnya penuh emosi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tommy menaruh bukunya ke atas meja, lalu menoleh dan membalas tatapan Luna dengan super cool,  “Nape, non?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Nape?! Nape kata lo?! Lo nggak tau salah lo apa?!” Suara Luna kian meninggi. Anak-anak lain menoleh, tertarik untuk melihat pertengkaran yang sebenarnya sudah biasa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ups, sabar, non. Ntar klo marah-marah terus cepet tua, lho” kata Tommy sambil nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaargh!” teriak Luna frustasi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Lo ngibulin gue lagi, nyadar nggak sih?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy menyilangkan tangannya di dada. “Ngibulin lo? Kapan ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, nggak usah sok innocent gitu deh!” kata Luna sebal. “Lo bilang gue dipanggil Kepsek, kan? Lo bilang kepsek mau ngomongin soal nilai gue yang ancur, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aha!” Tommy menjentikkan jarinya, seolah-olah baru teringat sesuatu. Lalu dia berkata serius, “Ehm, gini. Bagian yang nilai lo ancur, gue nggak ngibul. Emang nilai lo ancur, kan? Trus...” Tommy menatap Luna yang matanya sudah hampir copot karena melotot.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Trus klo yang bagian lo dipanggil kepsek, yah, anggap aja hari ini April mop” kata Tommy dengan santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan Luna sudah sampai di ubun-ubun. “APRIL MOP MASIH SEBULAN LAGI, GILA!!!” teriak Luna geram sambil menjitak kepala Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouch!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adegan diatas sebenarnya sudah sangat sering terjadi. Tommy dan Luna. Sekolah di sekolah yang sama, kelas yang sama, dan duduknya pun sebangku. Sejak kelas satu hingga kini mereka telah menduduki bangku kelas dua. Biasanya dan seharusnya, hampir dua tahun duduk sebangku akan membuat kedua anak itu bersahabat. Namun apa daya, yang terjadi justru melihat mereka bertengkar, hampir tiap hari. Yang laki-laki sangat  suka menjahili yang perempuan. Yang perempuan, parahnya selalu terjerat dalam kejahilan si laki-laki. Dasar emang jodoh, begitu kata teman-teman si perempuan, yang k sama sekali tidak membuatnya lebih happy.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Awas ya lo, gue pastiin gue akan bales perbuatan lo tadi” kata Luna penuh dendam ketika mereka berdua sedang berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Gue tunggu, non. Tapi gue nggak yakin lo bakal berhasil” balas Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ngeremehin cewek, Tom” Luna yakin banget, suatu saat dia pasti bisa membalas perbuatan Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy menggeleng. “Gue nggak pernah ngeremehin cewek. Masalahnya, cewek yang di depan gue ini gampang banget dikibulin dan nggak pernah berhasil ngibulin orang! Hahaha..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugh, Luna semakin gondok. Mau nggak mau dia mengakui dalam hati kalau apa yang dibilang Tommy itu benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai malam pun Luna masih merasa kesal. Malah sampai nggak bisa tidur, gara-gara memikirkan strategi untuk membalas Tommy. Ketika pada akhirnya dia menyerah karena tak berhasil menemukan ide cemerlang, dia mengambil handphone-nya dan mengirim sms pada sahabatnya, Pita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pit, gw  msh sebel bgt sm si Tommy. Kira2 gmn y pit, biar gw bs bales tu anak? Gw ga bs tdr gara2 mikirin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalas oleh Pita :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yaelah, bknnya lo udh biasa sm kibulannya? Klo lo nyuruh gw ngasih ide ke lo, sori bgt luna, gw ga ad ide...Btw, masak sih smpe ga bs tdr gara2 kepikiran trus? Jgn2...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemas, Luna membalas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ih, Pita! Jgn-jgn apa coba? Gw lg kesel ni, lg benci bgt ama tu org.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balasan dari Pita :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lo mw tw kelanjutanny? Jgn2...lo diem2 naksir Tommy lg! Benci sm cinta itu tipis bgt lun..., hehehe :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luna mendelik. Dipencetnya keypad hape.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gila lo! Gw ga segitu gila kali, smpe mw naksir ama org itu. Kyk ga ad cow lain apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pita sepertinya nggak peduli dengan kejengkelan Luna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Emg ga ada cow laen kali! Lo kan maenny sm Tommy trs, mana smpt ngelirik cow laen~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregetan, Luna membalas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Idih, maen?! Yg bener aja deh lo. Yg ada dia ngajakin gw berantem mulu kali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Udah ah! Gw mw bobo dlu. Lo malah bikin gw tambah kesel aja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pita malah makin senang meledeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hehe, oke deh darl. Jgn lupa mimpiin Tommy ya...hehehe :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sial, batin Luna. Dia memutuskan untuk tidak membalas sms Pita. Kenapa sih, kok semuanya kayak seneng banget ngejodohin gw sama Tommy? Pada nggak tau apa, gimana si Tommy selalu ngerjain gw?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Si Tommy selalu ngerjain lo biar dia diperhatiin sama lo. Masak gitu aja lo ga nyadar?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pita pernah ngomong gitu ke gue. Gimana kalo ternyata Pita bener? Gimana kalo ternyata Tommy beneran suka sama gue? Gimana kalo tiba-tiba dia nembak gue? Luna menghela napas lalu menggelengkan kepalanya dengan keras. Nggak mungkin, nggak mungkin banget. Tapi...kalo mau dipikir-pikir lagi...si Tommy ganteng juga, kok. Tubuhnya tinggi dan atletis, kulitnya putih, hidungnya mancung, bulu matanya lentik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Plak! Luna menampar dirinya sendiri. Gila, gue barusan ngebayangin apaan sih? katanya dalam hati. Akhirnya, Luna pun tertidur dengan seribu pertanyaan dan jantung yang berdegup dengan kencang.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Bro, ngapain senyum-senyum sendiri?” tanya Bagus pada orang yang tengah duduk disampingnya. Mereka berdua sedang berada di kantin saat jam istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehe, nggak kenapa-kenapa, kok” jawab Tommy sambil menyeruput es jeruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alah, paling lo lagi mikir buat ngerjain si Luna lagi, kan?” tebak Bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tau aja lo” Tommy nyengir lebar. “Gue lagi nyusun strategi nih” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Strategi apaan?” tanya Bagus penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy tersenyum penuh makna. “Sini, gue jelasin ke lo.”&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah dua minggu ini Luna memikirkan hal yang sama. Memikirkan kemungkinan kalau Tommy naksir padanya. Saat pelajaran berlangsung pun, Luna mendapati dirinya sedang memikirkan hal itu sambil menatap wajah Tommy yang duduk disebelahnya. Sampai tak sadar kalau Tommy telah menyadari dirinya sedang ditatap oleh Luna. Bahkan juga tak sadar kalau pelajaran telah usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Oi, ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? Belom pernah liat orang seganteng gue ya?” kata Tommy seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Luna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti orang yang baru dibangunkan dari mimpinya, Luna membalas dengan gelagapan, “Eh? Apa?” katanya, lalu kepalanya melihat ke depan kelas. “Lho, Bu Rita udah cabut ya? Biologi udah selesai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy mengernyitkan dahinya. “Udah dari tadi kali. Lo tadi ngelamun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idih, siapa juga yang ngelamun” jawab Luna, ngeles. Dia segera memalingkan mukanya dari Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy menaikkan alisnya sebelah, heran dengan kelakuan Luna. Ini anak salah makan apa, ya? batinnya.&lt;br /&gt;“By the way,” kata Luna membuka pembicaraan baru seraya membereskan alat tulisnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belakangan ini lo kok jarang ngerjain gue lagi? Tumben banget.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hehe, lo kangen ya, dikerjain sama gue?” kata Tommy cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luna langsung melotot. “Kangen? Dalem mimpi lo aja kali. Gue sangat sangat bahagia kalo lo&lt;br /&gt;nggak ngerjain gue,” kata Luna dengan mimik muka sok serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bilang kangen juga nggak apa-apa kok” balas Tommy, masih dengan cengiran lebarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luna mendengus. “Lo belom jawab pertanyaan gue tadi. Jadi, ada apa dengan lo sampe lo nggak ngerjain gue lagi? Gue curiga ada udang di balik batu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kalo ada udang di balik batu gue mau dong. Gue kan suka banget tuh sama...” Tommy tak jadi melanjutkan kata-katanya, ketika dilihatnya ekspresi marah di wajah Luna. “Hmm, taking a break bentar nggak salah, kan? Ngerjain lo tuh butuh mikir tau, jadi butuh tenaga ekstra juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngaco lo” komentar Luna. Taking a break katanya? Huh, sok banget. Begitu kata Luna dalam hati. Namun, jauh di dalam hatinya, dia mengakui kalau dia memang kangen dengan kejahilan Tommy padanya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;And so, April Fools is here. Luna pun sudah menyiapkan mental, karena hari ini sudah bisa dipastikan Tommy akan meluncurkan serangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waspada. Gue musti waspada. Beberapa minggu nggak ngerjain gue, jangan-jangan si Tommy udah menyusun rencana besar buat ngerjain gue hari ini” Luna berbicara pada dirinya sendiri saat dia memasuki kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi, darling, ” sapa Pita dengan senyuman ketika Luna melewati bangkunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luna tersenyum, “Pagi, Pit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siap-siap ya malem ini,” kata Pita. Ekspresinya penuh makna sampai-sampai Luna tak mengerti maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siap-siap buat apa, Pit?” tanya Luna heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada deh.” Pita mengedipkan satu matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan, sih? Pagi-pagi udah bikin gue penasaran aja.” desak Luna. Dia benar-benar penasaran dengan maksud kata-kata Pita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah, ntar lo juga bakalan tau. Duduk gih, bel udah bunyi tuh. Pak Bayu bakal masuk bentar lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Luna sebenarnya masih ingin bertanya pada Pita, tapi keadaannya tak memungkinkan.. Dia pun berjalan ke bangkunya, lalu duduk sambil meletakkan tasnya. Hm, apa ya kira-kira? tanya Luna dalam hati. Tapi gue kan nggak ultah hari ini. Gue juga nggak punya sesuatu hal yang perlu dirayain. Jadi maksud Pita apaan dong? Luna menjadi pusing memikirkan pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Dia melihat sekilas ke teman sebangkunya, yang kemudian membalasnya dengan senyuman. Deg! Jantung Luna langsung berdegup kencang saat melihat senyuman Tommy.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Hari pun berganti malam. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Sepanjang hari di sekolah tadi, Luna tak mendapati satu pun kejahilan Tommy. Aneh, aneh banget. Apa tu anak sakit ya? Luna bertanya-tanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ting Tong! Bel rumah Luna berbunyi. Aduh, siapa juga yang dateng ke rumah malam-malam? gerutu Luna dalam hati. Namun, dia terpaksa harus membuka pintu, karena rumah Luna tak memiliki pembantu, dan orang tua Luna sedang pergi ke suatu acara. Luna pun beranjak dari kamarnya dan berjalan ke pintu utama. Betapa terkejutnya dia mendapati seseorang bertuxedo putih berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah buket bunga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Tommy?” kata Luna. Mulutnya menganga lebar, saking shock-nya.&lt;br /&gt;Tommy nyengir. “Iya, ini gue. Rasanya, muka gue masih begini-begini juga deh dari gue lahir.”&lt;br /&gt;“Lo nggak salah rumah, kan? Gue nggak ngadain pesta disini. Lo pake dandan rapi lagi. Lo beneran nggak nyasar, kan?” cerocos Luna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh non, gue nggak salah rumah kali” jawab Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha, terus, ngapain lo pake baju gitu sampe bawa bunga segala?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Tommy bersemu merah. “Ehm, itu, gue mau bilang...” Tommy menarik nafas panjang sebelum bilang, “Gue suka sama lo, Lun. Lo mau nggak jadi pacar gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HAH?!” Bisa dibayangkan, bagaimana kagetnya Luna saat ini. Wajahnya memancarkan ekspresi tak percaya pada Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo butuh gue ngulang kata-kata gue tadi?” tanya Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, nggak usah. Gue udah nangkep” balas Luna. Lalu pikirannya mulai kembali ke jalan yang benar. Dilihatnya Tommy dengan tatapan curiga. “Tunggu dulu. Ini April Mop, kan? Lo cuma mau ngibulin gue, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun, gue nggak dandan segini niat kali, cuma buat ngibulin lo. Lo boleh tanya Pita deh, gue konsultasi ke dia dulu sebelum kesini” kata Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Pita?” tanya  Luna. Otaknya berpikir. Olala, jadi ini yang dimaksud Pita tadi pagi. Luna pun berpaling dan menatap mata Tommy. “Lo serius?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Luna” jawab Tommy, ditambah dengan sebuah anggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo beneran serius?” tanya Luna lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua rius, deh Lun” balas Tommy lagi. Ada sedikit nada putus asa dalam kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Salah siapa coba, suka ngibulin gue, suka ngejahilin gue. Gue kan jadi nggak tau kapan lo serius, kapan lo nggak ngerjain gue. Dan lagi, ngapain juga lo nembak gue di hari April Mop? Kan tambah bikin gue curiga aja” jelas Luna.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Iya deh, gue minta maaf” kata Tommy menyesal. “Gue nggak bakalan lagi ngibulin ato ngerjain lo. Tapi gue beneran suka sama lo, Lun” lanjut Tommy. Lalu ditatapnya wajah cantik Luna. “Jadi, jawabannya, non?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue boleh sekali-sekali ngibulin lo nggak?” tanya Luna. Dia mulai salah tingkah di depan Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tommy nyengir. “Lo nggak ada bakat tau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue juga tau, kok” Luna memasang tampang cemberut. Namun cemberutnya seketika berubah menjadi senyuman. “Jawabannya iya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senyum bahagia tergambar di wajah Tommy. Maka, sejak hari ini, tak ada lagi Tommy dan Luna yang selalu bertengkar. Dan hari ini pun menjadi April Mop terindah untuk mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-6078597149269981560?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/6078597149269981560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=6078597149269981560&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6078597149269981560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6078597149269981560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/03/april-mop-terindah-karya-monika.html' title='April Mop Terindah (karya Wulan Sari)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-3020245103659384129</id><published>2010-03-25T15:08:00.001+07:00</published><updated>2010-04-02T18:41:09.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Kebencian yang Salah (karya MONIKA)</title><content type='html'>Prakata : Cerpen karya MONIKA ini. Setelah saya baca, ternyata banyak sekali yang harus diperbaiki terutama dari sisi penggunaan kalimat. Berikut adalah beberapa hal yang harus diperbaiki :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- penggunaan awalan. Kata Di sana harus ada spasi. Jangan digabung menjadi  Disana.&lt;br /&gt;- Dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari sekitar 3 km dari rumahku, aku menyapa teman-temanku  tetap dengan senyumanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘Tetap’ dihilangkan saja. Bila digunakan bisa menimbulkan arti seakan-akan tokoh AKU sudah tersenyum sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘KU’ sebaiknya juga dihilangkan. Kalau digunakan, akan terlalu banyak kata KU.&lt;br /&gt;Maka kalimatnya saya ganti menjadi : Dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari sekitar 3 km dari rumahku, aku menyapa teman-temanku  dengan senyuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- Kalimat : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mataku segera memandang sekeliling kelas lalu langsung menuju ke luar kelas menengok ke kanan ke kiri dan terus memasang mataku untuk melihat sekeliling, karena kini     aku sedang rindu dengan seseorang.&lt;/span&gt; Terdapat pengulangan kalimat yang tidak perlu. Sudah disebutkan bahwa si tokoh Aku memasang matanya melihat sekeliling kelas, jangan diulang dengan menyebutkan “memasang mataku untuk melihat sekeliling.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah saya revisi menjadi : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mataku langsung memandang ke sekeliling kelas mencari-cari seseorang yang sedang kurindukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;maka segeralah ku berlari untuk mencium tangannya, membawakan tasnya dan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  memberikan senyumanku yang khusus kupersembahkan untuknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“ Selamat pagi, Kak !!!” sapaku lengkap dengan senyumanku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;      Di alinea sebelumnya sudah disebutkan bahwa tokoh Aku memberikan senyuman khusus,&lt;br /&gt;     Tetapi pada alinea berikut masih disebutkan :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;…., sapaku lengkap dengan senyumanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Seharusnya cukup disebutkan satu kali saja. Kalimat itu saya rubah menjadi :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;maka   segeralah aku berlari untuk mencium tangannya, membawakan tasnya dan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; memberikan senyuman yang khusus kupersembahkan untuknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;      “ Selamat pagi, Kak !!!” sapaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     Sebenarnya masih banyak kalimat yang harus diperbaik tetapi saya tidak mungkin mencantumkan semua revisinya di sini. Silakan membandingkannya sendiri cerpenmu yang saya posting di blog ini dengan naskah awal. Kamu bisa melihat kalimat-kalimat mana saja yang saya perbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;- Alur kisah seringkali tidak jelas. Seperti pada akhir kisah, disebutkan bahwa surat yang diberikan oleh Sinta adalah surat palsu. Apakah itu berarti surat itu dibuat oleh Sinta, bukan oleh Rio? Atau..suratnya memang ditulis oleh Rio tetapi isinya tidak benar. Saya lebih memilih yang terakhir, maka kalimatnya saya ganti karena jika memilih yang pertama, kalimatnya tidak sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kakiku terus mantap berlari menuju bangunan itu, yang lebih tepatnya bisa disebut gubuk. Bangunan kecil yang terbuat dari kayu-kayu jati itu adalah tempat yang paling bisa membuatku semangat menjalani hidup. Di sana sudah tampak teman-temanku yang tengah asyik bermain dan mengobrol. Aku dan teman-temanku tinggal di daerah pedalaman Papua tetapi  tidak terpencil sekali dari keramaian ibu kota Irian Jaya. Hanya saja sekolah di daerah kami benar-benar langka. Sekolah Menengah Atas Wori 45 adalah satu-satunya SMA yang ada di daerah kami. Dan tempat itulah yang kini aku datangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari sekitar 3 km dari rumahku, aku menyapa teman-temanku  dengan senyuman. Segera, aku masuk ke kelas dan meletakkan tas selendangku yang berwarna biru tua ke atas meja. Mataku langsung memandang ke sekeliling kelas mencari-cari seseorang yang sedang kurindukan. Seseorang yang selama ini kuanggap sebagai sosok yang lembut, baik dan pintar. Benar-benar sosok yang aku idam-idamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan akhirnya aku melihat sosok itu. Pria tegap dengan tas gendong dipunggungnya, lalu rambutnya yang cepak bak tentara yang baru pulang dari perang sungguh-sungguh menunjukkan karismanya. Hatiku berdegup kencang. Benar-benar pemandangan yang kunanti-nanti setelah libur Natal dan Tahun baru yang cukup lama. Kuyakinkan diriku untuk menghampirinya, maka segeralah aku berlari untuk mencium tangannya, membawakan tasnya dan memberikan senyuman yang khusus kupersembahkan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Selamat pagi, Kak !!!” sapaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Selamat pagi, Leta! ” Balasnya menyapaku dengan senyumnya yang meluluhkan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saya bawakan tasnya ya, Kak.” Ucapku menawarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ah, tidak usah repot-repot. Kamu bawakan buku ini saja. Tas kakak terlalu berat kalau kamu yang bawa. Oke?” Katanya sambil memberikan 3 buah buku tebal berwarna-warni kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bel yang terbuat dari bamboo dipukulkan oleh Pak Jose, pembersih SMA Wori 45 tepat saat waktu menunjukkan pukul 07.00, tanda pelajaran dimulai. Semua anak masuk ke kelas dan memulai pelajaran. Kakak Rio, mahasiswa dari kota Jakarta yang menjadi  pengajar sukarelawan di sekolah ku ini memasuki kelas dan dengan ramah menanyakan kabar murid-muridnya. Dialah lelaki tegap yang tadi pagi aku tunggu-tunggu dan kubawakan bukunya. Satu hal yang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;membuatku kagum padanya adalah sikapnya yang lembut dan perhatian terhadap semua orang. Dan di hari ke-180 aku mengenalnya, tekadku sudah bulat untuk mengungkapkan semua yang kurasakan padanya. Rasa sayang yang tak dapat kubendung lagi. Rasa cinta yang tak bisa  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;kupendam lagi. Dan, sepulang sekolah nanti adalah saatnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik sebelum bel tanda pulang dibunyikan, tiba-tiba saja keringat dingin mengucur deras dari pori-pori tubuhku. Jantungku berdetak cepat sekali. Pak Jose pun memukul bamboo untuk memberitahu sudah saatnya untuk pulang. Semua anak langsung keluar kelas dan dalam waktu beberapa menit sekolah sudah sepi. Tinggal aku berdiri di dekat pintu kelas menunggu Kak Rio keluar dari  kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Leta?? Kenapa kamu belum pulang ?” Tanya Kak Rio membangunkanku dari lamunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Kak Rio. Eee…eee….itu…mmm… aku…ehh, apa ya ?” Jawabku terbata-bata karena sangat gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Leta ? Kamu sakit? Badan kamu penuh keringat, kamu kecapean?” tanyanya bingung sambil meletakkan tangannya ke dahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bukan. Aku ingin… bicara sebentar sama Kakak.” Ucapku sambil menunduk, tidak berani melihat wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ya sudah. Bicara saja. Ada apa?” tanyanya sambil tersenyum lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, maaf …kalau aku lancang, tapi… aku…aku…suka sama Kakak. Aku cinta banget sama Kakak. Apa Kakak mau menerima cintaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, seluruh beban mengganduli hatiku terangkat semuanya dalam sekejap. Badanku seperti benar-benar ringan dan siap terbang. Semua perasaan yang aku simpan selama setengah tahun ini, keluar semuanya.  Kini aku hanya bisa tertunduk malu, menunggu jawaban darinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Oh, jadi itu yang mau kamu katakan ? Mmmm….Untuk sekarang…kita jalani saja ya. Sekarang ayo, Kakak antar pulang.” Jawabnya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku hanya bisa menatapnya dengan wajah bingung, jadi sebenarnya apa jawaban pasti darinya? Apakah cintaku diterima? Atau ditolak? Apa arti kata ‘kita jalani dulu’? Sungguh tidak karuan perasaanku kini. Sepanjang perjalanan pulang, tangannya terus menggenggam tanganku, senyumnya terus ia tunjukkan padaku. Jadi, apakah kata itu artinya cintaku diterima? Yes!! Tak kusangka, benar-benar saat itu rasanya aku ingin melompat tinggi-tinggi dan berteriak sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sampailah kami didepan rumahku. Terlihat dari depan tidak ada siapa-siapa dirumah. Tiba-tiba saja, tangannya memegang kepalaku, mendekatkan wajahku ke dadanya dan ia pun mendaratkan ciuman yang penuh dengan kelembutan ke dahiku. Ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai jumpa besok pagi ya, gadis manis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oh, Tuhan!! Betapa dahsyatnya kuasa-Mu. Aku langsung berlari masuk ke rumah, terus menuju kamarku yang hanya terbuat dari anyaman bambu yang atapnya masih mempersilahkan seberkas cahaya masuk. Aku langsung melihat diriku di kaca, kupegang pelan-pelan dahiku dan kembali kubayangkan saat dimana Kak Rio, lelaki yang aku idam-idamkan selama ini mencium dahiku. Ah, serasa berada di dunia mimpi. Tanpa ganti baju, aku membaringkan tubuh ke kasur dan kupejamkan mata sambil terus membayangkan apa yang akan terjadi besok. Hmm…hari-hariku akan menjadi lebih indah pastinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua hari telah berlalu sejak kejadian membahagiakan itu. Selama seminggu itu pun aku pulang diantar oleh Kak Rio. Hari ini aku berangkat pagi-pagi sekali, karena aku memang bertugas membersihkan kelas hari ini. Saat aku sedang menghapus papan tulis, Teresa dan Puan masuk ke kelas sambil membicarakan sesuatu dan aku dengar mereka menyebut nama Kak Rio. Segera saat itu juga aku bertanya pada mereka, apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Ah, kebetulan ada kamu Let.” Ucap Teresa antusias melihatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, benar. Sini kita ceritain. Kebetulan kamu deket kan sama Kak Rio?” Tanya Puan dengan nada berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, emang kenapa ?” tanyaku semakin penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapakku kemarin pergi ke ibu kota untuk mencari sembako selama sebulan. Kebetulan ia juga membeli koran. Sekedar buat nambah bacaan.” Kata Puan memulai cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nah, di koran itu ada berita yang berjudul MAHASISWA BENTROK DENGAN POLISI, dan  Puan melihat ada nama Kak Rio di daftar nama mahasiswa yang sedang dicari polisi karena dicurigai sebagai dalang kerusuhan.” Lanjut Teresa dengan suara yang keras tanpa menyadari&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;beberapa anak sudah masuk ke kelas dan mendengar ucapannya.  Seketika itu juga anak-anak lain langsung mngerumuni mereka berdua, mencari tahu berita yang menyangkut Kak Rio.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan aku hanya terdiam, menenangkan hatiku yang berkecamuk. Sungguh tak menyangka  Kak Rio yang lembut bisa menjadi dalang kerusuhan. Karena tidak percaya, aku pun langsung berteriak :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Itu FITNAH !!! Mereka pasti salah. Polisi itu hanya menduga-duga. Itu tidak benar !!”&lt;br /&gt;Kulemparkan penghapus papan tulis ke lantai dan langsung berlari keluar kelas. Pandanganku mulai kabur oleh air mata.  Anak-anak hanya terbengong-bengong melihat tingkahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Air mataku terus mengalir hingga akhirnya kurasakan ada tangan yang mengusap-usap kepalaku. Terdengarlah suara lembut seorang wanita. Saat aku membuka mata, kulihat seorang wanita yang cantik sekali. Wajahnya bagai bidadari yang baru turun dari langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Kenapa kamu menangis ?” Tanya wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kamu?” tanyaku dengan nada sesenggukan menahan tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, maafkan saya. Perkenalkan, nama saya  Sinta. Panggil saja Mbak Sinta. Saya kemari sebagai guru pengganti Kak Rio. Saya sahabat dekat Rio. Mmm…kamu Leta, bukan?” Tanyanya lembut.&lt;br /&gt;“Betul. Saya Leta. Kok, mbak tahu nama saya ?” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oh, jadi kamu yang namanya Leta. Kebetulan, Rio menitipkan surat ini ke mbak. Dia minta saya memberikan surat ini kepada murid yang bernama Leta.” Jawabnya dengan wajah yang mendadak muram. Tidak ada senyum seperti awal bertemu tadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, mbak.” Jawabku dengan senyum hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perasaanku makin tidak karuan. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan Kak Rio? Pertama aku mendengar berita tidak menyenangkan tentang dirinya dan sekarang tiba-tiba saja muncul guru pengganti Kak Rio. Ia hanya memberikan surat dan tidak diberikan langsung kepadaku. Setiap melihat diriku mbak Sinta juga berubah menjadi muram. Dimana kamu, Kak Rio ? Kenapa kamu jahat sekali meninggalkan aku?. Apakah cinta yang kamu berikan itu hanya sekedar barang bekas yang dengan mudahnya kamu berikan dan kamu tinggalkan? Kak Rio benar-benar jahat !!! Aku benci Kak Rio !!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sepulang sekolah, aku segera pulang dan mengunci diri dikamar. Aku tidak ingin diganggu sama sekali karena aku ingin membaca surat dari Kak Rio. Dalam suratnya ia menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leta sayang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tolong lupakan kakak sesegera mungkin setelah kamu membaca surat ini. Karena sebenarnya kata-kata yang kakak ucapkan saat itu hanya sebagai penyemangat dirimu untuk belajar. Selain itu kakak juga harus kembali lagi ke Jakarta, karena orang tua kakak ternyata sudah mempersiapkan pernikahan untuk kakak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;         Salam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                 Kak Rio&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setahun telah berlalu semenjak menghilangnya Kak Rio dari kehidupanku. Dan setahun pula aku terus membencinya. Tapi, walaupun benci aku tetap merasa ada sesuatu yang hilang dan ingin sesuatu itu kembali lagi kepadaku. Kini aku duduk di kelas 3 SMA, dan sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional. Aku harus serius belajar. Tidak ada lagi Kak Rio dan segala macam hal yang bersangkutan dengannya. Kini aku hanya ingin belajar, lulus dan masuk universitas yang kuinginkan, serta menjadi seorang guru. Mungkin memang tak bisa kupungkiri kalau aku ingin menjadi guru karena Kak Rio, tapi memang dari awal aku ingin menjadi guru dan memajukan  pendidikan di kampung halamanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika tiba di sekolah, dari kejauhan aku melihat teman-teman sekelasku bergerombol mengerumuni sesuatu. Hmm..apa yang sedang terjadi ? Namun, ketika akan mendekati tempat anak-anak berkumpul, aku mendengar isakan tangis seseorang. Dengan menyelip-nyelip diantara kerumunan anak-anak, aku pun mencoba melihat siapa yang tengah menangis itu. Ternyata orang yang menangis itu adalah mbak Sinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kupandangi juga wajah teman-temanku yang tampak muram. Bahkan, ada yang matanya sudah  berkaca-kaca. Ada apa lagi ini ? Apa yang terjadi? Kenapa semua orang memasang muka sedih? Tiba-tiba saja mbak Sinta yang melihat diriku langsung memelukku dengan erat, dan ia pun membisikkan sesuatu. Seketika itu juga tubuhku mulai kaku. Rasanya itulah akhir hidupku. Kata demi kata dari mbak Sinta benar-benar kata-kata yang tidak pernah ingin kudengar.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di bawah langit sore yang mendung, kami berdiri di depan sebuah batu nisan. Dengan baju warna hitam, air mata kami semua jatuh satu per satu tanpa henti. Di depan batu nisan bertuliskan Mario Raga, aku jongkok dan menaburkan bunga-bunga dengan hati yang hancur dan bersalah. Mario Raga atau yang sering ku panggil Kak Rio, lelaki yang telah membuatku melayang hanya dalam beberapa hari dan dalam setahun telah aku benci, kini hanya terbaring kaku. Sebab, ternyata Kak Rio tidak ikut sama sekali dalam aksi kerusuhan mahasiswa itu. Dia telah  difitnah sehingga stress. Penyakit darah tingginya pun  kambuh dan ia pun terkena stroke.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dan, saat dia telah tiada itulah mbak Sinta memelukku dengan erat. Dia meminta maaf karena telah membohongi semua murid terutama aku, karena isi surat itu bohong belaka. Kak Rio menulis surat itu agar aku tidak terkena getahnya karena berita buruk mengenai dirinya yang tidak benar. Itu sebabnya setiap mbak Sinta melihat wajahku, dia langsung muram karena dia tidak tega melihatku yang telah dibohongi oleh kak Rio selama setahun ini. Dengan sangat menyesal mbak Sinta meminta maaf padaku, tapi sesungguhnya mbak Sinta tidak salah. Yang paling salah dalam hidup ini adalah aku, karena aku telah membenci Kak Rio dan kebencian itu adalah kebencian yang salah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-3020245103659384129?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/3020245103659384129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=3020245103659384129&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3020245103659384129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3020245103659384129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/03/kebencian-yang-salah-karya-wulan-sari.html' title='Kebencian yang Salah (karya MONIKA)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-2215326120755846641</id><published>2010-03-18T15:02:00.000+07:00</published><updated>2010-03-18T15:02:00.377+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Romansa Masa SMA (karya Prasidya Ilvan Yahdi)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakata : Berikut adalah cerpen karya  Prasidya Ilvan Yahdi.  Sekali lagi banyak sekali kesalahan dalam penggunaan tanda baca, terutama tanda koma. Saya tidak bisa menyebutkan satu per satu. Kamu bisa lihat apa kesalahannya dengan membandingkan cerpenmu ketika dikirim dengan yang sudah diposting di blog ini. Sudah saya perbaiki penempatan tanda bacanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemudian, dalam penggunaan huruf besar masih banyak kesalahan. Nama negara : Israil dan nam orang : Dini, harus huruf besar. Kesalahan pengetikan juga saya temukan di naskahmu. Pukul ditulis Pulu. Sedikit ditulis sedikt.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau kamu ingin mengirimkan karyamu ini ke majalah, sebaiknya periksa lagi dengan cermat sehingga tidak ada kesalahan dalam pengetikan dan penggunaan tanda baca serta huruf besar.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari sisi alur cerita, sama sekali tidak ada ‘greget’ nya. Tidak ada konflik yang membuat pembaca penasaran. Terlalu banyak menceritakan perasaan si tokoh utama (WISNU). Padahal jumlah halaman cerpen sudah mencapai 6 halaman. Mungkin bisa lebih dipersingkat agar bisa menambahinya dengan konflik.  Perlu diketahui, jumlah halaman cerpen yang biasanya diminta oleh redaksi majalah antara 5 – 8 halaman. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tapi, dari sisi penggunaan bahasa sudah lumayan bagus. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuk,,tuk,,tuk,,jarum penunjuk waktu di depan kelas rasanya amat lamban berputar. Padahal sudah ku pantengin sejak tadi,tapi tetap saja, tak ada perubahan. Kembali ku gelisah, rasanya badan ini sudah panas dan enggan untuk duduk di kursi kayu yang tampak baru ini. Kuperhatikan sekeliling kelas, mencari teman yang senasib-sepenanggungan, percuma, tak kudapati apa-apa. Sunyi. Tak terdengar suara sedikitpun, bahkan dengkuran Oji yang saban hari menggelegar di kelas pun, kini tak terdengar walau barang sekejap. Semuanya tampak memperhatikan dia. Seorang lelaki paruh baya, berbaju biru layaknya pegawai negeri, berperawakan sedang dan mempunyai beberapa helai rambut di kepalanya. Dengan suara lantang yang membahana layaknya singa afrika, dan karisma yang luar biasa layaknya Adolf Hitler, pada siang hari terik itu, ia telah berhasil menghipnotis teman-temanku dengan notasi-notasi fisikanya dan beberapa “keajaiban-keajaiban” alam dan dunia yang berasal dari fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kalian tahu kenapa negara Israel bisa maju seperti sekarang,,? “ Ia bertanya dengan logat bataknya yang begitu kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tau pak !” jawab seorang anak yang duduk di kursi paling depan.Dia Roni, ketua kelas.&lt;br /&gt;“Iya, Roni. Apa jawabannya ?” tanya bapak itu semangat.&lt;br /&gt;“TAKDIR, Pak !” Jawab Roni, dengan “culunnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak jawaban “mbanyol” dari Roni tadi mengundang gelak tawa dari seluruh “penghuni” kelas yang sedari tadi diam bak kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Roni, terimakasih untuk jawabannya. Nanti bapak tunggu di kantor sehabis pulang ya.” Dengan wajah merah padam, bak api olimpiade, bapak paruh baya itu berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oke anak-anak, kita lupakan “banyolan” roni yang barusan.Tahukah kalian bahwa sebagian besar presiden Israel adalah seorang fisikawan, jadi wajar apabila negara tersebut bisa berkembang seperti sekarang. Nah Roni, sebelum kamu meninggalkan kelas, coba kamu buka bukumu dan kerjakan soal no 13.” Kata bapak paruh baya itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Pak, ”sergah Roni.&lt;br /&gt;“Sudah jangan banyak “cing-cong” . Ayo maju! SEKARANG !” Bentaknya, masih dengan logat bataknya yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak pelak hal itu membuat suasana kelas menjadi tambah semrawut dan biang keladinya lagi-lagi Roni, sang Ketua Kelas. Tapi, riuh rendah suara tawa siang itu, belum juga dapat menarik perhatianku, yang masih lesu dan tak bersemangat mengikuti pelajaran hari ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pria paruh baya di depan kelas tadi adalah Pak Amir. Nama lengkapnya, Amirudin Pandjaitan. Seorang guru senior yang mengajar Fisika di sekolah kami. Beliau ditakuti dan juga disegani oleh murid-murid, namun tidak demikian halnya denganku. Aku mengaggap dia adalah seorang Ilmuwan besar peraih Nobel Fisika tahun 1963 yang “terdampar dan nyasar” menjadi guru di sekolah ini. Aku begitu mengaguminya.Namun,t idak hari ini. Lima helai rambut yang menutupi kepala Pak Amir bukan lagi menjadi sumber inspirasi ku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kini pandanganku beralih. Kira-kira empat puluh lima derajat dari tempatku berdiam, tepat di belakang seorang wanita berperawakan besar yang apabila ia tertawa, maka terdiamlah seluruh kelas, persis di samping seorang “akhwat” berkerudung ungu yang suka menundukkan kepala ketika berbincang dengan lelaki, duduklah seorang wanita berperawakan sedang, dengan tinggi kira-kira 165 cm, rambut tergerai tak nampak begitu panjang, dengan kemilau cahaya matahari menimpa rambutnya seolah-olah ia sedang berjemur di pantai, serta rona kemerah-merahan di kedua belah pipinya, ditambah dua bola mata sayu yang bersinar dan tak lupa sebaris gigi indah tersusun rapi berbalut senyum khas Indonesia.  Aihhh...ia nampak seperti Zakiah Nurmala dalam film Sang Pemimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kupandangi ia. Tampak begitu menawan. Tak kupandangi dia, tak kuat ku menahan godaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Mungkin itulah kata-kata yang tepat menggambarkan perasaan ku. Aihh, nikmat benar rasanya memandang wajahnya yang rupawan, walaupun aku tak yakin ia pernah memandangi wajahku yang tak kalah rupawan ini(menurut Ibuku begitu..hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Andini, coba kamu kerjakan soal nomor 13 yang tadi Roni kerjakan itu. Payah kamu Roni,soal seperti itu saja kamu tidak bisa, gimana bisa lulus UAN? Ya sudah, ayo Andini …. coba diselesaikan soalnya.”  Intonasi suara Pak Amir nampak turun drastis begitu menyebutkan nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andini” dan naik seketika ketika menyebutkan nama “Roni”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan segera, bidadari itu bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju papan tulis. Lamat-lamat kupandangi dirinya itu. Andini namanya. Andini DwiHapsari. nama  lengkapnya. Derap-derap langkah kakinya ketika menginjakkan bumi bak tuts piano yang dimainkan oleh Ludwig Van Beethoven ketika ia merangkai baris-baris nada menjadi Simphoni No.9 yang melegenda itu. Dengan cepat diselesaikannya soal nomor 13 yang tadi terbengkalai oleh Roni.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tentunya pujian mengalir deras kepada Andini dan Roni, si anak “culun” yang sok tahu harus pasrah akan nasib tragis yang akan diterimanya setelah bel sekolah berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KRIIIIIIIIIINGGGGGGG! Bel telah berbunyi, waktu menandakan pukul 14.30 dan saatnya untuk pulang. Saatnya bebas dan menikmati secangkir kopi ditambah beberapa singkong goreng buatan mama memang yang  paling yahud.  Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk menyapa Andini,untuk yang pertama kalinya dalam hidupku. Seluruh tubuhku merasa tegang, jantungku berdegup dengan kencang, ketika aku menyusun rencana untuk menyapanya,mengucapkan kata “Hai” untuk yang pertama kalinya. Terbersit tiga Grand Skenario untuk menyapa Andini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Skenario satu, dengan tampang yang cool, bibir yang sedikit dimajukan, dada di busungkan, dan derap langkah yang pasti, aku berjalan mengikuti Andini keluar kelas dan mengikutinya sampai ia menengok kebelakang dan menoleh kearahku, dengan seketika aku berkata :  “Hai, Dini!” Sambil tak lupa melempar bibir busukku dan menggantikannya dengan sejumput senyuman manis. Dan, pastinya ia akan membalas sapaanku :  “Hai Wisnu!”&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Skenario Kedua. Aku berjalan bak orang buta yang tak tau arah, lalu dengan sengaja aku menubruknya ketika ia berjalan keluar kelas. Dengan sigap aku menangkap tubuhnya yang nyaris limbung dan mata kami saling bertatapan dan dengan pedenya aku berkata : “ Hai Dini.” Hahaaha …..skenario yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Skenario Ketiga. Aku keluarkan seluruh isi tasku, mulai dari buku fisika yang berat sampai kertas ulangan yang lebih layak disebut kertas gorengan. Lalu,isi tas tersebut kubawa di depan tubuhku dan ketika aku melihat Dini keluar kelas, dengan sengaja aku menubruk halus badannya. Pastinya buku-bukuku dan Andini akan tumpah dan berserakan. Pada saat itulah ketika aku berusaha mencari bukuku, dengan sengaja aku menyentuh tangan Dini dan berkata  dengan sangat lembut, “ Hai Dini, kamu gak papa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Wihhii,,skenario ini sangat elegan dan sempurna.Tak Sabar aku melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KRIINGGGG! Bel sekolah terus berdering dan membuyarkan lamunan skenario jeniusku. Bergegas, aku bersiap untuk melakukan skenario ketiga. Seluruh buku aku keluarkan dari tas dan dengan jantung yang mau copot, kuberanikan diri bangkit dari tempat dudukku. Namun ketika kutengok ia di tempat duduknya, ia sudah tak nampak. Ternyata ia sudah pergi duluan ke luar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Panik! Tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kutinggalkan buku yang telah kugendong di atas meja dan dengan segera aku berlari keluar kelas dan mencarinya. Sayang seribu sayang, tak kudapati batang hidungnya sedikitpun . Sambil menghela napas panjang tanda kepasrahan terdalam kepada Ilahi, aku membalikkan badan untuk mengambil tas dikelas. Saat aku membalikkan badan, dari belakang terdengar suara lembut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Wisnu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disertai sebuah SENYUMAN MENAWAN KHAS INDONESIA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-2215326120755846641?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/2215326120755846641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=2215326120755846641&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2215326120755846641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2215326120755846641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/03/romansa-masa-sma-karya-prasidya-ilvan.html' title='Romansa Masa SMA (karya Prasidya Ilvan Yahdi)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-6053130895909561265</id><published>2010-03-10T19:08:00.000+07:00</published><updated>2010-03-10T20:53:02.287+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Nadia dan Bayi Berkepala Botak (karya RIZKI PI)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakata : Cerpen kiriman RIZKI PI patut diacungi jempol. Akhir kisah tak diduga. Bahasa yang digunakan juga enak dibaca. Semuanya terjalin dengan rapi. Sudah pantas dikirim ke majalah wanita seperti : Femina dan Kartini. Hanya ada satu yang perlu diperbaiki : Kata Tuhan harus diawali huruf besar ya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berkesempatan melihat sosok wanita itu pagi ini di saat ia dengan anggunnya melangkah pasti membuka pintu pagar. Rambut ikal sebahunya terjuntai dengan mantap. Kemeja putih lengan panjang tampak sangat pas melekat dengan tubuh jenjangnya. Dengan balutan rok selutut berwarna hitam semakin mempertegas betapa ia begitu dapat membuat para pemuda di komplek ini sangat memujanya. Bagian paling penting dalam penggambaran menakjubkan wanita ini adalah terletak pada wajahnya. Semua bagian pada wajahnya terletak proporsional sehingga semua pria dan wanita baik tua maupun muda akan setuju bahwa wanita ini memang cantik. Dari jarak empat meter dari pagar rumahnya, aku dapat memperhatikan setiap kedip matanya. Ia hanya mengedip ketika ia butuh untuk mengedip. Rahang itu terpancang kuat, sangat percaya diri. Aku sudah dapat memastikan pendapatku tentang dia. Wanita ini tak hanya anggun tetapi juga kokoh. Aku tidak sedang memujanya seperti bocah ingusan yang baru memasuki masa remajanya. Tidak pula seperti para pria lajang di komplek ini yang hanya bisa bermulut besar di belakang Nadia. Ya, aku hampir lupa menyebutkan nama wanita ini, Nadia namanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku hanya mengaguminya. Hanya itu. Ibuku pun setuju jika aku mengaguminya daripada aku mengagumi artis remaja yang pamer tubuh untuk menutupi kekosongan otaknya. Nadia pintar, semua orang tak perlu meragukan hal itu. Lulusan universitas negri ternama di negara ini dan universitas ternama di Amerika. Berkarir di sebuah perusahaan multinasional, walaupun aku lupa apa pekerjaannya, namun ibu selalu mengatakan jikalau wanita itu punya kedudukan baik di perusahaan tersebut. Tentunya baik di sini tidak berarti biasa-biasa saja, ‘baik’ berarti ‘di atas baik’. Kamu harus kayak mba Nadia kalau besar nanti, biar engga bergantung sama orang lain. Biar engga kelimpungan kalo ditinggal suami. Pesan ibu sering kali seperti itu. Aku pikir-pikir tidak apa juga kalau aku memakai dia sebagai idolaku, tidak akan pula mengurangi nilai harga diriku, toh pada akhirnya aku memang butuh idola. Jadilah aku memutuskan bahwa Nadia akan menjadi idolaku!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Wening, mau berangkat sekolah?” ia menatapku dengan dahi berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hah? Ng..iya kayaknya mbak”, dan aku sukses menjawab dengan gugup. Seharusnya aku mengeluarkan kalimat bernada mantap seperti, Iya, aku selalu bersemangat ke sekolah. Hah, jawaban sampah! Setidaknya aku bisa menunjukkan jikalau aku dapat lebih baik daripadanya di kemudian hari, walaupun ia tetap menjadi idolaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Emang engga kesiangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tadi dia bilang tetang ‘kesiangan’? Oh, Tuhan, sudah hampir masuk sekolah dan aku masih bengong di komplek sekitar rumahku, bodohnya!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih menatap kosong lembaran berisi gambar dan tulisan di halaman ini. Ada sebuah gambar pohon besar yang kububuhkan banyak kata di cabangnya. Aku memberi nama pohon ini pohon harapan. Aku meletakkan beberapa hal yang harus aku capai di tahun ini pada rantingnya. Ketika salah satu dari mereka telah aku raih, aku akan mencoret kata pada ranting tersebut. Aku begitu merasa puas setiap kali harus mencoret kata demi kata. Seperti aku menikmati kehidupanku dengan sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam ini kubuka kembali halaman ini dengan maksud mencoret salah satu frase yang bertuliskan ‘go to Japan’. Namun ada hal lain yang mengganggu pikiranku. Aku memperhatikan batang pohon harapanku kalau-kalau ada kemungkinan aku menggambar satu cabang pohon lagi darinya. Hah, apa pula yang aku pikirkan ini! Tentu saja aku tidak akan menggambar apapun di luar dari waktu yang telah ditetapkan. Jika pun ada yang harus aku tambahkan, aku harus melakukannya tahun depan. Aku tidak boleh merencanakan kembali di saat proses sedang berlangsung. Memangnya kamu serius tidak ingin menikah, Nadia? Pertanyaan Retno kembali mengusikku. Jelas saja aku tidak ingin menikah. Aku sudah tegaskan hal itu berkali-kali padanya. Aku memang menyukai anaknya, tapi bukan berarti aku merubah prinsipku. Kenapa pula ia tanyakan hal itu lagi kepadaku? Apa karena ia merasa menang mempunyai hidup yang lebih berisi dibandingkan denganku? Berisi? Apa selama ini hidupku tak berisi? Kosong? Tentu saja tidak! Aku bisa gambarkan itu ke seluruh dunia dengan data-data yang akurat. Tetapi memang harus ku akui, terasa berbeda menatap mata Retno belakangan ini. Seperti tampak lebih bulat berisi dengan komponen padat yang membuatnya terlihat lebih cerah dan merona. Kenapa malam ini aku terlalu sering mengulang kata ‘berisi’? Benar-benar mengganggu. Aku harus lekas tidur dengan pikiran rileks untuk mendapatkan kualitas tidur yang maksimal untuk rapat esok hari. Tapi bayangan tentang hari itu tiba-tiba muncul kembali. Bayangan yang ingin aku robek dan aku buang ke tempat sampah. Bayangan yang memicu mual setiap kali kata ‘pernikahan’ mampir di benakku. Oh Tuhan, mohon singkirkan sejenak bayangan ini. Aku harus berpikir hal-hal yang menenangkan agar mudah tidur, maka aku biarkan bayangan itu muncul dan menelusup ke dalam mimpiku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih merasa sesak. Oksigen terasa sulit merasuk ke dalam paru-paru ku, tak seperti air mata ku yang meleleh lancar menganak sungai. Pandangan ku terasa kabur tertutup kaca air. Tak apalah, toh aku sedang tak ingin melihat apa-apa, jika perlu tak ingin mengingat apa-apa. Kalau pun bisa, aku tidak ingin berada dimana-mana. Aku ingin tersuruk di kasur kamar ku membiarkan lelehan mata ku meluncur sesuka hatinya. Tapi kenyataannya aku terjebak di dalam keramaian, di suatu tempat makan umum. Beberapa pasang mata memandangi ku dengan aneh, atau mungkin jijik, terserah! Sebaiknya mereka membuat diri mereka lebih berarti dengan mengambilkan ku tabung oksigen karena aku masih merasa sulit bernafas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nad, kamu enggak apa-apa?” pria di depanku tampak khawatir dan merasa bersalah karena telah mengabarkan berita itu di tempat ini. Setelah puas membasuh mata ku dengan banyak tisu, aku mulai memakan spaghetti keju yang belum kusentuh sejak 1 jam yang lalu. Aku merasa sangat lapar, sehingga aku makan dengan cepat. Tak perduli jika mulut ku menjadi begitu penuh dan aku kembali tidak bisa bernafas dan lebih parah dari itu, aku juga tidak bisa menelan! Aku meneguk lemon tea dengan cepat. Aku ingin semua berlalu dengan cepat sampai aku tidak sempat merasakan apapun tentang hari ini, seperti tak berasanya spaghetti keju yang ku dorong dengan lemon tea barusan. Setelah mulut, piring dan gelas di depan ku kosong, aku sempatkan sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam. Mencoba tidak berpura-pura tentang hari ini. Aku merasa ragu tentang kita, tentang perasaanku, tentang kamu. Ya, aku sudah mendapatkan gambaran seluruhnya. Dia ingin meninggalkanku setelah aku memantapkan hidupku bersamanya. Sudah kulepaskan beasiswa S2 demi untuk menerima lamaran pernikahan darinya. Sudah dua bulan kami persiapkan pernikahan kami dan apa tadi dia berbicara tentang ragu? Kemana ragu itu selama empat tahun ini? Aku mencoba menatap wajah pria di depan ku yang mengunyah makanannya dengan hati-hati. Aku tahu, aku bisa mengendalikan diriku dengan sangat baik. Aku tahu, aku hanya butuh waktu untuk merasa sedih dan merasa kehilangan, bukankah ini momen yang tepat untuk merasa sedih? Aku tahu, aku bisa mempelajari keadaan ini dengan sangat baik. Aku pun juga tahu, ada bagian-bagian dari seseorang yang harus dicoba untuk dimengerti dan dihargai. Aku tahu, aku sudah dapat mengendalikan diriku dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Romi, aku berharap kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berjalan beberapa langkah di belakang Retno dan aku masih menatap lekat wajah bulat yang sedang bertengger di bahu Retno. Ia juga melakukan hal yang kira-kira sama denganku, menatap wajahku dengan terkadang memamerkan gusinya yang tak bergigi walaupun sudah ku seram-seramkan mimik wajahku. Tidak cukupkah wajahku membuatnya takut? Sudahlah, memang mungkin para bayi memliki serbuk sihir alami yang dapat membuat orang-orang di sekitarnya merasa butuh memperhatikannya. Sesekali ia melambai-lambaikan lengannya yang berjari mini seolah ingin menggapaiku, entah apa maksudnya, kebetulan aku tidak merencanakan mempelajari bahasa bayi. Lelah memperhatikan bayi lelaki yang tak berhenti membuka mulutnya, aku memilih untuk memperhatikan nomor-nomor ruangan yang berjajar di kiri-kanan ku. Aroma racikan kimia memenuhi lorong yang kami lewati, khas rumah sakit. Retno dan Jayanti masih terus berjalan beriringan beberapa langkah di depanku meninggalkanku berjalan sendiri. Aku tidak tahu persis ruangan dimana temanku dirawat, toh aku juga sebenarnya tidak terlalu berkeinginan menengoknya. Bukan karena aku ingin bersikap tidak ramah padanya, mengenai hal itu aku dapat memastikan jikalau setiap orang yang pernah mengenalku pasti menilai aku wanita yang sangat ramah. Tapi ini adalah satu hal yang berbeda. Aku mengunjungi teman yang baru saja selesai melahirkan. Aku lelah bertemu dengan bayi setelah malam tadi aku bermimpi banyak bayi botak berterbangan bagai kelopak bunga yang ditiup angin musim gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba gerakan Retno dan Jayanti melambat pertanda ruangan sudah ditemukan. Kami memasuki ruangan dengan muka yang dipasang ramah dan turut berbahagia. Kegiatan dilanjutkan dengan menanyakan kabar dan si Ibu baru menjawab dengan berseri-seri untuk kemudian menceritakan proses ketika akan melahirkan. Aku memperhatikan makhluk yang tengkurap menggeliat di atas tubuh temanku itu. Kulitnya coklat kemerahan. Dengan mata yang mengatup, ia tampak asyik menyusu pada dada ibunya. Aku memperhatikan ketiga temanku bercerita dengan mata yang sama dengan yang ku temui pada Retno kala itu, bulat dan merona. Aku seperti tersihir di dalam tiga pasang bola mata yang semakin lama semakin membulat memenuhi ruangan sempit berbau obat ini. Aku tidak merasa sesak, aku mengambang pada sesuatu yang bergelombang. Aliran darahku mengarus begitu tergesa-gesa dengan arus yang juga bergelombang sehingga memompa jantungku begitu cepat berdetak dengan irama yang membuatku terisak.  Aku terisak seperti mereka yang juga terisak dalam kalimat memuji Tuhan. Aku jadi seperti mereka. Bercerita seperti mereka. Tertawa seperti mereka. Dan seketika aku ingin seperti mereka. Aku ingin punya anak! Bu, Pak, Nadia sudah bilang berulang kali, Nadia tidak akan menikah baik dengan pria yang bapak pilihkan atau dengan pria yang akan datang pada Nadia! Aku pernah melontarkan kalimat itu pada orangtua ku, sudah tentu aku tidak akan mengingkarinya. Tetapi bagaimana dengan gelombang ini? Bagaimana dengan mata bulat mereka yang ingin juga kumiliki? Bagaimana dengan bayi berkepala botak itu? Baiklah! Setelah berpamitan sebentar pada mereka, aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat yang dapat meloloskan tujuanku, mempunyai anak!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam ini, di meja makan, aku memperhatikan dengan serius cerita yang ibu sampaikan padaku. Tentang kisah heroik Nadia yang tak sengaja bertemu bayi yang ditinggal ibunya di rumah sakit ketika ia menjenguk temannya yang baru saja melahirkan. Bayi itu baru keluar beberapa hari dan sang ibu yang kejam melarikan diri dari rumah sakit, diduga karena bayi itu lahir tanpa seorang bapak. Malangnya nasib bayi itu. Kejamnya sang ibu! Mengagumkannya Nadia! Aku sudah memutuskan! Aku akan memasuki universitas terbaik di negri ini dan juga aku akan memasuki universitas terbaik di  Amerika lalu aku akan bekerja dengan gaji yang besar dan kemudian aku akan membangun sebuah panti untuk bayi-bayi yang ditinggal kabur oleh ibu mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pada surat kabar nasional tertulis di halaman depan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seorang ibu melaporkan Rumah Sakit tempat ia melahirkan karena diduga telah menukar bayinya dengan bayi lain yang telah meninggal sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-6053130895909561265?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/6053130895909561265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=6053130895909561265&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6053130895909561265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6053130895909561265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/03/nadia-dan-bayi-berkepala-botak-karya.html' title='Nadia dan Bayi Berkepala Botak (karya RIZKI PI)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-45134765780565517</id><published>2010-03-09T17:54:00.002+07:00</published><updated>2010-03-09T18:01:14.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Balada Resah Adinda (karya  Prasidya Ilvan Yahdi)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakata : cerpen karya Prasidya Ilvan Yahdi ini sebenarnya bagus. Hanya saja judulnya kurang pas dengan isi cerita. Kenapa ada kata ‘Balada”? Kenapa bukan DUKA HATI ADINDA?  Bukankah dalam cerpen ini banyak melukiskan perasaan sedih Adinda? Bukan resah. Tetapi, sedih karena ia ditinggal pergi oleh ayahnya yang mati dibakar.   &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemudian dalam penulisan tanda baca, huruf besar dan kata masih banyak kesalahan. Misalnya&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I. “Bunuh teroris itu! bakar dia, bakar rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya adalah :  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bunuh teroris itu! Bakar dia! Bakar rumahnya!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu adalah kalimat orang yang sedang berteriak marah, jadi gunakan tanda seru.     Bukan tanda koma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ada apa ribut-ribut bapak-bapak ibu-ibu?” pekik Pak Darso di hadapan puluhan orang yang mengepung rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ada apa ribut-ribut bapak-bapak ibu-ibu?” Tanya Pak Darso di hadapan puluhan orang yang mengepung rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘Pekik’ berarti berteriak atau menjerit. Tidak tepat digunakan dalam kalimat ketika pak Darso sedang keheranan dan bertanya kepada orang-orang yang mengepungnya. Kalau toh mau menggambarkan pak Darso yang bertanya dengan cara berteriak, gunakan saja kata TERIAK pak Darso. Itu lebih tepat ketimbang pekik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya beberapa contoh kesalahan kecil tapi cukup penting. Selanjutnya, bandingkan saja naskah awal kamu dengan cerpen yang sudah saya revisi dan diposting di blog ini. Perhatikan, beberapa tanda baca yang sudah saya perbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, dari sisi ide cerita sih sudah oke. Begitu pula penggunaan bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Balada Resah Adinda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Muram nian malam yang cerah ini,rasa-rasanya seluruh penduduk malam enggan untuk menunjukkan batang hidungnya. Begitu pun dengan Adinda,seorang anak petani miskin berusia 10 tahun yang tinggal di sebuah gubuk kecil di dusun Tegalrejo bersama Ibu dan 2 orang adik kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Malam ini bertepatan dengan hari ke-40 Ayahnya tercinta.Pak Darso, meninggal. Di usia nya yang ke 45, Pak Darso meninggalkan istri dan ketiga anak-anaknya yang masih kecil sendirian mengarungi ganasnya rimba kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tepat 40 hari yang lalu, dada kurus Adinda seolah tersengat jutaan ton listrik tatkala mendengar ayah yang selalu menceritakan dongeng sebelum ia dan adiknya tidur itu telah tiada.Ya,Pak Darso, telah tiada. Tapi tak ada yang lebih menyakitkan tatkala menyaksikan bahwa Ayah tercintanya itu meniggal karena di bakar oleh massa kampungnya sendiri.  Matanya menerawang...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam itu Seperti biasa , Pak Darso menceritakan dongeng kepada anak-anaknya sebelum ia tidur, malam ini dongengnya tentang Maling Kundang, kisah seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Tatkala Pak Darso selesai membaca dongeng,ternyata anak-anaknya sudah tertidur lelap.Dicium lembut kening ketiga buah hatinya itu seraya berdoa untuk kebaikan mereka. Malam itu ia berniat untuk mengkatamkan Al-Qur’an, sejauh ini ia masih membaca dan mengkaji surah Ar-Rahman. Namun, tiba-tiba “Prang !!!”, terdengar suara benda keras menghantam kaca depan rumahnya,spontan ia berlari kearah sumber suara dan didapatinya  sebuah batu besar yang menghantam kaca jendela rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Astagfirullah”pekiknya dalam hati.Tak sampai di situ kekagetannya, secara tiba-tiba muncullah puluhan orang yang membawa obor dengan pakaian hitam,laki-laki dan perempuan, sambil berteriak :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Bunuh teroris itu! Bakar dia! Bakar rumahnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pak Darso kaget bukan kepalang, tapi ia masih bertindak tenang. Ia mengenali beberapa orang yang berkumpul di depan rumahnya. Salah satunya Pak Puji, tetangganya.Tak pelak, suara ribut dan gaduh itu sampai juga ke telinga Bu Lastri,istrinya dan ketiga anaknya. Bergegas mereka menuju sumber suara sembari bertanya dalam hati, “ada apa gerangan?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa ribut-ribut bapak-bapak ibu-ibu?” Tanya Pak Darso di hadapan puluhan orang yang mengepung rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Pak Darso, cepat tinggalkan kampung ini, atau kami akan bakar bapak hidup-hidup !!” Teriak salah satu orang pengepung itu. Dengan sedikit meraba, Pak Darso meyakini bahwa yang berbicara tadi adalah Pak Puji, tetangga sebelah rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa ini? Apa salah saya? Saya tak mengerti maksud kalian? Sungguh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sudah Darso, jangan mengelak lagi. Kami tahu, kamu adalah TERORIS. Kampung ini tidak menerima teroris , cepat pergi atau kamu akan kami bakar !!” teriak Pak Puji.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Astagfirullah, teganya kalian memfitnah saya !” bela Pak Darso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tahu, kamu adalah antek-anteknya gembong teroris nomor Wahid Nurdin M. Top, dan kemarin kami melihat kamu bertemu dengannya dan kamu juga telah mengajarkan faham islam yang tidak benar kepada anak-anak kami!” Teriak pak Puji lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi...” potong Pak Darso. Belum selesai ia berbicara, puluhan orang itu telah menyeretnya dan membopongnya ke lapangan sepak bola di kampung itu. Malam itu adalah malam penghakiman untuk seorang TERORIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang terjadi sungguh di luar nalar manusia. Nampaknya orang-orang yang membawa Pak Darso telah mengalami trance atau kesurupan. Mereka bertindak sudah tidak layaknya manusia. Mereka menyeret Pak Darso di tanah dan sesampainya di lapangan, mereka menyiramkan minyak tanah di sekujur tubuh pak Darso. Tak ada yang bisa Pak Darso lakukan, kecuali menjerit dan berteriak seraya bermunajat lirih dalam hati, ”Ya Allah !!! Ada apa ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di belakangnya, menyaksikan dengan penuh pilu anak-anak dan istri Pak Darso. Mereka menjerit histeris melihat pemimpin mereka diperlakuakan layaknya binatang .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tibalah saat yang paling memilukan pada malam itu. Pak Puji mengeluarkan sekotak korek api kayu dan mulai menyalakannya, dengan perlahan ia melemparkan 3 batang korek api ke sekujur tubuh ringkih Pak Darso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api membumbung tinggi. Malam itu adalah malam penghakiman bagi seorang manusia yang di sangka teroris Malam itu seorang anak manusia diperlakukan layaknya ayam yang terkena virus flu burung.Dibakar. Bau sangit daging manusia menyeruak di kegelapan malam. Memilukan hati, megoyak jiwa, merobek nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tubuh Pak Darso menggelinjang kepanasan. Ia berguling kesana-kemari untuk memadamkan api di sekujur tubuhnya. Tapi percuma, api telah  terlanjur memakan dirinya. Selang 3 menit kemudian, tubuh Pak Darso tidak lagi bergerak. Ia diam. Api ciptaan Tuhan telah menghanguskan dirinya dan membawanya pergi dari dunia yang fana ini.  Orang-orang yang tengah kesurupan itu seketika diam. Mereka terpaku memandangi tubuh gosong Pak Darso, dan mereka tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Tak jelas mengapa. Nampaknya mereka mulai menyadari apa yang telah mereka perbuat. Sekejap kemudian mereka membubarkan diri dan hilang dalam pekatnya malam itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adinda mematung. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa kejamnya manusia. Ia menjadi saksi dari kematian orang yang amat dicintainya. Sementara itu, Bu Lastri dengan menggendong Santi dan Sinta, anak kembarnya yang berusia 11 bulan, berlari menuju tubuh suaminya yang telah gosong sambil berteriak histeris.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Abi !!!! Abi !!! Abi !!!......Abi !!! Abi !!! Bangun Abi !! Apa salahmu Abi? Apa salahmu?” Pekik histeris Bu lastri memecah keheningan malam itu ditambah jerit menyayat hati dari dua bayi mungil Sinta dan Santi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adinda masih terdiam. Ia bingung. Ia bingung dengan semua yang terjadi. Yang ada di pikirannya adalah saat dimana ayahnya membacakan dongeng Malin Kundang untuk dirinya dan kedua adiknya serta saat dimana ayahnya mencium hangat kening Adinda dan adiknya. Ia tak percaya kalau orang yang selalu menjadi tempat bersandar dan mengeluh serta bercengkrama dan bercanda ini telah tiada. Ia tak percaya kalau Abi tercintanya telah meninggalkan ia selamanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang akan membacakan dongeng untuk Dinda, Sinta dan Santi? Siapa yang akan mencium kening Dinda sebelum tidur? Siapa yang akan menceritakan kisah-kisah Nabi kepada Dinda? Siapa yang mengajari Dinda mengaji?” Pikiran-pikiran itu terus membayang di benak Adinda. Tak terasa, sebulir air mata menetes di pipinya.Air mata itu terasa sangat berat untuk menyusuri halusnya pipi Dinda. Disusul air mata-air mata berikutnya. Kini pipi Adinda telah di banjiri Air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinda...kamu kenapa sayang?”tanya Bundanya.&lt;br /&gt;“Eh,,gak apa apa bunda. Tadi mata Dinda kemasukan debu. He he he…..”Jawab Dinda seraya menyeka air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu rindu sama Abi ya?” tanya Bundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedikit Bunda, tapi udah gak lagi kok. Bunda, aku pergi ke dapur dulu ya. Kayaknya nasinya udah mateng tuh.” Jawab Adinda seraya berlari ke dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bundanya menyadari bahwa, anak perempuannya itu masih merindukan Abinya. Tak terasa sebulir air mata membasahi pipinya. Namun dengan segera ia menyekanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam ini adalah malam ke- 40 kepergian Pak Darso. Rencanaya mereka akan mengadakan pengajian di gubuk kecil mereka. Sedari pagi, Bu Lastri sudah repot berbelanja ke pasar untuk menyiapkan makanan berkat untuk para undangan yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Din, nitip Sinta sama Santi dulu ya. Bunda mau belanja ke pasar buat 40 harian Abi mu. ” Kata Bu Lastri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siap Bunda ! Sinta sama Santi aman di tangan Dinda. Dinda akan ngemong Sinta dan Santi dengan baik. He he he …” kata Dinda tegas sembari tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam harinya, acara 40 harian Pak Darso dimulai. Undangan yang hadir cukup banyak, sampai-sampai para undangan duduk di luar gubuk yang ditempati Adinda. Malam itu sungguh syahdu, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an di lantukan, Doa yang teramat khusyuk di sematkan kepada almarhum. Pada pukul 21.00 acara selesai. Bu Lastri dengan dibantu oleh beberapa undangan membersihkan rumah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Bunda, kenapa Abi dibakar orang?” tanya Dinda kepada Bundanya ketika akan beranjak ke peraduan setelah selesai merapihkan jamuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bundanya kaget bukan kepalang. “Eh,,,kenapa Dinda tanya hal itu, sayang?” tanya Bundanya balik kepada buah hatinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinda bingung, bunda. Abi kan orang baik, tapi kenapa dia dibakar sama orang? Apa salah Abi, bunda?” desak Adinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang.., ” patah-patah Bundanya menjawab. “Abi kamu itu orang baik. Dia orang yang soleh tapi banyak orang yang fitnah dia. Sayang,ini tanda cinta Allah untuk Abi.” Jawab Bundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kok bisa Bunda...? Kalau Allah sayang, kenapa Abi dibakar? Abi kasian, bunda!! Enggak Ada lagi yang bacain dongeng buat Dinda. Enggak ada lagi yang cium kening Dinda saat Dinda tidur. Gak ada lagi yang......” Belum selesai Dinda berbicara, Bundanya langsung mendekap dan memeluknya. Dinda pun menangis sesunggukan. Kali ini dia tidak berbohong pada ibunya. Dia menangis bukan karena ada debu yang hinggap di matanya, tapi karena kerinduaan dirinya yang teramat mendalam kepada Ayah yang amat dicintainya itu.Di umurnya yang kesepuluh, Dinda telah mengalami cobaan berat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sayang....Allah sayang sama Abi dan Dinda, itulah cara Allah meningkatkan derajat hambanya yang saleh. Dinda, bunda yakin, Abi kamu sekarang sedang bahagia di alam baka sana. Beliau akan selalu tersenyum kepada kita. Dinda, Abi kamu sebenarnya tidak pernah pergi. Dia selalu ada sini.” Kata Bundanya sembari menunjuk dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sayang, yakinlah bahwa Allah itu selalu memberi yang terbaik kepada hambanya. Apalagi kamu anak yang saleh. Dinda sayang, Abi kamu akan selalu bersama kita, dia akan abadi di hati kita. Ia punya tempat tersendiri di hati kamu yang suci itu, sayang.Ia ada disana. Makanya, setiap shalat kamu berdoa ya sama Allah supaya Abi kamu bahagia di sana,, ya sayang.” Ujar Bundanya bijak. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Bunda.... ” Ujar Adinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, sayang...” Bunda menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda,,semalam aku mimpi bertemu Abi. Abi mukanya sangat cerah. Beliau tersenyum. Katanya, salam buat Bunda sama adik-adik.” Ujar Dinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dinda...sayang...” Bunda  tak dapat melanjutkan kata-katanya. Tak terasa air mata wanita  itu membasahi pipi dan bajunya.Kali ini bunda tidak dapat menahan perasaan yang bergemuruh di hatinya. Sebenarnya sedari tadi ia ingin menumpahkan lelehan air matanya. Tapi selalu bisa ditahan. Namun kali ini rasanya air mata itu sendiri yang keluar dari mata lentiknya.Terasa kerinduan yang amat mendalam kepada laki-laki yang amat dicintainya itu. Didekapnya Adinda semakin erat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dinda..sampaikan ke Abi, Waalaikum salam. Salam sayang dari Bunda ya…” kata Bunda  sembari sesunggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iya Bunda. Kata Abi, beliau janji mau ketemu Bunda dan Dinda setiap malam dan mau ngajak Dinda main dan bacain dongeng lagi buat Dinda.” Seulas senyum terlihat dari bibir mungil Adinda.  Anak berusia 10 tahun yang begitu tegar ditinggal Abi tercintanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Iya Sayang...nanti  malam Bunda juga mau ketemu sama Abi...” Ujar Bundanya menahan isak tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bunda..aku ngantuk. Aku mau buru-buru ketemu Abi. Bunda..kita tidur yuk!” Kata Dinda sembari tersenyum simpul,walaupun masih bercucuran air mata dari mata mungilnya. Kali ini Adinda menangis merindukan Abinya, bermain bersama Abinya dan juga mencium kening Abinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam itu keluarga kecil yangt telah ditinggal pergi Sinar kehidupannya menangis. Menangis untuk bersyukur kepada Penciptanya atas segala Rahmat dan kasih sayang yang telah dilimpahkan kepada keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secercah cahaya menerangi kesucian interaksi anak dan Ibu di malam itu. Malam itu seulas senyum terpancar dari bibir mungil Adinda. Ia bertekad nanti malam ia akan bermain bersama Abinya tercinta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-45134765780565517?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/45134765780565517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=45134765780565517&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/45134765780565517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/45134765780565517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/03/balada-resah-adinda-karya-prasidya.html' title='Balada Resah Adinda (karya  Prasidya Ilvan Yahdi)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-4288570621503363284</id><published>2010-02-20T18:38:00.000+07:00</published><updated>2010-02-20T19:48:18.017+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Saat Dinding pun Mencela (oleh : NIRMALA FAUZIA)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prakata : Cerpen karya Nirmala Fauzia ini diadaptasi dari cerpen“Bukan Perempuan” karya Syarif Hidayatullah. Sudah sangat bagus. Tetapi, alangkah baiknya bila cerpen yang dikirim adalah benar-benar murni karya Nirmala sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kisah cerpen ini benar-benar penuh kejutan. Saya tak menyangka akhirnya seperti itu. Kalau kalian penasaran, silakan baca sampai tuntas. Dari cerpen ini, kalian bisa belajar bagaimana menulis cerpen yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah sudah berapa lama aku berdiri di sini. Hanya tegak menanti, memperhatikan segala tingkah laku anak-anak lelaki yang mulai beringas terbakar emosi. Pagi ini saja ada seorang bocah yang didorong keras ke badanku. Ia dipaksa menggantikan hukuman mencangkul lahan utara oleh si kepala botak itu. Kasihan, kaosnya yang sudah kedodoran tampaknya akan semakin melar sebab kerahnya dipuntir dan diangkat hingga membuat seluruh badannya—yang hanya setinggi kaca westafel—ikut terangkat. Kulit hitam kakinya yang membungkus langsung si tulang itu pun hanya bisa menjejak-jejak, meninggalkan bekas kehitaman di badanku. Ugh.. menyebalkan!! Tapi, anak berambut keriting ini sungguh malang. Ia hanya bisa mengangguk dengan tenaga yang tersisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I..Iya, Bang. Bakal Yono kerjain..”, sahut si Keriting dengan lemah dan ketakutan. Ini sudah kali ketiga dia dipaksa untuk menggantikan tugas si Botak tak tahu malu itu. Tentu saja aku tahu, ia selalu melakukan tindakan tak terpuji itu di sini, di areaku, komplek kamar mandi paling pojok di lapas khusus anak lelaki ini. Kamar mandi yang terkenal jorok dan angker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruk..!! Si Keriting dijatuhkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Haha.. baguslah. Ingat, jangan sampai ketahuan kalau aku menyuruhmu seperti ini. Nanti siang, jam 1. Aku tunggu kau di lahan utara. Jangan kira kau bisa berleha-leha di sini. Aku akan mengawasimu!” Si Botak pun menjauh dengan langkah yang pongah. Saat ia tiba di pintu depan, tiba-tiba ia berbalik dan berlari menuju bocah malang yang masih terduduk bersandar di badanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bugh..!! Setitik darah dari hidung si Keriting menodai cat krem kusamku. Ooh.. tidak.. apa yang dia lakukan? Sungguh tak berperikemanusiaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu agar kau selalu ingat!” Kemudian dia berjalan cepat keluar tanpa rasa bersalah sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kulihat anak itu, sendirian, menangis. Perlahan ia mengusap hidungnya, ia pun mengernyit. Entah tulang hidungnya patah atau tidak. Sesaat ia mencoba untuk tegar, berdiri dan keluar. Namun apa daya, kedua kakinya gemetar begitu hebat hinga ia terjatuh lagi. Pengalaman seperti ini sungguh tak bagus bagi kesehatan psikis seorang anak berumur 12 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak adil. Di lapas seperti ini, berlakulah hukum rimba. Walau tak sekejam di penjara-penjara Indonesia yang lain, namun tetap saja ada orang-orang seperti si Botak yang selalu mem-bully orang lemah lainnya untuk kesenangan diri sendiri. Si Keriting pun menangis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krieek.. terdengar suara daun pintu yang terbuka dari salah satu bilik kamar mandi. Dari balik pintu tampaklah seorang remaja jangkung yang mencoba keluar dengan perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yon, baek-baek aja 'kan?” ucap si Jangkung hati-hati seraya berjalan ke arahku. Raut wajahnya seketika terkesiap saat melihat ada noda darah baru yang membekas di tubuhku. Ia segera menunduk dan memegang wajah si Keriting dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, hidung kamu...” Dan hanya sedetik, tubuh kurus itu sudah tertarik masuk dalam dekapan si Jangkung. Anak itu merangsek maju agar lebih lekat, dan si Jangkung pun berkata, “Sudahlah, tenang saja, Yon. Aku nggak bakal nyakitin kamu kayak si botak gemblung itu. Tenang saja, Dek. Aku 'kan sudah pernah bilang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ragu, ia mulai mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut keriting bocah itu. Si Jangkung  tersenyum, dan ia melakukannya lagi dan lagi. Si Keriting tak melakukan apa-apa. Ia hanya membalas memegang erat tangan si Jangkung yang bebas. Hidungnya yang mulai memerah dan bengkak itu membuatnya pusing. Belum pernah seumur hidupnya ia ditinju orang dan melukai hidungnya. Tinjuan paling banter yang diterimanya hanya membuat mulutnya berdarah karena dikeroyok orang saat ia mencoba merebut tas merah seorang ibu di pasar dulu—kejahatan kriminal pertamanya, sekaligus yang menjebloskannya masuk lapas ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengerti apa yang mereka berdua lakukan. Tapi aku kenal ekspresi wajah mereka—yang jujur, aku tidak suka—saat saling berdekatan. Terang saja aku hapal, sudah berkali-kali aku melihat air muka yang tak enak seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat siang pada waktu itu, kurang lebih dua bulan yang lalu saat aku sedang asyik memperhatikan seekor laba-laba yang sedang memperlebar area sarangnya,  tiba-tiba pintu depan kamar mandi terbuka dengan suara keras, diikuti dengan terjatuhnya seorang anak laki-laki yang berkulit sawo sangat matang yang didorong dari luar. Saking mengejutkannya, tiga ekor kecoa sampai meloncat mundur, dan seseorang yang ada di bilik kamar mandi nomor tiga di sebelah kanan dari ujung pintu juga melonjak kaget. Itu dia si Jangkung, sedang merenung. Tanpa bersuara si jangkung membuka sedikit celah pintu dan mengintip ke arah luar sana. Si Keriting tampak pucat pasi, bibirnya memutih. Ia berusaha untuk mundur menjauhi si Botak—yang saat itu masih berambut, meski cepak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Bang. Saya beneran nggak tahu apa-apa. Saya masih anak baru,” rintih si Keriting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha.. justru itu. Makanya, kalo masih baru tuh nggak usah ngesok! Pake tuh mata! Nabrak orang seenaknya, lu kira gua tembok? Hah?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, Bang. Ampun. Beneran deh, Bang. Tolong, jangan pukul saya. Abang boleh minta apa aja deh, Bang. Tapi ampuun..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Botak menyeringai. Tangannya yang semula memegangi kerah kaos bocah itu dengan kuat mulai mengendur. “Hmm.. boleh juga. Oke, mulai sekarang lu harus ngegantiin gua kalo gua kena hukuman.” Si Botak pun mendorongnya ke samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggir, gua mau lewat. Awas aja kalo lu sampai kabur. Inget itu!!” Si Botak berlalu setelah menekan kuat-kuat telunjuk jarinya ke jidat anak itu. Si pembuat masalah telah pergi. Namun, sang korban hanya bisa berdiri terpaku, menatap nanar ke arah pintu. Perlahan ia berjalan ke salah satu kran di sisi kiriku. Ia mencoba untuk mengeluarkan air dari sana, namun gagal. Maklumlah kamar mandi ini sudah tak pernah lagi dipakai kecuali kalau terpaksa. Ia pun hanya menarik napas dan jatuh terduduk kemudian bersandar di badanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Jangkung merasa iba. Saat menyaksikannya aku dapat merasakan kalau ia menahan napas agak lama saat peristiwa itu berlangsung. Ketika si Botak pergi, perlahan ia membuka pintu kamar mandi. Ia berjalan mendekati si Keriting kemudian duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup di lapas memang berat. Sudahlah, jangan kau tangisi. Tak berguna. Hadapi saja dengan lapang,” ujar si Jangkung tanpa menggurui. Nadanya begitu hangat dan bersahabat. Si Keriting hanya mengangkat kepala dan menengok padanya. Diam. Sebulir air mata kembali menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah. Berhentilah menangis,” si Jangkung mengusap air mata anak itu dan tersenyum, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Ujo. Kau?” Percakapan pun berlanjut. Memang si Jangkung begitu ramah sehingga si Keriting tak lagi menangis, bahkan ia bisa tertawa. Aku dapat merasakan kehangatan di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu terharu saat melihat baiknya hati si Jangkung. Untung saja masih ada di dunia ini orang yang peduli pada sesama. Kehangatan itu sungguh jarang aku rasakan. Namun, entah indera perasaku mulai tumpul atau mengapa, tapi auranya terasa berbeda saat mereka bertemu untuk keenam kalinya, ketujuh, dan  seterusnya. Mereka sering bertemu di sini, tempat favorit si Jangkung, pojok lorong kamar mandi paling angker  di lapas. Aku mulai menghapal polanya, tiap Jum'at seusai makan siang. Namun siang itu aku benar-benar tak menduganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si  Jangkung telah datang dengan sarung bekas shalat Jum'at yang masih dipakainya. Wajahnya tampak tak sabar, berulang kali ia mondar-mandir di depan bilik-bilik kamar mandi. Entah mengapa sekarang ia begitu menanti-nanti kedatangan sahabat dekatnya itu. Pintu pun terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yono..!!” Seketika si Jangkung berlari, memeluk tubuh kurus itu. Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yon, kamu diapain lagi sama si Botak? Kata anak-anak, kaki kamu luka. Benar ya??” tanya si Jangkung dengan tatapan yang begitu khawatir. Tangannya mulai meraba kaki si Keriting, tapi anak itu menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, enggak kok. Itu nggak bener.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan bohong, aku tadi lihat kamu agak pincang.” Dengan memaksa, si Jangkung benar-benar menggulung celana si Keriting ke atas dan tampaklah luka lebam kebiru-biruan di kedua tulang keringnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yono...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiks.. hiks.. Aku nggak tahu, Kak. Tahu-tahu dia datang dengan kumpulannya dan dia.. dia..” Belum sempat si Keriting menyelesaikan perkataannya, si Jangkung mendekapnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, jangan diceritakan lagi kalau itu membuatmu bersedih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata mereka saling bertatapan. Ada cahaya aneh di sana yang tak kukenali. Atmosfer pun berubah. Hangat namun terlarang. Mulai saat itu, aku yakin hubungan mereka bukan sekedar sahabat karib. Tidak, lebih dari itu. Jauh. Dan itu membuatku merasa mual.&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian, kedua orang itu kembali bertemu di bilik favorit mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, besok aku udah bebas. Masa tahananku udah selesai. Tapi, tapi aku nggak benar-benar ingin keluar..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Jangkung tersenyum, “Ya ampun, yakin? Tapi kamu masih muda. Masih bisa nyari pekerjaan, tapi inget, jangan jadi jambret lagi. Cari kerjaan yang halal. ‘Kan bisa jadi loper koran, tukang ngepel, atau ngejualin tahu Cak Ali, yang kamu ceritain itu lho. Lumayan ‘kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I.. iya.. tapi, aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi di luar sana. Tapi di sini… Di sini aku punya..” Belum selesai si Keriting berkata, ia sudah memeluk erat si Jangkung, “aku punya Kakak. Jangan tinggalin aku, Kak..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Jangkung hanya bisa menarik napas. “Yon, untuk terakhir kalinya.” Matanya menatap tajam ke arah si Keriting. Ada api yang berkobar di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa-apaan ini! Apa yang mereka lakukan? Oh Tuhan, mengapa Engkau ciptakan manusia dengan akal dan naluri bejat seperti itu. Bahkan binatang sekalipun tak akan pernah mau melakukan apa yang telah dilakukan oleh kaum Nabi Luth terdahulu. Hai, manusia! Sadarlah, bahwa itu hanya bisikan syetan yang sungguh menyesatkan. Tak malukah kalian saat dinding-dinding yang kau sebut benda tak bernyawa ini pun mencelamu? Sungguh mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                            ---000---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila, lu. Anak sekecil itu lu embat juga?? Emang dasar..!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh, tapi ‘kan gua nggak salah. Orang dianya juga mau. Daripada elu, cuma elu nya doang yang seneng, bisa nyalurin hobi mukul orang. Eh, dianya kesakitan. Makanya, kalo punya hobi tuh yang bisa bikin semua orang seneng..!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, ogah ya. Gua masih normal. Gini-gini cewek gua ada banyak di kampung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alah, bokis lu. Udahan ah. Yang penting perjanjian kita masih lanjut ‘kan? Biasa, lu yang milih korbannya dulu. Lu udah jago ‘kan milihnya. Pilih yang kira-kira masih lugu. Jadinya kita berdua bisa dapet bagian. Jangan kayak yang dulu tuh, cuma elu doang yang dapet, dianya malah sensi ama gua. Ya? Ntar kayak biasa, lu bawa ke pojokan sono. Oke, cuy?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diadaptasi dari cerpen “Bukan Perempuan” karya Syarif Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-4288570621503363284?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/4288570621503363284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=4288570621503363284&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4288570621503363284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4288570621503363284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/02/saat-dinding-pun-mencela-oleh-nirmala.html' title='Saat Dinding pun Mencela (oleh : NIRMALA FAUZIA)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-1680890297108295255</id><published>2010-02-16T14:29:00.000+07:00</published><updated>2010-02-16T14:30:08.991+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>YANG PERLU DITANYAKAN (JIKA CERPENMU DIMUAT)</title><content type='html'>Ide tulisan ini muncul karena dalam bulan ini saya mengalami hal yang tidak menyenangkan berkaitan dengan dimuatnya cerpen dan puisi saya di media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, ketika sedang mengecek saldo rekening di Bank, saya baru tahu ada honor cerpen masuk dari sebuah majalah remaja. Dan, ketika saya cek majalahnya di toko buku, edisi yang memuat karya saya sudah tak beredar lagi. Alhasil, saya harus telpon ke kantor redaksi majalah itu dan menanyakan apakah bisa membeli majalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, saya mendapat telpon dari staf redaksi majalah yang lain, yang memberitahukan bahwa puisi saya dimuat. Dengan sigap, saya langsung bertanya dimuat di edisi ke berapa. Setelah itu, saya cari majalah tersebut di toko buku dan lagi-lagi saya kecewa karena edisi majalah yang memuat karya saya sudah tak dijual lagi. Saya pun harus membeli langsung dari kantor redaksinya. Otomatis, harganya juga lebih mahal karena dikenakan ongkos kirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman tersebut diatas, maka saya sarankan apabila cerpen kalian dimuat maka  beberapa hal yang harus ditanyakan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Di edisi nomor berapa cerpen itu dimuat? Ini penting, agar kalian bisa segera mencari majalah tsb tanpa harus kehabisan. Karena, kadang-kadang pihak redaksi memberitahu karya kita dimuat setelah beberapa hari majalah terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Judul cerpen,terutama buat kalian yang sudah mengirimkan cerpen lebih dari satu ke kantor redaksi majalah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kalau ternyata, majalah yang memuat karyamu sudah tidak beredar lagi di toko buku/agen majalah, maka segera tanyakan bisakah membeli di kantor redaksinya. Berapa ongkos kirimnya? Kalau letak kantor redaksi dekat dengan rumahmu, kamu bisa langsung datang beli majalah itu. Tapi, kalau jauh..mungkin lebih baik dikirim. Lebih hemat ongkos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berapa besar honor yang akan kamu terima? Memang agak kurang sopan, tetapi&lt;br /&gt;      kalau kamu penasaran banget dengan jumlah honormu, ya..boleh saja nanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sekian tips dari saya. Semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-1680890297108295255?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/1680890297108295255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=1680890297108295255&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1680890297108295255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/1680890297108295255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/02/yang-perlu-ditanyakan-jika-cerpenmu.html' title='YANG PERLU DITANYAKAN (JIKA CERPENMU DIMUAT)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-3140496199368861521</id><published>2010-01-20T18:32:00.000+07:00</published><updated>2010-01-20T18:34:42.476+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Seremoni Burung Gereja oleh BOBBY PRIAMBODO</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakata : Cerpen kiriman dari   Bobby Priambodo    lumayan bagus. Hanya saja tidak ada konflik. Sebuah kisah penantian yang sia-sia tapi tak ada penjelasan kemana wanita yang ditunggu sang pria. Tapi dari sisi  pemilihan kata dan alur sudah bagus.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di menara kecil itu menunjukkan pukul sembilan. Masih tersisa dua jam tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Waktu yang lama, memang, tapi aku pikir ini sudah sepantasnya. Kursi taman yang kududuki ini pun terasa nyaman, sehingga tidak akan menjadi masalah yang berarti. Kursi ini tampaknya terbuat dari kayu jati yang kokoh, tak tergoyahkan. Akankah tekadku bersifat serupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat sekeliling.&lt;br /&gt;Taman ini sungguh sepi. Sunyi, hanya terlihat seorang pedagang roti yang mengayuh sepeda yang tersambung pada gerobak rotinya, bersimbah keringat. Padahal hari itu tidak terlalu panas. Saat hendak melewatiku, tukang roti itu tersenyum padaku. Senyum yang memberi semangat. Entah senyum apa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku tertuju kembali pada menara jam tadi. Masih dua jam lima belas menit lagi waktu yang ada. Waktu terasa berjalan begitu lama. Semenit bagaikan dua puluh tahun; tahun-tahun yang menyedihkan. Berapa kali sudah waktu berhasil membohongiku, memperdayaiku? Ratusan, ribuan kali bahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada malam itu. Malam dimana ia bilang ia akan membawaku ke teater tempat dipentaskannya drama oleh temanku. Tetapi malam itu ia tak datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepele? Mungkin. Rasakan hal itu dan lihat apa kata sepele masih bisa keluar. Setelah merasakan penyesalan itu. Setelah merasakan kekecewaan itu. Bukan, sepele bukanlah kata yang tepat. Terutama setelah melihat api meredup dimatanya; perubahan yang menandakan tenggelamnya perahu kepercayaan. Menara menunjukkan tinggal dua jam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor burung gereja hinggap di lenganku. Paruhnya mematuk-matuk kaus tangan berwarna belang hitam-putihku yang aku kenakan di kedua belah tangan, melahap rempah-rempah kue yang tampaknya terselip di sela bulu-bulunya ketika aku makan kue itu pagi tadi. Aku hanya menatapnya diam, berusaha tak menggerakkan lenganku yang mungkin akan membuatnya takut dan terbang. Aku tak ingin ia pergi. Burung itu masih mematuki kaus tanganku. Ya, kaus tangan ini. Kaus tangan berwarna belang yang dulu kau berikan ini terasa begitu hangat di tanganku. Kaus tangan yang kau bilang dulu kau beli dari honor menyanyimu yang pertama ini telah aku rawat dengan baik, dan kini aku pakai lagi demi pertemuan penting ini—atau, setidaknya menurutku. Aku tak tahu apa kata itu berarti sesuatu untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dari kursi taman itu dan berjalan mengelilinginya, sekadar melemaskan kaki. Udara belahan bumi yang menjelang siang itu sangat menyegarkan—dan disaat bersamaan, menyakitkan. Tubuhku gemetar. Aku kembali duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, seorang gadis kecil menghampiriku. Ia menawarkan permennya padaku. Aku menatapnya sejenak dan berkata, “Helen?”&lt;br /&gt;Gadis itu berkata ia tak kenal orang yang aku sebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala. Bagaimana mungkin aku bisa keliru? Ia tentu saja bukan Helen. Helen telah lama pergi, tak mungkin tiba-tiba ia muncul begitu saja di sini, di taman yang mungkin belum pernah ia injak sama sekali. Aku merasakan jantungku berdegup. Kepergian ke Ohio itu terasa sudah lama sekali. Ya, sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menengok. Gadis itu menjulurkan tangannya yang menggenggam sebuah permen berwarna kuning-lemon kepadaku. Aku tersenyum dan menerimanya. Gadis itu tertawa dan mengambil tempat di kursi taman itu untuk duduk, tepat di sebelahku. Ia mulai bercerita panjang lebar tentang hidupnya. Dimana ia tinggal, tentang kedua orang tuanya, tentang sekolahnya, teman-temannya. Aku mendengarkan tanpa sedikitpun berniat untuk memotong pembicaraannya. Ia terus bercerita selama hampir setengah jam. Tanpa merasa lelah, dan wajahnya selalu memancarkan sinar penuh keceriaan dan harapan. Waktu di menara jam di tengah taman itu menunjukkan pukul sepuluh ketika aku sadar bahwa aku rindu Helen. Ya, gadis kecil yang lahir dari rahim sama denganku, yang juga telah merasakan pahitnya hidup ketika kami masih bersama dulu. Bagaimana kabarnya ya, sekarang? Apakah ia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa? Apakah ia telah menemukan pasangan hidupnya? Aku ingat beberapa bulan yang lalu Helen pernah mengirimkan sebuah surat kepadaku. Surat yang hanya mencantumkan tulisan tentangnya yang telah lulus sekolah menengah. Hampir enam tahun ia pergi dan kabar yang kudengar darinya hanya sekali itu. Aku tidak pernah sempat membalas surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak sedang menunggu seseorang?”&lt;br /&gt;Lagi-lagi, kata-kata gadis di sampingku ini menyadarkanku dari lamunan. Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Ya. Siapa yang aku tunggu? Apakah aku mengenalnya? Mungkin aku mengenalnya, dulu, tapi tampaknya semua itu hanya mimpi, hanya khayalan yang biasa mengisi pikiran di siang hari. Aku menghembuskan nafas panjang; gadis kecil itu menatapku ketakutan, takut telah mengatakan sesuatu yang menyinggungku. Aku tersenyum untuk menenangkannya. Tak lama kemudian ia sudah tersenyum kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami hanya duduk diam. Aku, pria berusia dua puluh tiga, celana jeans, dan kaus tangan hitam-putih, bersama dengan gadis kecil yang duduk mengayun-ayunkan kakinya. Hal yang tidak wajar sebetulnya, karena seharusnya aku berada bersama orang-orang seumuranku dan ia dengan anak-anak lainnya. Tapi tampaknya persamaan telah mempersatukan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, pedagang roti yang tadi datang lagi, dan gadis itu menghampirinya untuk membeli roti. Pedagang itu juga menawarkan rotinya kepadaku, tapi aku hanya menggeleng. Aku sedang tidak bernafsu untuk mengisi perutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagang itu kemudian mengayuh sepedanya pergi. Ingatanku kembali kepada dirimu. Ya, aku ingat sekarang. Kau adalah perempuan cantik, ya. Kau adalah orang yang pernah mengisi hidupku. Aku teringat lagi saat kita berada di café. Dua anak muda, diselimuti cinta, duduk berseberangan di café sambil meminum kopi cokelat dingin, mengobrol tentang hidup. Obrolan yang terasa begitu nyata, begitu menyenangkan, begitu… hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil di sebelahku memotong kecil-kecil rotinya dan menaburkannya di tanah. Tujuannya menjadi jelas tak lama setelahnya; burung-burung gereja turun dan menikmati pemberian dari gadis baik hati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, kau bertanya padaku apa pandanganku terhadap masa depan. Aku berkata masa depan adalah tujuan, obyektif—target yang harus kita penuhi. Kemudian aku balik menanyakan pertanyaan yang sama. Kau bilang, waktu itu, masa depan bagimu adalah kebahagiaan. Jawaban yang membuat kita berdua sama-sama terpuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu bersenandung sambil memperhatikan hasil perbuatannya tadi. Ketika potongan-potongan roti yang ada di tanah sudah hampir habis, ia memotong-motong rotinya lagi dan kali ini menaruhnya di telapaknya. Ia menaruh telapak tangannya dekat dengan tanah sehingga memungkinkan burung-burung mungil itu untuk melahapnya. Gadis itu tertawa gembira ketika burung-burung gereja itu mulai mematuk-matuk tangannya. Sungguh pemandangan yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh ke arah menara jam di pusat taman. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dan kau masih belum ada di sini. Aku menatap jam itu satu kali, dua kali, hingga ketiga kalinya untuk memastikan bahwa waktunya benar. Dan ternyata memang ya. Tapi kau tidak ada di sini. Apakah waktu membohongi aku lagi? Apa waktu membohongimu lagi? Apa kau membohongiku lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhempas kembali ke kursi taman. Waktu sekarang berlalu semakin cepat, seakan Tuhan telah menurunkan tangan-Nya untuk mempercepat laju waktu yang pada kenyataannya sudah sangat sedikit ini. Sepuluh menit berlalu. Tiga puluh menit. Satu jam. Tiga jam. Roti di tangan gadis kecil di sebelahku sudah habis, dan burung-burung gereja itu beterbangan meninggalkan kami berdua di kursi taman kayu yang panjang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Tampaknya kau dan waktu bekerja sama untuk memperdayaiku. Dan aku lemah. Aku terperdaya. Aku sakit. Aku teringat kembali kenangan-kenangan yang dulu pernah kau berikan kepadaku, yang sekarang menimbulkan sebuah pertanyaan: apakah semua itu nyata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, kekecewaan. Seperti yang sudah-sudah. Tapi sejujurnya, aku tak heran. Mengapa? Karena aku tahu kau akan melupakan aku. Aku tahu kau akan meninggalkan aku bersama dengan segala kata-katamu tentang masa depan itu. Tapi kenapa, walaupun aku tahu semua itu, aku masih menunggumu? Kenapa, setelah semua itu, aku rela datang dua jam lebih awal untuk menantimu? Saat ini, aku tak punya jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal ada aku, sang penunggu lemah yang terperdaya, duduk di taman bersama seorang gadis yang cerianya seolah-olah tak akan pernah bisa terhapus. Seandainya hidupku seindah kehidupannya. Tapi takdir membawaku ke sini, dan aku tak bisa melakukan apapun kecuali menjadi kuat dan menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lima jam berlalu dari waktu yang kau janjikan. Gadis itu meminta izin padaku untuk pulang. Aku mengucapkan terima kasih, yang dibalasnya dengan sebuah kecupan di pipiku dan ucapan jangan menyerah yang ia bisikkan di telingaku. Ia kemudian berlari meninggalkanku, membiarkan rambut panjangnya terlempar kesana-kemari selama ia menjauh. Hatiku sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, aku memutuskan akan menyusul Helen ke Ohio. Dan saat itu, aku bangkit dari kursi taman itu. Tak pernah kembali lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-3140496199368861521?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/3140496199368861521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=3140496199368861521&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3140496199368861521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3140496199368861521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2010/01/seremoni-burung-gereja-oleh-bobby.html' title='Seremoni Burung Gereja oleh BOBBY PRIAMBODO'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-4227607940667410116</id><published>2009-12-11T11:48:00.003+07:00</published><updated>2009-12-11T12:07:40.630+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>JEJAK TUBUH karya Fannie Yulandari</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Prakata : Cerpen ini kiriman dari Fannie Yulandari (namanya mirip nih). Setelah saya baca-baca, kayaknya ini bukan cerpen deh. Mungkin semacam prosa. Tapi secara keseluruhan, dari sisi bahasa, penggunaan tanda baca, huruf besar,dll sudah oke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saran saya buat Fannie : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau kamu mau buat prosa ini menjadi cerpen bisa saja kok. Tinggal menambah konflik dan perjelas para tokohnya. Keliatannya kamu punya bakat menulis karya sastra yang lebih berat. Bukan sekedar cerpen ala chicklit/teenlit. Perlu dikembangkan dan diasah. Saran saya, kamu pelajari cerpen-cerpen di Harian Kompas Minggu dan Majalah Horison. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, para murid tercinta, mari kita simak tulisan Fannie Yulandari.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aku benci melihat alur jejak orang lain di tubuhmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau bisa melihatnya?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa aku tak melihatnya? Jejak itu tertera jelas di mataku. Tidak, itu bukan jejak diriku yang haus jelajahi tubuhmu. Melainkan alur tertinggalkan oleh sosok asing. Partikel diriku musnah tertindas renik sesuatu yang lain. Keberadaannya lahap rindu tumbuh terlambat. Jejakku belum lagi mendingin ketika kau sambut kehangatan lain. Sementara beku masih mencengkramku erat.  Tak ada kau yang nyalakan gairah demikian panas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci mencium aroma asing di tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wangi apa yang kau cium?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan aroma cinta kita yang kuhirup dari tubuhmu. Melainkan jarak begitu pekat. Terasa kepahitan akan waktu berbeda yang pisahkan kita. Saat ini hanya kucium sayup wangi keberadaan asing. Tak ada lagi gelora nafas berpadu hantarkan perpenuhan. Hanya samar euforia tertinggal. Bersama dekap asa yang terpisah. Masa terlewat begitu cepat, tenggelamkan kau dalam wangi berbeda yang tak kusuka. Dan aku masih saja mencari sisa keharuman tubuhmu dalam mimpiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci mengecap rasa yang lain di tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rasa apa yang kau rindu?” tanyamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kau rasa kesemuan mengambang di udara setelah usai percintaanmu? Tidakkah kau rindu manis percampuran kau dan aku? Kala tubuh kita masih menari, rasa dirimu adalah ambrosia pemacu hasrat. Berebut kuasai benak dengan berbagai sensasi menghanyutkan. Namun hanya getir yang kusesap keberadaannya kini. Masih dapatkah kau kecap rasa diriku, ketika beragam rasa berlomba serbu inderamu?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci merasakan sentuhan tak bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Makna apa yang kau cari?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterikatan kita sudah lerai. Namun makna masih mengendap dalam jiwa. Kusimpan baik-baik fragmen kisah kita. Kini ia sudah reda memagut keberadaan. Namun lembut belaimu tetap terkenang. Menjadi peneman sepi kala lelap sendiri. Tak lagi kau tinggalkan lekuk di bantal di sampingku. Pun kecupan sarat oleh cinta. Hanya ada deretan kenikmatan kosong yang kau kejar tak tentu arah. Sungguh, kekosongan ini tak akan bisa terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci melihat tatapan tak berjiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jiwa siapa yang ingin kau lihat?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dulu dapat kulihat pantulan jiwamu? Berkilau lembut dalam binar matamu. Terjerat aku dalam pesonanya. Pandangan itu selalu temani kebersamaan kita. Bersama hentakan rasa demikian tinggi. Merebut akal dan terbitkan candu.  Dalam deras percumbuan, dapatkah kau rasa jiwa kita bercinta kala tatap berpadu? Getar-getar indah merasuk kalbu. Sekarang jiwa siapa yang tercermin di matamu, ketika kau hanyut dalam episode-episode sesaatmu. Aku merindu jiwamu, tahukah kau? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci terperangkap di antara setengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu apa yang kau mau?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada. Karena usai telah miliki kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi aku masih mencintaimu.” katamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;Bukankah kau bilang aku memiliki hatimu, bukan tubuhmu. &lt;br /&gt;Lalu apa arti cinta itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(28 Desember 2007 – 01.59 PM)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-4227607940667410116?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/4227607940667410116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=4227607940667410116&amp;isPopup=true' title='23 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4227607940667410116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4227607940667410116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/12/jejak-tubuh-karya-fannie-yulandari.html' title='JEJAK TUBUH karya Fannie Yulandari'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-4222123368650782695</id><published>2009-12-07T11:23:00.003+07:00</published><updated>2009-12-07T11:29:44.459+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BEDAH CERPEN'/><title type='text'>BEDAH CERPEN KARYA LOVELI ONELIA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Setelah memosting cerpen karya Loveli Onelia, kini saatnya membedah cerpen tersebut. Yuk simak, apa saja yang perlu diperbaiki dari cerpen tersebut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya rada bingung ketika membaca cerpen ini, karena :&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;1.adanya tokoh Mutia dan Luna. Padahal, setelah membaca sampai habis, saya hanya menemukan dua tokoh. Luna dan Leo. Mungkin, penulis salah nulis namanya. Mau menulis Luna, ditulis Mutia. Atau, mungkin juga semula berniat memakai nama Mutia, lalu diganti menjadi Luna. Seharusnya, setelah cerpen selesai dibuat, dibaca ulang dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Lagi-lagi masalah tanda baca yang sering salah pemakaiannya. Saya tidak menjelaskan lebih lanjut karena bisa dipelajari dari postingan sebelumnya   mengenai penggunaaan tanda baca.  Untuk mengetahui penggunaan tanda baca, alangkah baiknya calon penulis sering membaca karya orang lain. Lagipula, waktu sekolah sudah pernah diajarkan mengenai penggunaan tanda baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Penggunaan huruf besar. Setiap nama orang harus menggunakan huruf besar. Hal sepele seperti ini tidak boleh dilupakan. Ini adalah dasar dari ilmu menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.dalam cerpen ini ada kalimat sbb :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ditambah lagi dengan temannya yang selalu ingin menyakiti perasaan Luna. Ia merasa sudah tidak ada lagi cinta didalam kehidupanya. Cinta teman, orangtua, sahabat, maupun kekasih, semua lenyap didalam kesedihanya. Yang ia dapatkan hanyalah kesedihan, kemarahan, dan kebencian.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kalimat itu, kita tahu Luna tidak pernah merasakan cinta. Tetapi, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Pembaca hanya bisa menebak-nebak. Seharusnya, diceritakan sedikit apa yang melenyapkan cinta dari teman,orang tua dan sahabat serta kekasih Luna? Apakah Luna pernah patah hati? Dikecewakan teman dan sahabatnya? Apakah ortunya tidak memerhatikan dia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, Loveli….kamu sudah tahu kan apa kelemahan di cerpenmu? Saya tunggu cerpen kamu berikutnya lho. Jangan bosan berlatih menulis dan banyak membaca cerpen karya penulis lain  ya. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-4222123368650782695?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/4222123368650782695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=4222123368650782695&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4222123368650782695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4222123368650782695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/12/bedah-cerpen-karya-loveli-onelia.html' title='BEDAH CERPEN KARYA LOVELI ONELIA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-8244932517871559221</id><published>2009-11-25T11:20:00.002+07:00</published><updated>2009-11-25T11:26:39.599+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Di  Persahabatan  Kutemukan  Arti  Cinta,  Oleh  :  loveli onelia</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakata : berikut ini adalah cerpen yang dikirim oleh Loveli Onelia. Sudah saya rubah sedikit terutama di bagian tanda baca dan pemakaian huruf besar. Inti cerita tidak dirubah. Dalam postingan berikut, akan saya uraikan saran dan kritik untuk cerpen ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  melihat  tajam  wajah  langit  yang  berhiaskan  bulan  dan  bintang  disanalah terdapat  secercah  harapan  bagi  seorang  gadis  yang berdiri  didekat jendela  sembari   menikmati  indah  dan  sejuknya  malam  hari.  Keadaan  itulah  yang  mungkin  akan  menghapuskan  sejenak  dari  liku-liku  kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  dia  kehidupan  yang  sedang  ia  hadapi  adalah  kehidupan  yang  sangat  membosankan,   karena   kehidupan  yang  ia  jalani  dari  hari  ke  hari  tak  ada  perubahan.  Dia bingung  apalagi  yang  harus  ia  jalani  untuk  mengisi  kehidupanya  yang  kosong  itu,    entahlah  mungkin  hanya  waktu  yang  dapat  menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari  berjalan  seperti  biasanya.  Seseorang  bangun  untuk  menjalankan  aktivitas  sehari-hari.  Begitu  pula  dengan  Luna.  Dia  bangun  dari  tidurnya  untuk  menjalankan  aktivitas  yang membosankan   itu.  Seperti  biasa  dia berangkat  ke   sekolah  dengan  diiringi  suara  keributan didalam  rumahnya.  Suasana  penuh  kebencian  dan  kemarahan  hampir  setiap  pagi  ia  rasakan.  Sesampai  disekolah   ia  pun  mengikuti  berbagai  macam  mata  pelajaran,   berbagai  macam  materi  pun  ia  dapatkan  dan  membuat  otaknya  rasanya  ingin  pecah. Ditambah  lagi dengan  temannya  yang  selalu  ingin  menyakiti  perasaan  Luna.  Ia  merasa  sudah  tidak  ada lagi  cinta  didalam  kehidupanya.  Cinta  teman,  orangtua,  sahabat,  maupun  kekasih,  semua lenyap  didalam  kesedihanya. Yang  ia  dapatkan  hanyalah  kesedihan,  kemarahan,  dan  kebencian.  Apalagi  kalau  urusan  percintaan,  Luna  tidak  pernah  merasakan  indahnya  jatuh cinta.  Ia  hanya  dapat  melihat  orang  yang  jatuh  cinta  tetapi  sebenarnya  ia   tidak  pernah merasakannya.                                                                                                                                                                                              &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hari  terus   berjalan.  Saat  Mutia  ingin  masuk  ke  dalam  kelas, tak  sengaja  seorang  cowok  yang  berwajah  oriental  dengan  postur  tubuh  yang  tinggi  besar  menabrak  Mutia  yang  sedang  asyik  membaca  buku. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Eh,  kamu  punya  mata  gak  sih……..?”  Tegur Mutia, penuh emosi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Sorry,  aku  gak  sengaja.”                                                                                                                                                                                         “Lain  kali  kalau  jalan  pake  mata.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Ya,  maaf.  O ya,   kita  belum  berkenalan.  Namaku  Leo.”  Cowok itu mengulurkan  tangannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Luna.  Nice  to  meet  you.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;                                                                                                                                                                                                          “Nice  to  meet  you.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari  tak  berjalan  begitu  lama.  Leo  terus  mengejar  dan  berusaha  mendekati  Luna,  karena  Leo  sangat  penasaran  dengan  sikap  luna  yang  selalu  cuek  dan  tidak  pernah memperdulikan  orang  yang  ada  disekitarnya.  Walaupun  Leo  sering  tidak  di  pedulikan  oleh Luna,  tetapi  Leo  terus  berusaha  untuk  menjadi  teman  Luna.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hari  minggu  pagi  yang  cerah,  seperti  biasanya  Luna  pergi  berolahraga  Berkeliling perumahan  untuk  menyegarkan  tubuh.   Tak  lupa  ia  pun  selalu   ditemani  anjing  putih  kesayanganya  yang  selalu  menemaninya.  Tak terasa  jam  telah  menunjukan  pukul  07.00  kini  saatnya  kembali  pulang  kerumah.  Saat   perjalanan  pulang  kerumah,  Luna  di  hadang  oleh  5  orang  preman  dan   kebetulan  Leo  yang  sedang  berada  disana.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Leo  pun  menolong  Luna  yang  sedang  diganggu  oleh  preman  tersebut.  Dengan  jantannya  Leo  menghadapi  preman  itu  meskipun  agak  sedikit  takut,  tetapi  ia  berusaha  untuk  memberanikan  diri.  Untunglah  preman  itu  lekas   pergi  jika  tidak  matilah  riwayat  Leo.  Akan  tetapi  setelah  preman  itu  pergi  Luna  hanya  mengucapkan  terima  kasih  dan  langsung pergi  tanpa  memperdulikan  Leo  yang  sedang  terluka  lantaran  menghadapi  preman  tadi.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tetapi  Leo  tak  peduli  dengan  lukanya.  Dia  langsung  mengejar  Luna  untuk  meminta  penjelasan  mengapa  dia  selalu  cuek  terhadap  Leo.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Eh  kamu  gak  tau  diri  banget  sih  !” Kata Leo  melampiaskan  amarahnya&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Eh,  gua  kan  dah  bilang  makasi  ke  elo,  memang   itu  belum  cukup  apa?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;                                                                                                       “Sekarang  aku  tanya  sama  kamu,  kenapa  kamu  selalu  cuek  sama  aku  dan  kenapa  kamu  gak  mau   temenan  sama   aku?  Apa  kamu  udah  gak  punya  cinta?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Apaan  sih?  Kamu  gak  usah  ikut  campur  sama  urusan  aku!”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Aku  gak  nyangka   cewek  secantik  kamu  takut  dengan  kehidupan,  dan  kenapa  kamu  selalu   menghindar  dari  semua  orang  yang  sayang  sama  kamu?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Karena  aku  benci  dengan  cinta,  puas  kamu?”  Ujar Luna  sembari  meninggalkan  Leo.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sejak  kejadian  itu  hubungan Luna  dan  Leo  semakin  jauh,  seperti  terhalang  oleh tembok  yang  sangat  besar.  Tak  seperti  biasanya,  Leo  yang  semula  sangat  antusias  untuk   menjadi  teman  Luna,    kini  menjadi  tidak  ingin  berhubungan  dengan  Luna.  Demikian  pula  dengan  Luna,  Luna  kini  menjadi  semakin   membenci   Leo  melebihi  kebenciaannya  yang dahulu.  Entahlah  apa  yang   sedang  terjadi  pada  mereka  berdua.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dua  bulan  telah  berlalu.  Saat  pelajaran  kimia  dimulai,  Luna  dan  murid-murid  yang  lain langsung  memasuki  ruang  laboratorium  untuk  melakukan  praktek  kimia.  Berbagai  macam instruksi  telah  diberikan  oleh  bapak  ibu  guru,  bagaimana   cara  penggunaan  alat-alat  laboratorium.  Akan  tetapi  saat  guru  pergi  meninggalkan  ruang  laboratorium,  murid-murid  menjadi  rame.  Sampai  akhirnya  salah  satu  teman  Luna  tidak  sengaja  menyenggol   lilin  yang  berada  disampingnya  hingga  terjatuh  dan  mengenai  cairan  kimia. Kebakaran  pun  akhirnya   terjadi.  Semua  siswa  langsung  pergi  keluar  untuk  menyelamatkan  diri,  akan  tetapi  Leo  yang  dari  tadi  mencari-cari   Luna,  tidak  kunjung  menemukanya.  Leo  pun  yakin  Luna  masih  terjebak  didalam  ruang  tersebut  lalu.  Dengan  secepat  kilat  Leo  pun  masuk  kedalam  untuk  mencari Luna.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Asap  tebal  dan  panasnya  api  tak  menyurutkan  hati  Leo  untuk  mencari  Luna.  Terlihat di  balik  lemari,  Luna  sedang  bersembunyi  dari  ganasnya  si  jago  merah.  Dengan  nafas  yang tersenggal-senggal  Leo  mengajak  Luna  untuk  meninggalkan  tempat  tersebut.  Akan  tetapi  setelah  mereka  berdua  keluar,  Leo  merasa  tidak  kuat  lagi  untuk  menopang  tubuhnya  akhirnya  pun  Leo  jatuh  dan  tak  sadarkan  diri.&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Setelah  Leo  membuka  matanya,  dia  tak  menyangka  bahwa  yang  berada  disampingya  adalah  Luna  yang  dengan  setia  menunngu  Leo. Dengan  rasa  bersalah  Luna  berbicara  pada  Leo  untuk  minta  maaf.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Leo,  maafin  aku  ya!” &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Ya  gak  apa-apa  kok.”                                                                                                                                                                                                        “Maafin  aku  ya  kalau  aku  selama  ini  aku  benci  sama  kamu.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Ga  papa,  aku  sudah maafin kamu kok  tapi  kamu  harus  tau  arti  cinta  yang  sesungguhnya  adalah  menerima  apa  adanya  dan  cinta  bukan  hanya  dengan  kekasih  tetapi  bisa  dengan  apa  aja.  Aku  yakin  kamu  pasti  punya  cinta  didalam  hidup  kamu.”  Leo  tersenyum  memandang Luna.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Sahabat.”  Leo mengulurkan  tangan  pada  Luna                                                                                                                                                                      “Ya, you’re  my  best  friend.” Luna tersenyum  bahagia&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sejak  saat  itu  Luna  selalu  memikirkan  kata-kata  Leo.  Kata-kata  yang  singkat  tetapi penuh  makna. Luna  berfikir  apa  yang  dikatakan  Leo  memang  benar  dan  kini  ia  menjadi sadar  kalau  dia  butuh  cinta  didalam  kehidupannya.  Dia  tidak  bisa  menghindar  dari  cinta dan  walaupun  Luna  belum  mendapatkan  cinta  seorang  kekasih  dan  hangatnya  keluarga  tetapi ia  menemukan  dan  mendapatkan  cinta dari  sebuah  persahabatan. Luna  pun  kini  merasa  yakin bahwa  ia  tidak  harus  benci  kepada  cinta.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-8244932517871559221?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/8244932517871559221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=8244932517871559221&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8244932517871559221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8244932517871559221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/11/di-persahabatan-kutemukan-arti-cinta.html' title='Di  Persahabatan  Kutemukan  Arti  Cinta,  Oleh  :  loveli onelia'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-237581479334261985</id><published>2009-11-10T17:03:00.002+07:00</published><updated>2009-11-10T17:19:05.472+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INFO'/><title type='text'>CANTUMKAN NOREK</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini saya buat khusus untuk menjawab pertanyaan murid- murid mengenai pencantuman norek setiap kali kita mengirim cerpen ke media cetak. Sudah ada 2 orang murid yang bertanya, apakah tidak berbahaya mencantumkan norek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak. Toh, yang kita kirim cuma norek bukan nomor pin kartu ATM. Lagipula, reputasi media cetak kan harus dipertahankan. Masa mau berbuat yang macam-macam dengan norek kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah bertahun-tahun nulis cerpen dan setiap kali ngirim cerpen pasti mencantumkan norek. Tujuannya, agar honor bisa ditransfer dengan cepat. Jadi, gak usah takut. Cantumkan saja.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kan enggak mungkin juga kalau kamu datang ke kantor redaksi untuk ambil honor. Kayaknya udah gak jamannya deh. Selain ngabisin ongkos jalan, juga gak praktis. Rasanya, semua kantor media cetak sudah menggunakan sistem pembayaran transfer. Kalo dulu, memang disuruh ambil honor sendiri ke kantor redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, mereka suka telpon dan meminta konfirmasi dari kita mengenai kebenaran norek tsb. Usahakan mencantumkan norek atas namamu sendiri ya. Biar gak bikin repot mereka.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-237581479334261985?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/237581479334261985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=237581479334261985&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/237581479334261985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/237581479334261985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/11/cantumkan-norek.html' title='CANTUMKAN NOREK'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-7845058143831815123</id><published>2009-11-03T14:15:00.003+07:00</published><updated>2009-11-03T14:29:17.808+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>IDE MENULIS DARI MASALAHMU</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Akhir-akhir ini saya lumayan stress menghadapi papa yang sedang sakit. Kalau orang lain stress, biasanya jadi doyan makan atau marah-marah. Saya malah jadi gila menulis. Kemarin saja sudah menulis 4 artikel untuk blog &lt;a href="http://just-fatamorgana.blogspot.com" target="_blank"&gt; Sang Cerpenis&lt;/a&gt;. Semuanya untuk postingan terjadwal sih. Tapi, saya jadi kaget sendiri. Lho...banyak amat? Kenapa jadi banyak ide gini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, siapa bilang mencari ide sulit? Bahkan, lagi stress pun kita bisa dapatin ide, seperti ide tulisan ini. Tiba-tiba saja muncul saat lagi stress. Padahal, saya sempat bingung mau kasih pelajaran apa lagi nih untuk para murid. Ha ha ha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, menulis itu memang menyenangkan, bukan? Kalian bisa meramu sebuah tulisan dari kesedihan, kebingungan kalian. Jadi, enggak usah bingung kalo kehabisan ide. Coba gali lagi masalah apa yang pernah kalian hadapi? Masalah di masa lalu? Masalah yang sedang digeluti saat ini? Masalah yang akan datang yang sedang kalian cemaskan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa semua masalah itu enggak dijadikan sebuah ide tulisan? &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tidak harus sama persis dengan masalah yang kalian hadapi, tapi bisa dibumbui. Bahkan, bisa ditambahkan cara penyelesaiannya. Tentu saja cara penyelesaian yang kalian impikan tapi dalam kenyataannya sulit dilaksanakan. Nah, dengan menuliskannya secara enggak lalngsung sudah mengobati perasaan sedih dan stress. Karena ketika kita menulis, semua yang mengganjal tercurah keluar. Plong deh jadinya. Sukur-sukur, tulisan itu bisa berbentuk cerpen. Kalo toh enggak berbentuk cerpen, kan bisa jadi diary. Anggap saja, sedang latihan mengungkapkan perasaan lewat tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, mari menulis masalah yang sedang kamu hadapi. Bisa 'kan? &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-7845058143831815123?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/7845058143831815123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=7845058143831815123&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/7845058143831815123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/7845058143831815123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/11/ide-menulis-dari-masalahmu.html' title='IDE MENULIS DARI MASALAHMU'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-6344564395650706682</id><published>2009-10-20T13:25:00.004+07:00</published><updated>2009-10-20T13:34:04.413+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>WAJIB DIMILIKI PENULIS</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Kalo kamu serius mau menekuni bidang menulis. Menulis apa aja deh. Entah itu cerpen, puisi, artikel-artikel serius, berita, dll. Maka, kamu kudu wajib punya kamus, terutama kamus Bahasa Inggris, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih bagus lagi kalo kamu punya Kamus Idiom/ungkapan dalam bahasa Inggris, kamus peribahasa Indonesia dan beberapa kamus bahasa daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini untuk memudahkan kamu mencari kata-kata yang bervariasi saat menulis. Termasuk membantu kamu saat kebingungan mencari kata-kata yang tepat. Selain itu, kalo kamu ragu akan arti sebuah kata, kamu juga bisa mencarinya di kamus. Melihat apa sih arti dari kata itu. Apa sinonimnya, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, saya mau tunjukin beberapa kamus yang saya miliki dan...kalo kamu mau, kamu bisa beli kamus serupa. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tunjukkan hanya beberapa kamus penting. Masih ada lagi kamus-kamus lainnya tapi saya malas mengeluarkannya dari lemari buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/St1ZhuB_YaI/AAAAAAAABf0/T75oJhRyc0k/s1600-h/20102009.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/St1ZhuB_YaI/AAAAAAAABf0/T75oJhRyc0k/s320/20102009.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394566364486656418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-6344564395650706682?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/6344564395650706682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=6344564395650706682&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6344564395650706682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6344564395650706682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/10/wajib-dimiliki-penulis.html' title='WAJIB DIMILIKI PENULIS'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/St1ZhuB_YaI/AAAAAAAABf0/T75oJhRyc0k/s72-c/20102009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-9041843261432454221</id><published>2009-09-25T15:29:00.005+07:00</published><updated>2009-09-25T15:54:03.401+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serba-serbi'/><title type='text'>TIDAK ADA TEORI MENULIS (cerpen) YANG JITU</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Menulis, khususnya menulis cerpen memang bisa dipelajari. Tapi, sebenarnya tidak ada teori menulis (cerpen) yang jitu, dalam arti : tidak ada teori menulis (cerpen) yang bisa membuat seseorang jadi penulis handal. Yang ada hanyalah, teori menulis (cerpen) yang bisa membantu kita untuk mengerti bagaimana menulis (cerpen) dengan benar, termasuk tips dan trik agar tulisan kita bisa diterbitkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis cerpen memang pekerjaan yang gampang-gampang susah. Gampang,  jika kita menulis hanya sekedar menulis, bukan untuk dipublish. Bukan untuk dibaca orang banyak. Melainkan menulis cerpen hanya untuk diri sendiri atau pelampiasan emosi, curhat, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah, jika kita ingin cerpen karya kita dibaca orang, karena kita harus membuat sebuah cerpen yang ada 'roh'nya. Cerpen yang bisa membuat si pembaca tersenyum, menangis, tertawa, dll. Pokoknya, bisa membuat para pembaca ikut larut dalam cerita yang kita rangkai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak mudah! Tapi bukan berarti tidak bisa. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Resep termanjur untuk bisa menulis cerpen yang punya 'roh' hanyalah : SERING BERLATIH MENULIS CERPEN dan BANYAK MEMBACA CERPEN/NOVEL PENULIS TOP. Karena, pada saat kita berlatih menulis maka tanpa disadari kita sedang menggali kemampuan kita lebih dalam. Dan, dengan banyak membaca karya orang lain, kita akan tahu, bagaimana cara mereka menyusun alur kisah, menggunakan gaya bahasa, mendeskripsikan sesuatu, membuat narasi, menguraikan karakter para tokoh, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, apa yang kita baca itu menjadi pelajaran tak kasatmata di benak kita. Jadi, kalau kalian bertanya, Apakah ada teori menulis cerpen yang pernah saya pelajari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya : TIDAK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belajar menulis cerpen dari apa yang saya baca. Ketika membaca sebuah cerpen karya seorang penulis top, maka saya akan perhatikan dengan baik, alurnya, gaya bahasanya, cara dia membuat dialog, dll. Bahkan, sampai titik koma pun saya amati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi para penulis muda sekarang ini jauh lebih beruntung ketimbang generasi saya. Mereka bisa mengikuti workshop penulisan cerpen yang sering diadakan oleh penerbit buku terkenal. Bahkan, ada sebuah majalah remaja yang mengadakan coaching menulis cerpen. Sedangkan, pada masa saya mulai menulis, saya harus belajar sendiri. Tak ada guru yang bisa memberitahu saya bagaimana menulis dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berlatih menulis dan rajin membaca. Itu saja. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-9041843261432454221?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/9041843261432454221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=9041843261432454221&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/9041843261432454221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/9041843261432454221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/09/tidak-ada-teori-menulis-cerpen-yang.html' title='TIDAK ADA TEORI MENULIS (cerpen) YANG JITU'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-2119691169838551985</id><published>2009-09-22T11:22:00.004+07:00</published><updated>2009-09-22T11:37:13.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>JIKA CERPEN DITOLAK</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Apa yang akan kamu lakukan jika cerpen yang kamu kirim ditolak? Apakah kamu langsung sedih, kecewa dan putus asa? Eits! Jangan dulu merasa sedih, kecewa dan putus asa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ditolak pasti ada beberapa sebab, seperti :&lt;br /&gt;- syaratnya tidak terpenuhi misalnya : jumlah halamannya terlalu panjang atau terlalu pendek. Jelas aja ditolak.&lt;br /&gt;- alur ceritanya tidak bagus.&lt;br /&gt;- isi cerpen tidak sesuai dg misi majalah/surat kabar. Misal : cerpen bertema remaja kamu kirim ke majalah wanita dewasa. Ya, jelas nggak dimuat dong.&lt;br /&gt;- cerpen kamu nyelip, lupa dibaca saking banyaknya cerpen yang masuk. Ini sih jarang terjadi kali.&lt;br /&gt;- hal-hal lain yang tak terduga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak sebab yang membuat cerpen ditolak, maka saya ingin membahas sebab yang paling logis, yaitu alur cerita yang nggak bagus. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nah, kalau kamu sudah sadar bahwa cerpen kamu memang nggak bagus sehingga nggak layak muat, kamu harus segera mengoreksi ulang cerpenmu. Baca dan pelajari bagian mana yang jelek. Lakukan editing terhadap bagian-bagian yang jelek itu. Bila perlu, ganti judulnya. Karena bisa jadi judulnya saja sudah tidak menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kalau kamu merasa cerpenmu itu memang benar-benar jelek, lakukan perombakan secara total. Mungkin tema tetap sama tapi alur kisah, tokoh, konflik dan lain-lain dirubah seluruhnya sehingga menjadi sebuah kisah baru yang lebih manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya berani menyarankan hal ini? Karena saya pernah merombak total beberapa cerpen yang ditolak, lalu setelah diedit ulang dan diganti judul, saya coba kirim lagi ke media cetak, ternyata dimuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ada cerpen saya yang sudah ditolak tahun lalu - setelah saya edit dan ganti judulnya dan dikirim ke majalah yang pernah  menolaknya - eh...dimuat tahun ini oleh majalah itu. Berarti, cerpen pertama yang ditolak itu memang perlu diedit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga cerpen yang ditolak oleh majalah A lalu saya revisi dan kirim lagi ke majalah B, ternyata dimuat oleh majalah B. Padahal, lebih sulit menembus gawang seleksi editor di  majalah B ketimbang majalah A. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, jangan cepat menyerah kalau cerpenmu ditolak! Bukankah kegagalan adalah sukses yang tertunda? &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-2119691169838551985?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/2119691169838551985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=2119691169838551985&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2119691169838551985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2119691169838551985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/09/jika-cerpen-ditolak.html' title='JIKA CERPEN DITOLAK'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-2998809336477721342</id><published>2009-09-16T11:52:00.002+07:00</published><updated>2009-09-16T11:56:10.119+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>BOM Karya SETIAWAN DIRGANTARA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prakata : Cerpen dari Setiawan Dirgantara ini merupakan cerpen yang paling bagus yang pernah saya terima. Tapi, sekali lagi ada beberapa kesalahan dalam penggunaan tanda baca, huruf besar dan  salah ketik. Saya hanya mengedit sedikit untuk kesalahan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang ini adalah cerpen pertama pak Setiawan, maka saya acungkan 2 jempol. Soalnya, seperti orang yang sudah pengalaman menulis cerpen. Jangan-jangan, sebenarnya pak Setiawan sudah sering menulis cerpen nih? Ayo, ngaku! Ha ha ha….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kualitas cerpen seperti ini, mestinya pak Setiawan sudah berani mengirimkan karyanya ke media cetak lho!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mau kawin dengan Imina, cari uang sendiri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa gunanya kau menuntut ilmu tinggi-tinggi. Memilih jodoh saja sembarangan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau tidak tahu kalau Imina itu keturunan ata orang tua kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat keempat belum muncul, aku langsung belok kiri. Baru kali ini, telingaku membara. Rambutku seolah melayang tercabut dari serabutnya. Belum juga tiga langkah, Puangku memanggil lagi “Hei, Beddu dengar dulu saya mau bicara. Kamu makin kurang ajar saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti melangkah bagai kaki kuda tersandung sentak terpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursi rotan di samping Puangku, menganga menungguku. Perlahan kududuk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecah gemuruh masih dalam debaran jantung. Membakar api meluap panas otakku. Aku terkurung pikiran tersudut tak berdaya. Cinta tiada bandingnya jadi beku kaku oleh desing kata-kata Puangku. Terpakulah suasana hening seketika. Yang menjalar keseluruh tubuhku hanya keringat dingin. Tubuhku rasa tak bertulang, remuk mendadak lumpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana Indokmu? Bikin air panas dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menyahut. Langsung saja ke dapur membuat secangkir kopi buat Puangku. Aku tahu benar kopi kesukaannya. Secangkir kopi pahit mengisyarat kelamnya pikiranku.&lt;br /&gt;“Saya ingin mengawinkan kau dengan orang baik-baik. Anak Andi Mangkau masih keluarga dekat kita. Ia tamat perguruan tinggi juga. Menurutku cocok dengan kamu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bicara itu lagi. Aku tak bisa berkata apa-apa di depan Puangku. Sejak kecil aku tidak pernah membantahnya. Untuk masalah ini, rasanya mulutku hendak berkata, “Memangnya cinta bisa diformat?” Kubiarkan angin bertiup reda, kutunggu api meluap jadi redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beddu, bantu Indok membentangkan tali di bawah kolong rumah untuk  jemuran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selamat dari desingan kata-kata Puangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dari kursi rotan bergegas mengikuti arah suara Indok . Puangku hanya terdiam, mulut  terkunci. Matanya melotot menyimpan isyarat sebuah jawaban yang tak muncul dari mulutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis di luar, dedaunan penuh rerintik butir bening air hujan. Indok ku berlari kecil mengambil jemuran yang berhamburan di tanah basah. Tiupan angin menyertai gerimis sore hari ini. Bunyi “plapak” daun kakao diterpa angin bagai bunyi tepuk tangan alam. Ini alamat baik, produksi kakao pasti meningkat. Puangku memiliki tujuh ha  kebun kakao. Dua ha digarap oleh Ambo Mina. Sedang tiga ha lainnya yang masih kosong siap ditanami jagung.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang lama dinanti kini tiba juga. Sorai suara gembira petani di desa, sebentar lagi mereka menyiangi ladang lalu menanam jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ladang jagung, kala gerimis, kami berteduh di dangau. Di balik rambut terjurai wajah kutilik. Wajah pauh dilayang samar mengintai bagai bulan menyintip di balik rimbun pohon bambu. Senyum menghiasinya kala pandang kebetulan bertemu aku benar hanyut terbuai. Hatiku berdetak, kagumku berbuah kasmaran. Jatuhlah cinta itu padanya. Tak tahu ia rupanya. Kupendam dalam lubuk yang perkiraan tak menyentuhnya. Cinta kuukir diam biar indah mendalam. Tidak membuat ia luka jika harus bentangan tali ikatan terputus dihempas barubu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rerintik hujan ini, membalikkan kenanganku bersama Imina. Kutahu dari kecilnya ia anak  halus sutera kata-katanya, tiada kata meluncur dari bibir tipisnya tanpa diawali iye Puang. Wajahnya tergolong cantik. Jika tersenyum tampak lesung pipi kiri bagai riak air memutar. Tahi lalatnya amat terang karena kulit putih bersih. Tahi lalat itu bertengger di dagu kiri pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarganya bergubuk mungil di belakang rumahku. Dulu sampai sekarang hidupnya bertumpu pada keluargaku yang turun temurun memiliki ata. Mereka itulah ata dari keluargaku. Mereka sangat setia pada Puangku sehingga ikut bersama kami hijrah berkebun di tanah Poso.&lt;br /&gt;Hujan kian lama semakin deras menjemput kelam. Kata-kata Puangku masih terdekap malam. Mata enggan terpejam. Murka amarah Puang  masih mendesing. Desir angin mengantar bunyi bacing-pacing  samar dari kejauhan. Redup pelita tampak timbul tenggelam oleh alangan dedaunan alang-alang. Rumah tak layak dikatakan rumah tempat Imina bersama ayah bundanya asal dari bunyi itu. Jika malam seperti ini, hujan tak redah. Ambo Mina lebih memilih meniup bacing-pacing kegemarannya. Konon kabarnya, karena kepintaran meniup bacing-pacing sehingga pihak Saoraja memanggilnya melengkapi musik tari-tarian istana. Akhirnya ia menetap di Saoraja menjadi pesuruh Datu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Imaddi, ke sini sebentar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyye, Puang, tunggu” jawab Indok ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpendam dalam kamar membisu. Lebih baik menikmati suara merdu bacing-pacing daripada melayani Puangku yang selalu menyoalmaksakan jodoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beddu kita nikahkan saja dengan Andi Tenri anak Andi Mangkau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Beddu mencintai dan Andi Tenri tidak keberatan,  tidak ada salahnya” jawab Indok ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus, Bu.” Aku berguman sendiri di dalam kamar. Aku menguping sambil mengacungkan jempol tanda setuju dengan kata-kata Indok ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, maksudmu?” lanjut Puangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, terserah Beddu saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tidak boleh. Sekali lagi tidak boleh. Kamu mau kalau Beddu kawin dengan Imina?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa salahnya jika mereka saling mencintai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan lagi kauucapkan kata itu dua kali, Imaddi! Kitalah yang harus menentukan nasib anak kita. Saya tidak akan melihat mereka jatuh sengsara. Lagi pula derajat kebangsawanan saya turun sekali lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beddu kita sudah sekolahkan baik-baik. Dia sudah sarjana satu-satunya di desa ini. Lagi pula sudah dewasa. Berilah kebebasan untuk memutuskannya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memilih jodoh bukan urusan anak, Imaemuna! Kitalah yang patut mengarahkannya.”&lt;br /&gt;“Saya juga kan bukan dari keluarga bangsawan, kenapa Puang mau mengawini saya. Itu karena Puang jatuh cinta padaku ‘kan?” timpal Indok .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puangku terdiam beberapa lama. Kudengar Indok  beranjak dari tempat duduknya. Ditinggalkannya Puang sendiri di ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kelam melingkar membalut gunung sebelah utara. Tampak samar dua orang berjalan meniti pematang. Obor di tangan masih menyala. Itulah Imina bersama Indoknya. Aku  mengintip dari jendelah rumahku. Aku ingin membuntuti tapi tiada daya, badan rasa berat sekali seperti telah dipukuli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, memang dipukuli oleh kata-kata Puang. Semalam tidurku tak pulas, pikiranku mengembara. Ikut kehendak Puang atau ikut hati nuraniku. Ada benarnya juga kata Puang bahwa keturunannya bakal turun satu derajat jika aku kawin dengan Imina. Satu pertanyaan yang tak pernah disentuh jawaban pasti. Mengapa Puangku mau mengawini Imaemuna yang jelas-jelas keturunan orang kebanyakan? Kemudian aku dipaksa menikah dengan orang yang tidak kucintai? Aku tahu juga kalau anak Andi Mangkau sedang pacaran dengan Adi, anak pedagang tembakau dari Cabenge Soppeng. Adi teman sekolahku. Lagi pula tak ada rasa cinta setitik pun yang dapat dipupuk membawa bunga mekar di taman hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum fajar menyingsing, Imina bersama Indok nya menepis kabut, meniti hidup setapak demi setapak. Tidak berat rasa beban yang dijunjung dan tiada bosan jalan diarungi, semuanya dikerjakan setulus hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang menghubungkan pasar dengan kampungku memang masih jauh dari kelayakan. Jika hujan sudah mulai turun maka lumpur pun mengembang bagai kue cucur di atas minyak panas. Imina dan Indok nya lebih memilih jalan pintas melalui pematang. Perjalanan satu jam barulah tiba di jalan raya. Imina melanjutkan perjalanan dengan mengendarai pete-pete selama sejam barulah mereka tiba di pasar Tentena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tamat SLTP, Imina selalu menemani Indoknya berjualan sayur-mayur di pasar. Orang tuanya mengharapkan pendidikan pada jenjang SMA tetapi apa daya kemujuran tak berpihak padanya. Hasil petani penggarap belum mampu mencukupi hidup sampai menyekolahkan anak. Terlebih lagi sekolah jauh dari tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan Puangku, sekarang terpandang, boleh dikatakan kaya untuk golongan daerah ini. Dia sadar perlu pendidikan tapi sangat taat pada prinsip. Aku anak satu-satu bakal menjadi korban dari prinsipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuntuti Imana dan Indok nya dari belakang. Kuambil motor trailku. Kodorong agak jauh dari rumah agar suara kerasnya tak terdengar Puangku. Motor ini, bebas melintas di atas jalan berlumpur sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imina dan Indok nya belum tiba di pasar, aku sudah sampai pada warung pojok. Tempat biasanya Imina beserta Indok nya istirahat. Kalau jualan sayurnya tidak habis, maka sisanya diberi kepada pemilik warung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Tentena masih sepi. Cuaca dingin menggigil. Para penjual yang  berjejer  belum melepaskan sarungnya. Badannya dibiarkan terbungkus sarung sehingga yang tampak wajahnya saja. Bagi Imina itu tidak menjadi masalah, dua bulan terakhir ini tubuhnya yang ramping itu ditutupi jilbab besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lama, Puang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dikagetkan suara dari belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baru juga, Mina!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indo, jalan saja duluan. Ada Puang Bedduku di warung .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temani saja, Puangmu dulu.” Biar Indoklah yang menyiapkan jualan ini.&lt;br /&gt;Lama aku menyusun rasa, pikiran, dan kata. Tapi tak kudapati rangkaian kalimat yang tepat patut keberitahukan kepada Imina. Apakah aku akan berterus terang tentang peristiwa semalam. Ataukah akan bersiteguh hati akan prinsipku sendiri. Di dalam rentang saraf otakku tiada satu sel pun yang membenarkan perasaanku terjajah. Dalam ilmu mana pun menganggap manusia itu sama. Yang membedakan derajat hanya ciptaan budaya saja. Lebih lagi agama menyatakan semua muslim bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puang, saya ke Indok  dulu” Imina mengentakkan aku dari lamunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang ingin saya bicarakan denganmu!” Imina terduduk kembali di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sudah dewasa. Kamu anak satu-satu. Aku pun anak-anak satu-satunya. Bagaimana pendapatmu jika keduanya kita satukan dalam kehidupan yang tertata oleh norma agama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud Puang. Aku tak tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, aku sangat mencintaimu. Kalau engkau bersedia kita lebih baik menikah saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara orang di luar sudah mulai gaduh. Penjual pun mulai siap menjajakan jualannya. Pengunjung berdatangan dari pelosok desa. Imina masih terpaku di depanku tak mengeluarkan kata-kata. Aku pahami benar perasaannya. Untuk ini, ia tak mungkin menolaknya dan tak patut menjawabnya. Lebih jika hal itu diperhadapkan pada kedua orang tuanya. Mereka pasti takut memutuskannya kalau bukan dari keluarga kami yang mengaturnya. Segala kata pasti diperturutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berpikirlah dulu. Mina!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisi, Puang. Saya ke Indok  dulu, Puang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sama-sama ke sana!”&lt;br /&gt;Kami berjalan mengikuti deretan toko di bagian depan Pasar Tentena. Di depan BRI kami berhenti sejenak. Adi teman sekolahku dulu memaksa kami berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O, ini calonmu, yang kauceritakan dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum saja. Imina tertunduk malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana  dagangannya, kamu kelihatannya sudah seperti, Bos”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah berjalan dengan baik. Hei, datang nanti ya pada acaraku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau menikah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan? Dengan siapa? Dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi belum menjawab. Kudengar ada gemerisik suara seperti seekor ular mengacak-acak daun kakao. Aku menoleh. Dihadapanku ada bunga listrik percikan api. Belum juga kami sempat berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plak, plak…  Boowom, om!” Sekejap semua hancur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ledakan itu, menghilangkan pandanganku. Aku tak tahu aku dimana. Spontan kudekap Imina.  Kulindungi dari serangan yang tak kutahu apa namanya ini. Aku terkulai di tanah basah. Hidup atau matikah kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada orang yang berani mendekat. Mereka takut jangan-jangan ada ledakan bom susulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong itu, ada mayat berpelukan!” Teriakan orang itu tak dihiraukan. Mereka hanya menyelamatkan dirinya sendiri. Pasar jadi kacau, bagai ombak diacak badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira setengah jam kemudian, polisi, pihak kesehatan, dan masyarakat mendekati tempat kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angkat dan pisahkan mayat ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih, hidup, Pak!” Seru juru rawat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas kedua korban dibawa mobil ambulans ke rumah sakit Poso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian kedua orang tua korban sampai di rumah sakit. Puangku, tertunduk tak mampu menahan air matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Obati kedua pasien ini, semua biayanya akan kutanggung semua.” Kata Puangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keterangan bahasa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puang          : Sapa hormat kepada raja atau keturunan raja bagi  orang Bugis&lt;br /&gt;datu        : Raja orang Bugis&lt;br /&gt;Saoraja        : Istana raja Bugis&lt;br /&gt;bacing-pacing  : Sejenis suling kecil terbuat dari bambu. &lt;br /&gt;ata            : budak&lt;br /&gt;ambo           : ayah&lt;br /&gt;indok          : ibu&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-2998809336477721342?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/2998809336477721342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=2998809336477721342&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2998809336477721342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/2998809336477721342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/09/bom-karya-setiawan-dirgantara.html' title='BOM Karya SETIAWAN DIRGANTARA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-5891586996078167996</id><published>2009-09-14T12:16:00.002+07:00</published><updated>2009-09-14T12:27:03.919+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>HUNTING MAJALAH</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Buat kamu-kamu yang sudah sering bikin cerpen dan punya stok cerpen cukup banyak, mungkin kamu pernah bertanya-tanya. Mau dikirim kemana nih cerpen-cerpen saya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya punya usul buat kamu yang sudah siap mengirim cerpenmu. Sering-sering aja ke toko buku buat hunting majalah. Lho? Buat apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, buat ngecek alamat redaksi plus alamat imel majalah ybs. Dengan mengetahui alamat redaksi plus imelnya, 'kan kamu bisa kirim tuh cerpen ke sana. Tapi, enggak semua majalah bisa diintip begitu aja lho. Karena ada majalah yang dibungkus plastik rapat-rapat.  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kalau sudah begini, mau gak mau kamu harus rela keluar kocek. Beli deh tuh majalah. Atau..kalo mau lebih  murah, beli aja di tempat penjualan majalah bekas. Bisa juga pinjam majalah milik temanmu, saudaramu, tetanggamu. But...jangan lupa dikembaliin ya. He he he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling afdol sih beli sendiri. Jadi, kamu bisa puas membaca majalah itu, sekalian baca cerpen yang ada di majalah tsb. Survei dong! Survei. Buat meneliti lebih jauh seperti apa cerpen yang disukai sang editor majalah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, kalo kamu memang niat banget jadi cerpenis, harus rela ngorbanin uang jajan kamu untuk beli majalah yang jadi target kamu. Jangan cuma satu  majalah lho. Kalo bisa sebanyak-banyaknya. Dengan demikian kesempatan kamu akan lebih lebar. Kamu bisa kirim cerpen ke lebih dari 1 majalah. Siapa tahu di antara sekian banyak majalah yang kamu incar itu, ada yang bisa memuat karyamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So..tunggu apa lagi? Ayoooo! Hunting majalah! Sisihkan uang jajanmu. Kalo perlu, puasa dulu jajan baksonya. He he he he...&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-5891586996078167996?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/5891586996078167996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=5891586996078167996&amp;isPopup=true' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5891586996078167996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/5891586996078167996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/09/hunting-majalah.html' title='HUNTING MAJALAH'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-3640172245705728403</id><published>2009-09-11T13:06:00.005+07:00</published><updated>2009-09-11T13:17:10.447+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INFO'/><title type='text'>PERHATIKAN BAIK-BAIK!</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Baru-baru ini saya membaca artikel di sebuah  majalah Kumpulan Cerpen tentang sebab-sebab naskah cerpen ditolak. Salah satunya adalah masalah TANDA BACA, HURUF BESAR dan SPASI/JEDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, ketika saya baca artikel itu, saya langsung teringat akan kesalahan yang SELALU dibuat para murid yang ngirim cerpen ke blog ini. Rupanya, kesalahan penggunaan tanda baca, huruf besar dan spasi/jeda itu sering ditemui juga oleh para editor fiksi ya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masalah tanda baca dan huruf besar sudah pernah saya ulas di artikel-artikel sebelumnya. Tapi, untuk masalah spasi/jeda akan saya bahas hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, kalian tahu kalau dalam satu kalimat pasti ada spasi or jeda misalnya :&lt;br /&gt;TUTI NAIK SEPEDA. Jarak kata TUTI dengan NAIK itu berarti spasi atau jeda. Jarak antara kata NAIK dengan SEPEDA juga ada spasi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nah, kalau kalian ingin cerpen kalian dimuat, perhatikan juga ya masalah spasi atau jeda. Karena menurut artikel itu, kalau ada cerpen yang penggunaan tanda baca, huruf besar dan spasi/jeda enggak bener alias ngawur, maka biasanya cerpen itu enggak akan dibaca sampai habis. Secara kerjaan editor itu kan banyak. Mereka harus menyeleksi sekian ratus cerpen yang masuk. Mungkin juga lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang banget kan kalau cerpen bagus kamu masuk tong sampah gara-gara penggunaan tanda baca yang ngaco. So, coba ingat lagi pelajaran Bahasa Indonesia waktu sekolah. Masa sih dilupakan begitu aja?  &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-3640172245705728403?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/3640172245705728403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=3640172245705728403&amp;isPopup=true' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3640172245705728403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/3640172245705728403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/09/perhatikan-baik-baik.html' title='PERHATIKAN BAIK-BAIK!'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-9210952569902953631</id><published>2009-09-08T13:25:00.001+07:00</published><updated>2009-09-08T13:29:09.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen murid'/><title type='text'>Gara-gara jadwal yang salah ??? (oleh : Distiwan)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Prakata : Cerpen karya Distiwan ini sebenarnya tidak jelek. Kalimat dan gaya bahasanya sudah lumayan. Hanya saja, penggunaan tanda baca dan huruf besar masih banyak yang salah. Coba ingat lagi pelajaran Bahasa Indonesia waktu sekolah dulu. Kata awal selalu huruf besar ‘kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya baca lebih lanjut, saya sempat bingung. Lho, ceritanya hanya begini saja? Tidak ada kelanjutan. Kok, nanggung ya?  Pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca juga tidak ada? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Distiwan, banyak berlatih menulis cerpen dan membaca cerpen-cerpen yang ada di media cetak agar kamu tahu seperti apa cerpen yang bagus. Semangat ya..jangan pernah menyerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buat para murid, silakan menikmati cerpen ini.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan semangat menggebu-gebu Tania berangkat menuju kampusnya. Hari ini adalah hari pengambilan jadwal KRS yang tentunya akan ditempuh pada semester kali ini yaitu semester ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih jam 8 kurang “ kata Tania sambil melihat arloginya. &lt;br /&gt;“Reni, kemana sih? Kok belum datang-datang? Mana kampus masih sepi lagi, “ tambahnya seraya mengambil handphone dari dalam saku dan segera mengetikkan SMS untuk Reni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit berlalu namun Reni masih belum menampakkan batang hidungnya juga.  Tania pun memutuskan untuk menunggu Reni di Lab Internet, tempat mereka biasanya menyusun KRS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Tan!“ sapa Reni yang tiba-tiba muncul di belakang Tania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya kamu datang juga. Aku udah nunggu dari tadi neh. Yuk, masuk Lab. “ ajak Tania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun segera memasuki Lab Internet. Suasana ruangan tersebut masih sangat sepi, hanya petugas Lab saja yang berada disana, sedangkan mahasiswa lainnya belum nampak satu orang pun. Tania dan Reni segera meletakkan tas di rak tas, kemudian mengambil kartu Lab masing-masing dan menyerahkannya kepada petugas untuk dicap serta tak lupa pula menuliskan nama di buku pengunjung Lab. Kemudian mereka mengambil tempat duduk di depan agar lebih&lt;br /&gt;nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dinding masih menunjukkan pukul 08.15 pagi sehingga mereka belum membuka alamat untuk menyusun KRS. Saking asyiknya berinternet Ria, tanpa sadar ruangan Lab sudah dipenuhi mahasiswa yang lain, yang juga ingin menyusun KRS. Tanpa sengaja Tania melihat bahwa mahasiswa lain sudah mulai sibuk menginput mata kuliah yang akan diambil pada semester ini, padahal sekarang belum jam 09.00 ( waktu seharusnya mereka menyusun KRS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ren, mereka udah bisa ngisi KRS loh! “seru Tania panik, namun Reni dengan tenangnya membuka alamat website untuk menyusun KRS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Tania mulai panik karena takut tidak kebagian SKS, dia pun dengan terburu-buru membuka alamat websitenya. Menginput username serta password yang telah diberikan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan tidak karuan dia mulai mencentang mata kuliah yang telah ditentukan kemarin untuk diambil semester ini. Namun ketika dia menekan tombol “proses”, sebuah pesan pemberitahuan muncul bahwa “ maaf mata kuliah yang anda inputkan sudah penuh”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa putus asa Tania pun mencoba sekali lagi, dengan memilih mata kuliah yang masih tersedia. Namun hal serupa terjadi lagi, mata kuliah yang hendak diambilnya ternyata sudah penuh. Dia pun mencoba lagi namun hasilnya tetap sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tania mulai putus asa, dia pun segera mencentang satu mata kuliah yang dianggap paling penting pada semester ini. “Aha! Akhirnya berhasil juga,“ Kata Tania dalam hati. Dia pun melanjutkan untuk menginput mata kuliah lainnya, namun jadwal yang dia susun kemarin ternyata sudah banyak yang kosong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat hati Tania pun mencentang mata kuliah yang sejenis namun berbeda dosen serta jadwalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu udah selesai ? “ Tanya Reni yang duduk disamping Tania dan telah selesai menyusun KRSnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum selesai, Ren. “ Jawab Tania dengan lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reni pun membantu sahabatnya itu dengan tenang. Dicocokinya jadwal yang dia ambil dengan jadwal Tania. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tan, kamu belum ambil PSPL, ya ?!“ seru Reni yang sedang memperhatikan jadwal PSPL Tania yang masih kosong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku udah ambil kok. “ Jawab Tania, namun ketika dia melihat jadwal yang telah diambilnya, ternyata jadwal PSPL belum ada disana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, kok bisa tidak ada sih? “ Tanya Tania pada dirinya sendiri  Terang saja karena mata kuliah tersebut termasuk mata kuliah yang hampir setara dengan skripsi namun bisa dibilang masih setengahnya, dan kita harus memilih sendiri dosen wali yang akan membimbing kita dalam pembuatan proyek yang akan kita buat nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kepanikan Tania, tiba-tiba seorang mahasiswa yang duduk disebelahnya bertanya padanya :&lt;br /&gt;“Mbak, ini kenapa? “ Tanya mahasiswa tersebut. Namun Tania masih panik dengan KRSnya yang masih belum kelar, sehingga dia bingung harus mendahulukan yang mana, menjelaskan tentang pertanyaan mahasiswa tersebut yang ternyata masih angkatan baru atau segera memperbaiki KRSnya. Reni yang melihat sahabatnya sedang kebingungan segera menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sini, aku yang bantu nyusun KRS-mu. “ katanya. Tania yang sudah sedikit agak tenang dengan pertolongan Reni akhirnya menjelaskan kepada mahasiswa baru tadi, bahwa masalah yang dihadapinya terjadi karena kelas yang diambilnya ternyata sudah penuh sehingga dia harus menyusun KRSnya dari awal lagi, dengan mengambil mata kuliah tersebut dengan kelas yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, dosen pembimbing PSPLnya yang sama dengan aku sudah habis, Tan. Terus kamu pilih yang mana? “ tanya Reni tiba-tiba. &lt;br /&gt;“Waduh, berarti kita misah donk ? “ Tania balik bertanya. “Yaa.. mau gimana lagi, dari pada kamu tidak ambil PSPL. “ Kata Reni mengingatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Tania pun memutuskan untuk memilih dosen yang disenanginya untuk jadi pembimbing PSPL. Dia pun menarik nafas lega karena mata kuliah yang dianggap paling berpengaruh sudah diambilnya. Kini dia tinggal menambahi jumlah SKS dengan mata kuliah lainnya dan tentu saja dengan bantuan Reni. Satu persatu mata kuliah dicentangnya dan akhirnya kini SKS yang diambilnya telah mencapai 21 SKS, dia pun mengecek jadwal tersebut agar tidak bentrok dengan jadwal lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak ada jadwal yang bentrok, penyusunan KRS yang melelahkan ini pun berakhir. Walau pun semester ini Tania akan berbeda beberapa mata kuliah dengan Reni, bahkan dosen pembimbing PSPL juga berbeda, namun dia tetap merasa bersyukur karena ketakutannya yang menduga bahwa pada semester ini dia akan kehabisan mata kuliah tidak terjadi, jumlah SKS yang ingin diambilnya pun terpenuhi. Yaa walau pun agak berbeda dengan jadwal yang disusun sebelumnya. Dia pun sadar bahwa kalau tidak ada Reni saat itu, dia mungkin tidak akan dapat menyusun KRS dengan lancar.  &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-9210952569902953631?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/9210952569902953631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=9210952569902953631&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/9210952569902953631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/9210952569902953631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/09/gara-gara-jadwal-yang-salah-oleh.html' title='Gara-gara jadwal yang salah ??? (oleh : Distiwan)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-4901642036921971089</id><published>2009-08-31T14:50:00.003+07:00</published><updated>2009-08-31T19:07:31.939+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS N TRIKS'/><title type='text'>SYARAT KIRIM CERPEN KE MAJALAH</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Saya senang sekali dengan antusiasme para murid yang ingin sekali ngirim cerpen ke majalah. Tapi, sayang sekali banyak yang tidak tahu bagaimana caranya. Sebenarnya, dulu ketika baru pertama kali mengirim cerpen ke media cetak, saya juga buta. Tidak tahu syarat-syaratnya, tetapi saya selalu memerhatikan semua isi majalah yang menjadi sasaran saya. Biasanya - entah di halaman pertama atau paling belakang - sering tercantum kolom kecil yang berisi syarat untuk pengiriman naskah. Jadi, kalau kalian mau kirim cerpen ke sebuah majalah/surat kabar, periksa saja dengan teliti halaman-halaman pertama dan terakhir. Kalau tidak ada juga, coba cek semua halaman dari atas sampai bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untuk membantu kalian, saya akan coba memaparkan yang saya tahu mengenai syarat pengiriman cerpen ke majalah. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;- TEMA CERPEN :&lt;br /&gt;Sesuaikan dengan visi dan misi majalah/surat kabar yang menjadi sasaran kalian. Kalau majalah remaja, tentu saja temanya untuk anak remaja. Jangan sampai cerpen bagus kamu tidak dimuat gara-gara tidak sesuai dengan visi dan misi majalah/surat kabar. Akan lebih sip jika kalian beli dulu majalah yang akan dituju, baca cerpen yang dimuat di majalah itu sehingga kalian tahu kira-kira tema seperti apa yang disukai redaksi majalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUMLAH HALAMAN :&lt;br /&gt;Ini yang paling penting, karena jumlah halaman yang tidak memenuhi syarat bisa menjadi alasan tidak dimuat sebuah cerpen. Padahal, cerpennya sudah bagus. Sayang sekali kan? Karena itu, jangan sampai cerpen yang kalian buat melebihi jumlah halaman yang diminta. Biasanya, jumlah halaman yang diminta adalah 5 - 7 halaman folio. Tapi, tergantung majalahnya juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- JUMLAH KATA :&lt;br /&gt;Ada pula majalah yang sangat memerhatikan jumlah kata yang terdapat dalam sebuah cerpen. Cara mengetahui jumlah kata : klik TOOLS di jendela Word kalian, lalu klik WORD COUNT. Nanti akan terlihat : pages, words, characters (dg spasi) characters (tanpa spasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- JUMLAH KARAKTER :&lt;br /&gt;Harus dibedakan antara jumlah kata dengan jumlah karakter. Yang dimaksud jumlah karakter adalah jumlah kata lengkap dengan tanda baca dan spasi antar kata. Sedangkan jumlah kata adalah jumlah kata yang ada di cerpen. Untuk mengecek jumlah karakter caranya sama dengan mengecek jumlah kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- SPASI :&lt;br /&gt;Biasanya spasi yang diminta adalah spasi dobel (rangkap). Ini untuk memudahkan editor membaca karya kalian. Kalau terlalu rapat, kan susah bacanya. Bikin mata pedes. Untuk mengecek spasi bisa klik Format lalu klik paragraf dan cari di Line Spacing. Di situ tercantum berbagai pilihan spasi. Ada 1,5 lines, single, double, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- ALAMAT EMAIL DAN ALAMAT KANTOR REDAKSI :&lt;br /&gt;Perhatikan cara pengiriman cerpennya, apakah bisa via email atau harus dikirim by pos? Kalau harus dikirim by pos berarti kalian harus mengetik dan mencetaknya di atas kertas sesuai ukuran yang diminta. Setelah itu baru dikirim lewat pos. Perangkonya jangan sampai kurang ya? Nanti tidak sampai lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dikirim lewat email sih mudah dan cepat. Tapi tak semua majalah mencantumkan alamat email dan bersedia menerima naskah by email. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- NOMOR REKENING :&lt;br /&gt;Jangan lupa cantumkan nomor rekening kalian untuk memudahkan pengiriman honor cerpen kalian. Usahakan norek atas nama kalian sendiri. Bukan atas nama orang lain. Biasanya, norek yang diminta adalah norek BCA. Kalau tidak ada norek BCA,bisa dengan norek Bank lain tapi mungkin akan dipotong biaya kirim. Semuanya tergantung kebijakan redaksi. Hanya saja, hampir semua redaksi majalah/surat kabar punya norek BCA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- BIODATA :&lt;br /&gt;Boleh disertakan di halaman terpisah dari cerpen kalian apabila memang diminta, tapi jika tidak diminta yaaa...tidak usah diberikan. Isi Biodata biasanya berupa :&lt;br /&gt;Nama lengkap, Nama samaran (kalau kalian mau pakai nama samaran), tempat/tgl lahir, pekerjaan, alamat rumah dan  nomor telpon/handphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- NOMOR TELPON/HAPE :&lt;br /&gt;Ini yang paling penting. Karena kalau cerpen kalian dimuat, biasanya akan diberitahukan by phone. Jarang sekali pemberitahuan via email. So, jangan sampai lupa mencantumkan nomor telpon. Kalau bisa, nomor telpon/hape yang pasti. Jadi, kalau berniat ngirim cerpen, jangan suka ganti-ganti nomor hape ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- JANGKA WAKTU TUNGGU :&lt;br /&gt;Setelah cerpen dikirim, kalian tunggu saja kira-kira 3 bulan sejak tanggal naskah diterima. Biasanya, bila lewat 3 bulan tidak dimuat, berarti cerpen ditolak. Tetapi, cerpen saya pernah dimuat setelah 1 tahun lewat. Saya sendiri sampai kaget, tak menyangka cerpen itu dimuat karena sudah lama sekali. Namun itu jarang terjadi. Tiga bulan adalah batas waktu tunggu yang umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, selamat mencoba mengirim cerpen ya. Good Luck! &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-4901642036921971089?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/4901642036921971089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=4901642036921971089&amp;isPopup=true' title='27 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4901642036921971089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/4901642036921971089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/08/syarat-kirim-cerpen-ke-majalah.html' title='SYARAT KIRIM CERPEN KE MAJALAH'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-8711719681975060502</id><published>2009-08-28T13:12:00.004+07:00</published><updated>2009-08-28T13:26:39.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INFO'/><title type='text'>ALAMAT E-MAIL REDAKSI MAJALAH</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Para murid tercinta, saya sudah memberikan ilmu menulis yang cukup banyak. Sekarang, saatnya kalian berlatih menulis cerpen dan kirimkan ke majalah-majalah ya. Jangan takut dan ragu. Mencoba tidak ada salahnya. Kalau gagal, kirim lagi. Nulis lagi, latihan lagi. Ditolak 1 kali, kirim 5 kali. Ditolak 5 kali, kirim 10 kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wong, cerpen saya aja masih banyak yang gak lolos seleksi. Tapi, saya gak patah arang. Saya terus mencoba untuk menulis lebih baik lagi. Masih banyak majalah yang belum berhasil saya tembus gawang editornya, tapi...saya terus mengirim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kadang-kadang saya juga putus asa. Tapi, saya katakan pada diri sendiri : YES, I CAN! Orang lain bisa, mengapa saya tidak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk memacu semangat kalian, saya akan berikan beberapa alamat email redaksi majalah yang ada rubrik cerpennya. Semoga berguna buat kalian. Tapi, ada beberapa majalah yang emailnya suka penuh sehingga cerpen yang kita kirim sering tidak masuk a.k.a mental lagi. Jangan putus asa. Tunggu beberapa hari lalu kirim lagi. Kadang, para redaktur suka lupa membersihkan inbox mereka. Mungkin karena banyak yang kirim sehingga kepenuhan dan tidak bisa menerima kiriman imel lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu gak lama kok. Biasanya seminggu kemudian, inbox mereka dibersihkan. Coba aja terus ya dan jangan berhenti sebelum berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, ini dia alamat emailnya :…&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;- Majalah Sekar (majalah wanita dewasa) : sekar@gramedia-majalah.com;&lt;br /&gt;- Majalah Kawanku (majalah remaja)      : fiksi-kawanku@gramedia-majalah.com&lt;br /&gt;                                          kawanku-mag@gramedia-majalah.com&lt;br /&gt;- Majalah Gadis (majalah remaja)        : info@gadis-online.com&lt;br /&gt;- Majalah Kartika (majalah wanita muda) : majalahkartika@yahoo.com&lt;br /&gt;- Majalah Chic (majalah wanita muda)    : chic@gramedia-majalah.com&lt;br /&gt;                                          chicstory@gramedia-majalah.com&lt;br /&gt;- Majalah Aneka Yess (majalah remaja)   : aneka@indosat.net.id&lt;br /&gt;- Harian Kompas                         : opini@kompas.co.id&lt;br /&gt;- Majalah Femina                        : kontak@femina.co.id&lt;br /&gt;                                          kontak@femina-online.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, semoga alamat email ini berguna untuk kalian. Soalnya, saya pernah sampai harus membeli majalah-majalah tersebut di atas lantaran pengen tahu alamat emailnya serta syarat-syarat pengiriman cerpen. Di postingan berikut, akan saya tulis beberapa syarat pengiriman cerpen yang biasanya diminta oleh redaksi majalah. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-8711719681975060502?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/8711719681975060502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=8711719681975060502&amp;isPopup=true' title='22 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8711719681975060502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/8711719681975060502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/08/alamat-e-mail-redaksi-majalah.html' title='ALAMAT E-MAIL REDAKSI MAJALAH'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3779070573254163839.post-6323245819431443498</id><published>2009-08-24T10:32:00.002+07:00</published><updated>2009-08-24T10:39:43.374+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BEDAH CERPEN'/><title type='text'>MEMBEDAH CERPEN BENING</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Cerpen Bening yang berjudul ‘Nyanyian Hati’ sebenarnya sudah bagus dan layak muat di majalah (menurut saya lho!) tetapi….banyak sekali penggunaan tanda baca dan huruf besar yang salah.  Misalnya :&lt;br /&gt;“Ada apa sih Bi, tumben.. dandanan kamu rapi, hemmm…. harum &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;banget”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang benar adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sih Bi, tumben.. dandanan kamu rapi, hemmm…. harum &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;banget.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhiri kalimat dengan tanda TITIK baru tanda KUTIP PENUTUP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Bening banyak membuat kesalahan dalam pemenggalan kalimat. Banyak kalimat yang seharusnya sudah diberi tanda titik, tapi oleh Bening tetap dilanjutkan sehingga mengurangi keindahan cerpennya.  Misalnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aneh, pikirku tak biasanya Abi meneleponku jam-jam segini dan… ternyata dia menelepon untuk mengajakku keluar, meski tidak jelas kemana tujuannya aku mengiyakan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seharusnya : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, pikirku.  Tak biasanya Abi meneleponku jam-jam segini. Dan… ternyata dia menelepon untuk mengajakku keluar, meski tidak jelas kemana tujuannya aku mengiyakan saja. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Coba bayangkan dirimu sedang membaca sebuah artikel atau berita dari koran. Kalau kalimat yang ditulis terus bersambung, bukankah itu berarti kamu harus membacanya tanpa jeda. Padahal, ketika sekolah dulu kita pasti pernah belajar mengenai fungsi tanda titik, koma, tanda seru, tanda tanya, dll. Nah, dalam mengarang semua tanda-tanda itu harus digunakan dengan benar agar  ‘soul’ dari sebuah karangan semakin jelas.  Bila sang tokoh sedang bertanya, gunakan tanda tanya. Bila sedang berteriak, gunakan tanda seru. Atau…..bertanya dengan cara berteriak, gunakan tanda tanya dan tanda seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kalian semakin mahir menulis cerpen, sebaiknya sering-sering baca cerpen yang sudah diterbitkan di media cetak. Perhatikan tanda baca, pemenggalan kalimat dan penggunaan huruf  besar di cerpen tersebut. Nanti kalian akan semakin mengerti bagaimana menggunakan tanda baca, huruf besar dan cara pemenggalan kalimat. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3779070573254163839-6323245819431443498?l=tips-write-shortstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/feeds/6323245819431443498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3779070573254163839&amp;postID=6323245819431443498&amp;isPopup=true' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6323245819431443498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3779070573254163839/posts/default/6323245819431443498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/08/membedah-cerpen-bening.html' title='MEMBEDAH CERPEN BENING'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18199593468400108566</uri><email>noreply@blogger.com</email
